;
Tags

Ekspor

( 1052 )

Ekspor Dipacu meski Ekonomi Melambat

KT3 21 Oct 2022 Kompas

Pemerintah terus berupaya mendongkrak ekspor, antara lain, melalui pameran perdagangan dan misi dagang yang membuahkan kontrak bisnis. Di sisi lain, pelaku industri tengah tertekan kenaikan inflasi dan suku bunga, serta depresiasi rupiah. Pada penyelenggaraan Trade Expo Indonesia (TEI) 2022, Kemendag telah memfasilitasi 100 kontrak dagang pelaku usaha nasional dengan para pembeli dari 14 negara. Total nilai transaksi kesepakatan dagang pada hari pertama pameran perdagangan itu mencapai 1,19 miliar USD atau Rp 18,45 triliun. Ke-14 negara itu adalah Jepang, Malaysia, Belanda, Arab Saudi, Italia, Inggris, AS, Australia, Brasil, Spanyol, Jerman, Bangladesh dan Filipina. Komoditas yang diminati, antara lain, produk makanan dan minuman, perikanan, kertas, cangkang kelapa sawit, obat-obatan,  sayuran, briket, gula aren, kopi, furnitur, produk kecantikan, rempah-rempah, produk kayu, dan ban kendaraan bermotor.

Mendag Zulkifli Hasan, Kamis (20/10) mengatakan, penandatanganan 100  kesepakatan dagang tersebut menunjukkan antusiasme mitra dagang Indonesia. Di tengah ketidakpastian ekonomi, mereka tetap percaya dan berupaya memperkuat perdagangan untuk  memulihkan ekonomi global. TEI 2022 digelar secara luring pada 19-23 Oktober 2022 di Indonesia Convention Exhibition BSD City, Tangerang, Banten, dan daring pada 19 Oktober-19 Desember 2022. Pameran perdagangan itu diikuti 795 pelaku usaha dan dihadiri 2.288 pembeli potensial dari 176 negara. Transaksi ditargetkan mencapai 10 miliar USD atau meningkat 65 % realisasi transaksi TEI 2021 yaitu 6,1 miliar USD. (Yoga)


Mencari Pasar Baru di Ambang Resesi

KT3 21 Oct 2022 Kompas

Ditengah prediksi resesi global tahun 2023, setiap negara berupaya memperkuat perekonomiannya. Membangun kemitraan dagang menjadi penting. Perdagangan bebas dianggap memberi lebih banyak  keuntungan bagi rakyat negara yang berpartisipasi dibandingkan dengan sikap proteksionisme. Pertumbuhan ekonomi menjadi lebih stabil dan lebih baik. Indonesia selama 29 bulan terakhir menikmati surplus neraca perdagangan yang didorong tingginya harga minyak sawit serta harga komoditas dan barang tambang, selain produk manufaktur. Tiga kawasan ekonomi superbesar, AS, China, dan Uni Eropa, pertumbuhannya diperkirakan akan melambat pada 2023. Perlambatan itu akan memengaruhi negara lain di seluruh dunia. Indonesia tak terkecuali. Dalam perlambatan ekonomi global, tak tertutup kemunkinan sikap proteksionis kembali muncul. Bisa juga karena keterbatasan devisa sehingga sejumlah negara membatasi impornya untuk kebutuhan esensial saja. Pada sisi lain, negara-negara akan mengupayakan peningkatan perdagangannya untuk mendapat devisa. Kompetisi akan mewarnai pasar dan akan baik apabila berjalan adil, meski pada tahap awal perdagangan baru dibuka ada pihak yang kalah dan pekerja kehilangan pekerjaan, akibat barang impor yang lebih murah dan baik.

