Lingkungan Hidup
( 5781 )Pertamina Genjot Impor Minyak
PT Pertamina (Persero) berencana menggenjot impor di tengah kelesuan harga minyak mentah dunia. Kegiatan produksi di sejumlah kilang dipangkas untuk efisiensi. Harga minyak Brent yang menjadi acuan minyak mentah Indonesia (ICP) kemarin anjlok ke kisaran US$ 25 per barel lebih rendah dari asumsi ICP pemerintah. Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati memutuskan untuk memanfaatkan momentum penurunan harga tersebut dengan menambah kuota impor minyak mentah dan bensin jenis RON 92. Tambahan impor itu akan disimpan sebagai cadangan pasokan untuk tahun depan saat kondisi mulai membaik.
Nicke menyatakan impor minyak akan didatangkan secara bertahap. Pembelian bertahap juga sengaja dilakukan untuk mengatur tempat penyimpanan tambahan minyak. Pertamina akan mengutamakan tempat penyimpanan miliknya sendiri dengan mengatur lifting per tiga bulan sekali. Nicke menyatakan keputusan menggenjot impor juga ditujukan untuk menurunkan harga pokok penjualan produk. Meski begitu, harga jual eceran BBM tidaklah serta-merta bisa menurun. Pasalnya, perusahaan harus menutup biaya operasional yang tak sebanding dengan harga jual produk.
Ketua DPP Konfederasi Serikat Pekerja Nasional (KSPN) Muhammad Ichsan berpendapat bahwa idealnya, penurunan harga minyak dunia ini juga sejalan dengan penurunan harga BBM di dalam negeri agar dapat membantu meringankan beban pekerja. Peneliti ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra Tallatov, menyatakan menilai belum ada urgensi untuk menurunkan harga BBM saat ini. Pasalnya, penyesuaian itu tidak menjamin harga barang lainnya turut turun. Ia mengkhawatirkan terjadi shock inflation ketika harga kembali melonjak. Sedangkan, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai penurunan harga BBM tetap dibutuhkan saat ini. Dengan begitu, Pertamina dapat memberikan bantuan stimulus dengan menurunkan harga BBM untuk kendaraan logistik lantaran adanya aturan pembatasan kegiatan terkait Covid-19.
BUMN Beramai-ramai Gelar Lelang Pengadaan Pangan
Perum Bulog akan menyerap langsung gabah ke petani untuk menjaga pasokan pangan selama masa pandemi Covid-19. Badan usaha milik negara ini juga akan mengimpor sejumlah komoditas pangan nonberas. Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan Bulog sudah memetakan 10 wilayah produsen gabah. Target pengadaan cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 950 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan penyaluran program ketersediaan pasokan dan stabilitas harga sebanyak 1,2 juta ton.
Bulog juga bekerja sama dengan pihak swasta dan pembelian gula dari Sugar Group Companies Lampung sebesar 15 ribu ton. Selain itu, Bulog mengajukan impor gula mentah melalui PT Gendhis Multi Manis secara bertahap. Bulog juga akan mendatangkan daging kerbau sebanyak 5.000-ton selama Maret-Mei 2020. Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero), Eko Taufik Wibowo, mengatakan RNI mendapat izin impor gula mentah pada pertengahan April lalu, guna mewaspadai keterlambatan realisasi impor gula dari India. Lelang akan digelar pada pertengahan hingga akhir bulan ini dan realisasi impor bisa dilakukan pada awal Mei mendatang.
Direktur Utama PT Berdikari, Harry Warganegara, mengatakan telah mendapat penugasan impor daging sebanyak 50 ribu ton pada 2020, meliputi daging kerbau dan daging sapi Brasil. Wakil Ketua Komisi BUMN DPR, Aria Bima, meminta pemerintah tak sekadar menyiapkan pasokan jangka pendek, tetapi juga untuk jangka menengah dan panjang untuk menghitung kebutuhan pangan dalam negeri. Pemerintah diminta mengoptimalkan pasokan dalam negeri sebelum mengimpor.
