Sinyal Suram Neraca Perdagangan
Merosotnya surplus perdagangan Indonesia merupakan peringatan bagi pemerintah untuk bersiap menghadapi krisis yang lebih besar. Kinerja ekspor yang menurun merupakan dampak perlambatan ekonomi global karena harga komoditas mulai melandai dan jumlah permintaan anjlok. Fenomena ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk bersiap menghadapi resesi ekonomi global. Turunnya angka ekspor dan impor akibat resesi di beberapa negara bakal berdampak besar, terutama saat kurs rupiah terus melemah terhadap dolar AS. Sejumlah lembaga, seperti Bank Dunia dan IMF, sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia, termasuk outlook ekonomi Indonesia pada tahun depan, sebagai sinyal kondisi ekonomi yang memburuk. Pemicunya, menurut IMF, adalah tingginya inflasi di sejumlah negara serta kian mahalnya harga energi dan pangan setelah pecahnya konflik Rusia-Ukraina. Data BPS menunjukkan surplus perdagangan September US$ 4,99 miliar, turun 13,2 % dari bulan sebelumnya, lantaran ekspor turun dari US$ 27,86 miliar pada Agustus menjadi US$ 24,8 miliar, sedangkan impor melorot dari US$ 22,15 miliar menjadi US$ 19,81 miliar. Angka ekspor dan impor diprediksi terus merosot seiring memburuknya perekonomian negara-negara yang menjadi mitra dagang kita selama ini.
Menurut BPS, ekspor CPO, yang menjadi komoditas andalan kita, anjlok 29,1 % dalam sebulan, sedangkan ekspor besi dan baja turun 6 %. Hanya ekspor batu bara yang masih bergerak positif, tapi itu pun hanya naik 1,2 %. Ekspor tekstil dan pakaian rajutan, yang mempekerjakan banyak orang, juga merosot menjadi US$ 137,7 juta atau anjlok 30 %. Turunnya surplus perdagangan bakal berdampak pada banyak hal. Salah satunya adalah penurunan devisa, yang memperlemah kemampuan BI menahan lesunya nilai tukar rupiah. Sejak Juni hingga September saja, saat surplus perdagangan ada di tren positif, cadangan devisa terus tergerus. Berdasarkan data BI, cadangan devisa Juni sebesar US$ 136,4 miliar, kemudian turun menjadi US$ 132 miliar pada Juli dan Agustus, lalu menjadi US$ 130 miliar pada September. Kurs rupiah pun terus tergerus dari Rp 14.882 per dolar AS pada akhir Juni menjadi di atas Rp 15.000 per dolar AS pada Oktober. Penurunan kurs menyebabkan harga barang-barang impor makin mahal, yang akhirnya akan mengerek angka inflasi dan menurunkan daya beli masyarakat. Lesunya arus perdagangan, yang ada kemungkinan terjadi hingga tahun depan, juga bakal mempengaruhi kinerja industri, terutama perusahaan padat karya yang berorientasi ekspor, sehingga ada bayang-bayang PHK massal. (Yoga)
Postingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
Mengawasi Langkah Strategis Danantara
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Lonjakan Harga Komoditas Panaskan Pasar
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
Waspadai Dampak Perang pada Anggaran Negara
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023