Ekspor
( 1052 )Freight Masih Tinggi, Biaya Ekspor-Impor Meroket
Para pelaku usaha ekspor-impor menganggap perang anatara Ukraina dan Rusia menjadi pendorong berlanjutnya kenaikan dan ketidakpastian ongkos angkutan laut atau freight yang memicu naiknya biaya produksi. "Kita jadi kehilangan opportunity untuk melakukan ekspor barang lebih banyak. Tahun lalu, Desember realisasi ekspor kita mencapai diatas US$ 200 miliar. Artinya, sebenarnya peluang ekspor besar, kalau tidak dihadang kenaikan freight ini bisa jadi naik US$ 300 sampai dengan US$ 400 miliar. Surplus perdagangan tinggi dan devisa menjadi kuat." kata Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur Adik Putranto. Adik menyebutkan, sebagai eksportir membebankan biaya transportasi atau angkut kepada buyer. Ada juga mereka yang baisanya pakai cargo, sekarang tidak lagi, memilih loss cargo, misalnya produk furniture hanya di-packing dengan plastik wraph, kemudian langsung dimasukkan kapal. "Risiko terjadi kerusakan memang ada tetapi tidak ada cara lain," terang dia. (Yetede)
Penerimaan Ekspor CPO Bisa Surut Rp 9 Triliun
Pemerintah secara resmi sudah menghapus pungutan ekspor minyak kelapa sawit mentah alias crude palm oil (CPO) beserta produk turunannya. Kebijakan di Peraturan Menteri Keuangan (MPK) Nomor 115/PMK0.5/2022 tersebut berlaku hingga akhir Agustus 2022. Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Wahyu Utomo mengatakan, pertimbangan penghapusan sementara tarif ekspor CPO dimaksudkan agar ekspor bisa mengerek harga tandan buah segar (TBS) di level petani juga naik. Hitungan ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda, Jika berkaca pada larangan ekspor beberapa bulan yang lalu, ada potensi penerimaan negara hilang Rp 6 triliun dalam sebulan. Sehingga potensi kehilangan penerimaan negara dari kebijakan tersebut sampai akhir Agustus 2022 bisa Rp 9 triliun.
KETANGGUHAN EKSPOR DIUJI
Setelah menorehkan kinerja cemerlang pada semester I/2022, ekspor Indonesia menghadapi tantangan besar pada paruh kedua tahun ini lantaran dibayangi resesi ekonomi global. Badan Pusat Statistik, Jumat (15/7), mengumumkan ekspor Indonesia sepanjang semester I/2022 tumbuh 37,1% secara tahunan menjadi US$141,1 miliar. Kinerja ini lebih cepat dari laju ekspor semester I/2021 yang tumbuh 34,8% (YoY) karena kebangkitan permintaan setelah pandemi. Bahan bakar mineral (termasuk batu bara) dan lemak dan minyak hewan/nabati (termasuk minyak sawit) menjadi dua komoditas penyumbang ekspor terbesar. Namun, pengetatan moneter di banyak negara untuk menjinakkan inflasi yang tinggi berisiko menumpulkan konsumsi sehingga menimbulkan perlambatan ekonomi dan mendisrupsi permintaan impor negara lain. Selain itu, harga komoditas energi, logam, dan minyak nabati yang sempat melambung saat ini cenderung turun. Boom komoditas yang dinikmati Indonesia pun dikhawatirkan cepat berakhir sehingga ekspor Indonesia yang banyak bergantung pada batu bara dan CPO akan melambat pada bulan-bulan mendatang. Namun, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) justru menilai kebijakan pemerintah yang terkait dengan pungutan ekspor dan bea keluar (BK) yang masing-masing US$200 dan US$288 per ton, menjadi tantangan terbesar ekspor minyak sawit mentah (CPO) pada semester II/2022. “Kami minta dikurangi menjadi US$100 masing-masing,” ujar Ketua Bidang Luar Negeri Gapki Fadhil Hasan.
PENJUALAN SEMEN : Ekspor Semen Padang Tumbuh 19,27%
PT Semen Padang mencatatkan pertumbuhan ekspor semen sebanyak 227.442 metrik ton sepanjang semester I tahun ini. Jumlah tersebut 19,27% lebih tinggi dibandingkan dengan capaian periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 190.684 metrik ton. Group Head of Sales Semen Indonesia Group (SIG) Juhans Suryantan mengatakan bahwa torehan ekspor Semen Padang pada semester pertama tahun ini masih di bawah target yang ditetapkan perusahaan. Sepanjang tahun ini, Semen Padang ditargetkan mampu melepas 710.000 metrik ton semen ke pasar global.
