Ekspor
( 1055 )Sektor Usaha Anti-Resesi
Pelaku usaha mencoba mencari peluang di tengah proyeksi resesi perekonomian global tahun depan. Wakil Ketum Kadin Indonesia Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri, Shinta Kamdani, menuturkan terdapat sektor perdagangan yang masih dapat diandalkan di tengah kondisi perekonomian yang tak menentu, yaitu komoditas yang permintaannya inelastic, seperti CPO, batu bara, ataupun emas. “Secara historis, mereka selalu mengalami kenaikan permintaan pada masa krisis global seperti pandemi yang lalu,” ujar dia kepada Tempo, kemarin. Shinta mengatakan, guna mengantisipasi perlambatan ekspor, pelaku usaha juga membutuhkan dukungan kebijakan insentif jangka pendek dari pemerintah untuk mendorong peningkatan diversifikasi perdagangan. Hal itu bisa dilakukan dengan meningkatkan fasilitas perdagangan untuk ekspor, khususnya ke negara-negara pasar ekspor non-tradisional.
Ketua Dewan Pemakai Jasa Angkatan Laut Indonesia, Toto Dirgantoro, menambahkan, selain sektor pertambangan dan industri hilirnya, potensi dimiliki produk mebel dan kerajinan tangan. “Mereka melaju karena bahan produksinya lokal, tapi harganya ekspor,” ucapnya. Selanjutnya produk tekstil dan barang elektronik. Juga mencari peluang pasar baru, ketika AS dan Uni Eropa, terkena dampak resesi. “Pastinya kami berusaha masuk lebih dalam lagi ke pasar non-tradisional, seperti Afrika, Timur Tengah, lalu kawasan Amerika Selatan,” ucapnya. Menurut Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, resesi tak selamanya memukul seluruh sektor perdagangan, ada produk yang justru bersinar atau meningkat permintaannya di tengah pelemahan perekonomian global seperti kopi yang justru eksis dan melaju kencang ketika krisis pandemi Covid-19 melanda. Pada 2021, ekspor kopi tercatat melonjak tajam hingga menjadi US$ 842,5 juta, di tengah puncak kasus varian delta Covid-19. “Ini menjadi bukti bahwa kopi merupakan salah satu komoditas anti-resesi,” ujarna. (Yoga)
Sinyal Perburukan Neraca Dagang
Kinerja perdagangan luar negeri mulai menunjukkan pelemahan menjelang pengujung tahun ini. Kinerja ekspor berpotensi terpukul setelah proyeksi resesi perekonomian global pada 2023 yang akan menerpa sepertiga negara di dunia diumumkan oleh IMF. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, berujar bahwa ancaman resesi yang utamanya terjadi pada negara-negara mitra dagang tradisional Indonesia tak hanya berdampak pada penurunan volume ekspor, tapi juga nilainya. “Hal itu menyebabkan surplus perdagangan ke depan akan terus menyempit,” ujarnya kepada Tempo, kemarin, 17 Oktober 2022. Dalam konferensi pers kemarin, BPS mengumumkan, surplus perdagangan Indonesia tercatat sebesar US$ 4,99 miliar, lebih rendah dari Agustus 2022 yang US$ 5,71 miliar. Adapun nilai ekspor maupun impor juga menurun dari bulan sebelumnya, yaitu masing-masing sebesar US$ 24,8 miliar dan US$ 19,81 miliar.
