Risiko Perlambatan Ekspor Dimitigasi
Neraca perdagangan Indonesia hingga akhir tahun 2022 menghadapi sentimen penurunan volume ekspor seiring perlambatan ekonomi global. Perkembangan kebijakan perdagangan internasional mesti termonitor agar ditemukan langkah terbaik untuk memitigasi penurunan kinerja ekspor. Berdasarkan data BPS, neraca perdagangan barang Indonesia masih surplus 5,76 miliar USD di tengah penurunan harga komoditas global. Dengan begitu, neraca perdagangan Indonesia membukukan surplus selama 28 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus tersebut didapat dari nilai ekspor migas serta nonmigas pada Agustus 2022 sebesar 27,91 miliar USD, tumbuh 9,17 % secara bulanan. Nilai impor juga meningkat 3,77 % dari bulan lalu menjadi 22,15 miliar USD, tetapi tetap lebih rendah dari volume ekspor.
Analis Makroekonomi PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Irman Faiz, mengatakan, penurunan harga komoditas akibat perlambatan permintaan global berpotensi memperlambat kinerja ekspor. Jika perlambatan ekonomi global berlanjut, diperkirakan volume ekspor akan menurun di masa mendatang. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemkeu Febrio N Kacaribu optimistis volume ekspor pada bulan-bulan berikutnya masih akan positif, dengan catatan dampak risiko global terhadap penurunan kinerja ekspor terus diwaspadai agar risiko perlambatan ekspor dapat termitigasi secara optimal. ”Pemerintah akan terus memonitor perkembangan kebijakan perdagangan internasional terkait komoditas strategis Indonesia. APBN akan terus digunakan agar dapat menopang kinerja ekspor dalam konteks memperkuat pemulihan ekonomi pasca pandemi,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (18/9). (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023