Lingkungan Hidup
( 5820 )ALIH FUNGSI LAHAN MENGANCAM PRODUKSI PADI NASIONAL
Di tengah ancaman perubahan iklim, faktor non-alam terus
menghantui sektor pertanian padi di Indonesia. Salah satunya adalah alih fungsi
lahan sawah yang hingga saat ini terus terjadi. Merujuk data analisis Direktorat
Pengendalian dan Pemantauan Pertanahan Kementerian ATR / BPN tahun 2019,
rata-rata konversi lahan sawah menjadi nonsawah di Indonesia mencapai 100.000 hektar
per tahun. Sementara itu, rata-rata kemampuan mencetak sawah hanya 60.000
hektar setahun. Artinya,terjadi selisih alih fungsi lahan sawah 40.000 hektar
per tahunnya. Lebih luas daripada total area Kota Surabaya. Padahal, lahan
menjadi salah satu faktor penting tercapainya target produksi padi di
Indonesia. Hasil pengolahan regresi data panel yang dilakukan Litbang Kompas
menunjukkan, setiap penambahan seribu hektar area lahan sawah akan mendorong peningkatan
produksi padi sekitar 4.370 ton. Jadi, dengan alih fungsi lahan sawah di
Indonesia saat ini, diperkirakan menurunkan produksi padi 174.800 ton setahun.
Daerah yang diperkirakan memiliki tren penurunan produksi padi
terbesar secara nasional ini adalah Provinsi Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. Dengan
fenomena yang hingga saat ini tak terbendung, target produksi padi 62 juta ton
ditahun ini dan 65,4 juta ton pada tahun depan agaknya tidak mudah dicapai.
Pasalnya, capaian sebelumnya pun meleset dari target yang ditetapkan pemerintah.
Jajak pendapat harian Kompas pada 18-20 September 2023 menemukan hal serupa.
Sepertiga responden berpendapat alih fungsi sawah menjadi lahan terbangun
menjadi salah satu penyebab turunnya produksi padi di Indonesia, selain faktor
iklim. ”Kalau dikaitkan dengan pembangunan, seharusnya ada relokasi.
Berdasarkan UU Perlindungan LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan), setiap
lahan pertanian yang dialihfungsikan untuk pembangunan harus ada relokasi baru.
Tapi, dalam praktiknya (di Kalsel) itu tidak terjadi, otomatis lahan tersebut
berkurang,” ungkap Dwi Putra Kurniawan, Ketua Serikat Petani Indonesia wilayah Kalsel,
saat ditemui di Banjarbaru, Minggu (1/10). (Yoga)
BURSA KARBON DI INDONESIA : ENERGI BARU BAGI KORPORASI
Ketahanan Pangan RI Dinilai Lemah
Bapanas Tugasi Bulog Impor jagung Pakan 500 Ribu Ton
Polemik Data Beras
Lonjakan harga beras di pasar kembali memunculkan perdebatan
tentang akurasi data beras nasional, baik di masyarakat maupun di pemerintahan.
Bukan baru kali ini kisruh data beras memicu polemik. Kementerian Pertanian
ngotot produksi dalam negeri surplus. Namun,faktanya di lapangan, harga beras
tetap tinggi. Ini yang membuat Kemendagri meminta dilakukan rekonsiliasi data
antar-instansi agar sesuai kondisi riil di lapangan. Data Kementan, total
produksi beras Januari-Desember 2023 tercatat 30,83 juta ton. Ditambah total
beras impor Bulog 2,9 juta ton, stok akhir tahun diperkirakan 33,73 juta ton. Dengan
kebutuhan setahun 30,84 juta ton, berarti akhir tahun ada surplus 2,89 juta ton
(Kompas, 10/10).
Kementan menyebut harga beras tetap tinggi karena adanya anomali
terkait kenaikan biaya produksi akibat kenaikan harga pupuk, benih, dan obat;
ketidakefisienan biaya logistik atau distribusi; dan struktur pasar beras di
Indonesia. Sudah 78 tahun Indonesia merdeka, urusan data beras tak pernah
beres. Tak ada satu data beras yang presisi dan terkonsolidasi secara nasional,
baik itu produksi, stok pemerintah di Bulog, maupun stok yang dimiliki oleh
petani, konsumen, pedagang, dan penggilingan. Akibatnya, tak jarang kebijakan
impor oleh pemerintah juga menjadi blunder, baik dari sisi waktu maupun volume. (Yoga)
Inferioritas Pangan Lokal di NTT
”Di mana pangan lokal Manggarai? Saya tidak menemukannya
selama di Labuan Bajo ini. Pagi ini saya mencari makanan lokal di hotel ini
juga tidak ada,” kata Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Bapanas, Rinna
Syawal yang kami temui dalam semiloka di Labuan Bajo, Senin (14/8). Kegelisahan
Rinna beralasan. Semiloka yang diselenggarakan di salah satu hotel berbintang
itu membahas transformasi sistem pangan di NTT, yang di antaranya menekankan
pentingnya pangan lokal. Namun, seperti lazimnya hotel-hotel lain di sana, tak ada
menu lokal tersaji, bahkan sekadar ubi, jagung, atau pisang rebus pun tak ada.
