Ekspor
( 1052 )Mendag Zulhas Klaim Neraca Dagang RI Surplus, Ekspor Menguat
Mendag Zulkifli Hasan menyatakan saat ini neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 5,76 miliar secara bulanan pada Agustus 2022, lebih tinggi secara bulanan dari bulan sebelumnya yang US$ 4,23 miliar. "Neraca perdagangan, Indonesia di tengah pemulihan ekonomi global pada gustus 2022 kita surplus, US$ 5,76 miliar," kata pria yang akrab disapa Zulhas itu dalam acara 'Kinerja 100 Hari Mendag' di Kantor Kemendag, Jakpus, Minggu (25/9). "Sehingga Januari-Agustus mencapai US$ 34,92 miliar," imbuhnya. Negara tujuan ekspor utama Indonesia adalah Tiongkok (21,27 %), AS (10,81 %), India (8,79 %), Jepang (8,23 %), dan Malaysia (5,21 %).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS mengatakan surplus neraca perdagangan terjadi karena nilai ekspor mencapai US$ 27,91 miliar atau naik 9,17 % dari bulan sebelumnya yang US$ 25,6 miliar. Sementara, nilai impor cuma US$ 22,15 miliar atau naik 3,77 % posisi sebelumnya yang US$ 21,35 miliar. Kinerja ekspor ditopang ekspor migas US$ 1,71 miliar atau naik 25,59 % dari bulan sebelumnya yang sebesar US$1,37 miliar. Begitu juga dengan ekspor nonmigas terlihat naik 8,24 % dari US$ 24,19 miliar menjadi US$ 26,19 miliar. (Yoga)
Timbang Matang Ekspor Jagung
Ekspor dinilai menjadi salah satu solusi atas melimpahnya produksi jagung saat panen raya. Namun, langkah mengekspor jagung dinilai perlu dihitung dan direncanakan secara matang agar bisa berkesinambungan dan tidak menimbulkan masalah baru di dalam negeri. Direktur Serealia Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementan Moh Ismail Wahab, dalam webinar ”Pro Kontra Ekspor Jagung” yang digelar Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Kamis (22/9) menyebutkan, produksi jagung nasional meningkat dari 22,6 juta ton pada tahun 2019 menjadi 22,9 juta ton (2020), dan 23 juta ton (2021). Sejak 2017, Indonesia mulai menekan impor jagung pakan karena kebutuhan jagung nasional dianggap dapat dipenuhi dari produksi lokal.
Sebagai perbandingan, pada 2016, Indonesia masih impor jagung untuk pakan sebanyak 884.679 ton. Menurut Ismail, dari data Badan Pangan Nasional, jagung memang surplus hingga akhir tahun 2022. ”Namun, ekspor lebih baik tidak pada Agustus-September karena produksi nasional sedang turun dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Lebih baik pada Februari-Maret yang posisinya bagus,” ujarnya. Selama ini, kata Ismail, melimpahnya produksi jagung pada saat panen raya berimplikasi pada penurunan harga jagung di tingkat petani. Dengan demikian, ekspor jadi salah satu alternatif solusi. Di sisi lain, perlu perbaikan dan penambahan alat pascapanen, seperti gudang, silo penyimpanan, dan mesin pengering untuk meningkatkan mutu jagung sesuai dengan standar industri. (Yoga)
Perkuat Hilir Sebelum Stop Ekspor Timah
Pemerintah berencana melarang ekspor timah dalam waktu dekat untuk mengurangi ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap komoditas mentah. Namun, wacana itu dinilai perlu diiringi kajian strategi yang matang untuk mendorong hilirisasi industri serta memperkuat ekosistem timah dari hulu ke hilir di dalam negeri. Hilirisasi dibutuhkan karena selama ini 98 % timah diekspor ke luar negeri. Hanya 2 % hasil produksi timah di hulu yang diserap di sektor hilir oleh industri dalam negeri. Jika larangan ekspor timah mentah mendadak dikeluarkan tanpa memastikan berjalannya hilirisasi dan ekosistem industri di dalam negeri, pasokan timah akan menumpuk dan tak terserap optimal.
