BURSA KARBON DI INDONESIA : ENERGI BARU BAGI KORPORASI
Pembiayaan investasi dengan skala besar dan memenuhi komitmen terhadap isu perubahan iklim, kebutuhan pendanaannya dapat dipenuhi melalui hadirnya bursa karbon di Indonesia. Korporasi pun melihat peluang itu sebagai alternatif penggalangan modal, termasuk memenuhi sasaran pengurangan emisi karbon ke depan. “Coba bayangkan, geotermal itu butuh investasi besar, risikonya juga besar, tapi jualannya listrik yang notabene sangat ketat diatur regulasi. Artinya, kalau transaksi karbon kredit di sini berkembang, harga bagus, bisa menghasilkan tambahan penghasilan bagi kami, tentu jadi sangat menarik mempercepat ekspansi,” ujar Presiden Direktur & CEO PT Supreme Energy, Nisriyanto. Supreme Energy merupakan pemain pembangkit swasta, Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Panas Bumi (PLTP). Perusahaan itu tengah menggarap perluasan beberapa proyek geotermal yang berada di kawasan Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatra Barat, serta di kawasan Kabupaten Muara Enim, Kabupaten Lahat, dan Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatra Selatan. Nisriyanto bercerita, selama ini proyek energi baru terbarukan (EBT), memiliki banyak calon pembeli karbon kredit. Hanya saja, harga yang ditawarkan tidak cocok dengan investasi yang sudah dikeluarkan. Senada, emiten energi dan tambang PT Indika Energy Tbk. (INDY) pun melihat keberadaan bursa karbon sebagai pelecut investasi ke sektor EBT. Ke depan, INDY berencana masuk bisnis pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) melalui Empat Mitra Indika Tenaga Surya. Wakil Direktur Utama dan CEO Grup INDY Azis Armand menuturkan hadirnya bursa karbon sebagai sinyal Indonesia menghargai setiap kegiatan penanggulangan iklim dari berbagai pihak, termasuk dari pelaku usaha. Pemain bisnis sektor transportasi seperti PT Blue Bird Tbk juga melihat kehadiran bursa karbon sebagai energi dalam menjalankan bisnis berkelanjutan. Menurut Direktur Utama Blue Bird Adrianto Djokosoetono, munculnya bursa karbon sebagai bentuk dukungan terhadap kualitas lingkungan. Ketua Umum Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) Arthur Simatupang melihat bursa karbon sebagai cerminan pemerintah telah mengambil jalan yang tepat untuk mendukung transisi energi. Sementara bagi pemain IPP yang telah atau tengah mengembangkan EBT, hadirnya bursa karbon menjadi semacam insentif dan pemberi semangat baru untuk terus memperbesar investasi ke sektor EBT. Sementara itu, Ketua Asosiasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Zulfan Hilal melihat bursa karbon akan membawa efek berganda dari sisi semakin masifnya pembangunan pembangkit listrik hydro power. Direktur Investasi CarbonX Dessi Yuliana menjelaskan proyek karbon terdekat yang dikembangkan perusahaan berada di Kalimantan Barat sekitar 20.000 hektare, terbagi 10.000 hektare untuk kegiatan restorasi dan 10.000 hektare untuk kegiatan konservasi.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023