Asuransi
( 339 )OJK Akan Benahi Tarif Premi Asuransi
JAMINAN KESEHATAN, Beban Biaya Kesehatan Berisiko Semakin Besar
Perusahaan Asuransi Evaluasi Produk ”Unitlink”
Asuransi Kredit Meningkat Signifikan
Kinerja asuransi kredit pada kuartal III-2023 mengindikasikan
adanya tren peningkatan penyaluran kredit sekaligus perbaikan kualitas kredit.
Di sisi lain, perbankan tetap menjaga kualitas kredit yang diberikan dengan
mengedepankan prinsip kehati-hatian. Mengutip data Asosiasi Asuransi Umum
Indonesia (AAUI), premi dicatat industri asuransi umum pada lini asuransi
kredit, terutama kredit jangka panjang, meningkat signifikan sebesar 28,7 %
secara tahunan menjadi Rp 13,86 triliun pada kuartal III-2023. Di sisi lain,
klaim asuransi kredit juga meningkat 21,2 % secara tahunan menjadi Rp 9,81 triliun.SeniorResearchAssociate
IndonesiaFinancial Group (IFG) Progress Ibrahim Kholilul Rohman mengatakan,
kredit usaha rakyat (KUR) atau kredit UMKM menjadi segmen terbesar dalam
asuransi kredit.
”Sampai dengan kuartal III-2023, alokasi KUR utamanya pada
sektor perdagangan, pertanian, industri pengolahan, dan jasa-jasa. Sementara itu, dari
sisi pelaku asuransi kredit, Askrindo (PT Asuransi Kredit Indonesia) dan
Askrida (PT Asuransi Bangun Askrida) memiliki proporsi yang besar,” katanya
saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (1/12). Berdasarkan data OJK, outstanding
penyaluran kredit oleh Bank Umum kepada segmen UMKM meningkat dari Rp 1.332 triliun
pada awal 2023 menjadi Rp 1.466 triliun pada September 2023. AAUI melaporkan,
rasio klaim lini asuransi kredit yang dibayar asuransi umum tercatat sebesar
70,8 %. Capaian ini lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun
sebelumnya, yakni 75,2 %. ”Artinya, kualitas kredit meningkat. Kemudian,
debitor juga mampu mengelola kredit yang diterima untuk keberlangsungan
aktivitas bisnisnya sehingga tidak bangkrut,” lanjut Ibrahim. (Yoga)
Pengembangan Kecerdasan Buatan Terhalang Dana dan Data
Upaya industri asuransi jiwa mengembangkan kecerdasan buatan
tertahan biaya dan kapasitas data. Pengembangan ini mempertimbangkan perubahan
perilaku masyarakat akibat perkembangan teknologi yang tampak pada penurunan
produk bancassurance. Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Budi Tampubolon
mengatakan, pihaknya tengah berupaya untuk meningkatkan kesadaran asuransi kepada
generasi muda melalui platform digital. Sebab, generasi muda saat ini cenderung
lebih menggandrungi teknologi berbasis digital.
”Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) memiliki peluang
yang sangat besar. Tapi, belum banyak perusahaan asuransi jiwa yang menerapkan itu
karena tentunya butuh biaya yang besar. Apalagi, saat ini terdapat wacana dari
regulator untuk meningkatkan kapasitas modal minimum perusahaan asuransi,”
katanya saat ditemui di Rumah AAJI, di Jakarta, Rabu (29/11). Selain itu,
pengembangan kecerdasan buatan dalam produk-produk asuransi juga membutuhkan
ketersediaan sumber daya yang mendukung dan basis data yang kuat. Saat ini
pendataan dalam industri asuransi jiwa belum terintegrasi dan masih terbatas. (Yoga)
Restrukturisasi Jiwasraya Masih Menyiasatkan Masalah
Restrukturisasi Asuransi Jiwasraya (Jiwasraya) ke Asuransi Jiwa Indonesia Financial Group (IFG Life) nyatanya masih meninggalkan masalah. Terbaru adalah kembalinya protes keras dari pensiunan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Para pensiunan BUMN ini kompak protes atas opsi restrukturisasi program anuitas seumur hidup yang ditawarkan Jiwasraya. Terlanjur memilih salah satu dari opsi restrukturisasi, para pensiunan itu kini meminta agar hal tersebut diubah.