”Kita harus menciptakan ekosistem industri hilir supaya ada yang menampung hasil produksi di hulu. Perlu dipetakan dari sekarang, produksi timah kita paling potensial diolah untuk membuat turunan produk apa saja? Nilai tambahnya paling besar di sektor apa?” kata peneliti Center of Industry, Trade, and Investment di Institute of Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, Kamis (22/9). Ia mencontohkan, hasil olahan timah berpotensi digunakan untuk komponen elektronik, otomotif, serta konstruksi bangunan. Namun, akibat struktur industri timah yang masih ”bolong” dan kebiasaan mengekspor timah dalam bentuk mentah tanpa nilai tambah, industri lokal di sektor-sektor itu kerap menggunakan komponen impor yang biasanya dari China dan negara Asia Timur lain. (Yoga)
Risiko Perlambatan Ekspor Dimitigasi
Neraca perdagangan Indonesia hingga akhir tahun 2022 menghadapi sentimen penurunan volume ekspor seiring perlambatan ekonomi global. Perkembangan kebijakan perdagangan internasional mesti termonitor agar ditemukan langkah terbaik untuk memitigasi penurunan kinerja ekspor. Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan barang Indonesia masih surplus 5,76 miliar USD di tengah penurunan harga komoditas global. Dengan begitu, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus selama 28 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus tersebut didapat dari nilai ekspor migas serta nonmigas pada Agustus 2022 sebesar 27,91 miliar USD, tumbuh 9,17 % secara bulanan. Nilai impor juga meningkat 3,77 % dari bulan lalu menjadi 22,15 miliar USD, tetapi tetap lebih rendah dari volume ekspor.
Analis Makroekonomi PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, mengatakan, penurunan harga komoditas akibat perlambatan permintaan global berpotensi memperlambat kinerja ekspor. Jika perlambatan ekonomi global berlanjut, diperkirakan volume ekspor akan menurun di masa mendatang. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemkeu Febrio N Kacaribu optimistis volume ekspor pada bulan-bulan berikutnya masih akan positif, dengan catatan dampak risiko global terhadap penurunan kinerja ekspor terus diwaspadai agar risiko perlambatan ekspor dapat termitigasi secara optimal. ”Pemerintah akan terus memonitor perkembangan kebijakan perdagangan internasional terkait komoditas strategis Indonesia. APBN akan terus digunakan agar dapat menopang kinerja ekspor dalam konteks memperkuat pemulihan ekonomi pasca pandemi,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (18/9). (Yoga)
TEKSTIL DAN PRODUK TEKSTIL, Pengembangan Pasar Ekspor Dipacu
Pemerintah terus berupaya meningkatkan ekspor tekstil dan produk tekstil nasional. Kerja sama antar negara diperkuat guna memacu pengembangan pasar ekspor produk industri yang padat karya tersebut. Kehati-hatian juga dibutuhkan agar kerja sama tidak justru melemahkan industri tekstil nasional. ”Ini bidang yang sangat strategis. Bisa menyerap banyak tenaga kerja. Orientasinya juga ekspor. Bisa juga memenuhi kebutuhan dalam negeri untuk menahan impor,” kata Mendag Zulkifli Hasan saat melepas ekspor barang tekstil dan produk tekstil di PT Sri Rejeki Isman Tbk, atau Sritex, Kabupaten Sukoharjo, Jateng, Kamis (15/9). Dalam kesempatan itu Zulkifli melepas lebih dari 50 kontainer yang membawa komoditas tekstil dan produk tekstil untuk diekspor ke 20 negara, antara lain AS, Brasil, Polandia, Jepang, Uni Emirat Arab, dan Mesir. Nilai barang yang diekspor 3,7 juta USD.
