Perbankan
( 2293 )Transaksi Digital Bank Syariah Melesat
Inovasi pengembangan layanan digital tak hanya dilakukan oleh bank-bank besar. Bank syariah juga gencar melengkapi fitur-fitur pada layanan mobile banking untuk semakin memudahkan nasabah melakukan berbagai transaksi keuangan. Langkah bank-bank syariah tersebut sudah membuahkan hasil. Transaksi mobile banking di bank syariah melonjak per kuartal pertama 2024. Pertumbuhan transaksi juga didorong jumlah pengguna yang meningkat pesat. Bank Syariah Indonesia (BSI) misalnya, mencatat transaksi mobile banking 118,5 juta kali sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Angka ini melonjak 37,17% secara tahunan. Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan, pihaknya terus mendorong peningkatan layanan digital sebagai bentuk komitmen untuk melakukan level up menjadi beyond sharia banking.
"Ini tujuannya untuk memudahkan akses masyarakat terhadap layanan perbankan syariah," kata dia, baru-baru ini. Adapun Bank Muamalat mencetak transaksi pada mobile banking Muamalat DIN mencapai 5.000 kali pada kuartal I-2024, atau tumbuh 34% secara tahunan. Volume mencapai Rp 7,3 triliun, meningkat 23% secara tahunan. Corporate Secretary Bank Muamalat Hayunaji menyebut kenaikan tersebut didorong oleh penambahan jumlah fitur juga akuisisi nasabah baru yang menggunakan mobile banking dari Muamalat. “Transaksi didominasi layanan transfer dan top up uang elektronik,” kata dia. Transaksi mobile banking BCA Syariah juga meningkat pesat 35,4% secara tahunan jadi Rp 4,43 triliun pada kuartal I-2024. "Pengguna mobile banking sudah 384.000, meningkat lebih dari empat kali lipat secara tahunan," ujar Direktur BCA Syariah, Pranata.
Kenaikan Biaya Dana Tekan Profitabilitas Perbankan
OJK mencatat adanya kontraksi pertumbuhan profitabilitas perbankan. Di mana per Februari 2024 laba bersih perbankan nasional sebesar Rp39,36 triliun, terkoreksi 1,77% dibandingkan dari periode Februari 2023 sebesar Rp40,07 triliun. Kepala Ekskutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, penurunan laba tersebut terlihat karena biaya dana perbankan yang mengalami tren peningkatan. "Meningkatnya dana biaya yang tidak diimbangi dengan peningkatan suku bunga kredit. Namun demikian, ROA (return on aset) dan NIM (net interest margin) masih tergolong cukup tinggi," ujar Dian.
Adapun ROA perbankan per Maret 2024 berada di level 2,62%, angka ini lebih rendah dibandingkan posisi tahun lalu di angka 2,77%. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh penurunan NIM dari sebesar 4,77% pada Maret 2023 menjadi 4,59% per Maret 2023 menjadi 4,59% per Maret 2024. Menurunnya NIM perbankan lantaran bank menahan suku bunga kreditnya yang berdampak pada profitabilitas perbankan yang akan ada dalam tren melambat. (Yetede)
Dukung Swasembada Pangan, KB Bank Salurkan Pembiayaan Kredit ke Petani Tebu
KB Bank berkomitmen untuk mendukung upaya pemerintah Indonesia dalam mewujudkan ketahanan pangan dalam negeri, salah satunya melalui fasilitas pembiayaan kredit kepada para petani tebu. Langkah strategis yang dijalankan KB Bank diantaranya dengan perjanjian kerja sama strategis untuk membangun ekosistem keuangan terkait pertanian tebu di Indonesia, dengan perusahaan produsen gula PT. Pabrik Gula Rajawali II (PG Rajawali II) dan perusahaan data analitik terkait pertanian dengan menggunakan teknologi satelit PT. Mata Langit Solusindo (MATA). Pemerintah Korea Selatan mendukung kolaborasi strategis ini, dengan memfasilitasi lokasi penandatanganan kerjasama di Kedutaan Besar Korea Selatan, dan dihadiri langsung oleh Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Lee Sangdeok. Selain itu dihadiri pula oleh Direktur Badan Pangan Nasional Indonesia, Arief Prasetyo Adi, CEO KB Bank, Tom (Woo Yeol) Lee, CEO ID Food Frans Marganda Tambunan, CEO Rajawali II Ardian Wijanarko, dan CEO MATA Hadi Kurnia.