Dasar yang menjadi alasan adalah, salah satunya, keputusan yang diambil para pensiunan kala itu dalam keadaan
force majeur
(keadaan kahar). "Kami harus menerima salah satu opsi dan saat itu dalam keadaan panik dan dalam tekanan," sebut Arif Hartanto, pensiunan Garuda Indonesia kepada KONTAN, Selasa (28/11).
Dari opsi yang dipilihnya, lanjut Arif, uang pensiun yang dia terima memang sama seperti sebelum restrukturisasi. Bedanya, uang pensiun hanya berlaku dalam jangka waktu tertentu, tidak lagi seumur hidup seperti dalam aturan Undang-Undang (UU) Dana Pensiun Nomor 11 tahun 1992.
Saat program restrukturisasi, Jiwasraya menawarkan tiga opsi penyelesaian kepada para pensiunan BUMN. Salah satu opsi yang cukup kontroversial adalah adanya permintaan agar pemegang polis menambah (
top up
) premi. Nilai top up yang diminta berbeda antara BUMN satu dan lainnya.
Bambang Sri Muljadi, Mantan Direktur Eksekutif Asosiasi Dana Pensiun Indonesia pun angkat suara mengenai permintaan top up premi oleh Jiwasraya untuk membenahi kondisi keuangan mereka. Hal itu, menurut Bambang, tidak sesuai UU dan Peraturan Pemerintah (PP). "Bila pemberi kerja menyerahkan dana manfaat pensiun ke perusahaan asuransi jiwa, tanggungjawab beralih ke asuransi," terang Bambang, Senin (27/11).
Maka, Syahrul Tahir Ketua Forum Pensiunan BUMN Nasabah Jiwasraya meminta agar Menteri BUMN Erick Thohir bertanggung jawab. Sayang, upaya Kontan untuk mewawancarai Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo tak berbalas.
Dihubungi KONTAN, Hexana Tri Sasongko, Dirut IFG (Holding) minta KONTAN menghubungi Dirut Jiwasraya Angger P. Yuwono. Namun, Angger tak membalas pertanyaan KONTAN.
Pemulihan Ekonomi Dongkrak Pertumbuhan Premi
Roda perekonomian yang mulai bergerak menjadi motor pertumbuhan premi asuransi umum pada triwulan III-2023. Di sisi lain, ”hardening market” masih menghantui industri tersebut hingga akhir tahun 2024.Seiring menggeliatnya perekonomian nasional, industri asuransi umum membukukan pertumbuhan premi senilai Rp 73,5 triliun atau naik 10,1 persen secara tahunan pada triwulan III-2023. Laju pertumbuhan pada akhir tahun 2023 ini diharapkan mampu menyentuh angka yang sama dengan tahun lalu dengan potensi pertumbuhan di sektor properti pada tahun selanjutnya. Hal ini disampaikan oleh Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) dalam paparan kinerja industri triwulan III-2023, di Jakarta, Selasa (28/11/2023). Pertumbuhan premi tersebut utamanya ditopang oleh sejumlah lini usaha, seperti asuransi reakyasa (engineering), surety ship, dan asuransi kecelakaan diri (personal accident). Namun, pertumbuhan premi tersebut lebih rendah dibandingkan triwulan III-2022 yang mencatatkan pertumbuhan premi sebesar 19,9 persen secara tahunan. Wakil Ketua Bidang Statistik Riset dan Analisis AAUI Trinita Situmeang menjelaskan, pertumbuhan premi ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang pada triwulan III-2023 tercatat tumbuh positif sebesar 4,94 persen secara tahunan. Meski lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi tersebut didorong oleh peningkatan aktivitas produksi, mobilitas masyarakat, kunjungan wisatawan mancanegara, gelaran acara nasional dan internasional, serta dimulainya aktivitas politik menjelang Pemilu 2024. Di sisi lain, pangsa pasar premi asuransi umum masih didominasi oleh lini bisnis properti, kendaraan bermotor, dan asuransi kredit yang menguasai 63,9 persen dari total pangsa pasar asuransi umum. Selain itu, ketiganya juga mendominasi pangsa pasar klaim asuransi umum mencapai 64,7 persen. Trinita menambahkan, hasil underwritting atau total pendapatan premi dikurangi dengan beban-beban yang ada pada asuransi umum dan reasuransi, masing-masing mencapai Rp 13,96 triliun dan Rp 1,22 triliun. Capaian ini turut didukung dengan hasil investasi asuransi umum sebesar Rp 3,81 triliun atau tumbuh 21,05 persen secara tahunan dan investasi reasuransi Rp 0,77 triliun atau tumbuh 8,48 persen secara tahunan. Di tengah kinerja positif tersebut, industri asuransi umum menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya ialah hardening market. Sebagaimana diketahui, hardening market merupakan kondisi saat industri asuransi dan reasuransi secara global mencatatkan kenaikan klaim secara signifikan sehingga berpengaruh pada perolehan keuntungan atau profabilitas perusahaan. Ketua Umum AAUI Budi Herawan menjelaskan, kondisi tersebut terjadi bukan hanya dalam ranah domestik, melainkan juga skala global. Lebih lanjut, hardening market pada industri asuransi ini diproyeksikan terjadi hingga akhir tahun 2024.
