;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Terus Melaju, Kredit Bank Mandiri Naik 19,14% YoY di Kuartal I 2024

HR1 07 May 2024 Bisnis Indonesia (H)

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (Bank Mandiri) berhasil menyalurkan kredit senilai Rp1.435 triliun pada Kuartal I/2024 atau tumbuh 19,1% secara tahunan (year-on-year/YoY). Apabila dibandingkan dengan pertumbuhan kredit industri, capaian ini berhasil melampaui pertumbuhan industri secara tahunan yang mencapai 12,4% pada akhir Maret 2024. Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan bahwa pertumbuhan kredit ini mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang solid dan tangguh. “Melalui pencapaian fungsi intermediasi ini, Bank Mandiri memperkuat peranannya sebagai agen pembangunan yang berupaya berkontribusi maksimal terhadap perekonomian Indonesia,” katanya. 

Pertumbuhan kredit yang mampu tumbuh double digit tersebar merata di semua segmen, kredit segmen wholesale tumbuh 25,2% YoY menjadi Rp751 triliun, dan kredit ritel naik 10,9% YoY menjadi Rp363 triliun. Kualitas aset Bank Mandiri juga unggul dibandingkan lima bank besar lainnya, dengan rasio non performing loan (NPL) Gross yang berhasil dipertahankan pada level 1,02% per Maret 2024, turun 68 basis poin dari tahun sebelumnya. Selain itu, Bank Mandiri juga sangat prudent dalam pencadangan kredit dengan coverage ratio bank only mencapai 368%. Sejalan dengan strategi bisnis yang konsisten dan optimalisasi kanal digital, Bank Mandiri juga berhasil mencatat laba bersih konsolidasi sebesar Rp12,7 triliun di kuartal I 2024, naik 1,13% YoY. 

Aplikasi Super App Livin’ by Mandiri tercatat telah mengelola 846 juta transaksi pada kuartal I/2024, meningkat 41,7% YoY, dengan pengguna mencapai 24,4 juta, naik 40% YoY. Nilai transaksi Livin’ by Mandiri pada kuartal I 2024 mencapai Rp921 triliun, tumbuh 27,4% YoY. Livin’ dan Kopra by Mandiri juga berkontribusi pada pertumbuhan dana pihak ketiga, khususnya dana murah. Selain kinerja keuangan yang positif, Bank Mandiri juga berkomitmen pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Portofolio hijau Bank Mandiri telah tumbuh 19,3% YoY menjadi Rp130 triliun, dan total portofolio sosial mencapai Rp134 triliun, meningkat 9% YoY. Bank Mandiri berkomitmen pada keberlanjutan melalui tiga pilar, yakni Sustainable Banking, Sustainable Operation, dan Sustainability Beyond Banking. Bank ini menargetkan Net Zero Emissions in Operations by 2030 dan memimpin transisi Indonesia ke ekonomi karbon rendah untuk mencapai SDG’s.

5% BPR Belum Penuhi Modal Inti Minimum

KT1 06 May 2024 Investor Daily (H)
Masih ada waktu bagi Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) untuk memenuhi ketentuan modal inti minimum Rp 6 miliar di akhir Desember 2024. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mengingatkan agar pemilik BPR/BPRS untuk meningkatkan permodalan banknya. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, ketentuan modal  inti tercantum pada peraturan OJK (POJK) Nomor 5 Tahun 2015 tentang penyediaan Modal Inti Minimum BPR/BPRS, tujuan konsolidasi dalam rangka memperkuat peran BPR/BPRS dalam pembiayaan UMKM dan memperluas akses pembiayaan bagi masyarakat. "Pada posisi 31 Maret 2024, BPR/BPRS yang sudah penuhi modal inti ada 1.213 BPR/BPRS, jadi hanya sekitar 5% yang belum penuhi modal Rp 6 miliar," ungkap  Mahendra. (Yetede)

PERBANKAN MELAWAN TEKANAN

HR1 06 May 2024 Bisnis Indonesia (H)

Berakhirnya program restrukturisasi kredit dan Pemulihan Ekonomi Nasional menjadi tantangan bagi industri perbankan pada tahun ini. Mengawali tahun ini, bank menghadapi risiko kenaikan rasio kredit bermasalah atau nonperforming loan (NPL). Alhasil, upaya perbankan dalam menjaga kinerja sepanjang 2024 diperkirakan penuh tantangan. Selain membersihkan sisa tunggakan kredit dalam program restrukturisasi yang masih sangat besar, industri ini menghadapi gejolak ketidakpastian akibat konflik geopolitik.

