Ekspor
( 1055 )Dana Pungutan Ekspor Sawit Terkumpul Rp 69,7 T
Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) menyatakan, dana pungutan dari ekspor sawit mencapai lebih dari Rp 69 triliun sejak Januari hingga pertengahan Desember 2021. Capaian ini menjadi yang terbesar sejak BPDPKS didirikannya BPDP KS tahun 2015. Sebelumnya, pungutan ekspor sawit terbesar adalah sebesar Rp 40,77 triliun pada tahun 2019. "Pungutan ekspor yang kami himpun pada tahun 2021 ini sampai dengan tanggal 17 Desember mencapai Rp 69,7 triliun. Ini merupakan jumlah pungutan terbesar sepanjang didirikannya BPDPKS," kata Eddy Abdurrachman, Direktur Utama BPDPKS, Selasa (28/12).
Eddy menerangkan, dana tersebut digunakan untuk menjalankan program-program. Diantaranya, pemberian dukungan untuk program kewajiban biodiesel, peremajaan sawit rakyat, penyediaan sarana dan prasarana sawit, penelitian dan pengembangan, pengembangan sumber daya manusia, serta program promosi dan kemitraan. Ia mengatakan, volume ekspor sawit hingga 17 Desember telah mencapai 35,88 juta ton dan nilai ekspor sawit sebesar US$ 28,99 miliar. Jika dihitung sejak 2015, nilai ekspor sawit periode Juli 2015-November 2021 berada di rentang US$ 7,7 miliar-US$ 28,99 miliar, dengan rata-rata nilai ekspor US$ 20,67 miliar. "Atau rata-rata 14% dari total ekspor non migas di Indonesia," ucap Eddy.
Pertanian Sumut, Ekspor Rp 2 Triliun pada Akhir Tahun
Sumut genjot ekspor komoditas pertanian jelang akhir 2021, nilai total ekspor akhir tahun ini mencapai Rp 2 triliun, komoditas unggulan, seperti minyak sawit mentah, karet, kopi, dan rempah, masih mendominasi. ”Kami terus mendorong gerakan tiga kali lipat ekspor atau Gratieks di Sumut, sebagaimana digaungkan Kementerian Pertanian,” kata Kepala Balai Karantina Pertanian Medan Lenny Hartati Harahap (27/12). Lenny mengatakan, Sumut akan menyumbang nilai ekspor terbesar, yakni Rp 2 triliun dari total Rp 10 triliun yang akan dilepas dalam program Gebyar Ekspor.
Salah satu komoditas ekspor yang meningkat akhir tahun ini adalah karet remah. Volume ekspor karet Sumut November ini tercatat 36.873 ton, naik 16,8 % dibanding Oktober, 31.568 ton. Kenaikan volume ekspor ini mencerminkan membaiknya ekspor karet, juga realisasi kontrak ekspor yang sempat tertunda, kata Sekretaris Eksekutif Gapkindo Sumut Edy Irwansyah. Secara kumulatif, volume ekspor karet dari Sumut, Januari hingga November 342.032 ton, turun 1,4 %, dibanding tahun lalu, 346.984 ton, yang turun karena penundaan pengapalan akibat kelangkaan peti kemas. Peningkatan volume ekspor karet diperkirakan kembali terjadi Desember ini. (Yoga)
Kinerja Perdagangan, Memacu Ekspor Unggulan Daerah Lewat Kolaborasi
NTB mengekspor komoditas unggulan seperti mutiara ke Jepang dan China, Vanili ke AS, udang vaname ke India, anyaman ketak ke Arab, rempah ke AS dan rumput laut ke China sejumlah USD 718.755 pada Desember 2021 melalui pelabuhan Gili Emas, Lombok Barat. Kadis Perdagangan NTB Fathurrahman mengatakan, ekspor Desember 2021 merupakan kolaborasi semua Kemenperdag, Pemprov NTB dan UMKM. NTB menargetkan peningkatan ekspor non tambang dengan komoditas unggulan seperti vanili yang baru bisa memenuhi 10 % kuota permintaan.
