TRANSISI ENERGI, Perlu Terobosan untuk Menggaet Pendanaan
Langkah terobosan diperlukan Indonesia untuk menggaet
pendanaan proyek-proyek transisi energi yang membutuhkan biaya besar, misalnya dengan
memadukan mekanisme pendanaan dengan kredit karbon atau monetisasi karbon
sehingga diharapkan memberi keyakinan akan pengembalian investasi. Senior
Partner and Managing Partner of McKinsey & Company Indonesia Khoon Tee Tan,
di Jakarta, Rabu (4/10), mengatakan, pendanaan dan teknologi menjadi tantangan
dalam percepatan transisi energi. Oleh karena itu, perlu dipikirkan skema
pendanaan, yang sesuai dengan cara Indonesia. ”Salah satu opsi ialah
menciptakan kredit karbon (komoditas penurunan emisi yang diperdagangkan).
Perlu diciptakan mekanisme agar karbon dimonetisasi sehingga memberi return of
investment kepada para pengusaha,” ujar Tan.
Dari hitungan McKinsey, untuk seluruh Asia, diperlukan harga
kredit karbon di atas 11 USD per ton CO2. Oleh karena itu, kata Tan, diperlukan
validasi dan verifikasi kredit karbon tersebut sehingga diharapkan dapat
mendanai secara tidak langsung proyeknya. Mengenai hibah (grant), imbuh Tan,
akan bergantung pada pemberi donasi. ”Tentu kita tidak bisa mendikte. Namun,
kita bisa mencoba ciptakan mekanisme pendanaan berbasis bisnis. Kalau harga
kredit karbon 11 USD per ton dianggap valid, mungkin bisa menjadi perimbangan
(offset) dari pajak karbon mereka, di negara-negara maju, misalnya,” katanya. Ia
menambahkan, dalam mengembangkan transisi energi, bisa saja mengandalkan skema
pendanaan tradisional, tetapi hasilnya tak akan bisa optimal. Oleh karena itu,
perlu alternative yang membuat investasi masuk akal (make sense) dari sisi pengembalian
investasinya. (Yoga)
Tags :
#EnergiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023