Dampak Konflik Timur Tengah Mulai Diperhitungkan Dunia Usaha
Para pelaku usaha mulai mengalkulasi dampak dari meletusnya
konflik antara kelompok Hamas dan Israel di Timur Tengah terhadap aktivitas
industri. Konflik tersebut diprediksi berdampak pada harga energi di Tanah Air
yang berpotensi mengganggu produksi industri manufaktur. Ketua Bidang Industri
dan Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bobby Gafur Umar mengatakan,
konflik yang terjadi di Timur Tengah dapat memicu kenaikan harga energi,
khususnya minyak mentah dan gas bumi. Pasalnya, meski Israel dan Palestina
bukan produsen minyak, konflik terjadi di tengah kawasan penghasil minyak dan
gas di Timur Tengah yang menyumbang hampir sepertiga pasokan minyak dunia.
”Persediaan energi di dalam
negeri terbatas sehingga sebagian besar kebutuhan bahan baku energi,
seperti minyak bumi dan gas, untuk keperluan industri masih dipenuhi melalui
impor,” ujar Bobby saat dihubungi pada Kamis (12/10). Dia mencontohkan, Indonesia
hanya memproduksi 600.000 barel minyak bumi per hari, sedangkan kebutuhan
minyak dalam negeri di atas 1,5 juta barel per hari. Sama halnya dengan minyak bumi,
kapasitas produksi gas bumi (untuk elpiji) dalam negeri juga belum mampu menutupi
kebutuhan nasional. ”Jika pasokan minyak dan gas terganggu, imbasnya harga keduanya
akan naik. Kondisi ini akan mengganggu aktivitas produksi dan pertumbuhan
industri dalam negeri,” katanya. (Yoga)
Postingan Terkait
Eskalasi Konflik Amerika Serikat – Iran
Potensi Tekanan Tambahan pada Target Pajak
Amankan Pasokan BBM Dalam Negeri
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Kenaikan Harga Minyak Dongkrak Saham Energi
Harga Energi Naik-Turun, Investor Perlu Cermat
Kemungkinan Pemerintah Membuka Opsi Impor Gas
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023