Surplus tersebut ditopang oleh surplus neraca perdagangan non-migas sebesar US$ 7,09 miliar, dengan komoditas utamanya yaitu bahan bakar mineral, lemak dan minyak hewan, serta besi dan baja. Sedangkan komoditas migas mencatat defisit sebesar US$ 2,1 miliar. “Sektor yang terpukul adalah bisnis-bisnis yang mengandalkan pasar ekspor tradisional,” kata dia. Direktur Indonesia Development and Islamic Studies (Ideas), Yusuf Wibisono, mengatakan, sinyal pelemahan itu sejalan dengan melambatnya proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebelumnya, IMF memprediksi perekonomian Indonesia tumbuh di kisaran 5,1-5,3 % pada 2023, tapi dipangkas menjadi 5 %. “Dengan proyeksi buram yang melemahkan kinerja ekspor, neraca dagang ke depan akan memburuk,” ucapnya. Meski demikian, menurut Yusuf, kondisi iklim perdagangan Indonesia masih relatif kondusif jika dibandingkan dengan negara peer group, seperti Vietnam, Filipina, dan Malaysia, yang pertumbuhan ekonominya dipangkas hingga hampir 1 %. (Yoga)
Perlambatan Ekonomi Tekan Kinerja Ekspor
Kinerja ekspor Indonesia September 2022 turun 10,99 % secara bulanan. Perlambatan ekonomi sejumlah negara tujuan ekspor utama dan penurunan harga komoditas global menjadi penyebab. BPS mencatat, nilai ekspor Indonesia September 2022 mencapai 24,8 miliar USD atau turun 10,99 % secara bulanan. Ekspor nonmigas yang menyumbang 94,66 % total ekspor RI juga turun 10,31 % menjadi 23,48 miliar USD. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (17/10), mengatakan, penurunan nilai ekspor disebabkan penurunan ekspor komoditas unggulan, yakni besi baja dan CPO. Penurunan ekspor Indonesia juga disebabkan penurunan permintaan serta harga komoditas di pasar global. Hanya harga dan volume batubara yang bertahan tinggi.
Harga batubara September 2022 tercatat 321,5 USD per ton, naik dari bulan sebelumnya yang 290 USD per ton. Adapun volume ekspornya naik dari 32,8 juta ton menjadi 33,2 juta ton. ”Ini ditopang kenaikan permintaan dari China dan sejumlah negara di Eropa yang mengalami krisis energy akibat perang Rusia-Ukraina,” kata Setianto. Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, berpendapat, penurunan kinerja ekspor Indonesia tidak hanya dipengaruhi penurunan harga komoditas global. Perlambatan ekonomi di negara-negara tujuan ekspor utama, seperti AS dan China, juga berpengaruh besar. Berdasarkan data BPS, nilai ekspor RI ke Uni Eropa pada Agustus-September 2022 turun 21,47 %, sedang ke India turun 29,23 %, AS turun 18,26 %, Jepang turun 2,53 %, dan China turun 0,09 %. Menurut Irman, situasi itu akan memengaruhi kinerja ekspor Indonesia hingga tahun depan. Namun, neraca dagang RI akhir tahun ini masih akan surplus sehingga dapat berkontribusi menjaga nilai tukar rupiah. (Yoga)
Negara-Negara Maju Dukung Hilirisasi Indonesia
Negara-negara maju akhirnya sepakat mendukung hilirisasi di Indonesia. Kesepakatan hilirisasi akan dimasukkan dalam salah satu agenda G20. “Selama 3,5 bulan, kami debat dengan menteri-menteri investasi dan ekonomi di negara-negara G20. Mereka akhirnya setuju,” kata Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia pada acara BNI Investor Daily Summit 2022 di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Rabu (12/10). Bahlil mengungkapkan, negara-negara maju dulu menerapkan kebijakan proteksionisme. Tapi mereka justru mengecam saat Indonesia gencar menerapkan hilirisasi untuk mengembangkan industri berkelanjutan, dengan mulai menyetop ekspor barang mentah. Bahlil menjelaskan, Inggris melarang ekspor wol mentah pada abad 16 untuk mendorong industri tekstil dalam negerinya, yang menjadikan Inggris sebagai pusat tekstil Eropa dan menjadi modal lahirnya revolusi industri modern. AS, juga menerapkan pajak impor sangat tinggi di abad ke-19 dan awal abad ke-20 untuk mendorong industri domestiknya.
Pada awal abad ke-20, pajak impor AS mencapai empat kali lipat pajak impor Indonesia sekarang walaupun saat itu PDB per kapita negara Paman Sam sama dengan Indonesia saat ini. Dia menambahkan, Tiongkok pun sebelum bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menerapkan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) sampai 90% untuk sektor otomotif. Kebijakan itu juga di terapkan Inggris terhadap beberapa perusahaan otomotif pada 1980-an dengan peraturan TKDN sampai 80%. Menurut Bahlil, hilirisasi sumber daya alam yang dilakukan Indonesia dengan menyetop ekspor barang mentah juga digugat di WTO. “Yang dibutuhkan adalah kolaborasi. Jadi, stop cara-cara lama karena Indonesia mau maju. Dulu sewaktu masih jadi negara berkembang, kalian melarang ekspor bahan baku, sekarang giliran kami melakukan hal yang sama, masa kalian marah? Memangnya kami ini subordinate (bawahan) dari negara kalian? Saya ngomong begitu,” tandas dia. Setelah melalui proses yang panjang, Bahlil menjelaskan, negara-negara maju akhirnya bersepakat mendukung hilirisasi yang dijalankan Indonesia. (Yoga)
Kerajinan Kerang Magelang Diekspor ke AS
Sekitar 9.000 kerajinan kerang buatan warga Magelang, Jateng, menembus pasar AS. Ekspor perdana dilakukan CV Sabila Multi Kreasindo, Kamis (6/10) dengan nilai 33.000 USD atau Rp 503 juta. ”Jika pengiriman pertama mendapat respons bagus, pihak importir dari AS menjanjikan akan rutin memesan,” kata Prajoko, pemilik perusahaan tersebut. (Yoga)
Tak Tentu Cuan Akibat Lesu Permintaan
Penguatan nilai tukar dolar terhadap rupiah tidak serta-merta membuat para pelaku ekspor panen cuan. Musababnya, mereka juga dihadapkan dengan gangguan pasar di tengah krisis global yang terjadi saat ini. "Dari kaca mata sebagai eksportir, kami sangat senang dengan naiknya nilai dolar, karena kami jualan dengan dolar. Namun saat ini terjadi penurunan order besar-besaran, jadi kami juga kurang dapat dolar," ujar Sekjen Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Heru Prasetyo, kepada Tempo, kemarin. Menurut dia, depresiasi rupiah yang terjadi saat ini tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan penurunan pesanan yang terjadi belakangan ini. "Kondisi ini menguntungkan kalau kami kebanjiran order," ujarnya. Menyitir data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di Rp 15.196 pada 5 Oktober 2022 atau melemah 6,4 % dibanding kurs 3 Januari 2022, yang berada di level Rp 14.270 per dolar AS. Sementara itu, HIMKI mencatat penurunan pesanan furnitur semester II 2022 bisa mencapai 30 % Heru mengatakan 60 % ekspor perabot dari Indonesia ditujukan ke AS. Dengan adanya gonjang-ganjing ekonomi di sana, otomatis penjualan mebel dan kerajinan pun ikut terimbas. hanya pasar furnitur kelas atas yang porsinya 15 % ekspor perabot nasional yang permintaannya masih stabil. (Yoga)
”Sabuk-sabuk” Pengaman Ekspor
Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO bakal merevisi proyeksi pertumbuhan perdagangan global 2022, menjadi 3 % dari proyeksi pada April 2022 yang sebesar 4,7 %. Kemudian pada 2023, perdagangan global diperkirakan masih tumbuh lambat di 3,4 %. Dalam wawancara dengan Reuters, 27 September 2022, Dirjen WTO Ngozi Okonjo-Iweala menyatakan, perang Rusia-Ukraina, krisis iklim, guncangan harga pangan dan energi, dan dampak pandemi Covid-19 menciptakan kondisi untuk resesi dunia. Hal itu akan memengaruhi pertumbuhan perdagangan global. Tingginya harga pangan dan energi, serta imbasnya terhadap biaya produksi dan harga produk industri manfaktur telah menggerus daya beli masyarakat global. Institut Penelitian Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI) bahkan menyebutkan, tahun ini, daya beli masyarakat di hampir seluruh negara di dunia telah masuk ke zona merah dalam tempo 8 bulan.
