Lingkungan Hidup
( 5781 )Menyikapi Kenaikan Harga BBM
Pertamina menaikkan harga semua BBM nonsubsidi, dengan
alasan kenaikan harga minyak dunia menyebabkan harga di dalam negeri ikut naik.
Indonesia secara netto adalah pengimpor BBM. Harga BBM bersubsidi tidak
berubah. Kenaikan harga BBM nonsubsidi diperkirakan mendorong konsumen beralih
membeli BBM bersubsidi. Akibatnya biaya subsidi membengkak dan kemampuan pemerintah
membiayai pembangunan menurun. Secara prinsip pemerintah bersikap memberi
subsidi hanya kepada kelompok paling membutuhkan, yaitu golongan ekonomi lemah.
Namun, dalam pelaksanaan tidak berjalan seperti diharapkan. Menyikapi kenaikan
harga BBM kali ini, muncul lagi usulan memberlakukan aturan lebih jelas dan
tegas pembelian eceran BBM bersubsidi, dengan mengubah Perpres No 117 Tahun 2021
tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM.
Pemerintah tampak berhati-hati merevisi perpres itu. Salah
satu alasan, mencegah dampak sosial, politik, dan ekonomi tak diinginkan
menjelang Pemilu 2024. Pada sisi lain, pemerintah perlu mengambil langkah tegas
untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam penggunaan energi fosil dan
menyadari subsidi haruslah untuk kelompok yang membutuhkan. Alih-alih memberi
subsidi BBM pada pengguna kendaraan pribadi yang tak mudah pengawasannya,
subsidi dapat dialihkan untuk pengguna angkutan massal, mendorong anggota masyarakat
meninggalkan kendaraan pribadi. Dengan cara ini, masyarakat berpartisipasi
aktif mengurangi penggunaan energi fosil, subsidi dapat diberikan secara adil,
dan kemungkinan penyalahgunaan subsidi dapat ditekan. Pemantauan dan evaluasi
berkala harus dilakukan untuk memastikan subsidi tepat sasaran dan masyarakat
beralih ke transportasi publik. (Yoga)
Temuan Cadangan Gas Bumi Raksasa di Kaltim
Harga Beras Tembus Rp 15.000 Per Kilogram
Beras Melambung, Inflasi Tak Terbendung
INDUSTRI HULU MIGAS : ANGIN SEGAR DARI TEMUAN ANYAR
Industri minyak dan gas bumi nasional kembali mendapatkan angin segar dari temuan cadangan bervolume besar oleh perusahaan raksasa asal Italia, Eni. Sentimen positif itu pun diharapkan bisa meningkatkan daya tarik sektor tersebut. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membeberkan bahwa Eni berhasil menemukan cadangan gas bumi di Wilayah Kerja North Ganal, Kalimantan Timur, dengan perkiraan awal gas in place 5 trillion cubic feet (Tcf). Dengan perkiraan awal discovered resources sekitar 609 juta barel setara minyak, laporan tersebut menjadikan temuan di sumur Geng North-1 sebagai salah satu dari tiga besar temuan eksplorasi dunia pada tahun ini. Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan bahwa temuan tersebut bakal menjadi salah satu giant discovery yang akan meningkatkan cadangan gas secara signifikan untuk mendukung peningkatan produksi minyak dan gas bumi (migas) nasional secara berkelanjutan agar bisa mencapai target produksi minyak 1 juta barel per hari (bopd), dan gas 12 miliar kaki kubik per hari (Bscfd) pada 2030. Penemuan raksasa tersebut pun diyakini dapat lebih mendorong investasi eksplorasi yang lebih masif di masa yang akan datang, mengingat potensi migas nasional masih menjanjikan, karena masih ada 68 cekungan dari total 128 cekungan yang belum dibor. SKK Migas pun segera melakukan koordinasi intensif dengan Eni guna merumuskan tahapan-tahapan selanjutnya agar penemuan raksasa tersebut dapat segera di monetisasi.
