;

KETANGGUHAN EKSPOR DIUJI

Ekonomi Hairul Rizal 16 Jul 2022 Bisnis Indonesia (H)
KETANGGUHAN EKSPOR DIUJI

Setelah menorehkan kinerja cemerlang pada semester I/2022, ekspor Indonesia menghadapi tantangan besar pada paruh kedua tahun ini lantaran dibayangi resesi ekonomi global. Badan Pusat Statistik, Jumat (15/7), mengumumkan ekspor Indonesia sepanjang semester I/2022 tumbuh 37,1% secara tahunan menjadi US$141,1 miliar. Kinerja ini lebih cepat dari laju ekspor semester I/2021 yang tumbuh 34,8% (YoY) karena kebangkitan permintaan setelah pandemi. Bahan bakar mineral (termasuk batu bara) dan lemak dan minyak hewan/nabati (termasuk minyak sawit) menjadi dua komoditas penyumbang ekspor terbesar. Namun, pengetatan moneter di banyak negara untuk menjinakkan inflasi yang tinggi berisiko menumpulkan konsumsi sehingga menimbulkan perlambatan ekonomi dan mendisrupsi permintaan impor negara lain. Selain itu, harga komoditas energi, logam, dan minyak nabati yang sempat melambung saat ini cenderung turun. Boom komoditas yang dinikmati Indonesia pun dikhawatirkan cepat berakhir sehingga ekspor Indonesia yang banyak bergantung pada batu bara dan CPO akan melambat pada bulan-bulan mendatang. Namun, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) justru menilai kebijakan pemerintah yang terkait dengan pungutan ekspor dan bea keluar (BK) yang masing-masing US$200 dan US$288 per ton, menjadi tantangan terbesar ekspor minyak sawit mentah (CPO) pada semester II/2022. “Kami minta dikurangi menjadi US$100 masing-masing,” ujar Ketua Bidang Luar Negeri Gapki Fadhil Hasan.


Tags :
#Ekspor
Download Aplikasi Labirin :