Lingkungan Hidup
( 5781 )Mewujudkan Kemandirian Energi
Makanan Terbuang Akan Dicegah
Pemerintah berencana menyusun regulasi untuk mencegah
makanan terbuang, baik sebelum maupun setelah diolah. Kerugian ekonomi akibat
fenomena ini mencapai triliunan rupiah per tahun. Indonesia dapat berkaca pada negara
lain dalam menyusun dan menerapkan regulasi itu. Laporan Kementerian PPN / Bappenas
menyebut, kehilangan dan pemborosan makanan (food loss and waste/FLW)
mengakibatkan kerugian ekonomi pada setiap tahap rantai pasok makanan. Dalam
rentang tahun 2000-2019, FLW mencapai 23-48 juta ton per tahun. Kerugian
ekonominya Rp 213 triliun-Rp 551 triliun per tahun atau 4-5 % PDB Indonesia per
tahun.
Kepala Bapanas Arief Prasetyo mengatakan, besaran tumpukan
FWL setara dengan 115-184 kg per kapita per tahun. Padahal, makanan-makanan itu
jika dapat dimaksimalkan penggunaannya berpotensi dikonsumsi 61-125 juta orang
atau 29-47 % populasi Indonesia. ”Dalam hal ini, pemerintah, kemudian DPR,
menginisiasi (masalah) ini perlu diregulasi,” ujar Arief dalam seminar
”Komitmen dan Aksi Bersama Transformasi Sistem Pangan Melalui Upaya Pencegahan
Food Waste di Indonesia”, di Jakarta, Jumat (29/9). (Yoga)
Saat Nadi Ekonomi Leuwiliang Terbakar
Rulan (54) bergegas setelah mendapat kabar Pasar Leuwiliang,
Kabupaten Bogor, Jabar, terbakar, Rabu (27/9) sekitar pukul 20.00. Ia tidak
bisa menyelamatkan barang dagangannya di kios Blok A. Ia dan pedagang lain tidak
berdaya saat api cepat menyebar dan membesar. ”Habis semua, tidak ada satu pun
dagangan pakaian terselamatkan. Saya datang sudah gede apinya. Hanya bisa pasrah,”
kata Rulan, Jumat (29/9) di lokasi pasar. Akibat kebakaran itu, Rulan mengalami
kerugian Rp 700 juta. ”Mungkin lebih. Yang pasti ini saya rugi besar,” katanya.
Hingga Kamis (28/9) pukul 13.30, asap pekat masih menyelimuti gedung utama di Blok
A dan B Pasar Leuwiliang. Sejumlah pedagang tampak mengais-ngais barang
dagangannya di tengah hawa panas. Setidaknya 66 petugas dan 16 mobil pemadam kebakaran
dikerahkan untuk memadamkan api.
Ujang (68), pedagang pakaian di Blok A, hanya bisa berdiri
menatap lapaknya yang hangus terbakar. Tidak banyak barang yang bisa ia
selamatkan karena api cepat menyebar. Ia hanya berharap, pascakebakaran bisa
segera berjualan kembali sehingga tak terus merugi. Pemerintah diharapkan juga bisa
memberikan bantuan ke pada pedagang yang terdampak agar bisa melanjutkan roda
ekonomi. Akibat kebakaran itu, dari total 590 kios, sebanyak 550 kios terbakar.
Selanjutnya, dari 641 los, 580 los terbakar. Sementara dari total 835 lapak tenda,
yang terbakar sebanyak 450 lapak. Di luar itu, ada total 1.619 lapak yang
terbakar dan 2.066 pedagang terdampak. Bupati Bogor Iwan Setiawan menyadari
kebakaran Pasar Leuwiliang merugikan pedagang. Insiden itu juga berdampak pada
warga yang hendak membeli barang untuk memenuhi kebutuhan hariannya. Pasar yang
berdiri tahun 2004 itu merupakan pasar terbesar di Kabupaten Bogor selatan. Karena
dinilai penting dan roda ekonomi harus terus berputar, menurut Iwan, Pasar Leuwiliang
perlu segera direvitalisasi. Pasar sementara juga perlu disiapkan agar para pedagang
bisa segera berjualan. (Yoga)
Sulit Maju Tanpa Industri Baterai
Barang Impor di Mana-mana
Embel-embel impor membuat barang dinilai lebih berkelas. Di sisi
lain, barang impor produksi massal berharga murah sehingga menekan produk dalam
negeri. Topik perihal social commerce mencuat, yang dipicu, antara lain, barang
impor yang dijual lewat platform digital dan kios-kios di Pasar Tanah Abang
yang sepi. Pemerintah, melalui Permendag, lantas menegaskan, e-commerce tidak
boleh menyatu dengan medial sosial dalam satu platform. Hal lain, kedua
platform itu tak boleh menjual produknya sendiri, tetapi menjual UMKM
(Kompas.id, 27/9). Kedua hal itu disebutkan dalam Permendag No 31 Tahun 2023
tentang Perizinan Berusaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha
dalam Perdagangan melalui Sistem Elektronik. Permendag itu merupakan revisi
atas Permendag No 50/2020.