SKK Migas Tinjau Ulang Rencana Kerja Kontraktor
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengkaji permohonan revisi rencana kerja dan anggaran (RKA) tahun 2020 dari sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) sektor hulu minyak dan gas. Deputi Operasi SKK Migas, Julius Wiratno, mengatakan wabah Covid-19 membuat pelaku usaha hulu migas kesulitan mencapai target produksi. Hingga pekan lalu, kata dia, SKK Migas telah menerima permintaan evaluasi dari 14 KKKS. Julius mengatakan SKK Migas masih mengkaji perubahan RKA yang diajukan KKKS dengan berbagai asumsi dan skenario. Ketua SKK Migas Dwi Soetjipto menyatakan telah mengajukan sejumlah stimulus untuk menjaga nilai keekonomian proyek hulu migas kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, salah satunya berupa penundaan penempatan dana abandonment site restoration (ASR) tahun 2020. Distribusi material tersendat serta produktivitas juga menurun akibat pergerakan tenaga kerja yang terbatas.
Di sisi lain, permintaan terhadap minyak dan gas terus menurun di tengah limpahan pasokan. Direktur PT Pertamina EP, Nanang Abdul Manaf, mengatakan tengah mempertimbangkan untuk mengajukan permohonan revisi rencana kerja dan anggaran kepada SKK Migas. Pertamina EP tengah mengkaji ulang rencana pengeboran sumur. Adapun PT Medco Energi Internasional Tbk memangkas target produksi dari 110 ribu BOEPD menjadi 100-150 ribu BOEPD.
Harga Minyak Mentah Dunia Jatuh Hingga US$ 11 Per Barel
Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (20/4) jatuh hingga US$ 11 per barel atau terendah dalam 22 tahun. Selain karena pasar kelimpahan pasokan, juga karena permintaan merosot di tengah wabah virus corona Covid-19.
Analis Rystad Bjornar Tonhaugen, mengatakan masalah riilnya adalah produksi terus bertambah sedangkan penggunaan di dunia semakin berkurang, sehingga yang merasakan dampaknya dari sisi harga adalah para produsen. Para investor lebih mencemaskan kondisi fasilitas-fasilitas penyimpanan minyak yang tidak mampu lagi menampung.
Sukrit Vijayakar, analis dari Trifecta Consultants mengatakan, kilang-kilang yang ada juga tidak cukup cepat mengolah minyak mentah itu menjadi produk-produk turunan.
Stephen Innes dari AxiCorp menambahkan, stok terus menumpuk karena tidak ada yang menginginkan pengiriman minyak. Sementara fasilitas penyimpanan di Cushing, AS terus terisi setiap menitnya. Pasar saham juga sebagian besar berada di level rendah, meskipun sebagian pemerintah mulai mempertimbangkan bagaimana dan kapan untuk melonggarkan karantina yang telah melumpuhkan ekonomi global.
Perdana Menteri (PM) Prancis Edouard Philippe melaporkan penurunan angka kematian setiap hari dan laju infeksi melambat, tetapi ia berkeras negaranya belum keluar dari krisis Kesehatan.
Bukti-bukti semakin menunjukkan bahwa langkah-langkah karantina dan jarak sosial telah memperlambat penyebaran virus tersebut.
Pendapatan Pertamina Diperkirakan Jeblok Akibat Covid-19
Direktur PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati menyatakan dalam rapat dengan Komisi Energi DPR bahwa pendapatan perseroan pada tahun ini bakal turun tajam dari rencana kerja dan anggaran perusahaan (RKAP) akibat dampak wabah Covid-19. Perseroan membuat dua skenario penurunan pendapatan, yakni berat (38%) dan sangat berat (45%) dibanding RKAP.
Untuk mengantisipasi hal ini, Nicke juga mengatakan perseroan sudah menyiapkan beberapa langkah mitigasi termasuk menggenjot impor minyak untuk menambah pasokan dikarenakan harga saat ini yang sedang rendah.
Adapun Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengatakan sangat berat mencapai lifting migas sesuai dengan target APBN 2020. Rendahnya harga minyak sejak Februari lalu yang dibarengi dengan penyebaran Covid-19 mulai mempengaruhi kegiatan hulu migas, baik di lingkup operasional, pelaksanaan proyek, maupun penyerapan gas.
