Lingkungan Hidup
( 5781 )Saham Sektor Energi Masih Berpotensi Tumbuh
Revisi Kebijakan Gas Murah: Menyusun Ulang Sektor Industri
Otoritas Energi Nasional telah mengubah regulasi terkait pengguna dan harga gas bumi tertentu (HGBT) berdasarkan rekomendasi dari Kementerian Perindustrian. Agus Chayono Adi, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menjelaskan bahwa perubahan ini mencakup pencabutan status sembilan perusahaan industri yang tidak lagi memenuhi kriteria sebagai pengguna gas bumi tertentu, serta penambahan empat perusahaan baru yang akan diakui sebagai pengguna.
Pemerintah masih menetapkan tujuh sektor industri yang membutuhkan stimulus harga gas, termasuk industri pupuk, petrokimia, oleokimia, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet. Perubahan regulasi ini diatur dalam Keputusan Menteri ESDM No. 255.K/MG.01/MEM.M/2024, yang merupakan revisi dari keputusan sebelumnya. Agus menegaskan bahwa keputusan ini bertujuan untuk memastikan distribusi gas bumi lebih tepat sasaran, sesuai dengan evaluasi dan kebutuhan yang terus berubah di sektor industri.
Minyak Sawit Berkontribusi pada Kenaikan Neraca Dagang
Mafia BBM di NTT Diminta untuk Diselidiki Mabes Polri
Pemerintah Masih Melakukan Kajian Terkait Kebijakan Pembatasan BBM
Peran Pesawat N219 Nurtanio Menekan Disparitas Harga Pangan.
Saham Komoditas Tunjukkan Tren Kuat di Pasar
Beberapa lembaga meramalkan bahwa harga komoditas seperti batu bara, CPO, nikel, dan emas akan tetap stabil pada level tinggi hingga akhir tahun. JP Morgan merekomendasikan pembelian saham sektor komoditas Indonesia, seperti PT United Tractors (UNTR), PT Merdeka Copper Gold (MDKA), dan PT Aneka Tambang (ANTM) yang berpotensi mendapat keuntungan dari harga komoditas yang stabil. Selain itu, PT Adaro Energy Indonesia (ADRO) juga diperkirakan mengalami pertumbuhan setelah restrukturisasi besar-besaran.
Rizkia Darmawan dari Mirae Asset Sekuritas menyebutkan bahwa fenomena La Nina yang memengaruhi cuaca dapat mengganggu produksi batu bara dan CPO, sehingga meningkatkan harga. Sukarno Alatas dari Kiwoom Sekuritas juga melihat dampak positif bagi emiten batu bara seperti ADRO, ITMG, dan PTBA karena gangguan suplai. Di sektor CPO, kebijakan B40 bisa menjadi dorongan tambahan, dengan saham LSIP dan ADRO sebagai pilihan utama bagi investor.
Nuklir Sebagai Solusi Transisi Energi Pengganti PLTU
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berpotensi menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbasis batu bara di Indonesia, yang sedang berupaya ditekan penggunaannya. Pengembang Teknologi Nuklir Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Suparman, menyampaikan bahwa BRIN telah mengidentifikasi sejumlah lokasi PLTU yang akan dipensiunkan dini dan cocok untuk dibangun PLTN dengan syarat kapasitas reaktor sesuai. Menurut Suparman, meskipun belum ada negara yang mengonversi PLTU menjadi PLTN, penggantian boiler PLTU dengan reaktor nuklir adalah opsi yang mungkin, sehingga turbin dan generator PLTU yang ada tetap bisa digunakan.
Selain itu, Ketua Dewan Pakar Badan Kejuruan Teknik Nuklir Persatuan Insinyur Indonesia, Anhar Riza Antariksawan, menyatakan bahwa lokasi PLTN memerlukan 70 kriteria sesuai standar dari International Atomic Energy Agency (IAEA). Ia menegaskan bahwa Indonesia harus segera beralih ke nuklir mengingat Indonesia adalah satu-satunya negara dalam kelompok G20 dan G7 yang belum memiliki PLTN. Anhar menambahkan bahwa dengan pertimbangan lingkungan dan kedaulatan energi, nuklir menjadi pilihan yang sangat relevan di tengah kondisi global saat ini.