Presiden Jokowi berulang kali mengingatkan semua pihak tetap waspada menghadapi perubahan global  yang sulit diprediksi, meski neraca perdagangan kita surplus. Mencari pasar baru ekspor, seperti  disampaikan Mendag Zulkifli Hasan, menjadi keharusan bagi Indonesia (Kompas, 20/10). Mencari pasar baru dapat berdasarkan negara tujuan, jenis produk yang ditawarkan, atau model kemitraan strategis. Kemitraan strategis bisa dilakukan dengan mendirikan usaha di kawasan tujuan ekspor, bermitra dengan bisnis lokal. Hal ini dilakukan sejak lebih dari 30 tahun lalu dan bisa diintensifkan. Walakin, kita harus dapat mengirim produk yang berdaya saing. Pertama-tama kita harus memilih produk ekspor yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Minyak sawit, misalnya, adalah keunggulan kompetitif dan komparatif kita, tetapi China dan India berambisi memproduksi sendiri minyak sawit. Karena itu, hilirisasi dan diversifikasi produk penting untuk mendapatkan nilai tambah dan pasar baru. Kita juga perlu mencari komoditas baru di tengah perubahan besar global akibat perubahan iklim, pandemi, ataupun ketidakstabilan geopolitik. Jerami padi, misalnya, sangat dibutuhkan industri peternakan sapi di Jepang. Nikel kadar rendah dapat dimanfaatkan untuk baterai. Artinya, pasar baru sebetulnya ada ketika terjadi perubahan rantai nilai global. (Yoga)


Dubes RI-Bulgaria Fasilitasi Kesepakatan Bisnis Perusahaan RI-Albania Senilai US$ 35 Juta

KT3 21 Oct 2022 Investor daily

Dubes RI untuk Bulgaria merangkap Makedonia Utara dan Albania, Iwan Bogananta dan tim ekonominya sukses memfasilitasi kesepakatan kerja sama bisnis dan investasi antara Moderna Indonesia dan XH&M Albania senilai US$ 35 juta. Kerja sama mencakup pengembangan renewable energy dan home appliances. Kesepakatan itu dicapai dalam kegiatan Business Forum INACEE 2022, 19 Oktober 2022, yang diinisiasi oleh Kemenlu. Iwan Bogananta dalam pernyataan resminya menyampaikan, fasilitasi kesepakatan perdagangan dan investasi dalam bentuk penandatanganan MoU antara Modena Indonesia dan XH&M senilai US$ 35 juta itu merupakan pengembangan pada sektor energi terbarukan, khususnya sektor panel surya dan distribusi peralatan rumah tangga di Albania. Kesepakatan ini ditujukan untuk membuka kesempatan dan mengembangkan pasar non tradisional di kawasan Eropa Timur, Tenggara, dan Balkan, yang akan menggunakan sumber produksi dari Indonesia yaitu panel surya dari Indonesia.

“Dengan penandatanganan perjanjian kerja sama ini, kami berharap dapat berkontribusi terhadap pemulihan ekonomi Indonesia, peningkatan hubungan bilateral, dan sesuai dengan sektor prioritas Indonesia dalam Kepresidenan G20, yaitu ‘mendorong transisi energi baru dan berkelanjutan',” kata Iwan Bogananta di acara INA CEE dalam sesi penandatanganan kesepakatan kerja sama antara negara Eropa Timur, Tenggara, dan Balkan. Dalam kesempatan tersebut, Direktur Global Development & Strategy Modena Erwin Vernatha mengucapkan apresiasinya kepada Dubes Iwan Bogananta dan tim ekonominya yang telah memfasilitasi ekspansi produk Indonesia di Albania melalui penandatanganan MoU senilai lebih dari US$ 35 juta. Dalam hal ini adalah pengembangan ekspor produk Indonesia dan investasi untuk proyek green energy dan distribusi home appliances. “Ke depan kami berharap kerja sama atas hasil fasilitasi Bapak Dubes Iwan dan tim ini dapat turut berkontribusi terhadap hubungan baik kedua negara dan peran Indonesia di kawasan,” tutur Erwin. Project Manager XH&M Albania Xhoana Merkaj turut mengapresiasi fasilitasi Dubes RI. Dia berharap kerja sama bilateral perdagangan kedua negara terus dapat ditingkatkan dengan melibat peluang dari sektor lainnya. (Yoga)


