Ekspor
( 1052 )Ekspor Berpotensi Anjlok
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan Kemendag Kasan Muhri mengatakan, konflik Rusia-Ukraina pasti berimbas pada penurunan ekspor Indonesia ke dua negara itu. Padahal, dalam 2 tahun terakhir, neraca perdagangan Indonesia surplus terhadap Rusia, sedangkan dengan Ukraina defisit neraca sudah semakin menyempit. Ekspor Indonesia ke Rusia dan Ukraina didominasi CPO dan produk turunannya. Adapun impor Indonesia dari Rusia didominasi besi baja, sedangkan dari Ukraina didominasi gandum. Berdasarkan data Kemendag, total nilai perdagangan Indonesia-Rusia pada 2020 dan 2021 masing-masing 1,93 miliar USD dan 2,74 miliar USD. (Yoga)
Ekspor Sarang Walet Sumut Tembus Rp 3,7 Triliun
Sarang burung walet menjadi komoditas ekspor unggulan sektor pertanian Sumut. Ekspor sarang burung walet Sumut tahun 2021 mencapai 301,05 ton dengan nilai Rp 3,7 triliun. Kebijakan Pemerintah China mencabut larangan impor dari 4 eksportir pun akan membuat kinerja ekspor sarang walet dari Sumut meningkat tahun 2022. Hal ini menuntut proses produksi yang lestari demi kesinambungan ekspor sarang burung wallet, ujar Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan Bambang (23/2), di Medan, Sumut. Bambang mengatakan, 90 % sarang walet Indonesia diekspor ke China dengan harga 2.200 USD (Rp 30,8 juta) per kg. Usaha sarang waletjuga menyerap pekerja untuk proses pembersihan hingga pengemasan.
Produksi sarang walet di Sumut berasal dari dua sumber, yakni dari goa yang dekat dengan sungai di dalam hutan serta bangunan bertingkat di dekat ekosistem burung wallet berkembang biak. Pemanenan sarang pun berlangsung secara lestari agar burung walet tetap nyamanberkembang biak diwilayah tersebut. Kepala Karantina Pertanian Medan Lenny H Harahap menjelaskan, selain ke China, sarang walet juga dikirim ke negara lain, seperti Australia, Kamboja, Perancis, Hong Kong, Jepang, Malaysia, AS, dan Korsel. CEO PT Ori Ginalnest Indonesia Rusianah menyebutkan, sarang walet semakin diminati selama pandemi Covid-19 karena sangat baik untuk menjaga kesehatan paru. Bahan pangan itu juga sangat baik untuk mendukung perkembangan otak. (Yoga)
Pertumbuhan Melambat Seiring Larangan Ekspor
Pertumbuhan ekspor Indonesia Januari 2022 melambat seiring penurunan ekspor batubara dan CPO. Pola permintaan musiman, kebijakan larangan ekspor batubara, serta mulai berimbasnya larangan terbatas ekspor CPO dan olein menjadi faktor penyebab. Menurut data BPS, Selasa (15/22), total nilai ekpor migas dan nonmigas Indonesia Januari 2022 mencapai 19,16 miliar USD, naik 25,31 % secara tahunan atau turun 14,29 % secara bulanan.
