Ekspor
( 1052 )Pelaku Usaha Kalsel Incar Pasar Mesir
Pelaku usaha di Kalsel membuka peluang bisnis ke Mesir. Beberapa komoditas ataupun produk UMKM dari Kalsel berpotensi masuk ke pasar Mesir dan diharapkan turut meningkatkan pangsa pasar Indonesia di Mesir, yang saat ini masih di bawah 2 %. Sejumlah pelaku usaha di Kalsel melaksanakan temu bisnis dengan pebisnis dari Mesir di Banjarbaru, Senin (20/6). Pebisnis Mesir datang ke Kalsel bersama rombongan Wakil Dubes RI untuk Mesir Muhamad Aji Surya. Aji Surya mengatakan, perkembangan perdagangan Indonesia-Mesir naik sangat pesat, meningkat lebih dari 56% pada masa pandemi tahun 2021 dibandingkan dengan tahun 2020.
Atase Perdagangan KBRI Kairo Irman Adi Purwanto Moefthi mengatakan, berbisnis dengan Mesir itu mudah karena Mesir merupakan negara yang sangat bergantung pada impor dari luar negeri. Hampir 76 % ekspor Indonesia ke Mesir adalah produk pangan, seperti kopi, teh, rempah-rempah, cokelat, kelapa, dan makanan ringan. Menurut Kadis Perdagangan Kalsel Birhasani, Mesir berpotensi menjadi pasar baru ekspor produk-produk dan komoditas dari Kalsel di Afrika. Selama ini, Kalsel sudah mengekspor karet ke Afsel serta teh gaharu ke Ghana dan Nigeria. (Yoga)
Indonesia Kejar Ekspor Ayam ke Singapura Bulan Ini
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Indonesia berharap bisa segera mencapai kesepakatan dengan Singapura terkait rencana ekspor ayam, menggantikan Malaysia yang menghentikan ekspor ke negara tersebut. Malaysia memutuskan untuk mengembargo ekspor ayam ke luar negeri sampai produksi lokal dan harga mulai stabil. Saat ini, Singapura tengah kekurangan pasokan ayam yang membuat negara tersebut menaikkan harga nasi ayam Hainan, salah satu kuliner yang identik dengan Negeri Singa. Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia Susiwijono Moegiarso mengatakan pihaknya sedang melakukan diskusi teknis dengan pihak Singapura dan diharapkan ekspor berjalan mulai bulan ini. Badan Pangan Singapura (SFA) membenarkan rencana impor ayam dari Indonesia tersebut.
Mengutip Reuters, Senin (20/6), Ketua Asosiasi Peternak Unggas Indonesia Achmad Dawami mengatakan Indonesia mengalami surplus produksi ayam.Ia menjelaskan negara ini memproduksi 55 - 60 juta unggas per minggu dengan surplus 15% - 20% setelah konsumsi domestik. Menurutnya, ekspor ke Singapura yang diperkirakan memiliki permintaan 3,6 juta hingga 4 juta ekor unggas per bulan dapat membantu menutupi kesenjangan pasokan di negeri tetangga itu. Dalam hal ini, Dawami mengatakan Singapura ingin mengimpor ayam hidup untuk menjaga rumah potong hewan domestik mereka tetap beroperasi. Namun, produsen Indonesia lebih suka mengekspor ayam potong karena tidak berpengalaman dalam mengekspor unggas hidup. "Mudah-mudahan dalam dua minggu ke depan sudah ada realisasi, kalau harus menunggu berbulan-bulan kita akan kehilangan momentum," kata Dawami. Sebelumnya, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Nasrullah mengatakan pihaknya tengah membahas perihal syarat dan teknis untuk ekspor ayam ke Singapura. "Saat ini lagi pembahasan teknis persyaratan antara Indonesia dan Singapura," kata Nasrullah kepada CNNIndonesia.com, Senin (6/6). Ketua Paguyuban Peternak Rakyat Indonesia (PPRN) Alvino Antonio juga mengatakan secara kuantitas, kualitas, dan harga Indonesia sangat berpeluang untuk merebut pasar ekspor ayam Malaysia ke Singapura. Namun, yang menjadi tantangan adalah harga pokok penjualan ayam Indonesia yang lebih tinggi dibandingkan Malaysia.Adapun Malaysia memutuskan setop ekspor ayam karena lonjakan harga dalam beberapa bulan terakhir akibat kekurangan pasokan pakan imbas dari perang Rusia-Ukraina.