Menurut Zulkifli, besarnya jumlah kontainer yang dilepas dalam sekali waktu ini hendaknya dijadikan momentum menandai kebangkitan perekonomian pasca pandemi Covid-19. Optimisme juga muncul mengingat industri ini terus menunjukkan pertumbuhan. Pada 2021 nilai ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia tercatat 12,9 miliar USD. Terjadi peningkatan 25,2 % dibandingkan dengan setahun sebelumnya, yakni 10,5 miliar USD. ”Kita perlu membangun pasar-pasar baru. Khususnya ke daerah-daerah yang sedang bertumbuh perekonomiannya,” kata Zulkifli. Pengembangan wilayah ekspor, menurut Zulkifli, bisa ditempuh dengan menjalin kerja sama perdagangan dengan negara-negara tujuan berupa comprehensive economic partnership agreement (CEPA) atau free trade agreement (FTA). (Yoga)
Kemendag Bidik Diwali India, BUMN Perkuat Pasar Ekspor ke Korsel
Indonesia terus menggenjot ekspor guna mempertahankan surplus neraca perdagangan hingga akhir tahun ini. Kemendag membidik potensi lonjakan permintaan CPO dari India menjelang Festival Diwali, sedangkan BUMN memperkuat pasar ekspor komponen pembangkit listrik Korea Selatan. Mendag Zulkifli Hasan dalam keterangan pers di Jakarta, selasa (23/8) mengatakan, India merupakan pasar ekspor CPO Indonesia terbesar kedua setelah China. Pada 2021, nilai ekspor CPO Indonesia ke India 3,4 miliar USD atau 25 % total ekspor Indonesia ke India. Permintaan komoditas tersebut biasanya melonjak menjelang perayaan Diwali yang tahun ini akan digelar pada 24 Oktober.
Pada 22 Agustus 2022, Zulkifli memimpin misi dagang Indonesia di New Dehli, India. Dalam misi ini, Indonesia membukukan 22 kesepakatan kerja sama dengan potensi ekspor 3,2 miliar USD atau Rp 46,98 triliun. Untuk CPO, total komitmen yang dihasilkan 2,6 juta ton atau 3,16 miliar USD. Sementara itu, PT Barata Indonesia (Persero) memperkuat pasar ekspor komponen pembangkit listrik di Korsel. Pada 22 Agustus 2022, BUMN ini mengekspor dua selubung luar bertekanan rendah (low pressure outer casing) ke Ulsan, Korsel. Komponen pembangkit listrik yang dibuat Divisi Pembangkit Barata Indonesia dipesan pemasok elpiji terkemuka Korsel, SK Gas Ltd. (Yoga)
Indonesia Bukukan Potensi Ekspor ke India Sebesar US$ 3,2. Miliard
JAKARTA, ID – Indonesia berhasil membukukan potensi ekspor ke India dengan nilai sebesar US$ 3,2 miliar dari penandatanganan 22 kesepakatan kerja sama (MoU) antara pelaku usaha kedua negara. Hal tersebut merupakan hasil dari kunjungan Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan saat memimpin delegasi misi dagang Indonesia ke New Delhi, India, Senin (22/8/2022). Mendag mengungkapkan, potensi ekspor tersebut diperoleh dari penandatanganan 22 kesepakatan kerja sama (MoU) antara pelaku usaha kedua negara. 22 MoU tersebut meliputi produk-produk minyak kelapa sawit (CPO), olein, batu bara, furnitur, perkakas plastik, serta bubur kertas dan kertas dengan nilai total mencapai US$ 3,2 miliar. “Khusus produk kelapa sawit total komitmen yang menjadi kesepakatan sebanyak 2,6 juta ton atau senilai US$ 3,16 miliar,” ucap Mendag dalam keterangan resminya, Selasa (23/8/2022). (Yetede)
PBB: Expor Pertanian dan Pupuk Rusia Jangan Dihalangi
ISTANBUL, ID – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Sabtu (20/8) mengatakan produk-produk pertanian dan pupuk Rusia jangan dihalangi untuk sampai ke pasar dunia. Atau dunia bisa mengalami krisis pangan paling cepat tahun depan. “Seluruh pemerintah dan sektor swasta harus bekerja sama untuk menghantarkannya ke pasar,” ujar Guterres, berbicara dari Pusat Koordinasi Bersama atau JCC di Istanbul, Turki, seperti dikutip AFP. JCC menjadi menjadi pengawas pelaksanaan perjanjian ekspor biji-bijian Ukraina. Yang tercapai pada bulan lalu oleh Ukraina dan Rusia dengan PBB dan Turki sebagai penjaminnya. Perjanjian itu juga menjamin hak Rusia untuk mengekspor produk- produk pertanian serta pupuknya. Walau sedang mendapat sanksi-sanksi ekonomi dari Barat atasi invasinya ke Ukraina sejak 24 Februari 2022. “Tanpa pupuk (yang memadai) di 2022, tidak akan ada cukup pangan pada 2023. Jadi mengeluarkan lebih banyak pupuk dan pangan dari Ukraina serta Rusia sangat penting untuk terus menstabilkan pasar komoditas sekaligus menurunkan harganya di tingkat konsumen,” papar Guterres. (Yetede)
TANAMAN HIAS, MAGNET BARU KOMODITAS EKSPOR LAMPUNG
Aziz Hermawan (43) sibuk menyiapkan aglonema yang akan diekspor ke Turki, Minggu (14/8). Bersama belasan petani lain, Aziz harus memastikan 10.500 batang aglonema yang akan diekspor perdana ke Turki bebas dari organisme pengganggu tumbuhan. Untuk itu, mereka harus teliti sejak awal proses penanaman hingga persiapan ekspor. Untuk membantu petani, Balai Karantina Pertanian Kelas I Bandar Lampung mendirikan tempat karantina tumbuhan khusus di Kelurahan Adipuro. Di sana, petani juga didampingi untuk memeriksa tanaman, mulai dari cara membersihkan hingga membungkus tanaman hias yang akan diekspor. Dengan karantina di tingkat desa/kelurahan, waktu untuk menyiapkan tanaman yang akan diekspor bisa lebih cepat.