Pasar Nontradisional Punya Potensi Besar

KT3 20 Oct 2022 Kompas

Badai resesi ekonomi dinilai sulit diprediksi. Untuk mengatasi perlambatan ekonomi dunia, Indonesia akan fokus menggarap pasar-pasar ekspor nontradisional. Akses perdagangan dengan negara-negara mitra terus didorong melalui perjanjian perdagangan internasional. Presiden RI Jokowi mengemukakan, di tengah resesi global, ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,44 % pada triwulan II-2022. Indonesia tergolong negara dengan pertumbuhan ekonomi paling tinggi di antara negara-negara G20 dan negara lain. Selama Januari-September 2022, surplus neraca perdagangan 39,87 miliar USD yang menjadikan surplus perdagangan berturut-turut selama 29 bulan. Adapun kenaikan inflasi Agustus 2022 sebesar 4,6 % dinilai masih bisa dikendalikan. Pada triwulan II-2022, tingkat inflasi naik 5,9 % akibat lonjakan harga BBM. ”Negara kita harus tetap optimistis, tetapi memang harus tetap waspada dan hati-hati karena badai sulit dihitung, sulit diprediksi, sulit dikalkulasi akan menyebar sampai ke mana, dan imbasnya ke kita seperti apa,” kata Presiden Jokowi dalam pembukaan Trade Expo Indonesia (TEI) di ICEBSD City, Tangerang, Banten, Rabu (19/10).

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menambahkan, guna mendukung pertumbuhan ekspor, Indonesia terus membuka akses pasar dengan negara-negara mitra melalui perjanjian perdagangan internasional. Pasar nontradisional memiliki potensi besar untuk digarap, antara lain negara-negara di Afrika dengan penduduk 1 miliar orang, serta Asia Selatan, seperti India, Pakistan, dan Bangladesh, dengan jumlah penduduk 1,5 miliar orang, serta Asia Tengah dan Timur Tengah. ”Untuk mengatasi perlambatan ekonomi dunia, kami akan fokus menggarap pasar nontradisional,” ujar Zulkifli. Upaya menggarap pasar nontradisional antara lain dengan penandatanganan perjanjian kemitraan ekonomi secara komprehensif antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (IUAE CEPA) pada Juli 2022 yang diharapkan sudah diratifikasi DPR sebelum 17 November 2022. Selain itu, pengesahan undang-undang perjanjian perdagangan Indonesia-Korea yang sudah diratifikasi DPR. Misi dagang Indonesia ke India pada 21-22 Agustus 2022 yang menghasilkan 22 kesepakatan dagang senilai 3,2 miliar USD untuk komoditas kertas, sawit, dan batubara. Juga misi dagang ke Qatar pada 9-10 Oktober 2022 yang mencatat potensi transaksi Rp 100 miliar dengan mengajak pelaku UMKM). (Yoga)


Sinyal Suram Neraca Perdagangan

KT3 19 Oct 2022 Tempo

Merosotnya surplus perdagangan Indonesia merupakan peringatan bagi pemerintah untuk bersiap menghadapi krisis yang lebih besar. Kinerja ekspor yang menurun merupakan dampak perlambatan ekonomi global karena harga komoditas mulai melandai dan jumlah permintaan anjlok. Fenomena ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk bersiap menghadapi resesi ekonomi global. Turunnya angka ekspor dan impor akibat resesi di beberapa negara bakal berdampak besar, terutama saat kurs rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Sejumlah lembaga, seperti Bank Dunia dan IMF, sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk outlook ekonomi Indonesia pada tahun depan, sebagai sinyal kondisi ekonomi yang memburuk. Pemicunya, menurut IMF, adalah tingginya inflasi di sejumlah negara serta kian mahalnya harga energi dan pangan setelah pecahnya konflik Rusia-Ukraina. Data BPS menunjukkan surplus perdagangan September US$ 4,99 miliar, turun 13,2 % dari bulan sebelumnya,   lantaran ekspor turun dari US$ 27,86 miliar pada Agustus menjadi US$ 24,8 miliar, sedangkan impor melorot dari US$ 22,15 miliar menjadi US$ 19,81 miliar. Angka ekspor dan impor diprediksi terus merosot seiring memburuknya perekonomian negara-negara yang menjadi mitra dagang kita selama ini.

Menurut BPS, ekspor CPO, yang menjadi komoditas andalan kita, anjlok 29,1 % dalam sebulan, sedangkan ekspor besi dan baja turun 6 %. Hanya ekspor batu bara yang masih bergerak positif, tapi itu pun hanya naik 1,2 %. Ekspor tekstil dan pakaian rajutan,  yang mempekerjakan banyak orang, juga merosot menjadi US$ 137,7 juta atau anjlok 30 %. Turunnya surplus perdagangan bakal berdampak pada banyak hal. Salah satunya adalah penurunan devisa, yang memperlemah kemampuan BI menahan lesunya nilai tukar rupiah. Sejak Juni hingga September saja, saat surplus perdagangan ada di tren positif, cadangan devisa terus tergerus. Berdasarkan data BI, cadangan devisa Juni sebesar US$ 136,4 miliar, kemudian turun menjadi US$ 132 miliar pada Juli dan Agustus, lalu menjadi US$ 130 miliar pada September. Kurs rupiah pun terus tergerus dari Rp 14.882 per dolar AS pada akhir Juni menjadi di atas Rp 15.000 per dolar AS pada Oktober. Penurunan kurs menyebabkan harga barang-barang impor makin mahal, yang akhirnya akan mengerek angka inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat. Lesunya arus perdagangan, yang ada kemungkinan terjadi hingga tahun depan, juga bakal mempengaruhi kinerja industri, terutama perusahaan padat karya yang berorientasi ekspor, sehingga ada bayang-bayang PHK massal. (Yoga)


Antisipasi Risiko Global, Pemerintah Dorong Diversifikasi Pasar Ekspor

KT3 19 Oct 2022 Investor daily

Pemerintah mendorong diversifikasi produk dan pasar ekspor untuk mengantisipasi risiko global. Sejauh ini, langkah itu mulai memperlihatkan hasil. “Ekspansi pasar ekspor, misalnya, ke Filipina dan Malaysia yang sudah menunjukkan peningkatan signifikan sepanjang tahun berjalan,” ucap Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu, Selasa (18/10). Mengutip data BPS, neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 4,99 miliar pada September 2022. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan sejak Januari hingga September 2022 mencapai US$ 39,87 miliar, jauh lebih tinggi dibandingkan puncak periode boom komoditas 2011 di US$ 22,2 miliar. “Hasil ini juga menandakan surplus yang telah terjadi selama 29 bulan berturut-turut. Secara kuartalan, kinerja net ekspor juga cukup baik, sehingga menjadi salah satu faktor pendorong pertumbuhan PDB kuartal III-2022 dan 2022 secara keseluruhan,” kata Febrio.

Nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 24,8 miliar pada September 2022 atau tumbuh 20,28% dibandingkan  September 2022. Secara kumulatif, nilai ekspor Januari-September 2022 mencapai US$ 219,35 miliar atau meningkat US$ 55 miliar dibanding periode sama tahun sebelumnya US$ 164,32 miliar. “Penguatan permintaan ekspor, terutama berasal dari beberapa negara mitra dagang utama Indonesia, seperti India, Jepang dan Korea Selatan,” papar Febrio. Sementara itu, dia menyatakan, peningkatan ekspor Januari-September 2022 didorong oleh ekspor migas yang masih tumbuh sangat tinggi mencapai 38,56% (year to date/ytd). Sementara itu, ekspor nonmigas mencatatkan pertumbuhan 33,21% (ytd). Dari sisi sektoral, sektor pertambangan mencatatkan pertumbuhan tertinggi mencapai 91,98% (ytd), disusul sektor manufaktur 22,23% (ytd) yang sejalan dengan purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia yang tumbuh di zona ekspansif pada September, dan sektor pertanian yang tumbuh 15,38%. (Yoga)