Restriksi Ekspor CPO Gerus Surplus
Kebijakan restriksi ekspor CPO membuat surplus neraca perdagangan pada Mei 2022 anjlok dari rekor 7,56 miliar USD pada bulan sebelumnya menjadi 2,89 miliar USD. Setelah larangan tersebut dicabut, pemerintah mulai menggencarkan perluasan pasar ekspor CPO dan minyak goreng ke sejumlah negara. Data BPS pada Rabu (15/6) menunjukkan, nilai ekspor Indonesia Mei 2022 mencapai 21,51 miliar USD atau turun 21,29 % dibandingkan dengan nilai ekspor April 2022. Sementara itu, impor Mei 2022 tercatat sebesar 18,61 miliar USD, turun 5,81 % dibandingkan bulan sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, Rabu, mengatakan, penurunan nilai ekspor yang tajam itu disebabkan kebijakan restriksi ekspor CPO pada Mei 2022. Ia mengatakan, larangan yang bertujuan untuk menstabilkan harga minyak goreng di dalam negeri itu berkontribusi signifikan pada penurunan total ekspor industri pengolahan nonmigas serta surplus neraca perdagangan pada bulan Mei. Adapun kebijakan itu mulai diterapkan sejak 28 April 2022 dan dicabut pada 23 Mei 2022. (Yoga)
RI Percepat Ekspor, Harga Sawit Turun
Program Percepatan Ekspor CPO dan Sejumlah Produk Turunannya sudah mencapai 3,41 juta ton. Jorjoran ekspor ini dinilai memengaruhi harga CPO global dan justru menahan kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani. Harga CPO global di Bursa Derivatif Malaysia per Senin (13/6/2022) mencapai 5.785 ringgit Malaysia per ton, turun 2,35 % secara harian dan 5,4 % secara bulanan serta naik 71,44 % secara tahunan. Trading Economics menyebutkan, harga CPO itu anjlok di bawah 6.000 ringgit Malaysia per ton sejak Indonesia mengumumkan skema percepatan ekspor CPO dan sejumlah produk turunannya. Total tarif (bea keluar dan pungutan) ekspor Indonesia juga turun dari 575 USD per ton menjadi 488 USD per ton.
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan, Senin, mengatakan, ada 41 perusahaan CPO dan 22 perusahaan used cooking oil (UCO) yang mengikuti program percepatan ekspor. Total CPO dan produk turunannya yang akan diekspor mencapai 2,25 juta ton. Perusahaan-perusahaan itu tidak mengikuti program Subsidi Minyak Goreng Curah. Sementara perusahaan peserta program mendapatkan tambahan kuota ekspor lima kali lipat dari pemenuhan kewajiban memasok kebutuhan domestik (DMO). Mereka akan mengekspor 1,73 juta ton. ”Jadi, akan ada percepatan ekspor CPO dan produk turunannya dengan volume total 3,41 juta ton,” ujar Oke. Program percepatan itu bertujuan mengosongkan (flush out) tangki-tangki CPO yang penuh selama larangan ekspor berlangsung agar serapan dan harga tandan buah segar (TBS) sawit di petani naik.
Sejak program percepatan ekspor digulirkan, harga TBS sawit petani swadaya di hampir seluruh daerah di Indonesia kembali turun sekitar Rp 100 per kg-Rp 710 per kg, di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah provinsi. Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) mencatat, harga TBS di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, per 13 Juni 2022 sebesar Rp 1.500 per kg, turun Rp 710 per kg dibandingkan dengan harga per 1 Juni 2022 atau sepekan setelah larangan ekspor dicabut yang mencapai Rp 2.100 per kg. Harga itu di bawah harga acuan provinsi, yakni Rp 2.472 per kg. Menurut Sekjen SPKS Mansuetus Darto, penurunan harga TBS sawit petani juga dipengaruhi program percepatan ekspor CPO dan produk turunannya. Ketika pasar global digerojok dengan hampir 3 juta ton komoditas tersebut, harga CPO global pasti turun. (Yoga)
Mengalap Peluang Krisis Listrik India
Krisis listrik yang melanda India turut mengangkat harga batubara. Ini tercermin dari harga batubara acuan (HBA) Juni 2022 yang naik 17% per ton menjadi US$ 323,91 per ton.
