Pertanian
( 500 )Potensi Pertanian Daerah, Budi Daya Porang Menjanjikan
Budi daya porang menjadi salah satu usaha pertanian dengan potensi yang cukup besar sebagai komoditas andalan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi daerah. Selama ini, porang yang merupakan salah satu tanaman umbi-umbian ini tidak banyak dilirik sehingga belum tergarap dengan baik. Padahal, porang memiliki peluang yang cukup besar menjadi komoditas andalan ekspor dan bernilai jual tinggi. Kepala Bidang Produksi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Bali I Wayan Sunarta mengatakan pada tahun ini Bali berencana mengekspor 5.000 ton porang ke China. Ekspor ini merupakan komoditas baru yang dijajaki Bali untuk diperdagangkan ke luar negeri.
Menurut dia, Jawa juga melakukan ekspor umbi porang dalam bentuk tepung hingga keripik. “Tanaman porang jadi komoditas baru untuk diekspor tahun ini. Kami sudah MoU eksportir 5.000 ton ke China. Tantangannya sekarang terkait ketersediaan produk, karena pengepul dari Jawa juga berburu produk ke Bali,” katanya kepada Bisnis, Selasa (5/1).
Di Kalimantan Timur, budi daya porang juga menjadi salah satu usaha pertanian dengan potensi yang cukup menjanjikan. Temang Dwi HP, seorang pengusaha kuliner di Balikpapan, bahkan melirik potensi porang dengan serius sejak Agustus 2020. “Potensi bisnisnya, satu pohon rata-rata menghasilkan 2 kilogram dalam dua musim dan 1 hektare akan menghasilkan 80 ton,” ujarnya, Senin (4/1). Dia menjelaskan untuk porang kering per kilogram dapat dijual seharga Rp65.000, sedangkan untuk kondisi basah per kilogram dijual dengan harga Rp8.000— Rp15.000. Dengan kata lain, penghasilan dari komoditas porang ini bisa mencapai Rp800 juta.
Namun demikian, dia mengungkapkan modal penanaman porang tergolong tinggi karena biaya bibit dan perawatan untuk pupuk cukup besar dalam 1 hektare (ha) lahan dengan masa panen 2 tahun. “Satu hektare membutuhkan sekitar Rp157 juta, tapi potensinya sangat menjanjikan,” katanya. Dia memaparkan penanaman dengan sistem tanam tumpang sari membutuhkan 15.000 tanaman untuk 1 ha lahan
Kepala Karantina Pertanian Balikpapan Abdul Rahman sebelumnya mengatakan potensi porang sangat tinggi karena peminatnya cukup banyak. Porang, seperti halnya umbi-umbian lain, mengandung karbohidrat, lemak, protein, mineral, vitamin, dan serat pangan. Karbohidrat merupakan komponen penting pada umbi porang yang terdiri atas pati, glukomannan, serat kasar, dan gula reduksi.
2020, Produksi Pupuk Tembus 12 Juta Ton
PT Pupuk Indonesia (Persero) kembali mencetak rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah industri pupuk di Indonesia.
Tercatat sepanjang 2020, para produsen pupuk dibawah koordinasi Pupuk Indonesia, berhasil memproduksi produk pupuk sebesar 12.254.676 ton. Angka tersebut setara 117 persen dari target RKAP 2020 yang sebesar 10.472.000 ton.
“Kinerja produksi dalam tiga tahun terakhir selalu meningkat dan mencetak rekor tertinggi. Salah satu faktor penyebab peningkatan volume produksi yakni berkat pengoperasian pabrik baru Urea di Gresik yang mulai komersil sejak 2018 dan pabrik baru NPK di Palembang sejak 2020. Serta berhasilnya Pupuk Indonesia Grup menjaga kehandalan pabrik sehingga kinerja produksi mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, “ kata Direktur Produksi PT Pupuk Indonesia Bob Indiarto, Selasa (5/1).
Petani di Sumut Kurang Bergairah Tanam Kedelai, Produksi Selama 2020 hanya 3946 Ton
Para petani di Sumatera Utara kurang bergairah bertanam kedelai karena bersaing harga dengan kedelai impor yang harganya jauh lebih murah dengan produk lokal. Umumnya petani bertanam kedelai setelah panen padi.
