Lingkungan Hidup
( 5781 )Dampak Konflik Timur Tengah Mulai Diperhitungkan Dunia Usaha
Para pelaku usaha mulai mengalkulasi dampak dari meletusnya
konflik antara kelompok Hamas dan Israel di Timur Tengah terhadap aktivitas
industri. Konflik tersebut diprediksi berdampak pada harga energi di Tanah Air
yang berpotensi mengganggu produksi industri manufaktur. Ketua Bidang Industri
dan Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bobby Gafur Umar mengatakan,
konflik yang terjadi di Timur Tengah dapat memicu kenaikan harga energi,
khususnya minyak mentah dan gas bumi. Pasalnya, meski Israel dan Palestina
bukan produsen minyak, konflik terjadi di tengah kawasan penghasil minyak dan
gas di Timur Tengah yang menyumbang hampir sepertiga pasokan minyak dunia.
”Persediaan energi di dalam
negeri terbatas sehingga sebagian besar kebutuhan bahan baku energi,
seperti minyak bumi dan gas, untuk keperluan industri masih dipenuhi melalui
impor,” ujar Bobby saat dihubungi pada Kamis (12/10). Dia mencontohkan, Indonesia
hanya memproduksi 600.000 barel minyak bumi per hari, sedangkan kebutuhan
minyak dalam negeri di atas 1,5 juta barel per hari. Sama halnya dengan minyak bumi,
kapasitas produksi gas bumi (untuk elpiji) dalam negeri juga belum mampu menutupi
kebutuhan nasional. ”Jika pasokan minyak dan gas terganggu, imbasnya harga keduanya
akan naik. Kondisi ini akan mengganggu aktivitas produksi dan pertumbuhan
industri dalam negeri,” katanya. (Yoga)
Diverifikasi Pangan Lokal Harus Digalakkan
Perang Memperlemah Prospek Ekonomi Global
Faktor Iklim Tekan Produksi Padi
Hingga dasarian III September 2023, level El Nino di
Indonesia berada di level moderat dengan nilai indeks 1,68. Level El Nino akan mencapai
level kuat jika indeksnya mencapai 2,0. BMKG memprediksi kondisi kering ini
bertahan hingga Februari 2024 dan melemah pada bulan-bulan berikutnya. Kondisi
El Nino saat ini bersamaan dengan puncak musim kemarau sehingga berpotensi
memicu kekeringan areal tanam padi yang menyebabkan penurunan produktivitas. Plt
Mentan yang juga Kepala Bapanas Arief Prasetyo mengatakan, El Nino berdampak
besar pada produksi padi sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan beras nasional.
”El Nino ada pengaruhnya (produksi beras). Daerah sentra produksi
beras, seperti Lampung dan Jawa, semuanya berwarna hitam di peta BMKG yang
berarti bercurah hujan rendah. Ada pula Sulsel dan NTB. Ini semua pusat beras,”
kata Arief pada wawancara daring bersama Litbang Kompas, Senin (2/10). Hal
tersebut sejalan dengan temuan Litbang Kompas melalui pemodelan regresi data
panel untuk melihat sejumlah variabel yang berpengaruh pada produksi padi di
Indonesia. Hasil analisis menemukan variabel terkait iklim, seperti suhu udara
dan curah hujan, berdampak signifikan terhadap produksi padi. Bahkan, variabel
iklim menjadi ancaman serius terhadap produksi tanaman pangan. Hasil regresi
data panel menunjukkan variabel suhu udara memiliki koefisien sebesar negatif
4,572829. Artinya, kenaikan suhu udara sebesar 1 derajat celsius setahun akan menurunkan
produksi padi 4.500 ton di Indonesia. (Yoga)
Harga Gula Melambung
Asosiasi Gula Indonesia memperkirakan produksi gula kristal
putih nasional pada tahun ini turun 8-9 % akibat dampak El Nino. Hal itu
menyebabkan harga gula konsumsi di tingkat konsumen melambung di atas HET yang
ditetapkan pemerintah Rp 14.500 per kg. Tanpa upaya menstabilkan stok dan harga,
harga gula bisa tembus Rp 16.000 per kg. Tenaga Ahli Asosiasi Gula Indonesia
(AGI) Yadi Yusriyadi mengatakan, kekeringan panjang akibat dampak El Nino menyebabkan
produksi tebu turun. Per 15 September 2023, tebu yang digiling pabrik-pabrik gula
di Indonesia hanya 28,5 juta ton. Hingga akhir musim giling, yakni pada pekan
ketiga Oktober 2023, tebu yang digiling diperkirakan hanya 33-34 juta ton.
Produksi tebu tersebut lebih rendah daripada produksi 2022
yang mencapai 36,5 juta ton. ”Hal itu otomatis akan mengurangi produksi gula kristal
putih pada tahun ini. Kami memperkirakan produksi gula berkurang 8-9 % dibandingkan
produksi tahun lalu, yakni sebanyak 2,386 juta ton,” ujarnya di Jakarta, Rabu
(11/10). AGI mencatat, per 15 September 2023, produksi gula kristal putih yang
dilaporkan pabrik-pabrik gula di seluruh Indonesia sebanyak 2,046 juta ton.