PEMULIHAN EKONOMI : BIMBANG DI BISNIS BANK

HR1 06 May 2024 Bisnis Indonesia

Hampir 1 tahun, Indonesia mengakhiri situasi krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19. Kendati berbagai indikator ekonomi menunjukkan capaian positif melalui berbagai program yang telah digulirkan, sejumlah sektor usaha dinilai belum cukup stabil. Fathan Subchi, Wakil Ketua Komisi XI DPR khawatir ketika konflik Iran-Israel meledak pertengahan April lalu. Situasi yang dinilainya bisa mengganggu target pemerintah untuk memutar perekonomian lebih cepat lagi. Apalagi, baru tahun lalu, Indonesia lepas dari situasi Covid-19 seiring dengan terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 48 Tahun 2023 tentang Pengakhiran Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) pada 4 Agustus 2023. 

Keputusan itu diikuti dengan berakhirnya pengalokasian anggaran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dan program restrukturisasi kredit di perbankan. Khusus program restrukturisasi kredit perbankan, berakhir secara keseluruhan pada Maret 2024 setelah sempat mengalami perpanjangan secara terbatas pada tahun lalu. Konflik Iran-Israel dinilai membuat situasi ekonomi global berpotensi melemah. Hal yang mesti diantisipasi pemerintah. “Kita tidak tahu sampai kapan ketegangan antara Iran dan Israel berlanjut. Kalau misalnya Agustus atau September [ketegangan tidak berakhir], kita akan mengalami situasi yang sangat mengkhawatirkan,” kata Fathan. 

Sebagai anggota pimpinan di Komisi XI yang bermitra dengan kementerian di bidang ekonomi, dia tahu betul postur anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) dan berbagai risiko yang memengaruhi ke depan. Saat APBN 2024 disusun, kala itu pemerintah belum mengukur adanya konflik Iran-Israel yang disebut-sebut bakal lebih panas ketimbang konflik antara Rusia-Ukraina. Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan program keringanan bagi debitur perbankan melalui restrukturisasi kredit. Sampai dengan Maret 2024, outstandingkredit restrukturisasi mencapai Rp228,03 triliun, sudah turun drastis dibandingkan situasi pada saat Covid-19 yang sempat menyentuh kisaran Rp900 triliun. Wakil Menteri BUMN sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan bahwa risiko eksternal masih jadi tantangan utama perbankan sepanjang tahun berjalan, terutama akibat ketidakpastian kondisi geopolitik dan kebijakan The Fed. 

Sementara itu, di tengah kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) yang dihiasi fenomena lonjakan infl asi, penurunan Fed Fund Rate diproyeksi tertunda sampai akhir tahun, setelah sebelumnya dipercaya akan mulai turun pada kuartal III/2024. Selain itu, Tiko—panggilan akrab Kartika Wirjoatmodjo— mengingatkan risiko dalam negeri patut jadi perhatian, kendati dirinya optimistis perbankan bisa mengambil peluang atas masih kuatnya proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional. Mengutip data OJK, pada 2 bulan pertama tahun ini terjadi kenaikkan rasio kredit bermasalah dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu. Pada Januari dan Februari 2024, NPL bank sebesar 2,35%, padahal pada akhir 2023 tercatat 2,19%. 

Menurut Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah dan Syariah OJK Defri Andri, kenaikan NPL di perbankan masih dalam situasi yang dapat dikendalikan. Sementara itu, dari perspektif Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin, berakhirnya program restrukturisasi dan relaksasi lainnya dalam rangka pemulihan ekonomi nasional pascapandemi Covid-19, menjadi bom waktu bagi industri perbankan di Tanah Air karena industri bank dihadapkan dengan masalah serius lain, yaitu konflik geopolitik. Di sisi lain, pemerintah perlu melakukan intervensi serupa program PEN apabila kondisi saat ini berlangsung dalam jangka waktu yang panjang, meluas, serta menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan sektor-sektor industri yang dibiayai oleh bank.

Ancaman Risiko Kredit Macet UMKM Meningkat

HR1 06 May 2024 Kontan

Risiko kredit perbankan di segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) semakin meningkat. Kondisi ini ditandai oleh kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) di kuartal I-2024. Mengacu pada data BI, rasio NPL kredit UMKM industri perbankan terus meningkat sejak 2022 hingga Februari 2024, meski outstanding tumbuh baik. Bahkan, bank-bank besar yang mencatat penurunan rasio NPL secara keseluruhan justru mengalami kenaikan NPL kredit UMKM pada kuartal I-2024. Rasio NPL kredit UMKM perbankan per Februari 2024 mencapai 4,09%, naik dari 3,84% pada Desember 2023 dan 3,41% pada Februari 2022. Secara nilai, NPL kredit UMKM hingga Februari mencapai Rp 59,7 triliun, bertambah Rp 5,53 triliun hanya dalam dua bulan. 

Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, kenaikan NPL UMKM terutama disebabkan suku bunga global yang masih tinggi dan volatilitas harga komoditas. “Ini mulai berdampak terhadap daya beli dan kemampuan bayar masyarakat menengah ke bawah,” ujarnya, belum lama ini. Kondisi suku bunga tinggi yang diperkirakan berlangsung lebih lama akan menambah risiko memburuknya kualitas kredit UMKM. 

Bank Indonesia (BI) di pertemuan terakhir telah mengerek naik suku bunga acuan 25 basis poin ke level 6,25%. Bank Negara Indonesia (BNI) mencatatkan rasio NPL UMKM tertinggi di jajaran bank pelat merah. Per Maret, NPL mencapai 5,03%, naik dari 4,27% di Maret tahun sebelumnya. Padahal, NPL konsolidasi BNI turun dari 2,8% ke level 2%. Rinciannya, NPL kredit kecil mencapai Rp 3,29 triliun, sekitar 4% dari outstanding.NPL segmen menengah sebesar Rp 5,82 triliun atau 5,9% dari total portofolio. Rinciannya, rasio NPL kredit kecil dan menengah  Bank Mandiri tercatat 1,02% atau senilai Rp 800 miliar, naik dari 0,93% pada Maret 2023 atau sebesar Rp 640 miliar. 

Sedangkan rasio NPL kredit mikro naik menjadi 1,65% atau senilai Rp 1,77 triliun, dari 1,15% atau senilai Rp 1,77 triliun. Perinciannya, rasio NPL mikro BRI naik dari 2,2% pada Maret 2023 ke level 2,69%, atau secara nilai meningkat dari Rp 10,04 triliun menjadi Rp 13,46 triliun. Rasio NPL kredit segmen kecil naik ke 5,4%, senilai Rp 12,5 triliun, dari 4,5% atau Rp 9,94 triliun. Rasio NPL kredit menengah bengkak dari 2,1% jadi 2,2%. Tapi, Direktur Utama BRI Sunarso menilai kualitas aset BRI secara keseluruhan tergolong baik. Rasio loan at risk (LAR) telah turun dari 16,39% pada kuartal I-2023 jadi 12,7% pada triwulan pertama tahun ini. BRI sudah melakukan pencadangan LAR sebesar Rp 12,3 triliun. Direktur Keuangan Bank Mandiri Sigit Prastowo mengungkapkan, pihaknya tetap berhati-hati menyalurkan kredit, dengan mempertimbangkan kondisi global.

GEJOLAK GEOPOLITIK : TAKTIS DI STRATEGI BISNIS

HR1 06 May 2024 Bisnis Indonesia

Situasi global yang tidak menentu mengakibatkan prospek perekonomian dunia berpotensi tumbuh lambat. Bagi kalangan industri perbankan, situasi itu patut menjadi perhatian. Mereka mesti taktis dalam menyusun strategi, mengejar pertumbuhan kredit atau menjaga bisnis tetap profit. Bicara di acara Bisnis Indonesia BUMN Forum 2024, Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah dan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Defri Andri mengatakan bahwa industri perbankan di Tanah Air sedang menghadapi tren koreksi margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Penyusutan NIM itu, katanya, lantaran peningkatan suku bunga acuan serta persentase biaya dana (cost of fund) lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit. Kendati turun, katanya, NIM perbankan di Indonesia masih paling menarik di kawasan Asia Tenggara dan menjadi sasaran investor untuk berbisnis bank di Tanah Air. 

Mengutip data statistik perbankan yang dirilis oleh OJK, NIM perbankan sampai dengan Februari 2024 tercatat 4,49% atau lebih rendah dibandingkan dengan posisi Januari 2024 sebesar 4,54%. Pada akhir 2023, NIM perbankan nasional masih berada di kisaran 4,81%. Sementara itu, penyaluran kredit perbankan dalam kurun 3 tahun terakhir masih terbatas. Rasio pinjaman terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio(LDR) belum mampu menembus level psikologis seperti situasi sebelum pandemi Covid-19 yang rata-rata di atas 90%. Sementara itu, pada periode 2017—2019, rata-rata pertumbuhan kredit perbankan di kisaran 9,3%.Bank Indonesia mencatat out standing kredit perbankan hingga Maret 2024 senilai Rp7.187,6 triliun atau tumbuh 11,8% secara tahunan. 

