;
Tags

Ekspor

( 1055 )

Disdag Dorong Ekspor Udang

Sajili 25 Oct 2021 Banjarmasin Post

Memperhatikan perkembangan ekspor Kalsel pada September 2021, ternyata ekspor komoditi perikanan dalam beberapa bulan terakhir ini, selalu mengalami kenaikan, baik volume maupun nilainya. Pada Agustus naik 124 persen dibandingkan dengan Juli 2021

Ini menunjukkan, komoditi perikanan Kalsel punya pangsa pasar yang positif di luar negeri. Satu di antara komoditas perikanan yang diekspor adalah udang. Jenis udang yang diekspor antara lain udang pink, udang Windo dan udang lainnya.


Perdagangan Internasional, Kinerja Ekspor Kian Menjanjikan

HR1 22 Oct 2021 Bisnis Indonesia

Kinerja ekspor Indonesia berpeluang terus menguat seiring dengan pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19 di sejumlah negara tujuan ekspor. Presiden Joko Widodo mengatakan torehan ekspor Indonesia tengah berada pada masa puncaknya sepanjang tahun ini. Namun, dia mengingatkan agar para pemangku kepentingan tidak lengah dan harus secara konsisten meningkatkan daya saing. Menurutnya, kinerja ekspor dalam negeri berpotensi untuk bergerak positif lantaran pasar ekspor global masih terbuka luas. Alasannya, mitra dagang strategis Indonesia sudah menunjukkan pemulihan ekonomi seiring pelandaian kurva pandemi beberapa waktu terakhir. Dia mencontohkan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal kedua tahun ini mencapai 7,9% secara year-on-year (YoY), Amerika Serikat mencatatkan 12,2%, Jepang tumbuh 7,6%, dan India tumbuh 20,1%.

Perikanan Daerah, Pasar Ekspor Ikan Kerapu Sumbar Perlu Dipacu

KT1 18 Oct 2021 Bisnis Indonesia

Ikan Kerapu dari Provinsi Sumatera Barat menjadi salah satu komoditas unggulan yang perlu dikembalikan agar pasar ekspor makin luas. Ikan jenis tersebut kini diminati oleh pasar Hong Kong. Sedikitnya 20 ton kerapu diekspor ke negara tersebut dalam setahun. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sumbar Desniarti mengatakan setiap tahunnya ikan kerapu di Sumbar di ekspor ke Hong Kong melalui jalur laut. Sejauh ini ekspor baru bisa dilakukan satu kali dalam setahun karena ikan kerapu baru bisa dipanen bilsa telah mencapai ideal yakni 500 gram hingga 1 kilogram. 

"Untuk menunggu berat ikan 500 gram hingga 1 kilogram butuh waktu mampir 1 pula. Makanya ikan kerapu di Sumbar hanya bisa ekspor satu kali dalam satu tahun," katanya saat dihubungi Bisnis dari Padang, Minggu (17/10). Menurutnya, ikan kerapu saat ini dibudayakan di kawasan Kota Padang, Kepulauan  Mentawai dan Kabupaten Pesisir Selatan. "Budi saya ikan kerapu itu paling besar di Kabupaten Pesisir Selatan yakni di Sungai Nyalo, Sungai Nipah, dan Sungai Bungin," ujarnya. Dari sejumlah daerah itu, DKP Sumbar mencatat produksi ikan kerapu di Sumbar per tahun masih berkisar 60 ton per tahun. Dengan permintaa pasar Hong Kong 20 ton. Maka masih ada sisa 40 ton untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Namun, Desiarti berharap agar pasar ekspor ikan kerapu terus diperluas serta diiringi peningkatan produksi  melalui budi daya ikan kelompok. Dalam perkembangan lain, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Aceh Timur menyebutkan hasil produksi budi daya ikan kerapu di daerah itu mencapai 69 ton per tahun. "Dari data terakhir, produksi budi saya ikan kerapu dalam satu tahun di Kabupetan Aceh Timur mencapai 69 ton," kata Kepala Bidang Perikanan Budi Daya Dinas Kelautan dari Perikanan Kabupaten Aceh Timur M Fitriyadi di Aceh Timur di lansir Antara.

Krisis Energi di China dan India Bisa Pacu Ekspor RI

HR1 15 Oct 2021 Kontan

Krisis energi yang terjadi belakangan, membawa berkah bagi Indonesia. Hal tersebut mendorong kinerja ekspor. Sehingga, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan akan kembali mencatat surplus. Danareksa Research Institute (DRI) memperkirakan, neraca perdagangan Indonesia pada September 2021 mencetak surplus US$ 3,68 miliar. Walaupun angka ini lebih kecil dari surplus Agustus sebesar US$ 4,74 miliar. Indonesia juga ketiban berkah dari krisis energi di China dan India. Saat ini, China sedang mengalami kekurangan batubara untuk produksi listrik, sehingga mengganggu kinerja manufaktur. India juga sedang mengalami hal sama. Krisis energi di China dan India tersebut bisa mendorong kedua negara itu mengimpor batubara dari Indonesia lebih banyak lagi.

