Lingkungan Hidup
( 5781 )Dompet tergerus Pengeluaran untuk Beras dan Pulsa
Bak beras, pulsa telepon seluler dan paket internet telah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Dalam lima tahun terakhir, pengeluaran masyarakat untuk ko-moditas nonpangan itu sudah separuh belanja beras.Keduanya sama-sama tengah menggerus dompet kita. Di era digital, penduduk kota dan desa pengguna telepon seluler dan internet terus meningkat. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS merekam persentase pertumbuhan tersebut meningkat dari 63,53 % pada 2019 menjadi 68,65 % pada 2024. Persentase penduduk pengguna internet juga melonjak dari 47,69 % menjadi 72,78 %. Belanja pulsa telepon dan paket internet masyarakat juga membengkak. Hasil Susenas September 2024 yang dirilis BPS pada 28 Mei 2025 menunjukkan, pengeluaran penduduk kota dan desa per kapita per bulan untuk pulsa telepon dan paket internet Rp 45.634. Artinya, rata-rata setiap penduduk Indonesia mengeluarkan Rp 45.634 untuk membeli pulsa dan internet dalam sebulan.
Pengeluaran tersebut meningkat 54,81 % dibanding hasil Susenas BPS pada September 2019 yang sebesar Rp 31.432. BPS juga menunjukkan, kenaikan pengeluaran pulsa dan internet di perdesaan lebih besar dibanding perkotaan. Dalam tiga tahun terakhir,2022-2024, pengeluaran pulsa dan internet di kota dan desa naik 11,90 % dan 5,41 %. Pada 14-16 Mei 2025, Lembaga Survei Kedai KOPI meng-gelar survei bertajuk ”Survei Penggunaan Internet di Indonesia” melibatkan 1.545 responden di seluruh Indonesia dengan metode wawancara mandiri berbasis komputer (CASI). Hasilnya, 61,3 % responden menghabiskan Rp 50.000-Rp 100.000 per bulan untuk paket data. Paket berlangganan bulanan jadi pilihan utama (83 %) dengan kuota ideal 11-30 gigabyte per bulan (29,6 %).Dan kebutuhan komunikasi (paket data, pulsa dan Wi-Fi) menduduki posisi pertama pengeluaran tertinggi bulanan (88,4 %) mengalahkan kebutuhan lainnya, seperti makanan dan minuman, listrik dan air, serta pendidikan.
Perihal beras, hampir setiap tahun, masyarakat mengeluhkan kenaikan harga beras. Untuk mengatasinya, pemerintah menggulirkan bantuan pangan berupa beras dan menggelar operasi pasar beras. Pemerintah juga akan menyalurkan 1,813 juta ton beras program Stabilisasi Pasokandan Harga Pangan (SPHP) secara bertahap pada Juni-Desember 2025. Tujuannya meredam kenaikan harga beras disejumlah daerah, terutama di Indonesia bagian timur. ”Saat ini, kami menunggu anggaran belanja tambahan senilai Rp 4,97 triliun untuk bantuan pangan berupa beras dan Rp 1,6 triliun untuk penyaluran beras SPHP. Jika ang-garan itu sudah masuk, kedua program itu langsung di-gulirkan,” kata Direktur Ketersediaan Pangan Bapanas, Wijayanto di Jakarta, Senin (23/6). Dari waktu ke waktu, pulsa telepon dan paket internet menjadi kebutuhan pokok masyarakat meskipun tidak sevital beras. Bersanding dengan beras, pulsa dan internet tengah beraducepat menggerus dompet kita. (Yoga)
Menikmati Secangkir Kopi sambil Menikmati Keindahan Flores
Flores dan kopi seakan tak terpisahkan. Aroma kopi Flores yang khas sudah semerbak hingga kemancanegara, begitu juga keindahan alamnya. Seusai bertanya soal kopi pahit atau manis yang ingin disajikan, Maksimus Liu (44) meminta istrinya, Elisabeth (40) menyeduh kopi. Bapak tiga anak di Bajawa, Fores, NTT itu semangat bercerita tentang kebun kopinya. ”Puji Tuhan, tahun ini panennya banyak. Langsung kirim ke anak saya yang kuliah,” kata Maksi, Kamis (15/5). Dari lahan seluas 80 x 100 meter warisan ayahnya, Maksi mendapat hasil 3,6 ton buah kopi. Seusaipanen, buah kopi arabika digiling untuk dibersihkan kulit buah dan dagingnya. Beratnya susut menjadi Rp 1,7 ton. Dari hasil itu, ia mendapatkan keuntungan bersih Rp 60juta. Berkebun kopi bukan pekerjaan utama Maksi. Ia bekerja sebagai sopir pribadi hakim yang bertugas di Ende. Tak hanya ke produsen kopi lokal, kopi Maksi sudah menyebar hingga ke AS.
”Waktu itu ramai orang jual kopi karena ada orang AS datang. Pasti mahal kalau dijual ke mereka. Ternyata tidak mudah karena kualitasnya harus baik,” katanya. Kopi arabika Ngada sudah keliling dunia. Supplier yang bekerja sama dengan petani kopi di Ngada adalah PT Sucafina Indonesia Coffee (SIC), perusahaan asal Swiss yang berdomisili di Bandung, Jabar. Koordinator Regional Wilayah Indonesia Timur PT Sucafina Indonesia Coffee, Abraham Gerhard Girsang menuturkan, pihaknya bekerja sama dengan Starbucks menyediakan biji kopi dan pendampingan petani kopi di wilayah Indonesia timur, terutama di Flores. Terdapat 950 petani kopi yang sudah teregistrasi sebagai penyuplai biji kopi dari Ngada. Terdapat dua varietas utama di Flores yang jadi andalan, yakni Lini S dan S795 asal India yang tahan hama penyakit dan punya ciri khas rasa.