Indonesia Ekspor Ayam ke Singapura
Sebanyak 50 ton produk ayam karkas beku dan ayam olahan asal Indonesia senilai Rp 2 miliar diekspor ke Singapura. Negara itu dinilai sedang krisis ayam seiring terhentinya pasokan dari Malaysia. Ekspor yang akan dilanjutkan bertahap hingga 1.000 ton sampai akhir 2022 itu diharapkan jadi pembuka jalan. Mentanian Syahrul Yasin Limpo saat melepas ekspor oleh PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk,di Jakarta, Rabu (13/7), mengatakan, bersamaan ekspor ayam ke Singapura, dilepas juga produk olahan unggas ke Jepang dan ayam karkas ke Timor Leste. Volumenya masing-masing 12 ton atau senilai Rp 1 miliar. Keberhasilan ekspor ke Singapura menjadi bukti bahwa produk peternakan Indonesia terjamin baik dari sisi kualitas maupun keamanan pangan.
Presiden Komisaris PT Charoen Pokphand Indonesia Hadi Gunawan mengatakan, produk unggasnya telah tersertifikasi dan diakui secara internasional, seperti sertifikasi halal, Good Manufacturing Practice (GMP), dan Food Safety System Certification (FSSC) 22000. Juga terdapat nomor kontrol veteriner sehingga bisa masuk Jepang, Papua Niugini, Timor Leste, dan Qatar. Ekspor ke Singapura juga, antara lain, berkat kerja sama Kementan dengan Singapore Food Agency (SFA). Pihaknya telah menandatangani kerja sama dengan importir Singapura sebanyak 1.000 ton hingga akhir 2022. (Yoga)
Daftar Perusahaan Sawit Belum Realisasikan Ekspor
Mendag Zulkifli Hasan mengungkapkan nama-nama perusahaan sawit yang belum merealisasikan ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang telah disetujui. "Ini ada yg belum merealisasikan persetujuan ekspornya. Industri nabati. Data ini berdasarkan report daripada pelaku sektor usaha. Ini per hari ini," kata Zulkifli dalam rapat bersama pengusaha-pengusaha minyak goreng, Senin (27/7)
Berdasarkan data dari INA Trade Kementerian Perdagangan, terdapat 26 perusahaan sawit yang belum merealisasikan ekspornya. Menurut Zulkifli, laporan terakhir yang telah diterima Kemendag menunjukkan dari 2.251.125 izin ekspor, baru 59,58 % yang terealisasi. Sedangkan, 40 % lainnya masih belum menggunakan izin ekspornya. Menurut Zulkifli data yang masuk seperti itu, tapi bisa juga produsennya belum lapor. (Yoga)
Jatim Bidik Jepang dan Romania untuk Ekspor Ubi Jalar
Jatim membidik Jepang dan Romania sebagai pasar potensial produk pertanian, terutama ubi jalar. Untuk mendukung hal itu, budidaya ubi jalar dikembangkan di Kabupaten Jember. PT Mitratani Dua Tujuh, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jatim, serta petani dari Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Taruna Bhumi bekerja sama mengembangkan budidaya ubi jalar di Jember. Penanaman perdana ubi jalar dilakukan pada Sabtu (25/6). Ketua P4S Taruna Bhumi Arum Sabil (26/6) mengatakan, penanaman ubi jalar ditujukan untuk mendorong optimalisasi ekspor produk pertanian. Jatim perlu terus membuka peluang ekspor komoditas pertanian guna meningkatkan kesejahteraan petani.
