Lingkungan Hidup
( 5820 )Harga Komoditas Diprediksi Menurun
Tahun ini sepertinya belum menjadi tahun yang membawa kabar gembira bagi harga komoditas ekspor Indonesia. Prediksi Bank Indonesia (BI), rata-rata harga komoditas sepanjang 2020 akan menurun 14,2%. Meski begitu, Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis, komoditas ekspor bisa meroket 2021 sehingga rerata harganya bisa tumbuh di kisaran 12,9%.
Lebih lanjut, orang nomor satu di bank sentral tersebut pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI memprediksi bahwa rata-rata harga minyak di akhir tahun ini bisa di level US$ 35 per barel, meski saat ini harga minyak dunia sempat jatuh.
Senada dengan Perry, Ekonom BCA David Sumual juga memprediksi harga komoditas ekspor masih ada harapan untuk meningkat termasuk harga minyak mentah. Apalagi, setelah nanti pandemi virus Korona Covid-19 sudah ada tanda-tanda akan berakhir karena restocking pasca Covid-19 dan harga minyak akan pulih pasca itu, dengan kondisi seperti itu, ekspor Indonesia berpotensi naik 15% di tahun 2021.
Sebelumnya Staf Khusus Presiden Arif Budimanta mengatakan, ekspor komoditas masih menjadi tulang punggung perekonomian, untuk itu agar menghilangkan ketergantungan ini, pemerintah tengah menyiapkan kebijakan hilirisasi. Arif menyebut ada dua keuntungan dari kebijakan hilirisasi ini, yakni memperoleh nilai tambah dari proses pengolahannya dan juga terbebas dari ancaman fluktuasi harga komoditas secara tiba-tiba.Pelemahan Pasar Sektor Energi - Duo Emas Hitam Makin Gelagapan
Tekanan terhadap dua penopang sektor energi yakni minyak bumi dan batu bara kian berat. Ini tampak dari turunnya harga acuan kedua komoditas yang sama-sama kerap disebut emas hitam itu.
Harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) pada April tercatat anjlok ke angka US$20,66 per barel. Sementara itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga merilis bahwa harga batu bara acuan (HBA) untuk Mei 2020 juga tercatat turun menjadi US$61,11 per ton.
VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman dan Direktur Utama Pertamina EP Nanang Abdul Manaf mengatakan rendahnya harga minyak mentah Indonesia akan berdampak terhadap kinerja bisnis perseroan di sektor hulu. Pihaknya melakukan sejumlah inisiatif dengan efisiensi dan menerapkan efektivitas operasional.
Kendati demikian, dia menyatakan Pertamina dan Pertamina EP masih bisa mencetak profit di tengah kondisi tersebut dengan cara efisiensi besar-besaran.
Wakil Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Fatar Yani Abdurrahman mengatakan pihaknya masih memantau terus mengenai perkembangan harga minyak global dan ICP ini dalam merumuskan rekomendasi kebijakan di hulu migas.
Senada, Pendiri ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, untuk menghitung keekonomian bisnis tidak hanya tecermin berdasarkan dengan harga per bulannya, melainkan rata-rata harga selama setahun.
Dia memproyeksikan, ICP akan merangkak naik apabila terjadi pemulihan dampak Covid-19 secara global.
Sementara itu, untuk batu bara, Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan melambatnya perekonomian global akibat pandemi Covid-19 berdampak pada turunnya permintaan komoditas itu dari konsumen utama batu bara di kawasan Asia a.l. China, Korea Selatan, India dan Jepang.
Direktur & Corporate Secretary PT Bumi Resources Tbk (BRMS) Dileep Srivastava menuturkan memang harga batu bara saat ini tengah tertekan. Namun, efisiensi masih bisa diterapkan untuk produk batu bara dari produsen berbiaya rendah yang efisien. Saat ini harga minyak juga tengah merosot sehingga akan dapat membantu perusahaan.
Sementara itu, Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk. Arviyan Arifin mengatakan perusahaan mengoptimalkan peluang pasar ekspor ke beberapa negara di Asia di tengah fluktuasi HBA.
Penjualan batu bara perusahaan terkena dampak akibat kebijakan protokol penguncian atau lockdown, salah satunya yang dilakukan oleh India yang sempat tak lagi menerima kapal masuk termasuk tongkang batu bara.
PTBA Catat Kinerja Positif
PT Bukit Asam (Persero) Tbk mencatatkan penjualan batu bara emiten berkode saham PTBA di lantai bursa itu tumbuh 2,1 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2019.
