Ekspor
( 1052 )Efek Kompleks Larangan Ekspor
Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade Jumat (22/4) lebih dari 84 sen per pon dan menggapai rekor tertinggi baru dalam 5 tahun terakhir, tak lama setelah Presiden Jokowi mengumumkan larangan ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng mulai 28 April 2022 hingga batas waktu yang akan ditetapkan kemudian. Keputusan tak terduga Indonesia meningkatkan kekhawatiran tentang pasokan minyak nabati global yang terbatas.Langkah Indonesia juga dianggap bakal mendorong inflasi pangan yang sudah melonjak di banyak negara beberapa bulan terakhir. Apalagi larangan terjadi di tengah keterbatasan pasokan minyak bunga matahari, minyak kedelai, dan minyak lobak (rapeseed). Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mencatat, harga pangan dunia melonjak 13 % pada Maret 2022 dan mencapai rekor tertinggi baru di tengah gejolak pasar komoditas biji-bijian pokok dan minyak nabati akibat perang Rusia-Ukraina.
Namun, tak hanya ke pasar global, pelarangan ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan minyak goreng akan tertransmisi ke pasar dalam negeri. Pihak yang akan paling terdampak oleh kebijakan itu di dalam negeri adalah petani kelapa sawit rakyat karena segenap keterbatasannya. Tahun lalu mereka menyumbang 33,8 % dari 49,7 juta ton produksi minyak sawit nasional. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) melaporkan, harga jual tandan buah segar (TBS) turun dari Rp 3.520 per kg menjadi Rp 2.550 per kg sebelum dan setelah kebijakan DMO diterapkan dengan harga patokan harga CPO Rp 9.300 per kg. Ketentuan tentang harga patokan DMO jadi alasan produsen menekan harga TBS di petani. Situasinya bisa semakin menekan petani ketika Indonesia menghentikan ekspor CPO. Sebab, industri pengolah diyakini tidak akan menyerap hasil panen petani ketika saluran ke hilir tersumbat. Apalagi, selama ini pasar ekspor menyerap 60-64 % produksi minyak sawit Indonesia, sementara kebutuhan pangan, biodiesel, dan oleokimia dalam negeri hanya 8 juta-9 juta ton per tahun.
Penghentian ekspor CPO juga menutup celah pemasukan devisa negara. Selain itu, penghentian ekspor CPO bakal menyumbat aliran dana pungutan ekspor. Padahal, selama ini dana itu menopang program biodiesel yang diharapkan pemerintah dapat menekan ketergantungan BBM impor sekaligus mendorong transisi ke energi yang lebih bersih. Dana pungutan ekspor juga diharapkan dapat menyokong peremajaan kelapa sawit petani rakyat kendati selama ini porsinya masih sangat kecil. Di tengah masih tingginya harga CPO di pasar global, penghentian ekspor juga berpotensi membuka celah penyelundupan. Disparitas harga akan selalu mengundang pelaku di seluruh lini untuk mencari celah keuntungan. (Yoga)
Ekspor Bahan Baku Minyak Goreng Dilarang
Pemerintah melarang ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng mulai Kamis, 28 April 2022, hingga batas waktu yang akan ditentukan kemudian. Presiden Jokowi menegaskan akan terus memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kebijakan ini agar ketersediaan minyak goreng di dalam negeri melimpah dengan harga terjangkau. Hal ini disampaikan di Istana Merdeka, Jumat (22/4), seusai memimpin rapat tentang pemenuhan kebutuhan pokok rakyat.
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menuturkan, sebenarnya jika hanya untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan dalam negeri, ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng tidak perlu dihentikan. Menurut Bhima, kebijakan yang seharusnya dilakukan adalah mengembalikan kebijakan DMO untuk CPO sebesar 20 %. Disparitas harga tinggi antara minyak goreng kemasan dan curah di pasar memunculkan celah penyelewengan dari hulu ke hilir. Sejak program minyak goreng bersubsidi digulirkan satu bulan terakhir, ditemukan beberapa indikasi pelanggaran berupa pengemasan ulang minyak goreng curah dan monopoli distribusi untuk membentuk harga jual di atas Rp 14.000 per liter. (Yoga)
Kasus Izin Ekspor CPO Penyidikan Diperluaske Perusahaan Lain
Kejagung akan memperluas penyidikan kasus dugaan korupsi pemberian izin ekspor CPO dan produk turunannya. Proses pemberian izin ekspor minyak sawit kepada 88 perusahaan akan kembali diperiksa, apakah ketika itu telah sesuai aturan. Rabu (20/4), tim penyidik Kejagung memeriksa tiga saksi terkait kasus dugaan korupsi izin ekspor CPO dan produk turunannya. Mereka adalah AAA, Sales Manager PT Incasi Raya; BR selaku Supply Chain Manager PT Synergy Oil Nusantara; serta FA selaku Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan Ditjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag. Mereka diperiksa sebagai saksi atas empat tersangka yang telah ditahan Kejagung, Selasa (19/4). Mereka ialah Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Indrasari Wisnu Wardhana, Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia Master Parulian Tumanggor, Senior Manager Corporate Affair Permata Hijau Group Stanley MA, dan GM Bagian General Affair PT Musim Mas Picare Togare Sitanggang.
