Perbankan
( 2293 )BPR-BPRS Bidik Ekonomi Mikro
Perbankan Siapkan Model Bisnis Jepang Spin Off UUS
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong perbankan yang memiliki Unit Usaha Syariah (UUS) untuk memisahkan diri (spin off) apabila telah memenuhi syarat. Hal itu dilakukan untuk mengembangkan perbankan syariah yang berdaya saing hingga berkontribusi terhadap perekonomian nasional. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, pihaknya telah membuat Roadmap Pengembangan dan Penguatan Perbankan Syariah Indonesia 2023-2027 membawa visi mengembangkan perbankan syariah yang sehat, efisien, berintegritas dan berdaya saing, serta berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional untuk mencapai kemaslahatan masyarakat. Salah satu upaya untuk mencapai visi tersebut antara lain adalah melalui implementasi pemisahan UUS (Spin off) dalam rangka pengembangan dan penguatan perbankan syariah. "Sehingga terdapat akselerasi terhadap penguatan identitas perbankan syariah dan sinergi ekosistem ekonomi syariah, yang pada gilirannya dapat mencapai industri perbankan syariah yang tumbuh secara sehat, efisien, dan berkelanjutan," jelas Dian. (Yetede)
Marak BNPL, Transaksi Kartu Kredit Masih Tumbuh 11,57%
Ditengah maraknya bisnis buy now pay later (BNPL) yang ditawarkan, bisnis kartu kredit perbankan masih mencatatkan pertumbuhan positif. Bank Indonesia (BI) mencatat volume transaksi kartu kredit masih tumbuh dua digit per April 2024. Nominal kartu kredit masih meningkat 11,67% (year on year/yoy) mencapai Rp 34,39 triliun," kata Gubernur BI Perry Warjiyo. Sementara itu OJK juga mencatatkan outstanding piutang pembiayaan perusahaan BNPL per maret sebesar Rp 8,13 triliun, meningkat 23,9% (yoy) lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kartu kredit. Dengan rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) gross 3,15%, dan NPF nett 0,59%. Meskipun pertumbuhan bisnis paylater lebih tinggi dibandingkan dengan bisnis kartu kredit, namun kedua produk tersebut memiliki pasar yang berbeda. Sehingga, seharusnya bisnis paylater tidak bisa menggantikan kartu kredit dan tidak perlu dikhawatirkan perbankan. (Yetede)
Era Bunga Tinggi, Bank Syariah Mega Syariah Jaga Likuiditas
KINERJA BANK : Sejak 2005, 134 Bank Telah Bangkrut
Ada 134 bank bangkrut di Indonesia sejak Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) berdiri pada 2005. Sepanjang tahun ini jumlah bank bangkrut sebanyak 12 bank. Terbaru, dikutip dari Bisnisindonesia.id, bank bangkrut bernama PT BPR Bank Jepara Artha (Perseroda) yang kemudian dicabut izinnya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Bangkrutnya BPR Bank Jepara Artha membuat jumlah bank bangkrut yang dicabut izin usahanya kian bertambah. Sepanjang tahun ini sudah ada 12 bank yang dicabut izin usahanya. Padahal, 2024 baru berjalan 5 bulan. Mengacu data OJK, semua bank bangkrut pada 2024 adalah bank perekonomian rakyat (BPR).
Rasio Kredit Macet BRI Finance Turun di 1,66%
Bunga Tinggi, Bank Kecil Jaga Likuiditas
Kondisi likuiditas bank-bank kecil yang masuk dalam kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) I dan KBMI II masih terjaga baik, meskipun tren suku bunga mengalami kenaikan. Kondisi ini membuat bank melakukan ekspansi bisnis secara memadai. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, terjaganya likuiditas bank KBMI I dan II tercermin dari sejumlah indikator. Ia bilang, rasio alat likuid terhadap non core deposit (AL/NCD) tercatat di level 27,18% per Maret 2024, masih jauh di atas threshold 10%. Sedangkan rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) berada di level 121,05%. "Jadi jika melihat rasio tersebut, terlihat kondisi likuiditas bank-bank kecil utamanya KBMI I dan II secara umum masih sangat baik," kata Dian, belum lama ini.Walau masih aman, likuiditas sebetulnya cenderung turun.
Menurut data Bank Indonesia (BI), rasio AL/DPK per April ada di level 25,62%. Bank Mega Syariah dari jajaran KBMI I salah satu yang masih mencatat likuiditas aman. Per April 2024, DPK bank ini tumbuh 4,92% dari akhir 2023. Pertumbuhan didorong kenaikan dana murah sebesar 5,5%. Alhasil, rasio dana murah berada di level 31,08%, naik dari 30,9% pada Desember 2023. Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah Hanie Dewita menyebut, untuk menjaga likuditas, pihaknya meningkatkan pangsa pasar segmen ritel, serta mengoptimalkan saluran digital dan omni channel. Bank Oke Indonesia juga mengklaim masih bisa mengamankan likuditasnya. Direktur Kepatuhan DNAR Efdinal Alamsyah mengatakan, DPK bank ini per April memang turun 5% dari akhir tahun lalu. Namun, kata dia, penurunan disebabkan karena kreditnya baru tumbuh 2%.
Penguasa Pede, Kredit Perbankan Melesat
Jumlah BPR IPO Diperkirakan Masih Sedikit
Merger Nobu dan MNC Bank Tetap Terwujud
Pilihan Editor
-
Mengobral Insentif Pajak bagi Para Pemodal
07 Feb 2020 -
Tahun Ini, Batik Air Datangkan 5 Pesawat A320
07 Feb 2020 -
Pemungutan Pajak Digital Masuk Prioritas
04 Feb 2020