Melalui perjanjian kerja sama strategis yang ditandatangani antara Rajawali II dan MATA, KB Bank berkomitmen untuk memberikan dukungan keuangan produktif kepada lebih dari 5.000 kebun tebu yang merupakan bagian dari Rajawali II dengan menggunakan teknologi keuangan canggih KB. CEO KB Bank Tom (Woo Yeol) Lee mengatakan, “Melalui kesepakatan ini, kami akan bekerja sama secara aktif dengan teknologi keuangan terdepan KB dan teknologi pertanian terdepan MATA untuk membangun ekosistem keuangan yang dioptimalkan untuk kebun tebu dan perusahaan produksi gula di Indonesia.
Kami berkomitmen untuk bekerja sama secara aktif dengan pemerintah Indonesia dalam mencapai tujuan utama mereka untuk meningkatkan produksi gula dan stabilisasi harga.
Pemerintah Indonesia memiliki harapan besar untuk meningkatkan produksi tebu melalui peningkatan infrastruktur pertanian. Melalui perjanjian kerja sama ini, diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signiikan dalam mencapai tujuan swasembada gula nasional. Pemerintah Indonesia saat ini masih bergantung pada impor gula dari negara-negara seperti Thailand, India, dan Australia untuk mengatasi kekurangan produksi gula dalam negeri. Namun, tren penurunan kuota ekspor dari negara-negara utama ini akibat konik di Timur Tengah dan fenomena El Niño, serta kenaikan harga gula global, telah menyulitkan upaya pemerintah dalam memastikan pasokan gula yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia sedang meningkatkan upaya untuk meningkatkan produksi gula dalam negeri.
Penguatan BPR dan BPRS di Tengah Ketatnya Persaingan Usaha
Penguatan industri Bank Perekonomian Rakyat dan Bank Pembiayaan Rakyat Syariah atau BPR dan BPRS diharapkan dapat semakin memperkuat posisi di tengah persaingan bebas dengan bank-bank umum bermodal jumbo. Ke depan, penguatan BPR dan BPRS diarahkan mendekati fungsi sebagai bank umum. Pengamat perbankan sekaligus dosen Binus University, Doddy Ariefianto, mengatakan, belum adanya aturan main yang jelas membuat BPR/BPRS mau tidak mau berhadapan langsung dengan bank-bank umum bermodal besar. ”Apalagi, sekarang dengan kemajuan zaman, jaringan internet ada dimana-mana sehingga bank bisa memberikan layanan perbankan bagi masyarakat luas lewat digitalisasi. Akibatnya, BPR/BPRS head to head dengan bank-bank besar. Ibaratnya gajah berhadapan dengan kelinci, BPR tidak akan menang,” katanya, Minggu (19/5).