”Penurunan itu mungkin tidak semata-mata akibat larangan ekspor. Ada faktor eksternal, seperti pola musiman peralihan tahun atau gejolak harga,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto dalam telekonferensi pers di Jakarta. Analis makroekonomi PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz menilai, pertumbuhan ekspor awal tahun ini melambat. Ekspor Januari 2022 tumbuh 25,31 % secara tahunan, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekspor Desember 2021 yang 35,2 %. (Yoga)
Tahun ini, Patimban Layani Ekspor Kendaraan Lebih dari 130 Ribu Unit
Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengungkapkan tahun ini dijadwalkan ekspor kendaraan yang akan dilakukan dari Pelabuhan Patimban lebih dari 130 ribu unit. Jumlah tersebut juga diupayakan untuk lebih ditingkatkan. "Kami terus mendorong produsen mobil Jepang untuk menggunakan Patimban sebagai tempat ekspor," kata Menhub dalam pernyataan resminya di Jakarta, Rabu (9/2). Sebagaimana arahan Presiden Joko Widodo, pembangunan Pelabuhan Patimban dilakukan untuk meningkatkan indeks logistik nasional serta dikolaborasikan dengan Pelabuhan Tanjung Priok guna menjadi hub baru yang memiliki daya saing di kawasan Asia Tenggara. Selain melayani kegiatan ekspor impor kendaraan, keberadaan Pelabuhan Patimban diharapkan mampu menggerakkan ekonomi sektor usaha mikro kecil menengah, sektor pertanian, industri kreatif dan sektor lainnya sehingga produk lokal mampu bersaing di pasar global. (Yetede)
Arang Sumut Tembus Pasar Jepang
Arang dari Sumut berhasil menembus pasar Jepang. Permintaan arang berkalori tinggi itu cukup besar, tetapi baru sebagian yang bisa dipenuhi. Munculnya berbagai komoditas pertanian baru membuat Sumut optimis bisa meningkatkan nilai ekspor pertanian 35 % tahun ini. ”Ini adalah peluang besar untuk menopang ekonomi daerah yang dihantam pandemi Covid-19,” kata Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan Andi PM Yusmanto saat melepas ekspor arang di Medan, Jumat (28/1). (Yoga)
Laju Produksi dan Ekspor Udang Melambat
Ketua Forum Udang Indonesia (FUI) Budhi Wibowo mengingatkan, pemerintah menargetkan nilai ekspor udang 4,25 miliar USD atau tumbuh 250 % hingga 2024, volume ekspor diharapkan tumbuh 15 % per tahun dan nilai ekspor naik 20 persen per tahun. Namun, sepanjang 2021, volume ekspor udang tercatat 250.700 ton, hanya tumbuh 4,9 % dibandingkan 2020, dengan nilai ekspor 2,23 miliar USD atau hanya tumbuh 8,5 % secara tahunan. FUI khawatir target pertumbuhan ekspor 250 % pada 2024 tidak tercapai, karena itu produksi udang perlu diperbaiki agar pertumbuhan ekspor pada 2022 bisa kembali seperti tahun 2020, kata Budhi dalam webinar ”Produksi Udang Indonesia: Capaian 2021, Target dan Rencana 2022”, Jumat (28/1).
Direktur Kawasan dan Kesehatan Ikan KKP Tinggal Hermawan mengemukakan, peningkatan produksi udang merupakan program prioritas pembangunan perikanan nasional. Tahun 2022, KKP mengalokasikan 40 % anggaran Dirjen Perikanan Budidaya untuk peningkatan produksi udang, meliputi program percontohan, revitalisasi tambak, peningkatan infrastruktur, serta bantuan masyarakat untuk peningkatan produktivitas. Untuk meningkatkan produksi nasional perlu penyederhanaan perizinan agar tidak multitafsir dan menimbulkan masalah bagi petambak, usaha tambak udang tradisional perlu digarap serius agar lebih produktif dan tambak tradisional perlu ditingkatkan menjadi tradisional plus dengan sentuhan teknologi guna meningkatkan produksi nasional. (Yetede)
Pasar Ekspor Energi Surya
Industri energi surya di Indonesia sebetulnya relatif masih baru. Jumlah kapasitasnya dalam bauran energi nasional relatif masih rendah. Dengan semakin akutnya pemanasan global, seharusnya industri energi baru dan terbarukan (EBT) dikembangkan secara cepat di Indonesia, sehingga memungkinkan dicapainya target-target bauran energi demi mengurangi emisi gas rumah kaca melalui pengembangan renewable energy. Oleh karena itu, berita tentang pengembangan energi surya untuk diekspor ke negara tetangga merupakan kabar yang mengejutkan sekaligus menarik.
Mengapa Singapura begitu antusias dalam pengembangan tenaga matahari bagi pengembangan listriknya? Selain mereka secara bertahap akan beralih ke energi hijau, langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi jika kontrak suplai gas ke negara tersebut tidak diperpanjang oleh Pemerintah Indonesia. Energi listrik di Singapura memang memiliki ketergantungan yang besar pada penggunaan gas yang disuplai dari Indonesia. Dalam hal ini terdapat beberapa kontrak suplai gas dari ladang di Indonesia ke negara tersebut. Kontrak yang terbesar adalah antara Conoco Phillips, yang berasal dari Blok Corridor di Grissik, Sumatera, dan Singapura yang akan berakhir pada 2023.
