Faktor Iklim Tekan Produksi Padi
Hingga dasarian III September 2023, level El Nino di
Indonesia berada di level moderat dengan nilai indeks 1,68. Level El Nino akan mencapai
level kuat jika indeksnya mencapai 2,0. BMKG memprediksi kondisi kering ini
bertahan hingga Februari 2024 dan melemah pada bulan-bulan berikutnya. Kondisi
El Nino saat ini bersamaan dengan puncak musim kemarau sehingga berpotensi
memicu kekeringan areal tanam padi yang menyebabkan penurunan produktivitas. Plt
Mentan yang juga Kepala Bapanas Arief Prasetyo mengatakan, El Nino berdampak
besar pada produksi padi sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan beras nasional.
”El Nino ada pengaruhnya (produksi beras). Daerah sentra produksi
beras, seperti Lampung dan Jawa, semuanya berwarna hitam di peta BMKG yang
berarti bercurah hujan rendah. Ada pula Sulsel dan NTB. Ini semua pusat beras,”
kata Arief pada wawancara daring bersama Litbang Kompas, Senin (2/10). Hal
tersebut sejalan dengan temuan Litbang Kompas melalui pemodelan regresi data
panel untuk melihat sejumlah variabel yang berpengaruh pada produksi padi di
Indonesia. Hasil analisis menemukan variabel terkait iklim, seperti suhu udara
dan curah hujan, berdampak signifikan terhadap produksi padi. Bahkan, variabel
iklim menjadi ancaman serius terhadap produksi tanaman pangan. Hasil regresi
data panel menunjukkan variabel suhu udara memiliki koefisien sebesar negatif
4,572829. Artinya, kenaikan suhu udara sebesar 1 derajat celsius setahun akan menurunkan
produksi padi 4.500 ton di Indonesia. (Yoga)
Postingan Terkait
Titik Balik Lifting Minyak Bumi
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023