Eni menyampaikan bahwa temuan cadangan gas bumi dalam jumlah yang signifikan berasal dari sumur eksplorasi Geng North-1 di Blok North Ganal, sekitar 85 kilometer (km) lepas pantai Kalimantan Timur. Berdasarkan keterangan resmi Eni, perkiraan awal menunjukkan total struktur yang ditemukan sebesar 5 Tcf gas dengan kandungan kondensat sekitar 400 Mbbls. Sumur Geng North-1 dibor dengan kedalaman 5.025 meter pada kedalaman air 1.947 meter, melewati kolom gas setebal sekitar 50 meter di reservoir batu pasir miocene dengan sifat petrofisika yang baik. Penemuan Geng North berdekatan dengan kawasan Indonesia Deepwater Development (IDD) yang mencakup beberapa penemuan lawas yang tak kunjung dikembangkan di Blok Rapak dan Ganal, di mana Eni baru-baru ini mengumumkan akuisisi saham Chevron, meningkatkan hak partisipasinya, dan mengakuisisi kepemilikan operator. Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan temuan cadangan gas raksasa dari sumur eksplorasi Geng North-1, Blok North Ganal, garapan Eni dapat segera produksi dalam kurun 2 tahun ke depan. Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Tutuka Ariadji mengatakan bahwa pihaknya bakal memfasilitasi percepatan persetujuan rencana pengembangan lapangan atau plan of development (PoD) dari blok tersebut. Harapannya, rentang waktu persiapan eksploitasi dapat dipangkas menjadi lebih cepat. Founder & Advisor ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan bahwa beberapa kali pembahasan teknologi dan keekonomian dari sebuah PoD yang diajukan terlalu detail dan sangat teknis, sehingga membuat prosesnya membutuhkan waktu panjang.
PENSIUN DINI PLTU : Pemerintah Cari Pembiayaan Alternatif
Ada Potensi Konsumen Pertamax Beralih ke Pertalite
Setelah PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM nonsubidi
jenis pertamax dari Rp 13.300 per liter menjadi Rp 14.000 per liter mulai
Minggu (1/10) ada kekhawatiran konsumen pertamax beralih ke pertalite.
Pertalite adalah BBM bersubsidi yang dijual Rp 10.000 per liter. Regulasi
penggunaan BBM bersubsidi mendesak segera dikeluarkan. Berdasarkan catatan Kompas,
harga pertamax Rp 14.000 per liter menjadi yang tertinggi dalam setahun
terakhir. Pada 3 September 2022, Pertamina juga menaikkan harga pertamax dari
Rp 12.500 per liter menjadi Rp 14.500 per liter. Bertahan hingga 30 September
2022, harga pertamax lalu turun menjadi Rp 13.900 per liter per 1 Oktober 2022.
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Irto Ginting, Minggu, membenarkan
bahwa setidaknya dalam setahun terakhir harga pertamax sudah lebih intens mengikuti
dinamika harga minyak mentah global. Oleh karena itu, penyesuaian harga per 1
Oktober 2023 juga mengikuti perkembangan yang terjadi.
Dengan adanya selisih Rp 4.000 per liter antara pertalite dan
pertamax, ada potensi migrasi pengguna dari pertamax ke pertalite yang lebih
murah. Pertamina berharap hal itu tidak terjadi. Di sisi lain, menurut Irto,
para pengguna pertamax umumnya sudah memahami jenis BBM yang sesuai untuk kendaraannya.
”Harapannya konsumen pengguna BBM nonsubsidi tidak migrasi ke pertalite. Segmen
ini umumnya memahami perlunya BBM yang sesuai dengan spesifikasi kendaraannya,”
ujar Irto. Pengamat ekonomi energi yang juga dosen Departemen Ekonomika dan
Bisnis Sekolah Vokasi UGM, Yogyakarta, Fahmy Radhi, yang dihubungi dari
Jakarta, mengatakan, ”Karena selisih harga itu, konsumen rasional akan pindah
ke pertalite. Apabila itu terjadi, akan memperbesar porsi subsidi salah sasaran
pertalite dan membebani APBN, mengingat pembatasan (pembelian BBM bersubsidi)
saatini belum dilakukan,” ucapnya. (Yoga)
Pukulan Bertubi-Tubi Harga Beras Hingga BBM
Gejolak Harga Pangan & Komoditas Kerek Inflasi
Emiten Migas Tersulut Harga Minyak
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









