Lingkungan Hidup
( 5781 )Harga Gula Dunia Naik 10,4 Persen Hanya dalam Seminggu
Cuaca Ekstrem di Kaltim: Menyiapkan Mitigasi Bencana
BMKG mengimbau masyarakat Kalimantan Timur, khususnya di Balikpapan dan wilayah bagian timur, untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi bencana akibat awal musim penghujan yang dimulai sejak 1 Oktober 2024. Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan BMKG Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, menyatakan bahwa wilayah seperti Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Paser bagian timur, Penajam Paser Utara, Samarinda, dan Bontang berisiko mengalami cuaca ekstrem, termasuk hujan lebat, angin kencang, petir, dan potensi angin puting beliung.
Kukuh menambahkan bahwa daerah utara dan tengah Kalimantan Timur, seperti Berau, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara, telah memasuki musim penghujan sejak pertengahan September, meskipun hujan masih berdurasi singkat. Ia menekankan bahwa tanda-tanda cuaca ekstrem, seperti petir, perlu diwaspadai karena sering menjadi pertanda angin puting beliung. BMKG berharap masyarakat tetap waspada terhadap kondisi cuaca agar dapat memitigasi potensi bencana selama musim penghujan ini.
Konflik Timur Tengah: Saham Migas Ikut Terbakar
Eskalasi konflik yang memanas di Timur Tengah telah mendongkrak harga minyak mentah dunia. Dalam sepekan, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) dan Brent kompak menanjak lebih dari 9%. Dikutip dari Bloomberg , harga minyak WTI kontrak November 2024 meningkat 9,09% ke level US$ 74,38 per barel, Jumat (4/10). Pada periode yang sama, harga Brent menguat 9,10% ke posisi US$ 78,05 per barel. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Muhamad Heru Mustofa mengatakan, sebagai produsen terbesar di dunia, tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah bakal memengaruhi harga komoditas minyak global. Jika eskalasi konflik berlanjut, pasokan minyak akan terganggu, sehingga harga akan lanjut menanjak. "Di sisi lain, rencana OPEC+ untuk melanjutkan peningkatan produksi minyak di Desember nanti dapat meredam kekhawatiran pasar terhadap risiko pasokan," jelas Heru kepada KONTAN, Minggu (6/10). Junior Equity Analyst Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty Hafiya turut menyoroti kekhawatiran pasar jika serangan menyasar infrastuktur minyak di Iran atau negara-negara produsen lain Arinda memprediksi, dalam jangka pendek harga minyak mentah dunia bisa menyentuh level US$ 80 - US$ 90 per barel atau lebih,
jika situasi konflik semakin memburuk.
Pasar akan mencermati bagaimana langkah OPEC+ untuk menjaga keseimbangan pasar minyak dunia. "Meskipun penguatan harga dalam jangka pendek bisa terjadi, pasar tetap akan bergantung pada perkembangan konflik serta kebijakan yang diambil oleh OPEC+," katanya.
Head of Equity Research
Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengamati, situasi pasar dan harga saat ini bisa mengangkat kinerja mayoritas emiten minyak dan gas (migas) di sisa tahun 2024, atau minimal tidak menyusut dibandingkan periode tengah tahun. Toh, pelaku pasar pun telah merespons positif dengan kenaikan harga saham emiten migas dalam beberapa hari terakhir.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan mengingatkan, seberapa signifikan dan lama sentimen ini berlangsung akan bergantung pada dinamika geopolitik yang terjadi di sana. Namun, pelaku pasar tetap bisa memanfaatkan situasi ini untuk
trading
pada saham komoditas yang terdampak positif. Bagi saham yang terkait industri migas, Rizkia melirik PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA).
Sedangkan secara teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyodorkan saham ELSA dan MEDC.
Meski Terkoreksi, Harga Emas Masih Berpotensi Bersinar
Harga emas kembali memudar. Dalam sepekan terakhir, harga emas terkoreksi turun.
