Kekurangan Sumber Air, Petani Gagal Panen
Kekeringan lahan pertanian akibat kemarau panjang di Sultra terus
meluas. Sebanyak 1.177 hektar lahan mengalami gagal panen, lalu bertambah
ratusan hektar dalam dua pekan. Ribuan hektar sawah lainnya masih terancam. Jumono
(46), Ketua Kelompok Tani Ujung Bulu, Bombana, Sultra, mengungkapkan, kekeringan
membuat belasan hektar sawah gagal panen. Hal itu menyebabkan petani kesulitan
memenuhi kebutuhan hidup keluarga. ”Dari 42 hektar lahan sawah di kelompok
kami, 10 hektar itu betul-betul gagal panen. Selebihnya, kami panen dengan
kondisi kurang air. Jadi, hasilnya jauh di bawah rata-rata,” kata Jumono, saat
dihubungi, Kamis (5/10).
Ia menceritakan, biasanya satu hektar lahan sawah menghasilkan
5-6 ton gabah, tahun ini, mereka hanya menghasilkan 2 ton gabah, yang dijual
setengahnya dan sebagian disimpan untuk keluarga. Padahal, modal menggarap satu
hektar lahan berkisar Rp 7 juta hingga Rp 10 juta. Meski harga gabah basah naik
berkisar Rp 6.000 per kg, hasil panen masih jauh dari harapan. Gagal panen yang
terjadi, kata Jumono, karena sulitnya mendapatkan sumber air. Kondisi
persawahan yang mengandalkan curah hujan sangat terdampak dengan kekeringan panjang.
Bantuan pompa dari pemerintah tidak berfungsi karena tidak ada sumber air. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023