;

Perusahaan Raksasa Energi Fosil Pun Mulai Bertransisi

Ekonomi Yoga 21 Sep 2023 Kompas
Perusahaan Raksasa Energi Fosil Pun Mulai Bertransisi

Didirikan sejak 1907, Shell dikenal sebagai perusahaan eksplorasi dan produksi minyak di daratan Eropa dan Asia, termasuk sebagian di Benua Amerika. Sejarah panjang bisnis energi fosil perusahaan yang berkantor pusat di London, Inggris, itu diwarnai keputusan untuk merambah sektor energi terbarukan mulai 2016. Shell, yang juga menjadi pendukung salah satu tim balapan Formula 1, mulai berinovasi dengan mengembangkan bahan bakar rendah karbon bermerek Shell V-Power E10 pada tahun 2022, yang mengandung 10 % etanol generasi kedua atau hampir dua kali lipat dari bahan bakar musim balap 2021 yang sebesar 5,75 %. Shell akan menyediakan 100 % bahan bakar ramah lingkungan pada 2026. Mereka mendapat pasokan bioetanol tetes tebu dari mitra di Brasil. Dengan 46.000 titik stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang tersebar di 85 negara, Shell juga mulai merambah stasiun pengisian energy listrik untuk kendaraan listrik berbasis baterai (EV station).

China adalah salah satu negara yang menjadi pangsa pasar besar bagi Shell, yakni terdapat 2.000 SPBU dan 800 EV station. Di Indonesia, baru ada empat EV station milik Shell. ”Ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan kami untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus berkembang di China. China adalah salah satu pasar terpenting bagi Shell,” kata Global Executive Vice President for Mobility Shell Istvan Kapitany, Sabtu (16/9) di Marina Bay Sands, Singapura, dalam bincang media, termasuk harian Kompas. Di Indonesia, pemanfaatan sumber energi terbarukan oleh Shell diterapkan pada proyek perluasan pabrik pelumas yang ada di Bekasi, Jabar, pada November 2022. Di pabrik yang menaikkan kapasitas produksi pelumas menjadi 300 juta liter per tahun itu, Shell mengoperasikan panel tenaga surya dan sistem pemanenan air hujan untuk mengurangi konsumsi air. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :