;
Tags

Ekspor

( 1052 )

Meredam Perlambatan Ekspor

KT3 17 Nov 2022 Kompas


Meski ekspor Indonesia terus tumbuh dan neraca dagang surplus 30 bulan berturut-turut, dampak perlambatan ekonomi dunia harus lebih serius diantisipasi. Dampak memburuknya perekonomian global pada Indonesia tak hanya terlihat dari melambatnya pertumbuhan ekspor serta turunnya impor bahan baku dan barang modal sebagai komponen produksi industri, tetapi juga terjadinya PHK di di industri garmen dan alas kaki akibat menurunnya permintaan global serta perlambatan ekonomi negara maju. PHK juga terjadi di sejumlah perusahaan rintisan sebagai bagian fenomena global. Dengan pertumbuhan ekonomi salah satu tertinggi di dunia saat ini, IMF menyebut Indonesia titik terang di tengah suramnya prospek ekonomi global. BPS mencatat, ekonomi Indonesia triwulan III-2022 tumbuh 5,72 % (yoy), menyusul pertumbuhan 5,01 dan 5,44 % pada triwulan I dan II. Peningkatan pertumbuhan ini menunjukkan Indonesia sebenarnya jauh dari resesi. Namun, cepat atau lambat, kita tak bisa menghindari dampak resesi global pada 2023. Dari sisi perdagangan, neraca perdagangan masih surplus 5,67 miliar USD pada Oktober 2022 dan 45,52 miliar USD pada Januari-Oktober 2022.

 Terhadap G20 yang menyumbang 80 % perdagangan global, Indonesia juga masih surplus, dengan surplus membesar dari 16,4 miliar USD (2021) menjadi 27,6 miliar USD (Januari-Oktober 2022), meski demikian, pertumbuhannya, terutama ekspor nonmigas, terus melambat dua bulan terakhir, sejalan dengan turunnya permintaan dan turunnya harga komoditas. Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memprediksi akan anjlok tajamnya pertumbuhan perdagangan global pada 2023. Menyusul pertumbuhan yang diprediksi sebesar 3,5 % di 2022, perdagangan global di 2023 diprediksi hanya tumbuh 1 %. Jauh di bawah proyeksi semula 3,4 %. Kita mengapresiasi berbagai langkah yang ditempuh pemerintah untuk menekan dampak ekonomi global pada industry dalam negeri. Termasuk, dengan menggenjot permintaan domestik dan mengampanyekan pemakaian produk lokal. Di sini relevansi KTT G20 di Bali. Melalui kerja sama dan koordinasi kebijakanyang lebih baik secara global, resesi diharapkan tidak berlangsung lama, dan ekonomi global bisa pulih lebih cepat dan lebih kuat di 2023. (Yoga)


RI Surplus Dagang terhadap G20

KT3 16 Nov 2022 Kompas (H)

Total nilai neraca perdagangan barang Indonesia terhadap negara-negara anggota G20 surplus dalam dua tahun terakhir dengan Komoditas ekspor unggulan utama berupa BBM; besi dan baja; lemak dan minyak hewani/nabati; bijih logam, terak, dan abu; serta mesin atau perlengkapan elektrik dan bagiannya. Namun, kinerja ekspor Indonesia cenderung melambat, bahkan turun, yang mengindikasikan imbas perlambatan ekonomi dan inflasi tinggi di sejumlah negara mitra dagang Indonesia makin terasa. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, Selasa (15/11) mengatakan,total nilai surplus neraca perdagangan RI terhadap G20 pada Januari-Oktober 2022 mencapai 27,6 miliar USD atau Rp 429,57 triliun (kurs Jisdor BI Rp 15.564). Pada 2021, Indonesia juga membukukan surplus neraca perdagangan 16,4 miliar dollar AS.

”Namun, jika dijabarkan per negara anggota G20, RI hanya mencatatkan surplus neraca perdagangan dengan delapan negara dan satu kawasan. Sementara dengan 10 negara anggota lain, neraca perdagangan RI masih defisit,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. Berdasarkan data BPS, dalam dua tahun terakhir, RI mencatatkan surplus neraca perdagangan dengan AS, India, Uni Eropa, Jepang, Italia,Turki, Meksiko, Korsel, dan Inggris. Sementara RI membukukan defisit neraca perdagangan dengan Australia, Arab Saudi, China, Brasil, Argentina, Kanada, Afsel, Rusia, Jerman, dan Perancis. BPS juga menyebutkan, neraca perdagangan Indonesia pada Okober 2022 dan Januari-Oktober 2022 masing-masing surplus 5,67 miliar USD dan 45,52 miliar USD. (Yoga)


Oktober, Neraca Perdagangan Surplus US$ 5,67 Miliar

KT1 16 Nov 2022 Investor Daily (H)

JAKARTA, ID – Neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 5,67 miliar pada Oktober 2022, naik dari bulan sebelumnya yang sebesar US$ 4,99 miliar, melanjutkan tren positif selama 30 bulan beruntun. Kenaikan surplus perdagangan Oktober 2022 disebabkan pertumbuhan ekspor dan penurunan impor secara bulanan (month to month/mtm). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor nasional tumbuh 0,13% secara bulanan menjadi US$ 24,81 miliar pada Oktober 2022 dan tumbuh 12,3% secara tahunan (year on year/yoy) dari US$ 22,09 miliar. Pertumbuhan ekspor secara tahunan melambat dibandingkan peptember 2022 yang mencapai 20,3%. Ini dipicu penurunan harga komoditas andalan ekspor, seperti minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebesar 2,24% secara bulanan, bijih besi 7,26%, nikel 3,25%, dan gas alam 27,61%. (Yetede)

INDUSTRI MEBEL Pesanan Turun, Ekspor Melambat

KT3 11 Nov 2022 Kompas

Penurunan permintaan dari AS serta sejumlah negara di Eropa menekan pelaku industri mebel dan kerajinan di Tanah Air. Guna lepas dari tekanan itu, pelaku industri melirik peluang optimalisasi produk dan diversifikasi negara tujuan ekspor. Berdasarkan data yang dihimpun dan diolah Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), nilai ekspor furnitur dan kerajinan sepanjang Januari-September 2022 mencapai 2,71 miliar USD atau tumbuh 7,71 % dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Namun, laju pertumbuhan ini lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 27,23 %. Realisasi ekspor mebel dan kerajinan 2021 mencapai 3,25 miliar USD. Namun, tahun ini nilainya diperkirakan turun menjadi 3,17 miliar USD. ”Secara umum (di negara-negara tujuan ekspor), inflasi membuat daya beli masyarakat turun. Akibatnya, belanja (furnitur) turut berhenti,” kata Ketua Presidium HIMKI Abdul Sobur di sela simposium HIMKI di Jakarta, Kamis (10/11).

Menurut Dirjen Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika, ekspor produk itu tidak maksimal karenamarket shock akibat perang Rusia-Ukraina sehingga inflasi di negara tujuan tergolong tinggi. Terkait situasi itu, analis Perdagangan Ahli Madya Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Hamidi Hasyim, mengusulkan optimalisasi produk ekspor yang punya ceruk pasar, seperti tempat duduk lapisan kayu (kode HS 940161) dan furnitur ruang makan selain kursi (kode HS 940340). Setiap tahun, potensi ceruk pasar produk kelompok HS 940161 dan HS 940340 masing-masing 24,3 miliar USD dan 7,9 miliar USD. Namun, nilai ekspor kedua produksi tersebut sepanjang Januari-September 2022 masing-masing baru 39,4 juta USD dan 64,8 juta USD. (Yoga)


Ekspor Tiongkok Meleset dari Perkiraan

KT3 08 Nov 2022 Investor Daily

Bea Cukai Republik Rakyat Tiongkok (RRT) merilis data pada Senin (7/11) yang menunjukkan penurunan ekspor tidak terduga untuk Oktober, di mana terjadi penurunan nilai barang yang dijual ke AS dan Uni Eropa (UE). Menurut laporan, ekspor Negeri Tirai Bambu dalam dolar AS mengalami penurunan 0,3% pada Oktober dari tahun lalu. Angka ini meleset dari ekspektasi Reuters, terjadi kenaikan 4,3%. Berdasarkan data Refinitiv Eikon, penurunan tersebut juga menandai kontraksi tajam dari peningkatan 5,7% year-on-year (yoy) pada September, dan merupakan penurunan yoy pertama sejak Mei 2020. Selain ekspor, impor Tiongkok dalam dolar AS turut merosot sebesar 0,7%. Angka ini pun meleset dari ekspektasi terjadi pertumbuhan sedikitnya 0,1%. dan turun dari kenaikan 0,3% pada September. Hasil perhitungan CNBC dari data bea cukai dolar AS, ekspor Tiongkok ke AS turun 12,6% pada Oktober dari tahun lalu dan merupakan penurunan bulan ketiga berturut-turut.