Kinerja manufaktur negara-negara mitra dagang Indonesia lain juga menggembirakan, salah satunya Thailand. Ini pun memperlebar peluang ekspor yang lebih tinggi. Sementara kinerja impor September, diperkirakan sebesar US$ 15,60 miliar atau turun 6,45% mtm. Hanya, secara tahunan impor masih tercatat naik 34,68% yoy. Peningkatan impor secara tahunan, didorong oleh ekspansinya kinerja manufaktur Indonesia karena ada pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 yang meningkatkan permintaan.


Basis Penentu Ekspor & Impor Komoditas

HR1 15 Oct 2021 Kontan

Jika tidak ada halangan, pemerintah akan memakai neraca komoditas sebagai patokan untuk menentukan persetujuan ekspor atau impor (PE/PI) bagi pengusaha. Itulah salah satu manfaat dari neraca komoditas. Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyatakan, pemerintah akan menetapkan neraca komoditas pada tahun 2022 lewat Peraturan Presiden yang masih tahap harmonisasi. Penerapan penggunaan neraca komoditas tersebut, katanya, akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, ada lima komoditas yang penerbitan persetujuan ekspor dan impor (PE dan PI) harus berdasarkan neraca komoditas. Yakni gula, garam, daging, beras dan produk perikanan. Tahap kedua, pelaksanaan bagi sejumlah komditas akan dilakukan pada tahun 2023.

Jokowi Berencana Setop Ekspor CPO

KT1 14 Oct 2021 Investor Daily

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana menghentikan ekspor minyak sawit mentah (Crude palm oil/CPO) agar komoditas tersebut dapat diolah didalam negeri menjadi produk turunan yang bernilai tambah. Indonesia harus punya keberanian menghentikan ekspor komoditas perkebunan tersebut dan tidak boleh gentar apabila terdapat negara lain atau organisasi tertentu yang melayangkan gugatan atas keputusan tersebut. Jokowi mengatakan, Indonesia harus mengasilkan produk yang memiliki nilai tambah tinggi, yang mengombinasikan pemanfaatan kekayaan alam dan kearifan dan teknologi yang melestarikan.

"Sawit, juga sama. Suatu titik nanti setop yang namanya ekspor CPO. Harus jadi kosmestik, harus jadi mentega, harus jadi biodiesel, dan produk turunan lainnya" kata Jokowi saat memberikan pengarahan pada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII dan Program Pendidikan Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII Tahun 2021 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia di Istana Jakarta, Rabu (13/10). Presiden mengatakan, kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia adalah anugrah, tetapi jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sebuah musibah.

Merujuk data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor CPO Indonesia telah menunjukkan tren penurunan, artinya ekspor sawit dalam bentuk olahan atau hasil hilirisasi jauh lebih dominan ketimbang dalam bentuk mentah (CPO). Ekspor sawit pada 2017 mencapai 33,72 juta ton dengan ekspor CPO hanya 7,08 juta ton (20,99%) dan pada 2018 ekspor sawit 36,33 juta ton berupa CPO hanya 6,55 juta ton. Ketua Umum Gapki Joko Supriyono pernah mengatakan, komposisi ekspor sawit RI sudah didominasi komoditas olahan, seperti olein, fraksi refined, dll, Hal itu mengindikasikan bahwa hilirisasi sawit nasional sudah berjalan. (yetede)

Jokowi Berencana Setop Ekspor CPO

KT1 14 Oct 2021 Investor Daily

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana menghentikan ekspor minyak sawit mentah (Crude palm oil/CPO) agar komoditas tersebut dapat diolah didalam negeri menjadi produk turunan yang bernilai tambah. Indonesia harus punya keberanian menghentikan ekspor komoditas perkebunan tersebut dan tidak boleh gentar apabila terdapat negara lain atau organisasi tertentu yang melayangkan gugatan atas keputusan tersebut. Jokowi mengatakan, Indonesia harus mengasilkan produk yang memiliki nilai tambah tinggi, yang mengombinasikan pemanfaatan kekayaan alam dan kearifan dan teknologi yang melestarikan.

"Sawit, juga sama. Suatu titik nanti setop yang namanya ekspor CPO. Harus jadi kosmestik, harus jadi mentega, harus jadi biodiesel, dan produk turunan lainnya" kata Jokowi saat memberikan pengarahan pada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII dan Program Pendidikan Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII Tahun 2021 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia di Istana Jakarta, Rabu (13/10). Presiden mengatakan, kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia adalah anugrah, tetapi jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sebuah musibah.

