;

GEJOLAK GEOPOLITIK : TAKTIS DI STRATEGI BISNIS

Ekonomi Hairul Rizal 06 May 2024 Bisnis Indonesia
GEJOLAK GEOPOLITIK : TAKTIS DI STRATEGI BISNIS

Situasi global yang tidak menentu mengakibatkan prospek perekonomian dunia berpotensi tumbuh lambat. Bagi kalangan industri perbankan, situasi itu patut menjadi perhatian. Mereka mesti taktis dalam menyusun strategi, mengejar pertumbuhan kredit atau menjaga bisnis tetap profit. Bicara di acara Bisnis Indonesia BUMN Forum 2024, Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah dan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Defri Andri mengatakan bahwa industri perbankan di Tanah Air sedang menghadapi tren koreksi margin bunga bersih atau net interest margin (NIM). Penyusutan NIM itu, katanya, lantaran peningkatan suku bunga acuan serta persentase biaya dana (cost of fund) lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit. Kendati turun, katanya, NIM perbankan di Indonesia masih paling menarik di kawasan Asia Tenggara dan menjadi sasaran investor untuk berbisnis bank di Tanah Air. 

Mengutip data statistik perbankan yang dirilis oleh OJK, NIM perbankan sampai dengan Februari 2024 tercatat 4,49% atau lebih rendah dibandingkan dengan posisi Januari 2024 sebesar 4,54%. Pada akhir 2023, NIM perbankan nasional masih berada di kisaran 4,81%. Sementara itu, penyaluran kredit perbankan dalam kurun 3 tahun terakhir masih terbatas. Rasio pinjaman terhadap pendanaan atau loan to deposit ratio(LDR) belum mampu menembus level psikologis seperti situasi sebelum pandemi Covid-19 yang rata-rata di atas 90%. Sementara itu, pada periode 2017—2019, rata-rata pertumbuhan kredit perbankan di kisaran 9,3%.Bank Indonesia mencatat out standing kredit perbankan hingga Maret 2024 senilai Rp7.187,6 triliun atau tumbuh 11,8% secara tahunan. 

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. Nixon Napitupulu mengatakan bahwa perseroan menurunkan target penyaluran kredit ke level 10%—11% pada 2024 seiring dengan langkah bank sentral yang mengerek bunga acuan. Perubahan target kredit itu, katanya, sebagai antisipasi terhadap biaya bunga yang berpotensi makin mahal dan ketatnya persaingan dana pihak ketiga (DPK). Sementara itu, Direktur Keuangan dan Strategi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Sigit Prastowo menuturkan pihaknya memilih strategi berhati-hati dalam membentuk pencadangan dan menjaga portofolio kredit sesuai risiko industri lewat pengembangan deteksi awal untuk mengantisipasi kualitas debitur. Kualitas aset BMRI, katanya, masih terjaga tecermin dari indikator perbaikan LAR bank only menjadi 8,62% per Maret 2024, dari sebelumnya 8,74% per Desember 2023. Selain itu, NPL gross 1,02% per Maret 2024, dengan coverage ratio sebesar 368%. 

Nilai NPL itu tetap sama seperti capaian Desember 2023, tapi membaik 68 basis poin dari capaian Maret 2023 di level 1,7%. Senada, Executive Vice President (EVP) Corporate Communication and Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Hera F. Haryn menyatakan pihaknya terus menjalankan arah kebijakan dari pemerintah dan regulator atas berakhirnya masa restrukturisasi Covid-19. Sementara itu, mewakili segmen BPD, PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk. (BJTM) memilih strategi menjaga kualitas portofolio lewat memperketat pemetaan pasar dan efisiensi kinerja, sehingga tidak menciptakan potensi NPL baru ke depannya. 

Direktur Utama Bank Jatim Busrul Iman menjelaskan bahwa menggenjot volume kredit secara terukur merupakan kunci dalam upaya perbaikan portofolio. Namun, di tengah kondisi yang menantang, suku bunga harus kompetitif untuk bisa menarik pasar, yang artinya Bank Jatim harus mengoptimalkan strategi efi siensi internal untuk menjaga rasio cost of creditz Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai program restrukturisasi memang tak bisa dilanjutkan secara terus menerus.“Pandemi itu dimulai 2020, ini sudah 2024. Jadi enggakterlalu cepat juga enggak terlalu lama kalau itu harus berakhir. Tapi untuk restrukturisasi di bank sebenarnya bisa dilihat lagi dari kebijakan masing-masing bank,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (3/5). Terlebih dalam menghadapi gejolak geopolitik saat ini, keberanian bank memangkas keuntungan lewat menurunkan NIM perlu dikedepankan guna memompa perekonomian.

Download Aplikasi Labirin :