Padahal data menunjukkan jika AS adalah mitra dagang terbesar Tiongkok dengan basis satu negara. Ekspor Tiongkok ke UE juga turun 9% pada Oktober, setelah sempat mencatatkan pertumbuhan pada September, tapi ekspor Tiongkok ke negara-negara anggota Asean  sebagai mitra dagang terbesar berdasarkan wilayah, memperlihatkan lonjakan 20% pada Oktober. Ekspor global Tiongkok yang anjlok lebih dari 20% dialami oleh alat-alat rumah tangga. Sedangkan ekspor mainan turun hampir 18% dan sepatu hampir 11%. Sebaliknya, data memperlihatkan bahwa ekspor mobil Tiongkok melonjak 60% pada Oktober menjadi 352.000 unit. Begitu pula dengan impor minyak mentah Tiongkok yang naik 14% dari tahun lalu. Di sisi lain, impor batu bara meningkat 8% namun impor gas alam turun hampir 19%. (Yoga)


Ditopang Ekspor dan Konsumsi, Ekonomi Bisa Tumbuh 5%-6%

HR1 07 Nov 2022 Kontan

Ekonomi pada kuartal III-2022 diyakini tumbuh lebih tinggi, bahkan bisa menyentuh angka 6% year on year (yoy). Penyebabnya konsumsi rumah tangga dan ekspor yang moncer, serta basis produk domestik bruto (PDB) yang rendah pada periode sama tahun lalu. Danareksa Research Institute (DRI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 sebesar 5,65% yoy, atau melampaui angka pertumbuhan ekonomi kuartal II-2022 yang sebesar 5,44% yoy. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Teuku Riefky memperkirakan, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2022 di kisaran 5,77%-5,86% yoy.

PELEMAHAN EKSPOR : JATENG PACU PASAR NONTRADISIONAL

HR1 04 Nov 2022 Bisnis Indonesia

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bakal mengakselerasi kinerja ekspor di pasar nontradisional menyusul pelemahan permintaan dari negara mitra dagang utama. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah (Jateng) menunjukkan adanya penurunan ekspor ke negara-negara tradisional, seperti Amerika Serikat, Jepang, dan China pada September 2022 yang menurunkan permintaan produk-produk asal provinsi ini. Meskipun jika dilihat dari nilainya, lebih dari separuh nilai ekspor Jateng berasal dari gabungan permintaan tiga negara tradisional tersebut. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jateng Arif Sambodo menilai penurunan permintaan produk Jawa Tengah ke negara-negara utama tujuan ekspor tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Selain faktor krisis global dan inflasi, lanjutnya, penurunan daya beli juga terjadi di negara-negara tersebut. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan National Retail Federation (NRD), daya beli Amerika Serikat memang tengah mengalami penurunan. Untuk mengatasi hal tersebut, lanjutnya, pihaknya tengah berupaya keras untuk bisa meningkatkan permintaan ekspor dari negara-negara nontradisional, seperti Djibouti, Vietnam, dan India, yang pertumbuhannya masih relatif tinggi. “Makanya kemarin kita coba perluas ke sana. Kita sudah undang atase perdagangan dari negara-negara nontradisional ini untuk bisa menarik peminatan agar produk kita bisa dijual ke sana,” jelasnya saat dihubungi Bisnis melalui sambungan telepon, Kamis (2/11).Langkah tersebut cukup rasional, mengingat negara tujuan ekspor Jateng seperti Jerman hingga saat ini belum menunjukkan tren kenaikan permintaan barang dari luar negeri.

Bertahan Saat Permintaan Tertekan

KT3 02 Nov 2022 Tempo

Para pelaku industri persepatuan mulai kewalahan meredam dampak anjloknya permintaan ekspor yang diperkirakan berlangsung hingga paruh pertama tahun depan. Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), Firman Bakri, mengatakan permintaan produk garmen berorientasi ekspor ini turun hingga 50 % sejak Juli 2022. Konflik dagang dan politik di sejumlah negara pengimpor sepatu utama menjadi pemicunya. “Kami bertahan lewat efisiensi jumlah pekerja atau setidaknya lewat pengurangan arus produksi,” tuturnya kepada Tempo, kemarin.