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Nixon Napitupulu mengatakan bahwa perseroan menurunkan target penyaluran kredit ke level 10%—11% pada 2024 seiring dengan langkah bank sentral yang mengerek bunga acuan. Perubahan target kredit itu, katanya, sebagai antisipasi terhadap biaya bunga yang berpotensi makin mahal dan ketatnya persaingan dana pihak ketiga (DPK). Sementara itu, Direktur Keuangan dan Strategi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sigit Prastowo menuturkan pihaknya memilih strategi berhati-hati dalam membentuk pencadangan dan menjaga portofolio kredit sesuai risiko industri lewat pengembangan deteksi awal untuk mengantisipasi kualitas debitur. Kualitas aset BMRI, katanya, masih terjaga tecermin dari indikator perbaikan LAR bank only menjadi 8,62% per Maret 2024, dari sebelumnya 8,74% per Desember 2023. Selain itu, NPL gross 1,02% per Maret 2024, dengan coverage ratio sebesar 368%. 

Nilai NPL itu tetap sama seperti capaian Desember 2023, tapi membaik 68 basis poin dari capaian Maret 2023 di level 1,7%. Senada, Executive Vice President (EVP) Corporate Communication and Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Hera F. Haryn menyatakan pihaknya terus menjalankan arah kebijakan dari pemerintah dan regulator atas berakhirnya masa restrukturisasi Covid-19. Sementara itu, mewakili segmen BPD, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BJTM) memilih strategi menjaga kualitas portofolio lewat memperketat pemetaan pasar dan efisiensi kinerja, sehingga tidak menciptakan potensi NPL baru ke depannya. 

Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman menjelaskan bahwa menggenjot volume kredit secara terukur merupakan kunci dalam upaya perbaikan portofolio. Namun, di tengah kondisi yang menantang, suku bunga harus kompetitif untuk bisa menarik pasar, yang artinya Bank Jatim harus mengoptimalkan strategi efi siensi internal untuk menjaga rasio cost of creditz Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai program restrukturisasi memang tak bisa dilanjutkan secara terus menerus.“Pandemi itu dimulai 2020, ini sudah 2024. Jadi enggakterlalu cepat juga enggak terlalu lama kalau itu harus berakhir. Tapi untuk restrukturisasi di bank sebenarnya bisa dilihat lagi dari kebijakan masing-masing bank,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (3/5). Terlebih dalam menghadapi gejolak geopolitik saat ini, keberanian bank memangkas keuntungan lewat menurunkan NIM perlu dikedepankan guna memompa perekonomian.

Berharap Pada Dividen Bank BUMN

HR1 04 May 2024 Kontan (H)

Beberapa emiten pelat merah di Indeks IDX BUMN20 berhasil mencetak pertumbuhan kinerja positif pada kuartal I-2024. Tercermin dari pendapatan dan laba bersih anggotnya. Berdasarkan data KONTAN, PTPP memimpin lonjakan laba bersih. Laba bersih PTPP melesat 176,44% secara tahunan menjadi Rp 9,56 miliar per Maret 2024. Menyusul PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 109,58% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 9,16 miliar pada periode Januari–Maret 2024. Sedangkan besarnya nilai keuntungan masih dipegang big banks BUMN. Bank Rakyat Indonesia (BBRI) mencetak keuntungan Rp 15,89 triliun di kuartal I-2024. Berikutnya Bank Mandiri (BMRI) dengan keuntungan Rp 12,7 triliun, serta Bank Negara Indonesia (BBNI) Rp 5,33 triiun. Di luar perbankan, laba jumbo diraih PT Telkom Indonesia (TLKM) dan PT Pertamina Gas Negara Tbk (PGAS). 

Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat masih menjagokan emiten perbankan untuk urusan dividen. Terlebih Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menargetkan BUMN bisa menyetotorkan dividen Rp 85,5 triliun tahun ini, bahkan diharapkan lebih, Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas sependapat  emiten perbankan berpeluang kembali mencatatkan pertumbuhan. Jika nanti terjadi pelemahan, penurunan kinerja sektor ini tidak akan signifikan.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus sependapat. Di sisi lain, tingginya bunga berpotensi memperbesar kredit bermasalah alias non performing loan (NPL). Jika NPL naik, bank harus memperbesar pencadangan alias provisi. Bila biaya provisi membesar, laba bank bisa berkurang. Ujungnya, dividen bisa mengecil. Target pemerintah dari divicen bank bisa terancam.