Untuk menekan dampak rembetan multikrisis semakin membesar, restriksi ekspor pangan dan pupuk yang dilakukan sejumlah negara perlu diakhiri. Selain itu, agar neraca perdagangan tidak tergerus semakin dalam, setiap negara perlu menjaga ekspor agar tidak turun semakin dalam. Ekspor merupakan salah satu pundi-pundi devisa negara. Ekspor juga menjadi tulang punggung industri dan masyarakat yang bertumpu pada industri tersebut. Untuk itu, ”sabuk” pengaman ekspor perlu digulirkan di tengah multikrisis agar ekspor tak melorot drastis. Pemerintah Indonesia bersama swasta dan BUMN berupaya membangun ”sabuk-sabuk” pengaman ekspor, di antaranya melalui UMKM Halal Hub, pembukaan hypermarket di luar negeri, dan ekspansi komponen biodiesel. Sabtu (1/10/2022), pemerintah meresmikan UMKM Halal Hub di Pasar Rebo Warehouse, Jaktim. Kegiatan itu dibarengi dengan peluncuran ekspor pangan olahan ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan Jemaah haji dan umrah. (Yoga)
INDUSTRI LOGAM NASIONAL : Maspion Ekspor 10 Kontainer Aluminium
Maspion Group kembali melepas ekspor produk aluminium sebanyak 10 kontainer senilai US$1,2 juta menuju ke 6 negara. Presiden Direktur Maspion Group Alim Markus mengatakan, perseroan sejauh ini terus berupaya menangkap peluang pasar global, sehingga akhirnya mampu menembus banyak negara tujuan. “Kita dengan jeli dan tekun terus mengembangkan produk-produk yang dibutuhkan, dan bagaimana mengembangkan pasar ke seluruh dunia. Saat ini kita sedang berupaya masuk ke Uni Emirat Arab, seperti Dubai agar pasar kita lebih luas lagi,” jelasnya usai pelepasan ekspor produk aluminium, Kamis (29/9).Adapun, dalam pelepasan ekspor produk aluminium ekstrusi, tangga aluminium, dan foil aluminium itu dihadiri langsung oleh Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan. Produk tersebut akan dikirim ke 6 negara tujuan di antaranya Amerika Serikat, Australia, Inggris, Selandia Baru, Belgia, dan Vietnam.
Penurunan Kinerja Ekspor RI Diantisipasi
Krisis biaya hidup global dapat menurunkan kinerja ekspor Indonesia. Hal itu bisa terjadi lantaran daya beli masyarakat global, terutama di negara-negara tujuan utama ekspor RI, turun. Hasil jajak pendapat Ipsos, perusahaan riset pasar dan konsultasi multinasional Perancis untuk Forum Ekonomi Dunia (WEF), menunjukkan, satu dari empat orang mengalami kesulitan keuangan di 11 negara maju. Mereka berencana mengurangi biaya makan, listrik, dan pemanas. Mereka juga mengurangi sosialisasi di kafe/tempat makan serta menunda keputusan pembelian bernilai besar. Head of Industry and Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani, Selasa (27/9) mengatakan, krisis biaya hidup merupakan cerminan penurunan pertumbuhan ekonomi sebuah negara. Krisis itu menurunkan daya beli sehingga permintaan pun turun.
Saat ini, AS telah mengalami resesi karena perekonomiannya tumbuh negatif dua triwulan berturut-turut. Pada triwulan I-2022, ekonomi AS tumbuh minus 1,4 % dan pada triwulan II-2022 minus 0,9 %. Menurut Dendi, penurunan permintaan itu akan dibarengi penurunan harga komoditas global dan kebijakan moneter kontraktif. Hal ini juga dapat memengaruhi penurunan nilai ekspor Indonesia. Adapun kebijakan moneter kontraktif, seperti kenaikan suku bunga acuan, bakal semakin menekan harga komoditas. Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BKP) Kemendag Kasan Muhri berpendapat senada. Krisis biaya hidup merupakan salah satu indikator pelemahan daya beli masyarakat global. Hal ini bakal menurunkan permintaan dan ekspor. Masih ada peluang bagi Indonesia untuk menjaga ekspor agar tidak tergerus lebih dalam di tengah krisis biaya hidup masyarakat global. Indonesia dapat mengekspor komoditas primer yang dibutuhkan masyarakat, bahkan bahan baku utama yang dibutuhkan oleh kalangan industri di negara-negara yang tengah mengalami krisis. (Yoga)
RI Bidik Pasar Baru di Afrika Selatan
Indonesia membidik pasar baru di Afrika Selatan untuk sektor peralatan militer, produk makanan olahan, dan pertanian. Menurut Menperinn Agus Gumiwang Kartasasmita, Minggu (25/9) di Jakarta, RI dan Afsel tengah menjajaki preferential trade agreements (PTA) yang bertujuan membuka pasar baru. Investasi Afrika Selatan di Indonesia selama 2021 sebesar 1,46 juta USD. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Industri Sepeda, Penjualan Mulai Melambat
08 Jun 2021