Direktur PT Mitratani Dua Tujuh Arif Suhariadi menyatakan, diperlukan sinergi agar Jatim dapat memanfaatkan potensi pasar ekspor ubi jalar. Dalam kerja sama itu, pihaknya bermitra dengan petani sebagai pembeli pertama hasil panen, sekaligus berusaha memberi petani kepastian harga. ”Penanaman dilaksanakan di lahan seluas 30 hektar dan memakai varietas Benindo (Beniazuma Indonesia) yang digemari bangsa Jepang,” katanya. Kepala DPKP Jatim Hadi Sulistyo mengatakan, pertanian merupakan sektor yang vital bagi perekonomian Jatim. Program kemitraan setidaknya membantu petani dalam menjual hasil panen kepada pihak yang tepat. (Yoga)
Indorama Ekspansi Pabrik ke Turki
PT Indo-Rama Synthetics Tbk (INDR) siap melanjutkan ekspansi perluasan pabrik benang pintal di Indonesia dan Turki. Ekspansi ini ditargetkan bisa rampung pada tahun 2023-2024 mendatang.
Target ini sejalan dengan langkah INDR yang mengekspor produknya ke lebih dari 70 negara di dunia. Perinciannya, penjualan ke Asia, kecuali Indonesia sebanyak 38% dari total penjualan, Eropa 12%, Amerika 11%, Pakistan, Bangladesh dan lainnya sebesar 8%. Adapun penjualan domestik 30% dari total penjualan.
KKP Genjot Ekspor Perikanan ke Tiongkok
Kementerian Kelautan dan Perikanan ((KKP) terus menggenjot ekspor produk perikanan ke Tiongkok guna mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya itu diantaranya dilakukan melalui penguatan kerja sama bilateral serta peningkatan kualitas mutu dan keamanan produk perikanan sehingga memiliki daya saing tinggi di pasar global. Pada 2021, nilai ekspor produk perekonomian RI ke Tiongkok mencapai US$ 800 juta. Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono memaparkan, Indonesia dan Tiongkok telah menandatangani nota kesepahaman baru tentang kerja sama maritim. Trenggono menuturkan, Tiongkok termasuk mitra dagang utama sektor kelautan dan perikanan Indonesia di kawasan Asia. Ekspor produk perikanan Indonesia ke Negeri Tirai Bambu itu dalam kurun waktu lima tahun terakhir menunjukkan tren positif, yakni meningkat dari US$ 477 juta pada 2017 menjadi US$ 890 juta pada 2021. (Yetede)
Berebut Batu Bara Indonesia
Konflik Rusia dan Ukraina yang masih memanas mendisrupsi pasokan batu bara global sehingga mengerek harga komoditas ‘emas hitam’. Larangan ekspor batu bara Rusia oleh Uni Eropa membuat banyak negara di Eropa mencari sumber pasokan batu bara dari negara produsen di luar Benua Biru. Maklum saja, selama ini pasokan batu bara Rusia mengisi kebutuhan 20% pasar global. Penghentian ekspor di tengah musim dingin yang berlangsung sepanjang triwulan ketiga tahun ini membuat Indonesia kebanjiran pesanan. Sejumlah pembeli baru (non-traditional buyer) seperti Jerman, Spanyol, Italia, Polandia, dan Belanda mulai berdatangan ke Indonesia dan bernegosiasi menyoal pasokan batu bara. Ternyata tidak cukup hanya negara-negara di Eropa saja yang mencari pasokan hingga ke Asia, khususnya Indonesia. Negara India dan Pakistan pun tengah mencari pasokan batu bara untuk menjaga kelangsungan kelistrikan dalam negeri. Peristiwa ini tentu saja menjadi peluang besar bagi Indonesia sebagai salah satu negara produsen batu bara untuk mengoptimalkan produksi dan pendapatan.
Berdasarkan data Minerba One Data Indonesia, realisasi produksi batu bara saat ini baru mencapai 271,78 juta ton. Sementara itu, realisasi ekspor menyentuh di angka 95,79 juta ton, dan domestik berada di kisaran 72,65 juta ton. Adapun, pemenuhan pasar domestik (domestic market obligation/DMO) telah mencapai 54,03 juta ton. Kendati belum resmi mengumumkan berapa peningkatan harga batu bara tersebut, perkiraan target produksi batu bara diperkirakan sesuai dengan permintaan. Jerman, misalnya, telah mengajukan permintaan batu bara mencapai 150 juta ton pada tahun ini.
Pilihan Editor
-
Suap Pelayanan Publik Meningkat
16 Jun 2021 -
Konglomerat Kuasai 20% Aset di Bursa Saham
15 Jun 2021 -
Revitalisasi Tambak dan Pakan Jadi Tantangan
15 Jun 2021