Berdasarkan data Trading Economics, harga emas spot bertengger di level US$ 2.652 per ons troi per Jumat (4/10). Jika diakumulasi dalam sepekan, harga emas di pasar spot sudah luruh 0,21%.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menilai, melemahnya harga emas dipicu data membaiknya data ekonomi Amerika Serikat (AS). Terbaru, data tenaga kerja AS menunjukkan ada penambahan 254.000 pekerjaan, melampaui ekspektasi 150.000.
Sejalan dengan itu, tingkat pengangguran di AS pada September turun menjadi 4,1%, dari sebelumnya 4,2% di bulan Agustus.
Sutopo mencermati, harga emas masih ditopang sentimen geopolitik di Timur Tengah. Pasar memantau dengan cermat perkembangan di Timur Tengah, karena ketakutan meningkat. Dalam kondisi tersebut, investor bisa meningkatkan kepemilikan di aset safe haven seperti emas.
Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong melanjutkan, investor saat ini mengantisipasi potensi serangan balik Israel terhadap Iran. Ia memperkirakan, harga emas berpotensi melewati US$ 2.700 per ons troi.
Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi sepakat, ke depan, harga emas berpotensi mengkilat. "Pekan ini saya memperkirakan harga emas level tertingginya US$ 2.670 per ons troi," ujarnya.
Harga Cabai Melonjak Turun
”Harga jatuh karena sentra-sentra cabai seperti di Sembalun Mataram, Banyuwangi, Jember, Paiton, Blitar, dan Bojonegoro semuanya sedang panen. Makanya, cabai di tingkat petani harganya rendah. Apalagi saat ini daya beli masyarakatturun sehingga pembelian cabai juga menurun,” katanya. Rendahnya harga cabai merah pernah terjadi lima tahun lalu saat pandemiCovid-19. Saat itu harga cabai merah di bawah Rp 5.000 per kg. Adapun 12 tahun lalu harga cabai merah pernah di angka Rp 2.000 per kg.Wahyu Nur Cahaya (35), petani cabai asal Ngantang, Malang, mengatakan, hampir dua bulan ini harga cabai merah besar terus merosot. ”Saat ini di petani harganya Rp 3.000-Rp 3.500 per kg. Kemarin di pasar dijual Rp 4.000 per kg tidak laku,” katanya. (Yoga)
Mengejar Produksi Pangan dan Menyiapkan Transisi Pemerintahan
Tantangan Menjaga Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan Nasional
Cadangan Pangan RI yang Bersifat Dadakan dan Temporer
Dua Tahun Tragedi Kanjuruhan di Malang, Jawa Timur, Belum Ada Perkembangan
Menyoal Kekayaan Intelektual di Hulu Migas
Indonesia telah lama menjalankan industri hulu minyak dan gas (migas) melalui skema kontrak bagi hasil yang bertujuan tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan negara tetapi juga menguasai teknologi dan pengetahuan dalam bidang migas. Namun, upaya pengembangan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di bidang ini masih minim perhatian. Dr. Ibnu Sutowo, dalam bukunya "Pertamina" (1972), menekankan bahwa kontrak bagi hasil seharusnya fokus pada alih teknologi dan keterampilan, bukan semata untuk penerimaan negara. Meski regulasi terkait migas mengatur tentang pemanfaatan barang dan jasa dalam negeri, HKI belum diperinci dalam peraturan, seperti di PP No. 35/2004.
Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Kekayaan Intelektual (APHKI), OK Saidin, mengkritik lemahnya perlindungan HKI di Indonesia yang berdampak pada ketahanan nasional. Saat ini, teknologi migas terus berkembang, dengan Indonesia mulai menerapkan teknologi seperti carbon capture and storage (CCS) yang sangat padat modal dan teknologi. Penulis mengusulkan agar Permen ESDM No. 13/2024 yang baru, terkait kontrak bagi hasil gross split, turut memperhatikan aspek HKI agar teknologi dan invensi di bidang migas dapat dimanfaatkan secara optimal oleh Indonesia, bukan hanya oleh perusahaan asing.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