Strategi Pemain Asuransi Jiwa Jaga Kesehatan
Tingkat kesehatan (solvabilitas) alias risk based capital (RBC) perusahaan asuransi jiwa di Tanah Air mengalami penurunan. Namun, RBC industri asuransi jiwa masih di atas ambang batas ketentuan regulator.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio solvabilitas asuransi jiwa hingga September 2023 berada di 451,23% menurun jika dibandingkan Desember 2022 yang sebesar 480,63%. Meski mengalami penurunan, permodalan industri asuransi masih terjaga dan jauh di atas treshold sebesar 120%.
Para pemain asuransi jiwa pun masih mampu menjaga kondisi kesehatan permodalan. Salah satunya ada PT BNI Life Insurance (BNI Life) yang mencatat RBC sebesar 692,34% di Oktober 2023.
"Pergerakan RBC BNI Life pada tahun 2021 sebesar 717,33% dan 666,18% pada 2022. Lalu mulai meningkat kembali sepanjang 2023, sampai dengan posisi per Oktober 692,34%," ujar Plt. Direktur Utama BNI Life, Eben Eser Nainggolan.
PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia juga masih menjaga tingkat RBC di level 327%. "Di Generali, tren RBC cenderung stabil karena kami berkomitmen secara konsisten untuk terus menjaga kesehatan keuangan perusahaan dengan menerapkan strategi secara komprehensif yang meliputi aspek-aspek finansial untuk menjaga solvabilitas," kata Chief Marketing Officer Generali Indonesia, Vivin Arbianti Gautama.
KINERJA INDUSTRI ASURANSI : Aset Komersial Tumbuh, Premi Terkontraksi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aset asuransi komersial di Indonesia tumbuh hingga September tahun ini. Sementara itu, pendapatan premi industri asuransi mengalami kontraksi.Deputi Komisioner Bidang Pengawasan Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Iwan Pasila mengatakan aset asuransi tumbuh sebesar 1,3% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year-on-year (YoY).“Di sisi perasuransian, sampai September 2023, aset komersial masih tumbuh mencapai Rp872,6 triliun,” katanya di Jakarta, Jumat (24/11). Iwan menjelaskan pendapatan premi industri asuransi sedikit terkontraksi. Sampai dengan akhir September, pendapatan premi asuransi hanya mencapai Rp228 triliun atau terkontraksi 1,6% YoY.
“Meskipun demikian, masih perlu mengingatkan sektor perasuransian menghadapi tantangan yang harus menjadi perhatian,” kata Iwan.Adapun tantangan-tantangan tersebut di antaranya terkait dengan ketidakpastian global yang akan berpengaruh terhadap strategi pengelolaan investasi. Oleh karena itu, Iwan mengingatkan supaya perusahaan asuransi tidak hanya berfokus pada portofolio investasinya, namun juga melihat sisi portofolio produknya.
Tantangan lainnya yakni tingkat literasi dan penetrasi asuransi di Indonesia yang masih rendah. Dengan demikian, masih butuh usaha ekstra untuk perusahaan asuransi. Kemudian terkait perkembangan teknologi, memberikan tantangan khususnya data konsumen, dan memberikan kesempatan untuk menyediakan layanan yang lebih mudah diakses.
Perlindungan Konsumen Asuransi Syariah Penting
Pilihan Editor
-
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022 -
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022