Pencapaian PTBA tak lepas dari strategi manajemen dalam melakukan efisiensi yang berkelanjutan di semua lini dan mengoptimalkan peluang pasar ekspor ke beberapa negara di tengah fluktuasi harga batu bara acuan (HBA). Strategi optimasi penjualan ekspor batu bara medium to high calorie ke pasar premium juga menyokong pencapaian ini. Pendapatan usaha tercapai sebesar Rp 5,1 triliun.
Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin mengatakan, pandemi korona tentu berdampak secara langsung, namun kata Arviyan, hal ini belum terlalu berdampak signifikan bagi kinerja perusahaan pada tiga bulan pertama 2020. Arviyan menyampaikan, penjualan batu bara pada triwulan I 2020 mencapai 6,7 juta ton dibanding triwulan I 2019. Hal ini ditopang dengan meningkatnya sarana angkutan yang mengalami kenaikan hingga 12 persen.
Menurut Arviyan, dari sisi produksi kendala terjadi dengan curah hujan sangat tinggi pada awal tahun yang mengganggu produksi. Arviyan menyebutkan, harga jual batu bara pada triwulan I 2020 juga relatif baik dengan harga jual rata-rata hanya mengalami penurunan empat persen.
PTBA juga berencana melakukan pembelian kembali atau buyback saham pada periode 17 Maret hingga 16 Juni 2020 ini. Perusahaan tersebut sudah menyiapkan modal untuk ini. PTBA menunjuk PT Danareksa Sekuritas untuk melakukan pembelian kembali saham perusahaan.
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengusulkan agar perusahaan tambang pemegang izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi dan IUP khusus operasi produksi wajib melaksanakan eksplorasi lanjutan setiap tahun yang dibarengi dengan penyiapan dana ketahanan cadangan.
Direktur Jenderal Mineral Minerba Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menyampaikan, ketentuan ini akan dituangkan dalam Revisi Undang-Undang Mineral dan Batu Bara (Minerba) yang tengah digodok bersama DPR RI. Pemerintah akan mengatur supaya perusahaan tambang menyisipkan investasi di dalam eksplorasi melalui dana ketahanan cadangan minerba
Tiga bulan pertama 2020 PTBA masih bisa mencapai kinerja yang baik dari sisi operasional maupun keuangan.
Cashback BBM Pertamina tanpa Kuota
PT Pertamina (Persero) menghapuskan kuota penerima diskon cashback bagi konsumen pembeli bahan bakar minyak (BBM) seri Pertamax dan Dex. VP Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan, kuota tersebut ditiadakan untuk merespons animo masyarakat yang tinggi. Fajriyah mengatakan animo terhadap cashback ini besar, sebab itu per hari ini (kemarin) kami buka target konsumen yang bisa dapat cashback kepada seluruh pengguna aplikasi My Pertamina. Fajriyah memastikan, saat ini, sudah lebih dari 3.666 SPBU Pertamina di seluruh Indonesia yang sudah dapat melakukan transaksi dengan My Pertamina. Kebijakan ini juga menjadi jawaban Pertamina yang belum bisa menurunkan harga BBM di tengah anjloknya harga minyak dunia.
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengaku, tak mudah bagi perusahaan untuk menurunkan harga BBM. Hal ini disebabkan sektor hilir Pertamina hanya berkontribusi sebesar 20 persen dari total pendapatan perusahaan. Nicke juga mengeklaim, harga jual BBM favorit masyarakat relatif murah dibandingkan harga regional. Mayoritas konsumsi BBM masyarakat, yakni solar, Premium, dan Pertalite. Untuk meningkatkan pelayanan dan menjamin ketersediaan BBM, Pertamina tetap melanjutkan upaya digitalisasi SPBU. Dengan adanya alat ini, pihak SPBU maupun Pertamina dapat memantau stok BBM di tangki tersebut secara otomatis. Sehingga, ke depannya, jaminan ketersediaan stok di SPBU menjadi lebih baik. Selain untuk memantau ketersediaan stok, dengan adanya ATG di tangki pendam SPBU ini, titik serah produk yang sebelumnya di terminal BBM Pertamina bisa digeser ke tangki pendam SPBU. Ini merupakan upaya Pertamina untuk terus menjalankan proses bisnis dengan lebih akuntabel dan transparan, terutama kepada mitra bisnis.
Waswas Ketika Harga Minyak Jatuh Tajam
Penurunan harga minyak dunia jadi pedang bermata dua bagi perusahaan kontraktor pertambangan batubara. Di satu sisi, penurunan harga minyak dunia bisa mengurangi beban perusahaan. Di sisi lain, kondisi ini menghilangkan daya tarik batubara sebagai bahan bakar industri.