Karena itu, dibutuhkan sebuah aturan main yang menempatkan posisi tiap-tiap bank dalam menjalankan fungsi intermediasi, yang membuat BPR/BPRS berdaya tahan dan dapat berkembang. Pengaturan lanskap perbankan di Indonesia dapat mencontoh negara-negara maju, seperti AS. Di sana diterapkan sistem multitier yang membagi lisensi bank menjadi beberapa kelompok, seperti bank berlisensi nasional dan bank berlisensi negara bagian. ”(Mereka) yang mempunyai lisensi negara hanya boleh main di level provinsi dengan kriteria tertentu. Mereka yang berlisensi negara, tidak mengambil segmen UMKM dan tidak boleh membuka cabang di kecamatan. Sementara itu, mereka yang mau ke bank berlisensi negara hanyalah perusahaan yang skala bisnisnya melibatkan seluruh negara dan mempunyai cabang di negara bagian,” ujarnya.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, Sabtu (18/5) mengatakan, POJK No 7/2024 dibuat untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap BPR atau BPRS. Beberapa aspek penguatan BPR/BPRS antara lain perluasan akses permodalan melalui aksi penawaran umum efek melalui pasar modal serta kebijakan penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan, termasuk kewajiban konsolidasi bagi BPR/BPRS yang berada dalam kepemilikan pemegang saham pengendali yang sama. BPR/BPRS turut diperkuat melalui efisiensi lembaga jasa keuangan yang memperkenankan lembaga keuangan mikro untuk bergabung. Dengan demikian, BPR/BPRS diharapkan dapat menjadi lembaga keuangan yang berintegritas, adaptif, berdaya saing, serta mampu berkontribusi menyediakan layanan keuangan kepada masyarakat, terutama pelaku usaha mikro dan kecil. (Yoga)
SCBI Bidik Pertumbuhan Ritel Hingga 400%.
Bidik Proyek Smelter Agar Kredit Bank Kian Moncer
Sejumlah perbankan optimis penyaluran kredit ke sektor smelter bakal semakin gemuk di tahun 2024 ini. Hal ini seiring upaya Bank Indonesia (BI) memperluas kebijakan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) untuk meningkatkan penyaluran kredit perbankan. Penguatan KLM dilakukan bank sentral dengan memperluas sektor prioritas yang dapat menerima insentif tersebut. Salah satu sektor hilirisasi yang digenjot penyaluran kreditnya oleh pemerintah adalah industri smelter. Berdasarkan data BI, penyaluran kredit ke industri pengolahan termasuk hilirisasi hingga smelter terus meningkat. Per Maret 2024, penyaluran kredit ke sektor hilirasi mencapai Rp 322,7 triliun, naik 15,4% secara tahunan dari Rp 279,7 triliun.
Salah satu bank yang mengucurkan kreditnya ke sektor hilirisasi Bank Mandiri Tbk. Per Maret 2024, Bank Mandiri menyalurkan kredit ke industri smelter logam Rp 26,17 triliun. Teuku Ali Usman, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, bilang, bank ini akan terus mendukung program pemerintah, termasuk menyalurkan kredit ke sektor hilirisasi logam. "Kami melihat penyaluran kredit ke sektor tersebut bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi dan lepas dari middle income trap, sehingga Indonesia bisa menjadi negara maju," katanya, Jumat (17/5). Alus mengatakan, tahun 2024, panduan pertumbuhan kredit Bank Mandiri secara konsolidasi berada di kisaran 13%-15% secara tahunan.
Pada 2024, pertumbuhan kredit bank dengan logo pita emas ini akan difokuskan ke sektor-sektor prospektif. Hal ini dilakukan dengan tetap menjaga diversifikasi portofolio sesuai dengan profil risikonya. Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Bob Tyasika Ananta menyatakan, sejalan dengan sang induk, anak usaha Bank Mandiri ini akan tetap memperhatikan sektor bisnis yang memberikan profit optimal dan risiko terjaga. Saat ini BSI memiliki nasabah pembiayaan smelter dengan outstanding sekitar Rp 300 Miliar. Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin menilai, prospek penyaluran kredit pada sektor smelter cukup bagus.
Meskipun, kata Amin, dalam menyalurkan kreditnya ke sektor hilirisasi, bank masih pakai model sindikasi. Alasannya, sektor kredit tersebut masih terlalu berisiko bagi bank. Meski begitu, insentif KLM bisa mendorong pertumbuhan kredit perbankan. Peneliti Ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (Celios) Lay Monica berpendapat, insentif KLM belum tentu mendorong penyaluran kredit ke sektor hilirisasi.