Merujuk data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor CPO Indonesia telah menunjukkan tren penurunan, artinya ekspor sawit dalam bentuk olahan atau hasil hilirisasi jauh lebih dominan ketimbang dalam bentuk mentah (CPO). Ekspor sawit pada 2017 mencapai 33,72 juta ton dengan ekspor CPO hanya 7,08 juta ton (20,99%) dan pada 2018 ekspor sawit 36,33 juta ton berupa CPO hanya 6,55 juta ton. Ketua Umum Gapki Joko Supriyono pernah mengatakan, komposisi ekspor sawit RI sudah didominasi komoditas olahan, seperti olein, fraksi refined, dll, Hal itu mengindikasikan bahwa hilirisasi sawit nasional sudah berjalan. (yetede)

Jokowi Berencana Setop Ekspor CPO

KT1 14 Oct 2021 Investor Daily

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana menghentikan ekspor minyak sawit mentah (Crude palm oil/CPO) agar komoditas tersebut dapat diolah didalam negeri menjadi produk turunan yang bernilai tambah. Indonesia harus punya keberanian menghentikan ekspor komoditas perkebunan tersebut dan tidak boleh gentar apabila terdapat negara lain atau organisasi tertentu yang melayangkan gugatan atas keputusan tersebut. Jokowi mengatakan, Indonesia harus mengasilkan produk yang memiliki nilai tambah tinggi, yang mengombinasikan pemanfaatan kekayaan alam dan kearifan dan teknologi yang melestarikan.

"Sawit, juga sama. Suatu titik nanti setop yang namanya ekspor CPO. Harus jadi kosmestik, harus jadi mentega, harus jadi biodiesel, dan produk turunan lainnya" kata Jokowi saat memberikan pengarahan pada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LXII dan Program Pendidikan Pendidikan Singkat Angkatan (PPSA) XXIII Tahun 2021 Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia di Istana Jakarta, Rabu (13/10). Presiden mengatakan, kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki Indonesia adalah anugrah, tetapi jika tidak dikelola dengan baik dapat menjadi sebuah musibah.

Merujuk data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), ekspor CPO Indonesia telah menunjukkan tren penurunan, artinya ekspor sawit dalam bentuk olahan atau hasil hilirisasi jauh lebih dominan ketimbang dalam bentuk mentah (CPO). Ekspor sawit pada 2017 mencapai 33,72 juta ton dengan ekspor CPO hanya 7,08 juta ton (20,99%) dan pada 2018 ekspor sawit 36,33 juta ton berupa CPO hanya 6,55 juta ton. Ketua Umum Gapki Joko Supriyono pernah mengatakan, komposisi ekspor sawit RI sudah didominasi komoditas olahan, seperti olein, fraksi refined, dll, Hal itu mengindikasikan bahwa hilirisasi sawit nasional sudah berjalan. (yetede)

Industri Hilir Kehutanan, Prospek Cerah Ekspor Furnitur

HR1 11 Oct 2021 Bisnis Indonesia

Prospek ekspor furnitur Indonesia, termasuk yang dilakukan oleh industri kecil dan menengah, diyakini kian cerah seiring dengan membaiknya permintaan dari sejumlah negara. Kementerian Perindustrian mencatat pada Januari—Agustus 2021, ekspor produk furnitur dengan kode HS 9401-9403, telah mencapai US$1,61 miliar, tumbuh 36% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Direktur Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian Emil Satria mengatakan pertumbuhan itu menunjukkan ketahanan industri furnitur dan kerajinan selama pandemi masih tinggi. “Proyeksi sampai akhir 2021 diharapkan nilai ekspor produk furnitur dapat mencapai angka US$2 miliar,” kata Emil kepada Bisnis, akhir pekan lalu. Sebagai perbandingan, kinerja ekspor furnitur 2020 senilai US$1,91 miliar atau meningkat 7,6% dari 2019 senilai US$1,77 miliar.


Menperin : Beberapa Negara Serius Jadikan Batik Komoditas Ekspor

Sajili 07 Oct 2021 Sinar Indonesia Baru

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan meskipun batik Indonesia merupakan komoditas paling terkenal di dunia, namun saat ini produk tersebut ditemukan di banyak negara seperti Malaysia, Thailand, India, Srilanka, Iran, dan negara-negara di benua Afrika, bahkan beberapa negara menjadikan batik sebagai komoditas ekspornya.

Penggunaan batik di dunia dewasa ini semakin populer, sehingga menjanjikan potensi ekonomi yang sangat besar. Beberapa negara seperti Tiongkok, Vietnam, dan Malaysia secara serius menjadikan batik sebagai komoditas ekspor.

Kemenperin mencatat, capaian ekspor batik pada 2020 mencapai 532,7 juta dolar AS dan pada triwulan I 2021 mencapai 157,8 juta dolar AS.