Padahal, NTT kaya dengan jenis pangan itu.
”Pangan lokal seharusnya bisa diintegrasikan dengan kegiatan
wisata yang saat ini sudah tumbuh. Dinas pariwisata sebenarnya bisa mewajibkan hotel
agar menyediakan pangan lokal,” kata Rinna. Menu pangan lokal di NTT seperti
tersisih di tanah sendiri. Hal ini sebenarnya bisa menandakan ketidakpercayaan diri
masyarakat menampilkan pangan lokal mereka. Serfia Owa (59), petani yang juga Ketua Aliansi Perempuan Mandiri Manggarai
Barat, mengatakan, anak-anak muda saat ini tidak lagi mengenal dan mengonsumsi
pangan lokal. Bahkan, anak-anak saat diberi pangan lokal kerap menolak karena
tidak terbiasa. ”Saya kira ini juga terjadi di banyak kampung di NTT,” kata
Serfia, yang tinggal di Kampung Munting Kajang, Kecamatan Komodo. (Yoga)
El Nino Berpotensi Pengaruhi MT I Padi
BMKG memprakirakan, El Nino akan memuncak pada Oktober 2023
dan berakhir pada Maret 2024. Namun, musim kemarau akibat dampak fenomena pemanasan
suhu muka laut di atas kondisi normal itu akan berakhir secara bertahap pada November
2023. Hal itu terjadi lantaran ada pergantian angina yang membawa uap air yang
bakal memicu hujan pada November 2023. Kementan memperkirakan awal musim tanam
(MT) I padi di sejumlah daerah lumbung beras akan dimulai pada November dan Desember
2023. Sementara itu, di daerah aliran irigasi Waduk Kedungombo, Jateng, yakni Demak,
Kudus, dan Grobogan, MT I berlangsung sejak awal Oktober 2023. El Nino masih berpotensi
memengaruhi MT I padi di sejumlah daerah.
Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten
Demak Hery Sugihartono, Selasa (10/10) mengatakan, petani di Kecamatan Gajah,
Dempet, dan Karanganyar, Kabupaten Demak, mulai menanam padi sejak awal Oktober
2023 sehingga panen diperkirakan terjadi pada Januari 2024. Kondisi serupa juga
terjadi di Kecamatan Undaan di Kabupaten Kudus, serta Kecamatan Purwodadi, Klambu,
dan Godong, Kabupaten Grobogan. ”Untuk menghemat dan meratakan pembagian air,
aliran air irigasi dari Bendung Klambu (salah satu infrastruktur jaringan
irigasi Waduk Kedongombo) digilir tiga kali sehari. Namun, kami tetap khawatir
sumber air irigasi bisa habis karena hujan masih belum terjadi hingga kini,”
ujarnya ketika dihubungi dari Jakarta. Untuk mengoptimalkan MT I, Hery berharap
pemerintah perlu mengantisipasinya dengan hujan buatan. (Yoga)
Pemerintah Lanjutkan Proyek Food Estate di Merauke
Pertamina Penuhi Kebutuhan Energi Jelang MotorGP Mandalika
Lemah Pencegahan, Meluas Kebakaran Hutan
Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia terus mengganas. Berdasarkan Sistem Informasi Pemantauan Kebakaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), luas area yang terbakar per Agustus lalu sudah mencapai 267 ribu hektare. Angka ini sudah melampaui luas area terbakar pada 2022, yang seluas 204.894 hektare. Menurut saya, area terbakar akan meluas, bahkan dapat melebihi angka pada 2021, yakni 358 ribu hektare, ataupun pada 2020, yang seluas 296 ribu hektare. Prediksi ini saya sampaikan karena sampai sekarang KLHK tak kunjung merilis data area terbakar per September 2023.
Yang membikin miris, kebakaran tahun ini juga marak terjadi di banyak kawasan konservasi. Padahal area tersebut penting untuk menjaga simpanan karbon di bumi; melestarikan manfaat ekosistem, seperti air bersih dan udara sejuk; serta menjaga keberagaman hayati kita. Parahnya, kebakaran tahun ini dipicu oleh fenomena cuaca El Nino yang mengakibatkan kemarau panjang. Namun kondisi tersebut bukanlah penyebab utama. Saya cenderung menyatakan kebakaran parah pada tahun ini lebih disebabkan oleh lemahnya sistem pengendalian kebakaran, khususnya sistem pencegahan, dari tingkat pusat sampai tingkat tapak. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