PENYALURAN KREDIT : Danamon Jaga Pertumbuhan

HR1 04 May 2024 Bisnis Indonesia

PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) menjalankan berbagai strategi agar pertumbuhan kredit tetap moncer pada tahun ini, di tengah kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) ke level 6,25%. Bank Danamon mencatatkan kinerja kredit dan trade finance yang tumbuh 18% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp179,7 triliun pada kuartal I/2024, didorong oleh pertumbuhan dari seluruh segmen bisnis. Meski begitu, BI telah menaikan suku bunga acuannya dalam agenda Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 23-24 April 2024. BI Rate pun kini menyentuh level 6,25%, naik 25 basis poin (bps) setelah sebelumnya tertahan pada level 6% sejak Oktober 2023. 

Direktur Risk Management Bank Danamon Dadi Budiana mengatakan di tengah kondisi perekonomian saat ini dan adanya peningkatan suku bunga acuan oleh BI sebesar 25 bps, Bank Danamon pun berkomitmen untuk mempererat hubungan dengan nasabah yang sudah ada dan mengakuisisi nasabah baru melalui ekosistem serta kolaborasi yang kuat dengan Mitsubishi UFJ Financial Group Inc. (MUFG). Selain itu, Bank Danamon mendukung kebijakan BI perihal perluasan sektor cakupan insentif kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) yang diharapkan dapat mendorong peningkatan kredit pada berbagai sektor yang berpotensi besar dalam memacu pemulihan serta pertumbuhan ekonomi nasional.

Saham Bank Digital Masih Belum Optimal

HR1 04 May 2024 Kontan

Sebagian besar pelaku pasar tampaknya masih ogah menjadikan saham bank digital sebagai pilihan investasi. Bahkan, ketika harga saham bank besar turun, tidak tampak peralihan portofolio ke saham bank digital. Di kuartal I lalu, laba ARTO tercatat tumbuh 24% menjadi Rp 21,72 miliar. Laba bank ini tetap tumbuh meski beban bunganya naik. Untuk menekan kenaikan biaya dana ke depan, Bank Jago telah menurunkan bunga deposito dan tabungan Kantong Terkunci mulai 2 Mei, kata Tjit Siat Fun, Direktur Kepatuhan Bank Jago, kemarin. Laba bank digital lain juga melesat. Bank Raya mencetak peningkatan laba 109,5%. Sedang laba Krom Bank naik 10,25%. Laba Allo Bank meningkat sebesar 23,19%. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, valuasi rata-rata bank digital juga sudah cukup mahal. Ini membuat kinerja positif di triwulan I belum bisa mendongkrak harga sahamnya. Saham Bank Jago misalnya. Pada penutupan perdagangan Jumat (3/5), ARTO dilego di harga Rp 2.110 per saham. Nafan menyebut, target harga saham ini di Rp 1.885. Nafan juga target harga lebih renndah untuk BBHI, yakni di Rp 960 per saham Kemarin, saham BBHI ditutup di level Rp 985 per saham.

Permodalan Bank Kuat Hadapi Ketidakpastian Global

KT1 04 May 2024 Investor Daily

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi perbankan nasional masih cukup kuat di tengah ketidakpastian global saat ini. Terlihat dari bantalan permodalan yang tebal dengan capital adequacy ratio (CAR) di level 26% pada Maret 2023. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, OJK cukup percaya diri industri perbankan bisa menghadapi situasi saat ini dan kedepan, sejalan dengan bantalan permodalan yang kuat sebagai bentuk mitigasi risiko yang solid. "OJK juga telah melakukan uji ketahanan industri jasa keuangan untuk memastikan berbagai risiko penguatan dolar Amerika Serikat dan suku bunga tinggi termitigasi dengan baik. Namun demikian, OJK senantiasa mencermati  dinamika global dan potensi dampak  negatif terhadap IJK (Industri Jasa Keuangan ) agar bisa mengambil langkah antisipatif," papar Mahendra. Di sisi kualitas kredit juga terjaga dengan baik, dimana non performing loan (NPL) net dan gross masing-masing 0,77% dan 2,25% pada Maret 2024. Seiring dengan pemulihan ekonomi nasional, kredit restrukturisasi per akhir Maret 2024 melanjutkan tren penurunan menjadi Rp 228,03 triliun dari 859 ribu nasabah. (Yetede)