Jampidsus Kejagung Febrie Adriansyah, Rabu, menginformasikan akan memeriksa birokrat di Kemendag yang diduga mengetahui penerbitan persetujuan ekspor CPO dan produk turunannya. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan memeriksa Mendag Muhammad Lutfi. Presiden Jokowi meminta pengusutan tuntas atas dugaan korupsi pemberian izin ekspor minyak sawit mentah dan produk turunannya. Semua pihak yang terlibat perlu diungkap karena menyulitkan rakyat. (Yoga)
Ekspor Nonmigas dari Sulut Meningkat Drastis
Ekspor nonmigas dari Sulut tercatat melonjak drastis selama Maret 2022. Dalam konferensi pers, Selasa (19/4), Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut Asim Saputra mengatakan, ekspor nonmigas mencapai 141,38 juta USD atau Rp 2,02 triliun. Capaian ekspor tersebut meningkat 54,75 % dibandingkan dengan nilai ekspor selama Februari 2022, atau meningkat 60,21 % dari Maret 2021. (Yoga)
Kejagung Ungkap Kongkalikong Izin Ekspor CPO
Penetapan pejabat Kemendag serta tiga petinggi perusahaan minyak sawit sebagai tersangka dugaan korupsi izin ekspor minyak sawit mentah dan produk turunannya oleh Kejaksaan Agung menguak permufakatan memuluskan penjualan minyak goreng ke luar negeri dengan mengesampingkan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Hal ini ditengarai menjadi salah satu faktor yang sempat menyebabkan kelangkaan minyak goreng di Tanah Air.
Dua dari empat orang yang ditetapkan sebagai tersangka ialah Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Indrasari Wisnu Wardhana dan Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia Master Parulian Tumanggor. Dua orang lainnya adalah Senior Manager Corporate Affair Permata Hijau Group Stanley MA dan GMr Bagian General Affair PT Musim Mas Picare Togare Sitanggang. Setelah ditetapkan sebagai tersangka, Selasa (19/4), tersangka ditahan Kejagung di tempat terpisah, yakni Rutan Salemba Cabang Kejagung dan Rutan Salemba Cabang Kejari Jaksel.
”Kami telah melakukan penyidikan dan menemukan indikasi kuat adanya perbuatan tindak pidana korupsi terkait pemberian persetujuan ekspor minyak goreng yang telah membuat masyarakat kecil menjadi susah karena harus mengantre dan juga terjadi kelangkaan minyak goreng. Negara juga harus mengucurkan bantuan langsung tunai minyak goreng yang nilainya tak kecil,” kata Jaksa Agung Sanitiar Burhanuddin. Mendag Muhammad Lutfi dalam siaran pers mengatakan, ”Kami mendukung proses hukum yang tengah berjalan saat ini dan siap memberi informasi yang diperlukan dalam proses penegakan hukum.” (Yoga)
Surplus Terdorong Produk Pengolahan
Badan Usaha Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Maret 2022 menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah. Nilai ekspor pada periode tersebut mencapai US$ 26,5 miliar untuk naik 44,36% dibandingkan pada Maret 2021. Ekspor non migas mendominasi dengan nilai ekspor sebesar US$ 25,09 miliar atau naik 28,82% dibanding pada Februari 2022 seerta naik 43,82% dibandingkan pada Maret 2021, sedangkan nilai ekspor minyak dan gas sebesar US$ 1,41 miliar. Adapun nilai total impor mencapai US$ 21,97 miliar hingga neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 4,53 bulan berturut-turut," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers, kemarin. Ia menjelaskan kinerja ekspor nonmigas nasional ditopang oleh ekspor produksi industri pengolahan senilai US$ 19,26 miliar. (Yetede)
Neraca Dagang Maret 2022 : Ekspor NonKomoditas Masih Tertatih
Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus 23 kali berturut-turut hingga Maret 2022. Namun, kondisi ini tidak mengejutkan mengingat kenaikan signifikan terjadi ekspor nonmigas komoditas mineral. Di sisi lain, kenaikan ekspor nonkomoditas naiknya tidak signifikan dan masih menjadi pekerjaan rumah ke depan. Surplus neraca perdagangan pada bulan lalu mencapai US$4,53 miliar, atau memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah karena nilai ekspor tercatat US$26,50 miliar sedangkan nilai impor hanya US$21,97 miliar. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono menyatakan bahwa tingginya pertumbuhan ekspor nonmigas pada Maret 2022 menyebabkan surplus neraca perdagangannya turut terdongkrak.“Beberapa komoditas nonmigas yang mengalami kenaikan harga yang tinggi, diantaranya batu bara sebesar 49,91%, nikel 41,26%, dan minyak kelapa sawit 16,72%,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (18/4). Secara bulanan (month to month/MtM), ekspor nonmigas juga tumbuh 28,82% dibandingkan dengan Februari 2022.