Data diperoleh SIB, kebutuhan kedelai di Sumut 95 % dipenuhi dari impor dan kualitasnya cukup baik,ketimbang kedelai produk lokal yang bentuknya kecil.
Yuspahri mengatakan, selama tahun 2020 produksi kedelai di Sumut hanya 3.946 ton dari luas panen 2.532 hektar dengan prosuktivitas 15, 59 kwintal per hektar.
Petani Keluhkan Pupuk Subsidi Langka
Sejumlah petani di Sulawesi Selatan mengeluhkan adanya kelangkaan pupuk subsidi. Adapun petani yang mengalami kelangkaan pupuk subsidi diantaranya di Kecamatan Tamalatea dan Kecamatan Bontoramba, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Atas kelangkaan pupuk ini, diduga kelangkaan pupuk dikarenakan banyaknya oknum pengecer atau pengepul yang memperjual belikan secara ilegal keluar Kabupaten. Seperti yang terjadi beberapa bulan lalu, ada pelaku penjualan pupuk secara ilegal yang ditangkap basah serta sempat diamankan namun pada akhirnya dilepas.
Diketahui di Kabupaten Jeneponto, ada tiga Distributor Pupuk Subsidi ; CV.ANJAS, Koperasi Perdangan Indonesia dan Puskud Sulawesi Selatan.
BISI-18 Palsu Diproduksi di Nganjuk
Satreskrim Polres Pasuruan mengungkap kasus benih jagung pemalsuan merk BISI-18. Jagung yang diberi label BISI-18 dengan harga murah itu merupakan jagung oplosan dari benih jagung merek lain dengan kualitas jauh di bawah kualitas benih BISI-18.
Kanit II Ekonomi Satreskrim Polres Pasuruan Ipda Samsul Arifin menjelaskan, semua produksi benih jagung ini ada di Nganjuk. Dia jelaskan, bisnis gelap ini dijalankan oleh lima orang yang sudah saling kenal.
Samsul menerangkan, harga beli benih jagung yang bukan BISI-18. per karungnya hanya Rp 7.000 -Rp 10,000, setelah itu, mereka campur atau oplos dan dikemas dalam karung berlabel BISI-18. “Mereka jual ke pasar dengan harga Rp 37.000 - Rp 42.500 per karungnya,” tambah dia. Padahal harga benih jagung BISI-18 yang asli di pasaran mencapai Rp 75.000 per karung.
Selain itu, polisi juga mengamankan 845 sak bahan baku benih jagung dari berbagai macam merek, 380 sak BISI-18 palsu kemasan sak 20 kg dan 522 lembar hologram BISI-18 palsu, mesin pengemas sealer otomatis, satu mesin penggulung kemasan, dua set stempel besar, dan beberapa barang bukti lainnya yang berhasil diamankan.
Produktivitas Pertanian, Petani Garam Beralih ke Bawang
Petani garam di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terpaksa beralih pekerjaan menjadi petani bawang selama musim penghujan. Musim hujan akan merusak semua proses produksi dari laut hingga menjadi garam. Di kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, sebagian para petani garam pada musim penghujan ini lebih memilih menjadi petani bawang. Selama musim kemarau, hasil pendapatan dari garam mereka kumpulkan untuk modal menanam bawang.
Lahan yang digunakan untuk menanam bawang merah, yakni berada di sekitar lahan tambak garam di desa tersebut. Sebaliknya, lahan pertanian bawang mengganggur selama musim kemarau. Lahan tambak garam tidak bisa digunakan untuk menanam bawang karena perlu pemadatan dan membutuhkan biaya produksi.
Keuntungan dari menanam bawang jauh lebih tinggi dibandingkan garam. Namun begitu, risiko gagal panen pun sangat tinggi, mulai dari diserang sampai persaingan harga dengan bawang impor. Untuk produksi bawang di lahan satu hektare, harus disiapkan modal sekiranya Rp40 sampai juta. Kebutuhan tersebut digunakan sebagai penanaman hingga sewa lahan.