Permintaan Minyak 2020 Anjlok 9,3 Juta Bph
Badan Energi International atau International Energy Agency (IEA) menyampaikan tahun ini permintaan minyak global akan mengalami penurunan lebih rendah dibandingkan tahun lalu, bahkan mencapai level yang terakhir terlihat pada 1995, menyusul langkah-langkah karantina (lockdown) di banyak negara guna mencegah penyebaran wabah virus corona Covid-19 yang telah membuat perekonomian mandek. Dalam laporan bulanan terbaru IEA yang dirilis pada Rabu (15/4), Menurut IEA, aktivitas di sektor transportasi hampir menunjukkan penurunan dramatis di mana-mana, seraya mencatat bahwa tindakan karantina telah dilaksanakan di 187 negara dan wilayah sebagai respons terhadap wabah Covid-19. “Bahkan dengan asumsi pembatasan perjalanan telah berkurang pada semester kedua tahun ini, kami memperkirakan permintaan minyak global pada tahun 2020 akan turun 9,3 juta barel per hari dibandingkan 2019, menghapus hampir satu dekade pertumbuhan,” ujar badan yang berkantor pusat di Paris, Prancis seperti dilansir dari CNBC
Waspada, Beban Keuangan BUMN Tambang Menjulang
Holding BUMN Pertambangan, Mind Id alias Inalum, mesti
mewaspadai prospek bisnis dan kondisi keuangan anak usahanya di tengah wabah
korona (Covid-19) dan kelesuan ekonomi, Lembaga pemeringkat global, Moody's Investors
Service menurunkan outlook Inalum menjadi negatif dari sebelumnya
stabil, hal ini dikarenakan pelemahan operasional bisnis kinerja beberapa anak
usahanya seperti PT Timbah Tbk (TINS) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang terutama
dipicu kontraksi margin di tengah kelesuan harga komoditas. Meski begitu, hal
ini tidak mengubah peringkat Inalum dan obligasi seniornya, yakni tetap Baa2.
Meski demikian, manajemen Mind Id meyakinkan
bahwa kondisi kas holding tetap kuat di tengah tekanan pasar dan harga
komoditas. Corporate Secretary Mind Id Rendi A. Witoelar mengatakan,
posisi kas holding lebih dari Rp 20 triliun. "Akses ke perbankan
dan bond market juga masih bagus," kata dia, kemarin, yang
meyakini anak usaha Mind Id mampu mengelola utang dengan baik. Senada dengan ini, Sekretaris Perusahaan TINS,
Abdullah Umar juga optimistis mampu mengelola utang "Kami sudah menurunkan
utang bank saat ini menjadi sekitar Rp 6,5 triliun," ungkapnya.
Angin Segar untuk Industri
Kementerian ESDM terbitkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8 Tahun 2020 tentang Harga Gas Khusus Industri sebesar enam dolar AS per million British thermal unit (MMBTU). Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama menjelaskan, perseroan akan melakukan penyesuaian harga jual gas bumi kepada pelanggan industri yang telah ditetapkan oleh Kementerian ESDM. PGN siap untuk mengemban tugas sebagai mitra pemerintah ke depan dalam mengembangkan infrastruktur dan pemanfaatan gas bumi nasional.
Direktur Komersial PGN Dilo Seno Widagdo mengatakan, penerapan lockdown sejumlah negara turut memengaruhi keberlanjutan sektor industri sebagai salah satu pelanggan PGN. Masa puncak penurunan konsumsi gas hampir menyentuh 10% karena Covid-19 bakal terjadi pada Juni-Juli 2020. Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengaku penurunan harga gas akan mendorong penghematan biaya produksi perusahaan sampai 10 persen dan meningkatkan daya saing ekspor. Head of Corporate Communication Pupuk Indonesia Wijaya Laksana mengatakan penurunan harga gas berpengaruh pada biaya produksi perusahaan dalam memproduksi pupuk urea dan mengurangi beban subsidi pemerintah. Wijaya berharap perbaikan kurs juga bisa membantu perusahaan lebih efisien.