Menurut Kementerian ESDM, pemerintah India telah meningkatkan jumlah impor batubara, seiring ketatnya suplai batubara dari produsen domestik untuk pembangkit listriknya. Selain itu, kenaikan HBA Juni juga dipengaruhi kebutuhan batubara China. Direktur Utama PT Harum Energy Tbk (HRUM) Ray Antonio Gunara tak menampik, krisis listrik di India menjadi peluang bagi HRUM untuk menggenjot penjualan ke negara tersebut. Dalam beberapa tahun ke belakang, HRUM tidak melakukan penjualan ke India. Ke depan, HRUM terus menjajaki peluang peningkatan ekspor ke India.
APBN Tak Lagi Bisa Andalkan Ekspor 2023
Lonjakan harga komoditas alias commodity boom diprediksi berakhir pada 2023. Kondisi ini dikhawatirkan mengancam pemulihan perekonomian, terutama penerimaan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2023 Maklum Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah tidak bisa lagi mengandalkan ekspor sebagai motor penerimaan negara. "Ekspor selama 2021-2022 mengalami booming dengan commodity boom akan menuju normalisasi," kata Menkeu saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR, (31/5) pekan lalu.
KEBIJAKAN TATA NIAGA MINYAK SAWIT : 23 PERUSAHAAN DIIZINKAN EKSPOR
Pemerintah telah menerbitkan 251 persetujuan ekspor dengan alokasi 302.032 ton minyak sawit mentah dan turunannya pasca pencabutan larangan ekspor komoditas tersebut. Pada saat yang sama, pemerintah menargetkan harga minyak sawit curah berangsur turun dalam beberapa pekan mendatang. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan 251 persetujuan ekspor (PE) milik 23 perusahaan sudah keluar. PE tersebut diperoleh setelah perusahaan memenuhi kewajiban domestic price obligation (DPO) dan domestic market obligation (DMO) minyak sawit. Kemendag menargetkan alokasi ekspor CPO dan turunannya sebesar 1,04 juta ton sehingga diharapkan tangki bisa kosong dan tandan buah segar (TBS) sawit dari petani bisa segera terserap maksimal.
Fasilitas Kepabeanan Genjot Capaian Ekspor
Upaya pemerintah mengurangi beban bea masuk untuk industri bernilai tambah mulai menunjukkan dampak terhadap penguatan daya saing ekspor nasional. Penyaluran fasilitas kepabeanan berupa kawasan berikat serta kemudahan impor tujuan ekspor atau KITE kepada industri berorientasi ekspor diharapkan dapat semakin tepat sasaran. Ditjen Bea dan Cukai Kemenkeu mencatat, sepanjang 2021 pemerintah telah mencucurkan insentif sebesar Rp 47,03 triliun untuk fasilitas kepabeanan, terdiri dari Rp 44,71 triliun untuk fasilitas Kawasan Berikat serta Rp 2,32 triliun untuk fasilitas KITE.
Direktur Fasilitas Kepabeanan Ditjen Bea dan Cukai Untung Basuki (2/6) menyampaikan, sepanjang 2021, nilai ekspor yang dihasilkan industri pengolahan penerima fasilitas kawasan berikat dan KITE mencapai 88,29 miliar USD (Rp 1.278 triliun). Capaian ini tumbuh 43,56 % dibanding tahun 2020. Dirjen Bea dan Cukai Askolani menambahkan, fasilitas kawasan berikat diberikan untuk setiap pemasukan barang ke kawasan industri. Setiap barang masuk mendapat fasilitas fiskal berupa penangguhan bea masuk, pembebasan cukai, pembebasan PPh, pembebasan PPN, dan PPnBM impor, serta pembebasan PPN atas barang dalam negeri. (Yoga)
Ekspor Sawit Dibuka Kembali
Pemerintah memutuskan membuka kembali ekspor minyak goreng mulai Senin (23/5). Selain 17 juta tenaga kerja di industri sawit, situasi pasokan dan harga minyak goreng menjadi pertimbangan keputusan tersebut. Pemerintah menyatakan akan tetap memantau untuk memastikan pasokan minyak goreng tetap terpenuhi dengan harga terjangkau. Presiden Jokowi, saat menyampaikan keputusan itu di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (19/5), menyatakan, sejak pelarangan ekspor diterapkan, pemerintah mendorong berbagai langkah untuk memastikan ketersediaan minyak goreng. ”Berdasarkan pengecekan langsung di lapangan dan juga laporan yang diterima, alhamdulillah, pasokan minyak goreng terus bertambah,” ujarnya. Kebutuhan nasional minyak goreng curah lebih kurang 194.000 ton per bulan. Pada Maret 2022, sebelum ekspor minyak goreng dan bahan bakunya dilarang mulai 28 April 2022, pasokan hanya 64.500 ton. Namun, setelah pelarangan, pasokan mencapai 211.000 ton per bulan atau melebihi kebutuhan nasional bulanan. Selain itu, harga rata-rata minyak goreng secara nasional turun. Pada April 2022, harga rata-rata minyak goreng curah nasional Rp 19.800 per liter. Namun, setelah ada pelarangan ekspor, harga rata-rata nasional turun menjadi Rp 17.200-Rp 17.600 per liter.
Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Gulat Manurung mengapresiasi langkah pemerintah yang membuka kembali ekspor produk sawit, termasuk minyak goreng dan CPO. Menurut dia, sejak pemerintah melarang ekspor minyak goreng dan bahan bakunya, harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani anjlok hingga 70 %. ”Larangan ekspor kemarin harus jadi pelajaran bagi pemangku sawit nasional untuk ’naik kelas’, baik dari aspek ekonomi, sosial, dan ekologi,” ujarnya. Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit Mansuetus Darto berharap keputusan itu tetap diiringi upaya perbaikan tata kelola sawit nasional. ”Roda ekonomi petani sawit diharapkan kembali baik, sejalan dengan perbaikan tata kelola BPDPKS,” ujarnya. Menurut Ketum Serikat Petani Indonesia Henry Saragih, perombakan tata kelola persawitan mendesak direalisasikan secara konsisten, antara lain dengan mendorong peran petani sawit rakyat lebih besar di industri sawit nasional. (Yoga)
Industri Pengolahan Sokong Surplus Neraca Dagang
Kinerja ekspor sektor pengolahan atau manufaktur dalam negeri telah menopang surplus neraca perdagangan nasional. Untuk menjaga kinerja positif ini sekaligus memperbaiki struktur ekonomi secara berkelanjutan, pemerintah akan terus mendukung ekspor produk hilirisasi sumber daya alam dari industri manufaktur. BPS melaporkan, ekspor Indonesia April 2022 sebesar 27,32 miliar USD, tumbuh 47,76 % secara tahunan. Sedang nilai impor 19,76 miliar USD, turun 10,01 % secara tahunan. Dengan demikian, angka surplus April 4,53 miliar USD. Surplus neraca perdagangan telah terjadi dalam empat bulan beruntun sejak awal 2022. Jika diakumulasikan, surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-April 2022 sebesar 16,89 miliar USD, lebih besar dari surplus pada empat bulan pertama tahun 2021 sebesar 7,81 miliar USD. Secara struktur, ekspor nonmigas menyumbang 94,75 % terhadap total ekspor April 2022 dengan rincian sektor industri pengolahan 69,86 persen (19,09 miliar USD), industri pertambangan 23,45 % (6,41 miliar USD), serta industri pertanian, kehutanan, dan perikanan 1,44 % (390 juta USD).
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio N Kacaribu (18/5) menilai positif kinerja ekspor sektor industri pengolahan yang menjadi komponen penyumbang tertinggi ekspor nonmigas. Secara tahunan, pertumbuhan ekspor industri pengolahan pada April 2022 mencapai 27,92 persen. Ia menambahkan, sektor pengolahan atau manufaktur adalah sektor yang memiliki nilai tambah tinggi dalam perekonomian, terutama dari sisi penciptaan lapangan kerja. Arah kebijakan pemerintah, lanjutnya, akan terus menggalakkan kinerja ekspor pada sektor pengolahan yang bernilai tambah tinggi dengan memperkuat hilirisasi sumber daya alam Indonesia. Sejumlah contoh produk sektor manufaktur penopang ekspor adalah produk hilirisasi tambang dan mineral, seperti produk besi dan baja. Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Faisal Rachman, mengatakan, angka realisasi surplus neraca perdagangan April 2022 jauh lebih tinggi dari perkiraan konsensus pasar sebesar 4 miliar USD. Ia memperkirakan, surplus neraca barang pada neraca transaksi berjalan hingga akhir tahun akan menyusut karena impor akan mengejar ekspor seiring dengan pemulihan ekonomi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Neraca Komoditas Hapus Rekomendasi Ijin Ekspor
07 Apr 2021 -
IMF Dukung Pajak Minimum untuk Korporasi
07 Apr 2021