Saat ini, para petani di desa tersebut pun baru mempersiapkan lahan bawang mereka dengan cara mencangkul dan membuat wadah besar menampung air hujan. Satu petani bawang rata-rata menanam bawang di lahan seperempat hektare atau setengah hektare, dikarenakan modal bibit bawang yang cukup besar yang mencapai Rp40 ribu perkilogram.
Sektor Unggulan, Pertanian Topang Ekonomi Daerah
“Selain meningkatkan daya tahan
petani terhadap dampak pandemi
Covid-19, ini juga upaya kami agar
tidak terjadi kelangkaan pangan di
Papua Barat,” kata Kepala Dinas
Tanaman Pangan, Hortikultura dan
Perkebunan Provinsi Papua Barat
Jacob Fonataba seperti dikutip
Antara, Minggu (29/11)
Dia menjelaskan bahwa peningkatan produksi padi masih menjadi
prioritas pada tahun depan, selain
pangan lokal seperti sagu, jagung,
dan ubi-ubian.
Selain itu, komoditas kakao di
Kabupaten Manokwari Selatan
dan kopi di Pegunungan Arfak
juga masuk dalam skema pengembangan ekonomi hijau di
Papua Barat. Produksinya pun
akan terus dipacu untuk memenuhi kebutuhan ekspor.
Hingga kini, produksi kakao di
Manokwari Selatan sudah rutin
dikirim ke Surabaya dan diekspor
ke Inggris.
Sebanyak 11,5 ton cabai kering
Sulsel dikirim perdana ke Pakistan
oleh eksportir PT Ransu Navigasi
Nusantara untuk kebutuhan campuran pewarna tekstil di negara
tersebut.
Meski perdana dikirim ke Pakistan, sebelumnya komoditas cabai
kering juga telah menembus pasar
Negeri Sakura, Jepang. Tak main-main, jumlahnya bahkan mencapai
23 ton dengan pengiriman secara
bertahap.
Berdasarkan data lalu lintas
ekspor pertanian di Karantina
Makassar, tercatat pertumbuhan
negara tujuan ekspor meningkat
sebesar 8%, yakni 133 negara
tujuan ekspor pada 2019 dan 143
negara tujuan hingga Oktober 2020
atau bertambah 10 negara tujuan
baru seperti Thailand, India, dan
China.
Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil menyatakan dalam proses ekspor, yang
terpenting adalah memerhatikan
hilirisasi produk pertanian, mengingat produk pertanian yang tidak
tahan lama atau bersifat perishable.
Dengan hilirisasi, diharapkan memberi nilai tambah dan menjamin
keberterimaan produk tersebut ke
negara tujuan.
Mulai 2023, Indonesia Tidak Lagi Impor Gula Konsumsi
Tahun ini, produksi gula
diperkirakan hanya 2-2,18 juta ton sehingga Indonesia masih harus mengimpor
gula konsumsi 1,20 juta ton dan gula industri 3 juta ton. Menteri Pertanian
Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, gula merupakan komoditas paling menantang
yang harus dihadapi Kementerian Pertanian (Kementan). Sebagai salah satu pangan
dasar masyarakat maka gula harus terus tersedia, tapi sayangnya Indonesia masih
harus mengimpor untuk menjaga ketersediaannya, baik untuk konsumsi maupun
industri.
Kementan menargetkan pada 2023 Indonesia sudah bisa swasembada gula konsumsi. Dalam mewujudkan target itu, Kementan melakukan pendekatan budidaya pertanian, pasca panen dan hilirisasi, serta teknologi, sedangkan langkah ekstensifikasi dilakukan di luar Jawa dengan mencari 250 ribu ha lahan baru untuk perkebunan tebu. Ekstensifikasi lahan dilakukan Kementan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN).
Deputi II Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan, sebagai salah satu komoditas pangan utama Indonesia maka pemerintah harus menjamin ketersedian gula dalam jumlah yang cukup dan harga terjangkau.
Sementara itu, Dirjen
Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Abdul Rochim mengatakan,
pemerintah selalu memprioritaskan peningkatan daya saing gula dalam rangka
menunjang ketahanan pangan berkelanjutan. “Pada triwulan III-2020 kontribusi
mamin sebesar 38,95% terhadap industri pengolahan nonmigas dan pada
Januari-September 2020 nilai ekspor sektor mamin mencapai US$ 21 miliar,” papar
Abdul Rochim.