Kemenpan RI berencana melakukan pelepasan komoditas ekspor skala besar dari Sumatra pada akhir 2021. Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Medan Leni Hartati Harahap mengatakan, pelepasan ekspor pertanian Sumut di Pelabuhan Belawan mencapai Rp 2 triliun, sebagai bagian Gebyar Ekspo 2021, yang jadi agenda Kementan, secara nasional pelepasan ekspor dipusatkan di Pelabuhan Sukarno-Hatta, Makasar, sebagai bagian momentum Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Grateks) yang digagas Mentan Syahrul Yasin Limpo. (Yoga)
Ekspor Ban Gagal Capai Target
Ekspor ban pada 2021 kemungkinan besar gagal mencapai target, akibat kelangkaan kontainer dan tingginya ongkos angkut kapal. Hingga akhir tahun, ekspor ban diprediksi hanya US$ 3,2 miliar atau 30% di bawah target US$ 4,67 miliar. "Ini sangat disayangkan karena permintaan ekspor sedang bagus sekali. Tapi kita tidak bisa apa-apa, karena tidak ada kontainer. Belum pernah kami alami yang seperti ini sebelumnya. Ini parah sekali." kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini. Kondisi ini, kata Aziz, sangat berdampak pada aktivitas ekspor industri ban nasional. Pasarnya, penjualan industri ban mobil Indonesia didominasi oleh pasar ekspor. Berdasarkan data APBI, ekspor ban mencapai sekitar sekitar 75% dari total penjualan industri ban Tanah Air, disusul 15% untuk pasar ritel domestik, dan 10% untuk pabrikan otomotif didalam negeri. (Yetede)
Peningkatan Kinerja Dagang, Ekspor Sasar 58 Negara
278 Perusahaan dari 28 provinsi melakukan ekspor serempak senilai USD 2,44 miliar, setara 35,03 triliun ke 58 negara, menandai berlanjutnya kontribusi ekspor bagi pemulihan ekonomi nasional. Mendag Muhammad Lutfi (23/12)dalam pelepasan di Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Krawang International Industrial City (KIIC) menjelaskan ekspor Indonesia sampai November 2021 menembus USD 209,6 miliar, tertinggi dalam sejarah, melampaui rekor 2011, USD 203 miliar. Kemendag terus memotifasi pelaku usaha berani mengeksplorasi pasar di kawasan emerging market dan pasar non tradisional, juga optimasi potensi ekspor ke Afrika, Asia Selatan, Eropa timur dan negara-negara Oceania.
Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Didi Sumedi memerinci, 54 perusahaan yang berpartisipasi adalah UMKM dengan ekspor USD 5,56 juta atau Rp 79,7 miliar. Produk yang dikirim UMKM diantaranya produk perikanan dan kelautan, furniture, kerajinan tangan, produk dekorasi rumah, makanan olahan, rempah serta tekstil dan produk tekstil. 224 perusahaan non-UMKM atau 81 % mengekspor USD 52,43 miliar, setara 54,9 triliun. Dari 58 negara tujuan, 87 % didominasi ekspor ke pasar tradisional , sedang 13 % merupakan negara non tradisional seperti Tonga, Kolombia, Pakistan, Kamboja, Afsel, Maladewa dan negara kawasan Oceania. (Yoga)
Memacu Ekspor Industri
Kabar baik datang dari perdagangan Indonesia. Kemarin, Kementerian Perdagangan resmi melepas ekspor dengan nilai puluhan triliun rupiah ke puluhan negara tujuan. Tak hanya itu, jumlah perusahaan yang terlibat pun sampai ratusan yang berasal dari berbagai daerah. Meski masih berjibaku menghadapi penyebaran virus corona, yang mengakibatkan melemahnya perekonomian nasional dan global, kinerja ekspor Indonesia pada tahun ini patut diapresiasi. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), total nilai ekspor Indonesia pada Januari–November 2021 mencapai US$209,16 miliar atau naik 42,62% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut diklaim menjadi angka tertinggi yang melampaui rekor pada 2011 senilai US$203 miliar.
Tak hanya secara nilai, torehan prestasi lainnya yang dicatatkan atas kinerja ekspor pada tahun ini adalah bidang usaha yang berkontribusi tinggi. Bila sebelumnya ekspor didominasi oleh produk komoditas seperti produk pertanian, minyak sawit, dan karet, kini sudah beralih pada industri pengolahan. Sebagaimana yang dilansir oleh BPS, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan pada Januari–November 2021 naik 35,42% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020, dengan tujuan ekspor produk manufaktur terbesar dikirimkan ke China, yaitu sebesar US$5,41 miliar. Selanjutnya disusul Amerika Serikat senilai US$2,54 miliar dan Jepang US$1,64 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 44,61% terhadap ekspor nasional. Adapun ekspor ke Asean dan Uni Eropa masing-masing sebesar US$4,14 miliar dan US$1,80 miliar.
Volume Ekspor Turun, Surplus Perdagangan Naik
Ekspor perikanan Indonesia Januari - Oktober 2021 tercatat 980.000 ton, turun 5,76 % dibanding tahun lalu 1,04 juta ton, namun nilainya naik 6,6 % jadi 4,56 miliar dollar AS. Surplus neraca dagang perikanan tahunan tumbuh 5,8 % jadi 4,15 miliar dollar AS. Udang jadi komoditas unggulan ekspor perikanan Indonesia, Januari - Oktober 2021 nilainya 1,82 miliar dollar AS, 40 % total ekspor. Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Artati Widiarti berkata, pemerintah dorong ekspor dan perluas pasar dalam negeri. Pasar luar negeri yang dibidik adalah Amerika Serikat, China, dan UEA.