Hingga akhir musim giling, produksinya diperkirakan hanya bertambah sedikit
menjadi 2,25 juta ton. Padahal, pemerintah menargetkan produksi gula tahun ini
dapat mencapai 2,7 juta ton dengan rata-rata rendemen nasional sebesar 8 %. (Yoga)
ALIH FUNGSI LAHAN MENGANCAM PRODUKSI PADI NASIONAL
Di tengah ancaman perubahan iklim, faktor non-alam terus
menghantui sektor pertanian padi di Indonesia. Salah satunya adalah alih fungsi
lahan sawah yang hingga saat ini terus terjadi. Merujuk data analisis Direktorat
Pengendalian dan Pemantauan Pertanahan Kementerian ATR / BPN tahun 2019,
rata-rata konversi lahan sawah menjadi nonsawah di Indonesia mencapai 100.000 hektar
per tahun. Sementara itu, rata-rata kemampuan mencetak sawah hanya 60.000
hektar setahun. Artinya,terjadi selisih alih fungsi lahan sawah 40.000 hektar
per tahunnya. Lebih luas daripada total area Kota Surabaya. Padahal, lahan
menjadi salah satu faktor penting tercapainya target produksi padi di
Indonesia. Hasil pengolahan regresi data panel yang dilakukan Litbang Kompas
menunjukkan, setiap penambahan seribu hektar area lahan sawah akan mendorong peningkatan
produksi padi sekitar 4.370 ton. Jadi, dengan alih fungsi lahan sawah di
Indonesia saat ini, diperkirakan menurunkan produksi padi 174.800 ton setahun.
Daerah yang diperkirakan memiliki tren penurunan produksi padi
terbesar secara nasional ini adalah Provinsi Kalbar, Kalteng, dan Kalsel. Dengan
fenomena yang hingga saat ini tak terbendung, target produksi padi 62 juta ton
ditahun ini dan 65,4 juta ton pada tahun depan agaknya tidak mudah dicapai.
Pasalnya, capaian sebelumnya pun meleset dari target yang ditetapkan pemerintah.
Jajak pendapat harian Kompas pada 18-20 September 2023 menemukan hal serupa.
Sepertiga responden berpendapat alih fungsi sawah menjadi lahan terbangun
menjadi salah satu penyebab turunnya produksi padi di Indonesia, selain faktor
iklim. ”Kalau dikaitkan dengan pembangunan, seharusnya ada relokasi.
Berdasarkan UU Perlindungan LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan), setiap
lahan pertanian yang dialihfungsikan untuk pembangunan harus ada relokasi baru.
Tapi, dalam praktiknya (di Kalsel) itu tidak terjadi, otomatis lahan tersebut
berkurang,” ungkap Dwi Putra Kurniawan, Ketua Serikat Petani Indonesia wilayah Kalsel,
saat ditemui di Banjarbaru, Minggu (1/10). (Yoga)
BURSA KARBON DI INDONESIA : ENERGI BARU BAGI KORPORASI
Ketahanan Pangan RI Dinilai Lemah
Bapanas Tugasi Bulog Impor jagung Pakan 500 Ribu Ton
Polemik Data Beras
Lonjakan harga beras di pasar kembali memunculkan perdebatan
tentang akurasi data beras nasional, baik di masyarakat maupun di pemerintahan.
Bukan baru kali ini kisruh data beras memicu polemik. Kementerian Pertanian
ngotot produksi dalam negeri surplus. Namun,faktanya di lapangan, harga beras
tetap tinggi. Ini yang membuat Kemendagri meminta dilakukan rekonsiliasi data
antar-instansi agar sesuai kondisi riil di lapangan. Data Kementan, total
produksi beras Januari-Desember 2023 tercatat 30,83 juta ton. Ditambah total
beras impor Bulog 2,9 juta ton, stok akhir tahun diperkirakan 33,73 juta ton. Dengan
kebutuhan setahun 30,84 juta ton, berarti akhir tahun ada surplus 2,89 juta ton
(Kompas, 10/10).
Kementan menyebut harga beras tetap tinggi karena adanya anomali
terkait kenaikan biaya produksi akibat kenaikan harga pupuk, benih, dan obat;
ketidakefisienan biaya logistik atau distribusi; dan struktur pasar beras di
Indonesia. Sudah 78 tahun Indonesia merdeka, urusan data beras tak pernah
beres. Tak ada satu data beras yang presisi dan terkonsolidasi secara nasional,
baik itu produksi, stok pemerintah di Bulog, maupun stok yang dimiliki oleh
petani, konsumen, pedagang, dan penggilingan. Akibatnya, tak jarang kebijakan
impor oleh pemerintah juga menjadi blunder, baik dari sisi waktu maupun volume. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