Di balik riuh rendah pembahasan soal social commerce, ada persoalan
lain yang tak kalah mendesak untuk
dituntaskan. Persoalan itu berupa kekuatan industri di dalam negeri untuk menghasilkan
produk yang diperlukan masyarakat. Produk berkualitas dengan harga murah dan
mudah diperoleh akan membuat masyarakat berpaling dari barang impor. Berdasarkan
data BPS, impor pada Januari-Agustus 2023 senilai 147,178 miliar USD. Dari
jumlah itu, 72,92 % berupa bahan baku/penolong, 17,57 % barang modal, dan 9,51 %
berupa barang konsumsi. Barang impor, yang dijual melalui berbagai platform,
ada di mana-mana. (Yoga)
MINYAK SAWIT, Kelas Menengah India Disasar
Dengan konsumsi minyak makan 23,87 juta ton setiap tahun, India menjadi pasar penting minyak sawit. Namun, citra minyak sawit di negara berpopulasi 1,4 miliar itu terus menurun dan hanya dikonsumsi kelas menengah ke bawah. Hal itu dipicu munculnya citra negatif minyak sawit di kelas menengah atas. ”Minyak sawit dapat memenuhi permintaan global minyak nabati berkelanjutan. Namun, kampanye negatif kelapa sawit harus dihentikan,” kata Wakil Mendag RI, Jerry Sambuaga saat memberikan sambutan pada Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (SVOC) di kota Mumbai, India, Rabu (27/9).
Dalam konferensi yang diselenggarakan Dewan Negara-negara Produsen Minyak Kelapa Sawit (CPO) itu, Jerry menyebut, India merupakan salah satu negara tujuan ekspor minyak sawit terbesar. Pada 2022, ekspor minyak sawit Indonesia ke India mencapai 5,5 juta ton dengan nilai 5,6 miliar USD. India memenuhi kebutuhan minyak makan dengan impor yang mencapai 16,5 juta ton dari sejumlah negara. Minyak sawit menjadi sumber utama kebutuhan minyak makan India dengan porsi 33 %. Sedangkan minyak kedelai 24 %, minyak mustar 16 %, minyak bunga matahari 8 %, dan sisanya dari sumber lain. Saat ini minyak sawit di India hanya dikonsumsi kelas menengah ke bawah, rumah makan, hotel, restoran, dan katering. Dengan menyasar kelas menengah, potensi peningkatan konsumsi minyak sawit di India sangat besar. (Yoga)
Pengembangan Kilang Balikpapan 82 Persen
Harga Pinang di Mentawai Terjun Bebas
Komoditas Ekspor Terdampak
Kekeringan panjang akibat dampak El Nino tidak hanya
memengaruhi produksi beras. Fenomena pemanasan suhu muka laut di atas kondisi
normal itu juga akan menyebabkan penurunan produksi dan harga komoditas ekspor
Indonesia, seperti CPO, karet, dan kopi. Berdasarkan kajian Tim Ekonom PT Bank
Mandiri (Persero) Tbk, El Nino dapat memengaruhi sejumlah komoditas perkebunan
yang diekspor Indonesia dan Malaysia. Untuk CPO, misalnya, El Nino ekstrem
dapat menurunkan produksi komoditas itu pada 3-6 bulan ke depan. ”Dengan asumsi
dasar tidak ada faktor lain yang memengaruhi (cateris paribus), produksi CPO
diperkirakan dapat turun 3-7 % dan harganya dapat naik sekitar 4-10 %,” kata Vice
President for Industry and Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani, Selasa
(26/9) di Jakarta.
Selain CPO, El Nino juga akan memengaruhi 60 % tanaman kopi
Indonesia. BPS mencatat, pada 2022, perkebunan dan produksi kopi di Indonesia
masing-masing seluas 1,25 juta hektar dan sebanyak 794.800 ton. Begitu juga
karet. Merujuk data BPS dan Statista, luas perkebunan dan produksi karet Indonesia
pada 2022 masing-masing 3,83 juta hektar dan 3,14 juta ton. Menurut Dendi,
penurunan produksi kopi diperkirakan bisa mencapai 15-20 % karena lebih
sensitif terhadap cuaca. Adapun karet, penurunan produksinya relatif kecil,
diperkirakan sekitar 2 %. ”Harga karet alam pada 2023 dan 2024 akan relatif
stabil, masing-masing diperkirakan 1,5 USD per kg dan 1,6 USD per kg. Sementara
harga kopi bisa meningkat sekitar 15 %,” ujarnya. (Yoga)
Pemerintah Jamin Bahan Baku Industri Baterai Nasional
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