BSI Tebar Dividen Tunai Rp 855,56 Miliar
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) dan sepakat membagikan dividen tunai sebesar 15% dari laba bersih tahun buku 2023. Dengan begitu, dividen yang dibagikan sekitar Rp 855,56 miliar, ekuivalen dengan Rp 18,54 per lembar saham. "Jumlah dividen tersebut naik dua kali lipat dari dividen tunai 2022 senilai Rp9,24 per lembar saham. Hal ini mengindikasikan kinerja yang cukup solid pada tahun buku 2023," ungkap Direktur Utama BSI Hery Gunardy. Selain 15% yang dialokasikan sebagai dividen tunai 2022 senilai Rp 9,24 per lembar saham. Hal ini mengindikasikan kinerja yang cukup solid pada tahun buku 2023," ungkap Direktur Utama BSI Hery Gunardi. Selain 15% yang dialokasikan sebagai dividen tunai, sejumlah 20% atau senilai Rp1,14 triliun dari laba bersih 2023 disisihkan sebagai cadangan wajib, serta 65% atau sejumlah Rp 3,71 triliun digunakan sebagai saldo laba ditahan. Hery menjelaskan, laba bersih BSI 2023 sebesar Rp 5,7 triliun atau meningkat 33,8% secara tahunan (year on year/yoy) dan menghasilkan return on equity (ROE) hampir sebesar 17%. (Yetede)
INDUSTRI PERBANKAN : BANK DIGITAL CICIPI SEGMEN KORPORASI
Sejumlah pemain bank digital di Indonesia mulai melebarkan sayap bisnisnya dengan menyasar pemberian kredit kepada segmen korporasi.
PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR), misalnya, siap untuk melakukan diversifikasi portofolio kredit dengan memasuki segmen korporasi dan komersial sebagai target pasar baru. Senior Vice President of Finance Amar Bank David Wirawan mengatakan langkah itu dilakukan untuk menyeimbangkan portofolio kredit. Dengan diversifi kasi, perseroan dapat menyusun portofolio yang seimbang dan mengurangi risiko konsentrasi dalam satu segmen. Dia melanjutkan risiko kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang ditanggung perbankan cenderung lebih rendah kendati bunga di segmen itu lebih kecil daripada segmen konsumer.
Terkait fokus segmen industri yang disasar, David mengatakan perseroan membuka peluang pada seluruh segmen industri, dengan terus selektif memilih perusahaan yang punya kualitas kredit baik. Sejauh ini, Bank Amar melakukan pendekatan yang berfokus pada inovasi yang disebut Collaborative Embedded Banking and Finance. Dengan Inovasi itu, imbuhnya, berbagai pemain non-perbankan dapat menyematkan layanan perbankan digital ke dalam platform ekosistem digital mereka.
Tak hanya AMAR, geliat membukukan profi t juga dilakukan oleh PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB). Direktur Bisnis BNC Aditya Windarwo mengakui ada sejumlah keuntungan kala membidik segmen korporasi.
Dia memberikan pandangan bahwa dengan menyasar segmen korporasi dengan ukuran pinjaman yang lebih besar dan tenor yang lebih panjang, bank dapat mengoptimalkan pendapatannya. “Satu loan size corporate itu langsung di atas Rp50 miliar, Rp100 miliar. Lalu, kalau nature consumer loan itu tenornya pendek, misal satu, tiga lalu enam bulan. Sementara korporat [tenor] minimal 12 bulan,” ucapnya. Ke depan, menurut Aditya, dengan diversifikasi portofolio ini akan terjadi penyesuaian margin bunga bersih (net interest margin/NIM) dan perbaikan laba sebelum pajak alias profi t before tax (PBT).