Aziz menggeluti usaha tanaman hias sejak 2019. Pada awal masa pandemi Covid-19, masyarakat Lampung ”demam” tanaman hias. Ia pun memanfaatkan momentum itu untuk coba-coba menanam berbagai jenis tanaman hias yang sedang tren, tak terkecuali aglonema. Aglonema koleksi Aziz pernah terjual dengan harga tinggi, Rp 700.000 untuk satu batang. Saat ini, ia bisa mengantongi uang Rp 3 juta-Rp 4 juta setiap bulan dari hasil berjualan tanaman hias, padahal, usaha tanaman hias hanya sebagai pekerjaan sampingan yang diurus di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai buruh rongsok. Aziz hanyalah satu dari puluhan rumah tangga petani aglonema di kelurahan itu yang menikmati hasil dari budidaya tanaman hias. Peluang ekspor tanaman hias yang sangat besar menjadi daya tarik bagi para perantau asal Adipuro untuk kembali ke kampung halamannya.
Eko Widiantoro (41). Perantau yang 16 tahun terakhir bekerja di pabrik sepatu di Tangerang memutuskan pulang ke kampung halamannya pada Mei 2022. Sejak dua bulan lalu, dia memulai usaha budidaya aglonema dengan modal awal Rp 3 juta, untuk membeli media tanam, bibit, dan menyiapkan area budidaya. ”Saya baru bisa panen 3-4 bulan lagi. Saat ini masih dalam proses pemotongan batang untuk memperbanyak bibit aglonema,” kata Eko. Selain budidaya aglonema, Eko juga bekerja sebagai petani padi di desa. ”Saya lihat banyak warga di sini yang hidup layak dari budidaya tanaman hias. Dari situ, saya tertarik menggeluti usaha ini,” ucapnya. Ketua Kelompok Tani Aglonema Adipuro Sri Sejeki Margiono menuturkan, ada 90 rumah tangga di Kelurahan Adipuro yang mengembangkan budidaya tanaman hias. Para petani inilah yang memasok aglonema untuk diekspor perdana ke Turki. (Yoga)
KLIN Ekspor Pel ke Amerika
Produsen alat kebersihan, PT Klinko Karya Imaji Tbk (KLIN) resmi merambah pasar ekspor. Terbaru, perusahaan telah mengirimkan 100.000 pieces (pcs) mop head (alat pel) refil ke Amerika Serikat (AS). Direktur Utama KLIN Anggun Supanji menuturkan ekspor ini merupakan awal dari realisasi kontrak kerja jangka panjang di Negeri Paman Sam itu. Selain itu, Klinko telah mengantongi dua pesanan lain yang sedang disiapkan untuk total pesan 100.000 pcs mop head refil
Pilihan Editor
-
China : Cuci Uang dengan Kripto
21 Jun 2021 -
Kapal Tangkap Ikan Indonesia Ditertibkan
17 Jun 2021 -
Biaya Tarik Tunai ATM Link Dibatalkan
17 Jun 2021 -
Setoran Dividen BUMN Bisa Rp 35 Triliun
16 Jun 2021