Struktur ekspor non-migas per Maret 2022 menyumbang 94,7% dari total ekspor.“Ekspor nonmigas Maret 2022 mencapai US$25,09 miliar, naik 28,82% dibanding Februari 2022, dan naik 43,82% dibanding ekspor nonmigas Maret 2021,” kata Margo.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi B. Sukamdani menilai pekerjaan rumah Indonesia pada masa mendatang adalah meningkatkan ekspor nonkomoditas agar Indonesia menjadi negara yang mandiri dari sisi pangan.
Perang Rusia-Ukraina Bisa Hambat Ekspor RI
Bank Indonesia (BI) menilai, perang Rusia dan Ukraina berdampak terhadap kenaikan harga sejumlah komoditas, sehingga membawa angin segar ekspor nasional. Akan tetapi perang ini akan menghambat pertumbuhan volume ekspor Indonesia, karena permintaan dagang dari negara mitra bisa berkurang. "Ini wajar sebagai dampak dari melambatnya pertumbuhan ekonomi AS, Eropa, Tiongkok, dan India, yang merupakan mitra dagang Indonesia." ucap Deputi Gubernur BI Dodi Budi Waluyo, pekan lalu. Dia menyatakan ada empat strategi ekspor yang bisa diterapkan. Pertama, mendiverifikasikan pasar ekspor agar tidak bergantung pada negara tradisional. "Kita mungkin tidak bisa kembali pada volume ekspor tinggi, seperti periode-periode sebelumnya, tetapi kita memiliki kekuatan SDA. Itu artinya hilirisasi terus dilakukan dan barangnya dibutuhkan pasar global. Saya punya optimisme di situ," tegas dia. (Yetede)
Ekspor Kopi : 6 UKM Tembus Pasar AS
Sebanyak enam pelaku usaha kecil dan menengah yang bergerak di usaha kopi berhasil menembus pasar Amerika Serikat dengan estimasi order senilai Rp17,2 miliar. Kepala Biro Hukum dan Kerja Sama Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Henra Saragih mengatakan keberhasilan keenam pelaku usaha kopi itu disokong oleh Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM) dalam pameran Specialty Coffee Expo (SCE) 2022 di Boston Convention and Exhibition Center Amerika Serikat pada 8-10 April 2022.
“Pada tahun ini kami memfasilitasi enam pelaku usaha di sektor kopi, cokelat, dan bahan minuman,” katanya dalam keterangan resmi, Sabtu (9/4). Sebanyak enam pelaku usaha kopi tersebut adalah Java Halu Coffee Farm dari Bandung, PT Sanika Indonesia Sukses dan Caldera Coffee dari DKI Jakarta, Cokelatin Indonesia dan Hiro & Cocoatree asal Tangerang dan bahan minuman PT Delifru Utama Indonesia dari Surabaya. Sejumlah negara selain AS yang telah melayangkan order dan sampel order yaitu Kanada, Argentina, dan Ekuador.
Presiden Dorong Ekspor Unggulan
Presiden Joko Widodo melepas ekspor 126 ton pinang biji kering senilai Rp 4 miliar dari Indokara di Desa Pudak, Muaro Jambi, Jambi ke Pakistan, Kamis (7/4). Ia mendorong pengembangan pinang ditingkatkan demi menjadikannya salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia. Di Pakistan, biji pinang (Areca catechu) bakal diolah menjadi permen. Menurut Presiden, lahan pinang di seluruh Indonesia mencapai 152.000 hektar dengan 22.000 hektar di antaranya berada di Jambi. Agar produksi dan ekspor pinang terus meningkat, Presiden meminta pihak terkait menyiapkan varietas unggul. Kementan mencatat, Indonesia mengekspor 215.260 ton pinang senilai Rp 5,2 triliun pada 2021, ekspor pinang Jambi pada 2021 sebanyak 73.716 ton dengan nilai mencapai Rp 2,039 triliun. Selama 2021-2022, Kementan mencatat 60 perusahaan mengekspor pinang melalui Jambi. Selain di Jambi, lahan pinang juga ada di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan NTB.
Mentan Syahrul Yasin Limpo menjelaskan, tanaman pinang yang tumbuh alami di Jambi akan terus ditingkatkan kualitasnya agar lebih tinggi produktivitasnya. Dengan varietas biasa, produktivitas hanya 3-4 ton per hektar. Pemerintah telah menyiapkan varietas unggul yang disebut pinang betara. ”Dengan kualitas varietas unggul betara, (dihasilkan) 5,2-5,6 ton per hektar. Produktivitasnya lebih baik dan buahnya lebih besar,” ujarnya. Dirjen Perkebunan Kementan Ali Jamil menambahkan, selama ini ekspor pinang kerap ditolak negara importir karena terpapar aflatoksin, akibat pengelolaan pascapanen yang belum baik. Buah pinang yang telah dibelah biasanya tidak langsung dijemur oleh petani. Untuk terus memperbaiki kualitas olahan pinang sesuai standar, teknologi pengeringan terus didorong. (Yoga)