Peningkatan Penetrasi Pasar Vanili NTB Melalui Perkebunan
Tanaman vanili menjadi produk unggulan ekspor dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) yang kini banyak diminati pasar global, terutama Amerika Serikat. Ekspor vanili dari NTB dilakukan oleh UD Rempah Organik Lombok dengan nilai ekspor mencapai Rp6 miliar. Sekretaris Daerah NTB, Lalu Gita Ariadi, menyatakan bahwa pengembangan vanili di NTB tidak lepas dari jasa perintis tanaman ini, Muhir. Gita menekankan pentingnya menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas vanili agar memenuhi standar organik bebas pestisida, sehingga pasar ekspor tetap terbuka dan tidak terhambat.
Gita juga berharap agar hasil produksi meningkat dari 6 ton ke 7-8 ton per tahun demi kesejahteraan masyarakat setempat. Kepala Balai Karantina NTB, Agus Mugianto, mendukung upaya peningkatan ekspor dengan memperkuat berbagai produk unggulan selain vanili, seperti kopi, untuk memacu perputaran ekonomi. Berry A. Harahap, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTB, menjelaskan bahwa pihaknya mendorong promosi perdagangan ekspor melalui program unggulan yang menghubungkan UMKM dengan calon pembeli global.
Lonjakan Harga Minyak Akibat Krisis di Timteng
Eskalasi konflik di Timur Tengah membuat dunia kembali dihadapkan pada prospek lonjakan harga minyak mentah, yang bisa kembali menekan perekonomian global. Tak kunjung adanya tanda-tanda konflik akan meredabahkan kini kian meluas menuju konflik terbuka regional, yang disebut bisa memicu Perang Dunia III—membuat dunia kini mengantisipasi babak baru disrupsi pasar minyak global. Harga minyak patokan Brent menembus level 80 dollar AS per barel awal pekan ini. Itu menyusul gempuran balistik Iran terhadap Israel, 1 Oktober 2024, ini balasan terhadap serangan Israel yang menewaskan tokoh penting Hizbullah dan Iran serta pernyataan Presiden AS Joe Biden, soal kemungkinan Israel menyasar fasilitas minyak Iran, sebagai balasan. Pasar tak melihat adanya peluang solusi diplomatik, dan berspekulasi harga minyak mentah di pasar dunia bisa kembali menembus level 100 dollar AS per barel dalam waktu dekat, jika siklus aksi saling berbalas serangan tak bisa dihentikan.
Dengan status Indonesia sebagai importir neto minyak serta konsumsi BBM bersubsidi di dalam negeri yang terus meningkat dan lifting yang terus menyusut, kita rentan terdampak. Kenaikan harga minyak dunia bisa memaksa pemerintah menaikkan harga atau mempercepat pembatasan BBM bersubsidi. Bagi perekonomian dunia, lonjakan harga minyak yang tajam dan berkepanjangan bisa menyeret kembali ke resesi. Sejauh ini, efek situasi geopolitik di Timteng terhadap harga minyak dunia memang masih terbatas. Kondisi di Timteng yang memanas dan menyeret semakin banyak negara terjadi sejak serangan Hamas ke Israel, 7 Oktober 2023. Namun, selama itu kita tak melihat adanya dampak ke harga minyak yang signifikan. Harga masih di bawah level 1-2 tahun terakhir. Bahkan, tren penurunan justru terjadi pada akhir Agustus. Penyebabnya, suplai produsen OPEC+, di manaRusia ada di dalamnya, tetap aman. Sementara permintaan minyak dunia melemah akibat lesunya perekonomian global. Ketergantungan global terhadap minyak mentah Timteng tidak sebesar sebelumnya, terutama dengan terus meningkatnya produksi minyak di AS, Brasil, dan bagian dunia lain.
Itu, antara lain, yangmenyebabkanapa punsituasi yang terjadi di Timteng sepuluh tahun lebih terakhir nyaris tak berpengaruh terhadap harga minyak mentah dunia. Namun, situasi mungkin berubah denganbabak baru konflikIran-Israel, yang cepat atau lambat bisa berdampak pada suplai dan produksi minyak Timteng yang selama ini menyumbang sepertiga pasokan global. Meski masih di bawah embargo Barat, Iran adalah produsen minyak kesembilan terbesar dunia dan menyumbang 4 persen produksi global tahun lalu. Bukan tak mungkin Iran akan melancarkan serangan ketarget-target lain, termasuk ladang minyak Arab Saudi atau menutup Selat Hormuz yang sangat vital bagi pengirimansepertiga dari 100 juta barel suplai minyak ke pasar global, jika Israel yang didukung AS sampai menyerang Iran. Perkembangan harga minyak juga akan dipengaruhi respons produsen minyak besar, khususnya OPEC+, terhadap situasi yang ada. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