Pro Kontra Pajak Progresif Ekspor Produk Nikel
Pemerintah akan memungut pajak progresif sebesar 2% untuk ekspor produk nickel pig iron (NPI) dan feronikel di tahun ini. Di saat yang sama, pemerintah akan meniadakan tax holiday bagi pihak yang baru mengajukan investasi smelter NPI dan feronikel di Tanah Air. Deputi Bidang Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Septian Hario Seto menyebutkan, kedua kebijakan ini akan menahan investasi smelter NPI dan feronikel yang baru. "Kami sudah menghitung keekonomiannya dan masih masuk. Hanya saja (investor) akan lebih hati-hati karena berpikir tidak dapat tax holiday dan akan bayar pajak ekspor juga. Namun, investasi secara keseluruhan belum tentu berkurang," ungkap dia kepada KONTAN, pekan lalu.
Mengejar Nilai Tambah Ekspor
Strategi penghiliran industri menjadi bagian penting dari upaya pemerintah untuk memberikan nilai tambah lebih atas komoditas ekspor agar Indonesia mampu memanfaatkan momentum dari membaiknya kinerja penjualan barang ke luar negeri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat nilai ekspor tahun lalu sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah di posisi US$231,54 miliar, tidak sekadar menggembirakan dari sisi angka.
Di sisi sektoral, sepanjang 2021 ekspor sektor manufaktur yang merupakan komponen tertinggi dari total ekspor non-migas tumbuh 35,1%, diikuti sektor pertambangan 92,1%, dan sektor pertanian 2,8%.
Performa ekspor ini tentu harus lebih ditingkatkan lagi agar komoditas ekspor makin memiliki nilai tambah, sehingga pada akhirnya mampu menembus pasar global. Beberapa komoditas ekspor yang masih dapat diolah seperti nikel, bauksit, tembaga, dan timah.
Pengusaha Butuh Solusi Biaya Kontainer
Ketua Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Jatim Hengky Pratoko (19/1) mengatakan, sejak dua tahun terakhir, dunia pelayaran dan logistik menghadapi carut-marut situasi perdagangan internasional. ”Saat ini yang terjadi bukan hanya kelangkaan kontainer, melainkan juga keterbatasan ruang kapal, karena banyak kapal yang ditahan atau tak dioperasikan dengan alasan pandemi Covid-19,” ujar Hengky. Hengky mengatakan, biaya pengapalan 1 kontainer 40 feet dari Asia ke Eropa hanya 11.900 USD, turun dari sebelumnya 23.000 USD. Namun, tarif rata-rata dari Indonesia ke Eropa 25.000 USD atau lebih tinggi dari tarif Asia ke Eropa. ”Tarif dari Indonesia ke Eropa yang tinggi dimanfaatkan perusahaan pelayaran kontainer asing untuk memasukkan kontainer kosong, 8.000 kontainer masuk ke Jakarta dan 400 kontainer ke Surabaya,” kata Hengky. ”Penggeseran kontainer kosong itu hanya kamuflase karena praktiknya tidak ada jaminan ruang kapal sehingga barang tidak bisa dikirim. Untuk jaminan ruang pada kapal harus mengeluarkan biaya lagi,” ujarnya.
Lonjakan biaya pengapalan kontainer global ini juga dikeluhkan para eksportir. Wakil ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Manufaktur Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim Ayu S Rahayu mengatakan, ”Beberapa pelayaran bahkan menerapkan ruang kapal premium atau tarif untuk kelas tertinggi. Itu pun dikenakan biaya tambahan pememesanan ruang. Selain itu, diberlakukan aturan pembatasan volume barang dengan skala tertentu dan ada tarif tambahannya.” Pada saat bersamaan, ada kenaikan tarif bongkar muat kargo dari truk kontainer ke kapal dan sebaliknya, juga biaya pembatalan yang mahal. Ketua GPEI Jatim Isdarmawan Asrikan menambahkan, karena kargo melonjak tinggi, kinerja ekspor diprediksi hanya tumbuh 16,59 %,” harga produk Indonesia menjadi tak kompetitif lagi di pasar global. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Ekspor Perikanan Ditarget Naik 15,31 persen
24 Mar 2021 -
Kirim 20 Ribu Liter Reduktan ke Malaysia
19 Mar 2021 -
RI akan Produksi Pupuk di Nigeria
19 Mar 2021 -
Pemerintah Teken Kontrak Jargas Rp 604,92 Milyar
18 Mar 2021