Abdul Rochim menuturkan, Indonesia membutuhkan 5,80 juta ton gula per tahun, yakni sebanyak 2,30 juta untuk konsumsi langsung dan 3,50 juta ton untuk industri. Sementara itu, produksi gula nasional hanya sekitar 2,10 juta ton sehingga kekurangannya masih diimpor sekitar 3,70 juta ton. Untuk memberikan nilai tambah, impor dilakukan berupa gula kristal mentah (raw sugar) yang diolah menjadi gula.
Lembaga tersebut berperan sebagai lembaga inspeksi dan sertifikasi produk perikanan Indonesia yang kini sudah dapat diterima di 158 negara dari 241 negara di dunia. Valuasi nilai ekspor hasil perikanan Indonesia sampai dengan triwulan III-2020 sudah mencapai US$ 4.287.201.432.
Cuaca Picu Kenaikan Harga Cabai Rawit Jadi Rp 35 ribu/ kg
Cuaca hujan lebat ditambah bencana-bencana yang membuat terputusnya sejumlah ruas jalan memicu kenaikan cabai rawit. Harga cabal rawit meroket dari kisaran Rp 25.000 per Kg menjadi Rp 35.000 per Kg saat ini. Atau naik sekitar Rp 10.000 per Kg sejak awal pekan ini.
Setelah kita melakukan penelusuran mendalam, ternyata kenaikan harga cabai rawit terjadi karena pasokan dari Sidikalang mengalami gangguan, ungkap Ketua Tim Pemantau Harga Bahan Pangan Gunawan Benyamin, Selasa (24/11).
Karena saat ini di Sidikalang intensitas hujan sangat tinggi, kata Gun, membuat petani enggan untuk turun ke ladang. Untuk cabai merah, harganya masih stabil di kisaran Rp 37.000 hingga Rp 40.000 per Kg untuk kualitas medium. Jadi memang masih bertahan mahal, ujarnya.
Untuk harga komoditas lainnya, kabar baik yakni datang dari bawang merah yang perlahan sudah mulai turun. Bawang merah saat ini dijual di kisaran Rp 30.000 hingga Rp 32.000 per Kg. Selain itu harga daging ayam juga sama, saat ini perlahan mengalami penurunan. Harganya saat ini dijual Rp34.000 per Kg.
Kebijakan Gula Mesti Komprehensif
Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kementerian
Koordinator Bidang Perekonomian Musdhalifah Machmud menyebutkan, kebutuhan gula nasional mencapai 5,9 juta ton,
sekitar 2,8 juta ton untuk konsumsi dan 3,1 juta ton untuk kebutuhan industri.
Oleh karena produksi gula dalam negeri 2,2 juta ton, sisa kebutuhan dipenuhi
melalui importasi.
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, defisit gula konsumsi mencapai 600.000 ton per tahun sebab produksi nasional sekitar 2,1 juta ton. Kementerian Pertanian akan mengurangi defisit itu secara bertahap melalui peningkatan produksi.
Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono menambahkan, langkah meningkatkan produksi akan ditempuh melalui bongkar ratoon kebun tebu seluas 75.000 hektar dan rawat ratoon 125.000 hektar. Kementerian juga akan membuka areal lahan tebu baru seluas 50.000 hektar. Dari strategi ekstensifikasi dan intensifikasi itu, produksi gula ditargetkan dapat bertambah 676.000 ton.
Secara terpisah, Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) sekaligus Wakil Menteri Perdagangan periode 2011-2014 Bayu Krisnamurthi berpendapat, selisih harga antara harga gula berbasis tebu dan gula impor yang mencapai Rp 4.000-Rp 4.500 per kilogram mencerminkan tidak efisiennya pabrik gula dalam negeri.
Pilihan Editor
-
Kayuhan Ekonomi Sepeda di Yogyakarta
11 Dec 2021 -
Konglomerasi Menguasai Asuransi Umum
04 Oct 2021 -
Ribbit Capital Danai Bank Jago
05 Oct 2021 -
PPATK : Transaksi Narkoba Tembus Rp 120 Triliun
30 Sep 2021