Resesi Global Tekan Ekspor

KT3 19 Oct 2022 Kompas

Meski mencatat pertumbuhan ekonomi solid di tengah krisis dan ketidakpastian global, yakni 5,44 % triwulan II dan 5,23 % semester I-2022, tekanan resesi global pada pertumbuhan Indonesia harus diantisipasi. Kian melemahnya ekonomi global sebagai dampak inflasi tinggi, pengetatan moneter global, perang Rusia-Ukraina, dan pandemi Covid-19, membuat berbagai lembaga menurunkan angka proyeksi pertumbuhan dunia 2022 dan 2023. Situasi 2023 secara umum diprediksi lebih suram daripada 2022. IMF, Oktober lalu, merevisi proyeksi pertumbuhan global dari 2,9 % menjadi 2,7 %. Sepertiga perekonomian dunia praktis secara teknis mengalami resesi, dengan pertumbuhan negatif dua triwulan berturut-turut. Kendati tak sampai resesi, perlambatan ekonomi Indonesia dipastikan akan terjadi. Neraca perdagangan hingga Oktober tetap surplus, tetapi angkanya terus menurun, sejalan dengan menurunnya ekspor Indonesia dan depresiasi rupiah. Penurunan ekspor itu, selain dipicu penurunan harga komoditas, juga karena penurunan permintaan dari negara-negara yang mengalami perlambatan ekonomi.

China yang menyumbang 18 % PDB global dan 26-27 % ekspor Indonesia, diprediksi Bank Dunia dan IMF, hanya tumbuh 2,8 % dan 3,2 % tahun ini; dari 8,1 % tahun 2021. Angka ini terburuk dalam lima dekade terakhir. Perlambatan pertumbuhan juga dialami mitra dagang pen-ting Indonesia lainnya, seperti AS yang menyumbang 9 % ekspor Indonesia, selain Asia Tenggara (14,63 %) dan Uni Eropa (4,79 %). Untuk sisa 2022, penurunan ekspor mungkin sedikit tertahan, oleh permintaan komoditas, seperti batubara masih tinggi, meskipun semakin turun dibandingkan sebelumnya. Dengan situasi global 2023 yang diprediksi jauh lebih berbahaya dan suram, kita harus memperkuat bantalan dan benteng pertahanan. Selain transmisi lewat perdagangan, kita harus mengantisipasi dampak resesi/stagflasi global yang dipastikan akan terjadi pada 2023, lewat transmisi lain, termasuk keuangan, terutama nilai tukar dan beban utang. (Yoga)


Sektor Usaha Anti-Resesi

KT3 18 Oct 2022 Tempo

Pelaku usaha mencoba mencari peluang di tengah proyeksi resesi perekonomian global tahun depan. Wakil Ketum Kadin Indonesia Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri, Shinta Kamdani, menuturkan terdapat sektor perdagangan yang masih dapat diandalkan di tengah kondisi perekonomian yang tak menentu, yaitu komoditas yang permintaannya inelastic, seperti CPO, batu bara, ataupun emas. “Secara historis, mereka selalu mengalami kenaikan permintaan pada masa krisis global seperti pandemi yang lalu,” ujar dia kepada Tempo, kemarin. Shinta mengatakan, guna mengantisipasi perlambatan ekspor, pelaku usaha juga membutuhkan dukungan kebijakan insentif jangka pendek dari pemerintah untuk mendorong peningkatan diversifikasi perdagangan. Hal itu bisa dilakukan dengan meningkatkan fasilitas perdagangan untuk ekspor, khususnya ke negara-negara pasar ekspor non-tradisional.

Ketua Dewan Pemakai Jasa Angkatan Laut Indonesia, Toto Dirgantoro, menambahkan, selain sektor pertambangan dan industri hilirnya, potensi dimiliki produk mebel dan kerajinan tangan. “Mereka melaju karena bahan produksinya lokal, tapi harganya ekspor,” ucapnya. Selanjutnya produk tekstil dan barang elektronik. Juga mencari peluang pasar baru, ketika AS dan Uni Eropa, terkena dampak resesi. “Pastinya kami berusaha masuk lebih dalam lagi ke pasar non-tradisional, seperti Afrika, Timur Tengah, lalu kawasan Amerika Selatan,” ucapnya. Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, resesi tak selamanya memukul seluruh sektor perdagangan, ada produk yang justru bersinar atau meningkat permintaannya di tengah pelemahan perekonomian global seperti kopi yang justru eksis dan melaju kencang ketika krisis pandemi Covid-19 melanda. Pada 2021, ekspor kopi tercatat melonjak tajam hingga menjadi US$ 842,5 juta, di tengah puncak kasus varian delta Covid-19. “Ini menjadi bukti bahwa kopi merupakan salah satu komoditas anti-resesi,” ujarna. (Yoga)