Direktur Pemasaran KKP Machmud berkata, meski nilai ekspor cenderung naik, realisasi investasi di sektor perikanan melambat di tengah pandemi Covid-19. Januari - September 2021, realisasi investasi tercatat Rp 4,11 triliun, turun 9,67 % secara tahunan. Modal, antara lain, berasal dari Singapura, Swiss, India, Jepang, dan China meliputi bidang pengolahan Rp 1,16 triliun, perikanan budidaya Rp 1,29 triliun, perikanan tangkap Rp 730 miliar, perdagangan Rp 700 miliar, dan jasa perikanan Rp 240 miliar. (Yoga)
Perbaikan Kinerja Sektoral, Ekspor TPT Kebal Omicorn
Pembatasan aktivitas di sejumlah negara yang terdampak penyebaran virus corona varian Omicron diestimasikan tidak berimbas negatif terhadap kinerja industri berorientasi ekspor, khususnya sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Direktur Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kementerian Perindustrian Elis Masitoh mengatakan ketangguhan industri TPT telah teruji sejak pandemi gelombang kedua pada pertengahan 2021. Lagipula, lanjutnya, pemerintah memiliki skema Izin Operasional Mobilitas Kegiatan Industri (IOMKI) agar sektor esensial berorientasi ekspor dapat tetap beroperasi dengan pengaturan jumlah karyawan dan protokol kesehatan lainnya.
Dengan demikian, industri TPT telah mengamankan permintaan ekspor sampai dengan tahun depan. Sektor ini juga masih menikmati limpahan pesanan dari Vietnam dan Bangladesh yang tengah mengalami lonjakan kasus Covid-19 dan berujung pada kebijakan karantina wilayah. “Indonesia adalah negara yang bisa menjamin suplai produk-produk global brand,” ujarnya.
Ekspor Indonesia Masih Tersandera Komoditas
Kinerja ekspor Indonesia pada Oktober 2021, diperkirakan masih moncer sejalan dengan kenaikan harga sejumlah komoditas. Hal ini yang mendorong kembali surplus neraca perdagangan pada Oktober. Sejumlah ekonom yang dihubungi KONTAN memperkirakan, ekspor Indonesia pada Oktober 2021 meningkat dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu. Meskipun ada sedikit penurunan dibandingkan dengan bulan September 2021. Pertama, kenaikan ekspor didorong oleh meningkatnya aktivitas manufaktur negara-negara mitra dagang Indonesia, terlebih di negara-negara Asia. Kedua, peningkatan harga komoditas, terutama batubara dan Crude Palm Oil (CPO) yang cukup tinggi Sebagai gambaran, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga batubara acuan (HBA) sebesar US$ 161,63 per metrik ton, naik US$ 11,60 per metrik ton dibanding HBA September 2021.
Perdagangan Daerah, Ekspor Jabar Menjanjikan
Perdagangan luar negeri dijadikan modal penting bagi pemulihan ekonomi Provinsi Jawa Barat karena menunjukkan kinerja menjanjikan hingga kuartal III/2021. Pelaku usaha diharapkan membuka pasar baru di luar negara tujuan utama ekspor. Sekretaris Komisi II DPRD Jawa Barat Yunandar Eka Perwira mengatakan pertumbuhan kinerja ekspor nonmigas Jabar menjadi modal penting bagi pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Menurutnya pertumbuhan tersebut bisa menjadi momentum untuk meningkatkan kinerja perdagangan para pelaku usaha di Jabar. “Ini kita jadikan modal untuk kedepannya agar roda perekonomian berputar lebih baik lagi,” katanya, Kamis (4/11). Dia berharap para pelaku usaha Jabar bisa membuka tujuan ekspor baru. Salah satu negara tujuan ekspor yang menjanjikan adalah Tunisia yang selama ini bukan tujuan utama ekspor mulai memperlihatkan kenaikan kerja sama dagang.
Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan ekspor Jabar semakin membaik karena mitra dagang masih memberikan kepercayaan. Demikian pula dengan naiknya investasi di Jabar meski masih dalam situasi pandemi Covid-19. “Lobi dagang terus dilakukan, membuka pasar luar negeri yang saat ini mulai membaik membuat ekspor nonmigas Jabar yang didominasi produk industri tumbuh tinggi,” ujarnya. Produk yang ekspor yang dilepas antara lain serbuk kelapa, kerajinan rotan, kopi, buah-buahan, hingga tekstil. Pemprov Jabar juga mengikutsertakan produk-produk unggulan dalam kegiatan Trade Expo Indonesia-Digital Edition 2021, dan Dubai Expo 2020. “Selain itu produk ekspor Jabar rutin kami fasilitasi lewat business matching dan business meeting mulai dengan pengusaha Tunisia, Yunani, Senegal, China, Jepang hingga Malaysia,” ujar Kamil. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Moh Arifin Soedjayana mengatakan peningkatan kinerja ekspor nonmigas ditopang oleh upaya Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang terus membuka banyak peluang ekspor di masa pandemi.
Pilihan Editor
-
Bantuan Donatur Diduga Disalahgunakan
18 Feb 2021 -
Cerutu Jatim Kian Diminati Pasar Luar Negeri
17 Feb 2021 -
Ciputra Ekspansi di Puncak Tidar Malang
16 Feb 2021