Di tengah masa pemulihan ekonomi, permintaan produk tekstil, kulit, dan alas kaki menjadi salah satu yang paling moncer hingga pertengahan tahun ini. Nilai ekspor produk sepatu sempat melonjak dari US$ 659,4 juta pada Januari 2022 menjadi US$ 722,3 juta pada Mei lalu. Menurut Firman, permintaan ekspor pada Agustus 2022 masih tercatat tumbuh 36 % secara tahunan. Berdasarkan catatan Kemenperin, volume produksi produk alas kaki naik 33,42 % dari 793,8 juta pasang pada 2020 menjadi 1,05 miliar pasang pada 2021. Tanpa kejutan konflik global, volume produksi diprediksi akan naik hingga 1,2 miliar pasang per tahun.

Optimisme itu sontak suram akibat gejolak inflasi dan memanasnya konflik dagang di AS dan Cina, yang merupakan dua negara tujuan utama ekspor sepatu Indonesia. Pada periode Januari-Agustus 2022, nilai ekspor sepatu ke AS, tertinggi dibanding tujuan lain, mencapai US$ 1,892 miliar. Dalam jangka waktu serupa, nilai ekspor ke Cina berada di tempat ketiga senilai US$ 568 juta. “Permintaannya turun drastis. Yang permintaannya masih normal juga hanya bisa menghabiskan stok hingga akhir tahun,” ucap Firman. (Yoga)


Optimisme Pertumbuhan Triwulan Ketiga

KT3 02 Nov 2022 Tempo

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2022 diprediksi tetap positif meski dibayangi tren inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga. Ekonom dari Institute for Demographic and Poverty Studies (Ideas), Askar Muhammad, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi secara tahunan di kisaran 5,2-5,4 %, tak jauh dari capaian triwulan II 2022 di 5,44 %. “Penopangnya masih sektor komoditas yang ekspornya cukup tinggi dan sektor industri logam yang menerima penanaman modal atau investasi tinggi,” ujar Askar kepada Tempo, kemarin. Lonjakan harga komoditas menjadi berkah bagi kinerja ekspor Indonesia, khususnya batu bara dan minyak sawit, yang melejit hingga menembus harga tertinggi dengan kenaikan penjualan rata-rata dua kali lipat. Emiten tambang batu bara Adaro Energy Indonesia Tbk, misalnya, mencatatkan laba bersih US$ 1,90 miliar pada periode Juli-September 2022, tumbuh 352,21 % dibanding periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perusahaan pun melonjak 130 %, dari US$ 2,56 miliar menjadi US$ 5,91 miliar.

Askar melanjutkan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III belum akan banyak dipengaruhi oleh kenaikan inflasi dan suku bunga. Sebab, dampak tren tersebut baru akan muncul dan terefleksi pada akhir triwulan III. “Ini yang patut diwaspadai dan kita akan lebih jauh melihat dampaknya pada pertumbuhan ekonomi triwulan IV,” ujarnya. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, berujar pertumbuhan ekonomi pada triwulan III mungkin akan mengalami perlambatan, tapi tidak signifikan. Sebab, tingkat konsumsi masyarakat secara umum masih meningkat dan bakal menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. “Walau pergerakan ekonomi kita lebih banyak didorong oleh kalangan menengah dan atas, serta 83 % konsumsi domestik digerakkan oleh mereka,” ucapnya. (Yoga)


Devisa Ekspor Belum Bisa Sokong Rupiah

HR1 01 Nov 2022 Kontan

Eksportir ternyata telah memarkir devisa hasil ekspor (DHE) di perbankan dalam negeri. Namun, masuknya devisa ekspor ini belum mampu membuat nilai rupiah menguat. Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, dari total ekspor periode Januari 2022 hingga Juli 2022 yang mencapai US$ 166,70 miliar, sebanyak 93,5% di antaranya atau sekitar US$ 155 miliar telah masuk ke dalam negeri. Namun, ia juga menegaskan, sebagian besar atau sekitar 50% DHE yang masuk tersebut sudah dikonversi ke dalam rupiah. Khusus DHE sumber daya alam (SDA), sudah sekitar 92,6% yang masuk ke dalam negeri, dan sekitar 5,1% masih diparkir para eksportir di bank luar negeri. Meski Indonesia punya pasokan valas dari para eksportir, namun hal itu belum mampu memperkuat otot rupiah. Berdasarkan data BI pula, nilai tukar rupiah telah melemah hingga 8,03% sejak awal tahun hingga 19 Oktober 2022. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat, masih ada beberapa momentum yang membutuhkan valas, dan bahkan mengurangi pasokan valas.