“Starbuck hanya mengambil arabika, dan itu banyak di Ngada dan Manggarai Timur,” ucap Abraham. Dalam kurun waktu 10 tahun belakangan warung kopi dan kafe menjamur di Manggarai, apalagi di Flores. Warung-warung kopi berkembang seiring berkembangnya wisata di Flores. Berdasarkan data jumlah tamu hotel mancanegara dan domestik yang dirilis BPS NTT, sepanjang 2023, total kunjungan wisatawan ke Flores mencapai 487.851 orang, meningkat signifikan dari 376.449 orang pada 2022, didorong oleh lonjakan wisatawan mancanegara yang mencapai 150.969 orang pada 2023, naik tiga kali lipat dibanding tahun sebelumnya yang hanya 44.813 orang. Flores dan kopi memang tak bisa dipisahkan. Melihat kopi sama seperti melihat Flores dengan keindahan alamnya. Kopinya dinikmati sampai ke luarnegeri, keindahan alamnya juga mendatangkan banyak wisatawan. (Yoga)
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Proyek Hilirisasi US6 Miliar Segera meluncur
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Iran, harga komoditas unggulan Indonesia seperti batu bara dan crude palm oil (CPO) menunjukkan tren kenaikan signifikan. Dalam sebulan terakhir, harga batu bara di ICE Newcastle naik 6,42% menjadi US$106,85/ton, sedangkan CPO meningkat 8,06% menjadi 4.129 ringgit/ton.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa fluktuasi harga kedua komoditas ini berdampak besar pada stabilitas makroekonomi dan fiskal negara, mengingat kontribusinya yang mencapai 20–25% dari total ekspor nasional. Kenaikan 10% harga komoditas bahkan bisa mengurangi defisit transaksi berjalan hingga 0,13% dari PDB. Namun, ketergantungan ekspor terhadap batu bara dan CPO juga berisiko jika terjadi penurunan harga. Oleh karena itu, Josua mendorong diversifikasi ekspor dan penguatan industri manufaktur bernilai tambah.
Sementara itu, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memperingatkan bahwa lonjakan harga ini bisa bersifat sementara. Jika perang terus berlanjut, ekonomi global bisa melambat, yang justru menurunkan permintaan terhadap komoditas. Untuk mengantisipasi hal ini, ia mendorong hilirisasi industri berbasis prinsip ESG agar menciptakan nilai tambah ekonomi jangka panjang.
Dari sisi pelaku industri, Direktur Eksekutif APBI Gita Mahyarani mengonfirmasi bahwa kenaikan harga batu bara didorong oleh permintaan dari Vietnam dan gangguan pengiriman dari Australia, bukan semata dampak konflik. Namun, ia mewaspadai tekanan harga di masa depan akibat naiknya biaya logistik seiring lonjakan harga minyak.
Senada, Ketua Umum Gapki Eddy Martono juga mengkhawatirkan penurunan permintaan CPO jika konflik berkepanjangan. Ia menekankan pentingnya efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas untuk mempertahankan daya saing industri sawit nasional.
Dengan demikian, meskipun kondisi geopolitik saat ini memberikan peluang sementara bagi ekspor, berbagai tokoh dan pelaku industri menegaskan perlunya strategi jangka panjang yang adaptif, khususnya melalui diversifikasi, hilirisasi, dan efisiensi operasional.
Pelaku Usaha di Bandung Menjerit, Harga Elpiji 3 Kg Melejit
Harga elpiji 3 kg di Kota Bandung, Jabar, melonjak di atas Rp 20.000 per tabung ditingkat eceran. Kondisi yang terjadi sepekan terakhir ini sangat memukul para pelaku usaha kecil di bidang kuliner. Beberapa hari terakhir, harga elpiji 3 kg di tingkat eceran di Bandung melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang baru ditetapkan pemerintah pada 16 Juni 2025, yakni Rp 19.000 per tabung. Salah seorang pelaku usaha yang terdampak kenaikan harga itu adalah Samsuddin (55) penjual gorengan di Jalan Terusan Jakarta, Kecamatan Antapani, Bandung. Dia mengaku membeli elpiji 3 kg dengan harga Rp 22.000 hingga Rp 24.000 pe rtabung. Padahal, dia membutuhkan satu tabung elpiji 3 kg per hari untuk berjualan. Ia pun mengaku takmengetahui adanya kenaikan HET elpiji 3 kg di Bandung dari Rp 16.600 menjadi Rp 19.000 per tabung pada bulan ini.
”Kondisi ini sangat memberatkan pedagang kecil seperti kami. Apalagi, pemasukan harian saya tidak mencapai Rp100.000,” ungkap Samsuddin. Dia pun berharap ada solusi dari pemda dan pusat agar kenaikan harga elpiji 3 kg tak berdampak besar bagi pelaku UMKM di Bandung. ”Kami juga berharap harga elpiji 3 kg di tingkat pedagang eceran tidak terlalu mahal seperti saat ini,” tuturnya. Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyatakan, meskipun terjadi kenaikan harga elpiji, masyarakat tak perlu panik. Berdasarkan data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bandung, stok elpiji dipastikan aman dan distribusi masih terkendali. Farhan menyebut, penyebab utama kenaikan itu adalah berkurangnya subsidi pemerintah pusat. ”Subsidi berkurang. Ini bagian dari upaya mengendalikan inflasi. Yang penting bukan harga, melainkan distribusi barangnya tetap ada,” ujar Farhan. (Yoga)
Perang Memanas, Saham Energi Kian Mendidih
Antisipasi Penutupan Selat Hormuz
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









