Lingkungan Hidup
( 5820 )MINYAK SAWIT, Kelas Menengah India Disasar
Dengan konsumsi minyak makan 23,87 juta ton setiap tahun, India menjadi pasar penting minyak sawit. Namun, citra minyak sawit di negara berpopulasi 1,4 miliar itu terus menurun dan hanya dikonsumsi kelas menengah ke bawah. Hal itu dipicu munculnya citra negatif minyak sawit di kelas menengah atas. ”Minyak sawit dapat memenuhi permintaan global minyak nabati berkelanjutan. Namun, kampanye negatif kelapa sawit harus dihentikan,” kata Wakil Mendag RI, Jerry Sambuaga saat memberikan sambutan pada Konferensi Minyak Nabati Berkelanjutan (SVOC) di kota Mumbai, India, Rabu (27/9).
Dalam konferensi yang diselenggarakan Dewan Negara-negara Produsen Minyak Kelapa Sawit (CPO) itu, Jerry menyebut, India merupakan salah satu negara tujuan ekspor minyak sawit terbesar. Pada 2022, ekspor minyak sawit Indonesia ke India mencapai 5,5 juta ton dengan nilai 5,6 miliar USD. India memenuhi kebutuhan minyak makan dengan impor yang mencapai 16,5 juta ton dari sejumlah negara. Minyak sawit menjadi sumber utama kebutuhan minyak makan India dengan porsi 33 %. Sedangkan minyak kedelai 24 %, minyak mustar 16 %, minyak bunga matahari 8 %, dan sisanya dari sumber lain. Saat ini minyak sawit di India hanya dikonsumsi kelas menengah ke bawah, rumah makan, hotel, restoran, dan katering. Dengan menyasar kelas menengah, potensi peningkatan konsumsi minyak sawit di India sangat besar. (Yoga)
Pengembangan Kilang Balikpapan 82 Persen
Harga Pinang di Mentawai Terjun Bebas
Komoditas Ekspor Terdampak
Kekeringan panjang akibat dampak El Nino tidak hanya
memengaruhi produksi beras. Fenomena pemanasan suhu muka laut di atas kondisi
normal itu juga akan menyebabkan penurunan produksi dan harga komoditas ekspor
Indonesia, seperti CPO, karet, dan kopi. Berdasarkan kajian Tim Ekonom PT Bank
Mandiri (Persero) Tbk, El Nino dapat memengaruhi sejumlah komoditas perkebunan
yang diekspor Indonesia dan Malaysia. Untuk CPO, misalnya, El Nino ekstrem
dapat menurunkan produksi komoditas itu pada 3-6 bulan ke depan. ”Dengan asumsi
dasar tidak ada faktor lain yang memengaruhi (cateris paribus), produksi CPO
diperkirakan dapat turun 3-7 % dan harganya dapat naik sekitar 4-10 %,” kata Vice
President for Industry and Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani, Selasa
(26/9) di Jakarta.
Selain CPO, El Nino juga akan memengaruhi 60 % tanaman kopi
Indonesia. BPS mencatat, pada 2022, perkebunan dan produksi kopi di Indonesia
masing-masing seluas 1,25 juta hektar dan sebanyak 794.800 ton. Begitu juga
karet. Merujuk data BPS dan Statista, luas perkebunan dan produksi karet Indonesia
pada 2022 masing-masing 3,83 juta hektar dan 3,14 juta ton. Menurut Dendi,
penurunan produksi kopi diperkirakan bisa mencapai 15-20 % karena lebih
sensitif terhadap cuaca. Adapun karet, penurunan produksinya relatif kecil,
diperkirakan sekitar 2 %. ”Harga karet alam pada 2023 dan 2024 akan relatif
stabil, masing-masing diperkirakan 1,5 USD per kg dan 1,6 USD per kg. Sementara
harga kopi bisa meningkat sekitar 15 %,” ujarnya. (Yoga)
Pemerintah Jamin Bahan Baku Industri Baterai Nasional
Impor Jagung Pakan Belum Diperlukan
Percepatan Transisi Energi, RI Libatkan AIIB
Cara Halus Menaikkan Harga BBM
Beras, Gula, dan BBM Bakal Picu Inflasi September Ini
Pengendalian inflasi pada bulan ini hingga akhir tahun bakal
semakin menantang. Kenaikan harga beras dan gula pasir, serta penyesuaian harga
BBM nonsubsidi, diperkirakan bakal memicu inflasi pada September 2023. Di sisi
lain, defisit beras masih mengintai hingga November 2023. Plt Kepala BPS Amalia
Adininggar Widyasanti, Senin (25/9) mengatakan, pada pekan ketiga September 2023,
harga beras masih naik dan belum ada tanda-tanda bergerak mendatar atau turun. Harga
rata-ratanya mencapai Rp 13.477 per kg. Jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan
harga beras semakin banyak. Pada pekan pertama September 2023, jumlahnya
sebanyak 230 daerah, kemudian pada pekan ketiga 2023 bertambah menjadi 284
daerah.
”Bahkan, Purwakarta yang merupakan daerah produsen beras
besar di Jabar menempati urutan keempat dari 10 kabupaten/kota dengan kenaikan
indeks perkembangan harga (IPH) tertinggi. Beras menjadi komoditas utama yang memengaruhi
kenaikan IPH itu,” ujarnya dalam Rapat Pengendalian Inflasi yang digelar
Kemendagri secara daring di Jakarta. BPS mencatat, IPH komoditas pangan
Purwakarta pada pekan ketiga September 2023 sebesar 3,41 %. Dari IPH itu, 3,21 %
berasal dari kenaikan harga beras, selain itu harga gula pasir juga meroket, pada
pekan ketiga September 2023 mencapai Rp 15.134 per kg, yang terjadi di 236 kabupaten/kota.
”Kenaikan harga beras dan gula akan berkontribusi terhadap inflasi September
2023. Selain itu, inflasi juga berpotensi disumbang bensin dan solar nonsubsidi.
Namun, inflasinya tidak akan setinggi sebelumnya,” katanya. (Yoga)
Ancaman Antraks di Luar Rumah Potong Hewan
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