Direktur Utama Allo Bank Indra Utoyo mengatakan, dalam mengembangkan bisnis ini, bank membangun sinergi dengan Group CT Corpora dan mitra bisnis strategis lainnnya dalam mengembangkan ekosistem digital.
Adapun, BBHI merupakan lini bisnis perbankan yang dikuasai Chairul Tanjung melalui Mega Corpora. Selain Allo Bank, konglomerat ini juga memiliki bank lain secara langsung maupun tidak langsung, yaitu PT Bank Mega Tbk. (MEGA), PT Bank Mega Syariah, Bank Sulteng, dan Bank Sulutgo.
Sementara itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan PerbanKan Indonesia (LPPI) Moch. Amin Nurdin tak menampik fakta bahwa segmen ini menjadi sangat menggiurkan, utamanya di era suku bunga yang tinggi.
Selama ini, mayoritas bank digital Indonesia masih berfokus pada segmen ritel atau konsumer, baik langsung maupun dengan skema channeling. Amin mencatat bank besar sudah menjadi pemain awal yang menjajaki segmen korporasi dengan layanan digitalnya, seperti Kopra Mandiri.
Besarnya potensi segmen korporasi tercermin dari survei Bank Indonesia (BI) yang mencatat permintaan kredit dari segmen korporasi terus melaju pada Maret 2024. Bahkan, permintaan kredit korporasi masih menjanjikan dalam tiga bulan mendatang. Berdasarkan Survei Penawaran dan Permintaan Pembiayaan Perbankan yang dirilis oleh BI, kebutuhan pembiayaan korporasi pada Maret 2024 terindikasi meningkat tecermin dari saldo bersih tertimbang (SBT) pembiayaan korporasi sebesar 25,3%, meningkat pesat dibandingkan SBT 11,1% pada Februari 2024.
Sejumlah Bankir Borong Saham Bank
Para bankir aktif melakukan penambahan kepemilikan saham di bank yang mereka pimpin. Analis menilai aksi tersebut bisa menjadi sentimen positif bagi pergerakan saham bank terkait. Teranyar, tiga direksi PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) aktif membeli saham BMRI di awal Mei. Direktur Keuangan Sigit Prastowo merogoh kocek Rp 8,23 miliar untuk membeli 1,3 juta saham BMRI. Sehingga kepemilikannya di BMRI menjadi 10,86 juta. Lalu, Direktur Information Technology Bank Mandiri Timothy Utama menarik isi dompet sebesar Rp 937,5 juta membeli 150.000 saham BMRI. Alhasil, kepemilikan sahamnya kini sudah mencapai 6,88 juta saham di BMRI. Riduan, Direktur Corporate Banking melakukan transaksi pembelian 100.000 saham BMRI senilai Rp 620 juta.
Kepemilikannya kini di BMRI mencapai 11,1 juta saham, Tiga direksi Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga memborong saham BNGA pada 1 April 2024. Mereka melakukan pembelian total 502.700 saham senilai Rp 1,07 miliar. Mereka adalah Presiden Direktur Lani Darmawan, Direktur Consumer Noviady Wahyudi, dan Direktur Compliance, Fransiska Oei. Menurut Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana, aksi para bankir itu secara tak langsung menunjukan kepercayaan kepada prospek bank yang dipimpin. Itu memberi sinyal ke investor bahwa manajemen percaya dengan keberlangsungan bisnisnya, ujar Wawan kepada KONTAN, Jumat (17/5). Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menilai wajar jika para bankir ini mulai menambah kepemilikan sahamnya. Harga sahamnya terbilang murah dengan adanya koreksi beberapa waktu terakhir.
Bank Tanah Siapkan Lahan untuk Bandara VVIP di IKN
Pilihan Editor
-
Utamakan Keamanan Data
04 Feb 2020 -
META Bangun Tol Senilai Rp 21,5 Triliun
07 Feb 2020 -
Nilai Aset Asabri Merosot di Tahun Lalu
31 Jan 2020