Sinyal Perburukan Neraca Dagang

KT3 18 Oct 2022 Tempo

Kinerja perdagangan luar negeri mulai menunjukkan pelemahan menjelang pengujung tahun ini. Kinerja ekspor berpotensi terpukul setelah proyeksi resesi perekonomian global pada 2023 yang akan menerpa sepertiga negara di dunia diumumkan oleh IMF. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, berujar bahwa ancaman resesi yang utamanya terjadi pada negara-negara mitra dagang tradisional Indonesia tak hanya berdampak pada penurunan volume ekspor, tapi juga nilainya. “Hal itu menyebabkan surplus perdagangan ke depan akan terus menyempit,” ujarnya kepada Tempo, kemarin, 17 Oktober 2022. Dalam konferensi pers kemarin, BPS mengumumkan, surplus perdagangan Indonesia tercatat sebesar US$ 4,99 miliar, lebih rendah dari Agustus 2022 yang US$ 5,71 miliar. Adapun nilai ekspor maupun impor juga menurun dari bulan sebelumnya, yaitu masing-masing sebesar US$ 24,8 miliar dan US$ 19,81 miliar.

Surplus tersebut ditopang oleh surplus neraca perdagangan non-migas sebesar US$ 7,09 miliar, dengan komoditas utamanya yaitu bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan, serta besi dan baja. Sedangkan komoditas migas mencatat defisit sebesar US$ 2,1 miliar. “Sektor yang terpukul adalah bisnis-bisnis yang mengandalkan pasar ekspor tradisional,” kata dia. Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (Ideas), Yusuf Wibisono, mengatakan, sinyal pelemahan itu sejalan dengan melambatnya proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebelumnya, IMF memprediksi perekonomian Indonesia tumbuh di kisaran 5,1-5,3 % pada 2023, tapi dipangkas menjadi 5 %. “Dengan proyeksi buram yang melemahkan kinerja ekspor, neraca dagang ke depan akan memburuk,” ucapnya. Meski demikian, menurut Yusuf, kondisi iklim perdagangan Indonesia masih relatif kondusif jika dibandingkan dengan negara peer group, seperti Vietnam, Filipina, dan Malaysia, yang pertumbuhan ekonominya dipangkas hingga hampir 1 %. (Yoga)


Perlambatan Ekonomi Tekan Kinerja Ekspor

KT3 18 Oct 2022 Kompas (H)

Kinerja ekspor Indonesia September 2022 turun 10,99 % secara bulanan. Perlambatan ekonomi sejumlah negara tujuan ekspor utama dan penurunan harga komoditas global menjadi penyebab. BPS mencatat, nilai ekspor Indonesia September 2022 mencapai 24,8 miliar USD atau turun 10,99 % secara bulanan. Ekspor nonmigas yang menyumbang 94,66 % total ekspor RI juga turun 10,31 % menjadi 23,48 miliar USD. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (17/10), mengatakan, penurunan nilai ekspor disebabkan penurunan ekspor komoditas unggulan, yakni besi baja dan CPO. Penurunan ekspor Indonesia juga disebabkan penurunan permintaan serta harga komoditas di pasar global. Hanya harga dan volume batubara yang bertahan tinggi.

Harga batubara September 2022 tercatat 321,5 USD per ton, naik dari bulan sebelumnya yang 290 USD per ton. Adapun volume ekspornya naik dari 32,8 juta ton menjadi 33,2 juta ton. ”Ini ditopang kenaikan permintaan dari China dan sejumlah negara di Eropa yang mengalami krisis energy akibat perang Rusia-Ukraina,” kata Setianto. Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, berpendapat, penurunan kinerja ekspor Indonesia tidak hanya dipengaruhi penurunan harga komoditas global. Perlambatan ekonomi di negara-negara tujuan ekspor utama, seperti AS dan China, juga berpengaruh besar. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor RI ke Uni Eropa pada Agustus-September 2022 turun 21,47 %, sedang ke India turun 29,23 %, AS turun 18,26 %, Jepang turun 2,53 %, dan China turun 0,09 %. Menurut Irman, situasi itu akan memengaruhi kinerja ekspor Indonesia hingga tahun depan. Namun, neraca dagang RI akhir tahun ini masih akan surplus sehingga dapat berkontribusi menjaga nilai tukar rupiah. (Yoga)