Kepala Hubungan Investor PT Samindo Resources Tbk (MYOH) Ahmad Zaki Natsir mengatakan, turunnya harga minyak dunia berdampak pada turunnya harga solar untuk industri. Solar untuk keperluan industri tidak mendapat subsidi, sehingga akan mengikuti pergerakan harga global. Ia juga mengatakan, realisasi produksi batubara dan lapisan OB turun disebabkan oleh kondisi curah hujan di awal tahun selalu tinggi. sehingga seringkali operasi terhenti.
Sementara bagi PT Darma Henwa Tbk (DEWA),
penurunan harga minyak tak begitu berpengaruh. Corporate
Secretary Mukson Arif Rosyidi mengatakan, sebagian besar konsumsi bahan
bakar dalam proses operasional pertambangan DEWA disediakan oleh pelanggan. Hal
ini sesuai dengan kontrak yang dimiliki DEWA. Begitu juga DOID yang beban biayanya sudah
dicakup dalam kontrak dengan produsen batubara. Disampaikan oleh Head of
Investor Relations Delta Dunia Makmur Regina Korompis, saat ini manajemen perusahaan
lebih mementingkan mencari kontrak baru terutama setelah kontrak dengan PT Kideco
Jaya Agung sudah selesai.
Penyebab Kenaikan Harga Gula
Seiring pandemic Covid-19, sejumlah komoditas pangan, antara lain bawang putih, bawang bombai, dan gula pasir tidak mudah ditemukan dan harganya naik jauh. Merujuk data kalkulasi Nusantara Sugar Community (NSC), stok gula 2020 1.084.480 ton jauh lebih rendah dari rerata 2017-2019: 1,690 juta ton. Meski begitu jumlah ini sebetulnya mencukupi kebutuhan konsumsi langsung gula empat bulan hingga April 2020 memperhitungkan meningkatnya kebutuhan bulan Ramadhan dan musim giling tebu pada bulan Mei.
Terkait surat Mendag kepada Presiden tentang langkah stabilisasi harga terkait Covid-19, 17 Maret 2020 mengenai persetujuan impor 268.172 ton yang diperkirakan baru siap dipasarkan awal April 2020. Masalahnya, dalam surat itu disebutkan, stok akhir gula 2019 terdapat kesalahan perhitungan sehingga yang semula diperkirakan cukup untuk 2,5 bulan ternyata hanya cukup 1,5 bulan. Anggota Pokja Dewan Ketahanan Pangan Kedepan, Khudori berpendapat ada dua kemungkinan. Pertama, data Mendag yang dilaporkan kepada Presiden salah. Kedua, pasar gula konsumsi tak langka karena sebagian diisi gula rafinasi. Enggartiasto Lukita, Mendag (2016-2019), menyebut,potensi kebocoran yang sangat besar mencapai 0,5 juta ton. Diperkirakan, 2006-2011 rata-rata tahunan gula rafinasi yang merembes 185.104-678.818 ton atau 8,03-29,44 persen dari pasokan gula rafinasi.
Uraian di atas mengindikasikan pemerintah kurang antisipasi. Termasuk antisipasi proses impor yang bakal lebih rumit dan lama karena Covid-19, terutama clearance di pelabuhan. Keyakinan stok gula yang menipis itulah yang melatarbelakangi Satgas Pangan, lewat surat 16 Maret 2020, meminta asosiasi pedagang pasar, pengusaha ritel, dan koperasi membatasi pembelian gula keperluan pribadi maksimal 2 kg. Beleid ini diyakini bisa meredam belanja panic kebutuhan pokok. Namun, bukan mustahil publik justru merespons berbeda: meyakini stok menipis, dan berburu gula. Jika ini yang terjadi, eskalasi kenaikan harga gula akan sulit dibendung. Agar ini tak terjadi, Mendag dalam surat ke Presiden menulis, rapat koordinasi terbatas 6 Maret 2020 memutuskan tambahan impor gula 781.828 ton, mengguyur pasar dengan 33.000 ton gula temuan Kemendag dan Satgas Pangan di Lampung plus 20.000 gula Bulog dengan harga Rp 12.500/ kg, dan mengusulkan 250.000 ton gula mentah di tangan produsen gula rafinasi diolah jadi gula konsumsi.
