NPL Perbankan RI Kalah Saing dengan Negara Tetangga
Industri perbankan Indonesia menghadapi tantangan ganda berupa masalah likuiditas dan kenaikan rasio kredit bermasalah (non performing loan / NPL) di tengah tekanan ekonomi makro domestik dan global. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan NPL gross perbankan nasional naik ke 2,24% per April 2025, dari 2,08% pada Desember 2024. Angka ini lebih tinggi dibanding negara tetangga seperti Singapura (1,22%) dan Malaysia (1,4%), meski masih lebih baik daripada Filipina (3,3%) dan Thailand (2,9%).
Steffano Ridwan, Direktur Utama Maybank Indonesia, mengakui NPL Indonesia lebih tinggi, bahkan rasio gross impaired loans (GIL) Maybank Indonesia mencapai 4,02%, jauh di atas Maybank Malaysia (1,15%) dan Maybank Singapura (0,49%). Namun ia menjelaskan, ini terkait struktur pasar domestik yang sangat besar di segmen ritel dan mikro, yang secara alamiah lebih berisiko. “Di Indonesia karena kita memiliki jumlah populasi yang besar (ritel) dan juga besarnya bisnis mikro, tentunya NPL bank di Indonesia secara umum akan lebih tinggi,” jelas Steffano.
Rusli, Wakil Direktur Utama Bank Victoria International, berpendapat kualitas aset perbankan Indonesia sebenarnya bisa bersaing secara global jika ekonomi domestik lebih kompetitif. Ia menyoroti dominasi pemerintah dan isu korupsi-kolusi-nepotisme (KKN) yang mengekang sektor swasta. “Kalau isu KKN hilang, nanti otomatis NPL daripada industri perbankan itu bisa bersaing di kancah global,” tegas Rusli.
Brian Indradjaja, Presiden Direktur PT Deloitte Konsultan Indonesia, menilai kondisi NPL sektor ritel di Indonesia sudah sulit dikendalikan, bahkan beberapa bank dalam situasi yang parah. Ia menekankan perlunya langkah perbaikan untuk memulihkan kesehatan NPL. Brian juga mencatat, sejumlah bank kini mulai menahan ekspansi kredit ritel demi menjaga kualitas kredit, terutama karena daya beli masyarakat yang sedang melemah.
Struktur kredit perbankan Indonesia yang padat segmen ritel dan mikro membuat risiko NPL lebih tinggi. Namun dengan reformasi tata kelola, penguatan sektor swasta, dan penyesuaian strategi penyaluran kredit, industri perbankan nasional tetap berpotensi meningkatkan kualitas aset dan bersaing secara regional.
Postingan Terkait
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
24 Jun 2025
Pinjaman Bank Kini Lebih Mahal daripada Obligasi
23 Jun 2025
Bank Masih Dilema Menurunkan Bunga Kredit
20 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023