Selamatkan Produsen Pangan
Badan Pusat Statistik mencatat penurunan nilai tukar petani terjadi
di semua subsektor, yakni mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan
rakyat, peternakan, dan perikanan. Situasi itu menjadi tanda turunnya
kesejahteraan petani yang merupakan produsen pangan. Kondisi itu tidak menguntungkan di tengah potensi krisis pangan akibat pandemi Covid-19. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Dalam laporan
"Anticipating The Impacts of Covid-19 in Humanitarian and Food Crisis
Contexts", menyebutkan Indonesia bisa mengatasi ancaman krisis pangan
melalui strategi yang memprioritaskan kesejahteraanan petani sebagai produsen
pangan sebaliknya disrupsi pada produksi dan rantai pasok pangan akibat pandemi
Covid-19 bisa menjadi bencana bagi populasi yang tergolong rentan.
Ketua Umum Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia
Guntur Subagja memiliki pendapat yang sama terkait hal ini, dengan menjaga kesejahteraan
petani melalui kepastian penyerapan (hasil panen dengan harga layak) maka petani
dapat memiliki kemampuan memproduksi pangan. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin
dan Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa
berpendapat menambahkan, kelancaran logistik pangan memegang peran kunci. Jika
terganggu, produk petani tak terserap, sementara harga di tingkat konsumen naik.
Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas tentang penanganan Covid-19 melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, meminta jajarannya mendorong produksi pangan dalam negeri dan memberi perhatian pada peringatan FAO soal potensi gangguan pangan di banyak negara akibat pandemic. Sejumlah produsen pangan justru menghadapi ironi. Para peternak ayam rakyat, misalnya, justru memangkas produksi untuk menyesuaikan penurunan permintaan. Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko menyebutkan, peternak ayam pedaging memotong 50 persen produksinya seiring permintaan yang turun. Situasi tak menguntungkan juga dihadapi para petani tebu. Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia Soemitro Samadikoen khawatir harga gula produksi petani akan tertekan seiring makin gencarnya impor gula.
Pemerintah saat ini tengah mengarahkan dana desa untuk bantuan tunai melalui Peraturan Menteri Desa Nomor 6 Tahun 2020 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2020. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar mengatakan, dana desa bisa digunakan untuk bantuan langsung tunai (BLT) ke masyarakat miskin atau kehilangan pekerjaan akibat pandemic . Pihaknya memperkirakan alokasi untuk 74.953 desa mencapai Rp 22,4 triliun.
Harga Gula Tetap Tinggi
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga gula pasir "konsisten" naik selama empat bulan terakhir, kian jauh meninggalkan acuannya yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Nur Khabsyin, menyatakan pemerintah tampak panik dalam mengimpor gula. Kepanikan ini justru berpotensi memukul harga di tingkat petani dan menekan kesejahteraan petani tebu.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pemerintah sudah melakukan operasi pasar melalui pengalihan gula dari industri dalam negeri dan didistribusikan ke sejumlah kota besar.
Menurut Nur Khabsyin, saat ini panen tebu dan proses giling tebu di Sumatera Utara sudah berjalan, dan hasil gula diperkirakan mencapai 50.000 ton. Adapun panen dan proses giling tebu di wilayah Jawa akan dimulai akhir Mei 2020. Nur menyatakan, petani khawatir harga gula anjlok di bawah ongkos produksi dan mengancam kesejahteraan dengan adanya realisasi impor mencapai puncaknya pada Mei-Juni 2020 dan mengancam daya beli petani sebagai konsumen karena harga pangan meningkat.
Pada rapat kerja dengan Komisi IV DPR, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyebutkan, Kementerian Perdagangan telah memberikan izin impor Gula Kristal Putih (GKP) sebanyak 50.000 ton, dan 250.000 ton gula mentah yang diimpor oleh industri gula rafinasi agar diolah menjadi GKP.
Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Bernardi Dharmawan menyebutkan, ada sembilan anggota asosiasi dan satu pabrik gula yang akan mengolah gula mentah tersebut menjadi GKP dan akan disalurkan kepada distributor dan pelaku ritel.
Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat berpendapat, pengadaan GKP dari gula mentah impor berpotensi membanjiri pasar gula dalam negeri. Maka harus didistribusikan langsung ke daerah dengan harga gula yang tinggi, terutama di luar Pulau Jawa.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023








