Polemik Data Beras
Lonjakan harga beras di pasar kembali memunculkan perdebatan
tentang akurasi data beras nasional, baik di masyarakat maupun di pemerintahan.
Bukan baru kali ini kisruh data beras memicu polemik. Kementerian Pertanian
ngotot produksi dalam negeri surplus. Namun,faktanya di lapangan, harga beras
tetap tinggi. Ini yang membuat Kemendagri meminta dilakukan rekonsiliasi data
antar-instansi agar sesuai kondisi riil di lapangan. Data Kementan, total
produksi beras Januari-Desember 2023 tercatat 30,83 juta ton. Ditambah total
beras impor Bulog 2,9 juta ton, stok akhir tahun diperkirakan 33,73 juta ton. Dengan
kebutuhan setahun 30,84 juta ton, berarti akhir tahun ada surplus 2,89 juta ton
(Kompas, 10/10).
Kementan menyebut harga beras tetap tinggi karena adanya anomali
terkait kenaikan biaya produksi akibat kenaikan harga pupuk, benih, dan obat;
ketidakefisienan biaya logistik atau distribusi; dan struktur pasar beras di
Indonesia. Sudah 78 tahun Indonesia merdeka, urusan data beras tak pernah
beres. Tak ada satu data beras yang presisi dan terkonsolidasi secara nasional,
baik itu produksi, stok pemerintah di Bulog, maupun stok yang dimiliki oleh
petani, konsumen, pedagang, dan penggilingan. Akibatnya, tak jarang kebijakan
impor oleh pemerintah juga menjadi blunder, baik dari sisi waktu maupun volume. (Yoga)
Postingan Terkait
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023