Khudori melanjutkan, agar sengkarut seperti ini tak berulang, setidaknya perlu tiga langkah simultan. Pertama, harus tersedia satu data gula buat acuan kebijakan. Baik data produksi maupun konsumsi, baik gula konsumsi maupun rafinasi. Kedua, rasionalisasi harga acuan gula Menurut kalkulasi petani, seperti dituturkan Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Soemitro Samadikun, ongkos produksi gula petani saat ini Rp 11.500/kg. Karena itu, harga acuan gula saat ini seharusnya ditinjau ulang.Bukan saja tidak rasional, harga acuan ini juga memaksa petani menyubsidi konsumen. Ketiga, mengintensifkan pengawasan dan menjatuhkan sanksi yang berefek jera.Permintaan Batubara belum membara
Pebisnis batubara memproyeksikan adanya penurunan permintaan yang cukup tajam dari negara utama tujuan ekspor batubara Indonesia. Kondisi ini merupakan imbas pandemi korona (Covid-19). Hal ini sebagaimana diutarakan Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia yang menyebutkan ekspor sedikit menurun karena melemahnya permintaan dan pasokan batubara di China masih berlimpah. Ketua Indonesian Mining and Energy Forum (IMEF), Singgih Widagdo menilai, permintaan batubara dari China ditaksir tidak naik signifikan dalam waktu dekat setidaknya baru terlihat setelah Juni.
Kondisi ini diamini Direktur & Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava PT Bumi Resources Tbk (BUMI), menurutnya pihaknya masih mencatatkan kinerja operasional memuaskan pada periode kuartal I-2020 namun masih wait and see untuk kuartal II-2020. Senada dengan pendapat ini, Direktur PT ABM Investama Tbk (ABMM) Adrian Erlangga juga menyebutkan hal senada seraya menambahkan China dan India memegang porsi dominan sekitar 80% ekspor batubara ABMM, untuk menyiasati berkurangnya penjualan ekspor kedua negara tersebut ABMM kini mengalihkannya ke negara lain terutama Thailand dan Vietnam.
Bukit Asam Tetap Atraktif di Tengah Pandemi
Analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri dalam risetnya, baru-baru ini menilai, meski terdampak pandemi Covid-19, Bukit Asam tetap memiliki kekuatan dan keunggulan yang bisa menjadi sentimen positif terhadap pergerakan harga saham PTBA ke depan. Semisal, berlanjutnya investasi pembangkit listrik dan upaya perseroan untuk efisiensi dengan memangkas stripping ratio serta pembagian dividen yang atraktif (rasio dividen berkisar 75-80%). Hal ini membuat Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham PTBA dengan target harga Rp 3.200, meskipun pandemi Covid-19 masih melanda dunia yang berimbas terhadap penurunan harga jual batu bara ke depan.
Terkait kinerja keuangan Bukit Asam, Stefanus menyebutkan, laba bersih diperkirakan turun tipis menjadi Rp 3,95 triliun tahun ini dibandingkan raihan tahun lalu senilai Rp 4,05 triliun. Sedangkan penjualan diperkirakan naik dari Rp 21,78 triliun menjadi Rp 22,53 triliun.
Sementara itu, analis Maybank Kim Eng Sekuritas Isnaputra Iskandar menyebutkan bahwa realisasi laba bersih Bukit Asam saat ini setara dengan 113,6% dari target yang di tetapkan awal tahun 2019 sedangkan penjualan pendapatan perseroan setara dengan 103,8% dari target yang telah ditetapkan. Meski begitu, Bukit Asam masih menghadapi tantangan berat tahun ini, khususnya perkiraan penurunan rata-rata harga jual batu bara. Kondisi ini mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi hold saham PTBA dengan target harga Rp 2.500.
Sebelumnya, Direktur Keuangan Bukit Asam Mega Satria mengatakan bahwa Bukit Asam berkeinginan untuk mengusulkan rasio pembagian dividen yang dinilai cukup tinggi (sekitar 75%) dari laba bersih tahun 2019 dan menjadi koridor pemegang saham perseroan. Sedangkan untuk kebutuhan ekspansi, perseroan akan mengandalkan kas internal. Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 4 triliun. Perseroan mengalokasikan dana capex sebesar Rp 3,8 triliun untuk kebutuhan investasi pengembangan dan sisanya Rp 200 miliar untuk investasi rutin.Dua Sisi Pandemi Covid-19
Datangnya pandemi Covid-19 ibarat menghadirkan satu sisi yang membuat masyarakat cemas dari sisi kesehatan, ekonomi, dan bisnis. Akan tetapi, memunculkan sisi positif bagi ekologi dan kolaborasi dunia menghadapi pandemic Penyakit Covid-19 mewabah begitu luas dan cepat di dunia. Dalam waktu 112 hari sejak dilaporkan pertama kali pada 31 Desember 2019, Covid-19 sudah menjangkiti 2.426.788 orang dan hingga saat ini telah menyebabkan 166.122 orang meninggal dunia.. Dibanding kan dengan dua penyakit yang diakibatkan virus korona lainnya, kasus Covid-19 lebih banyak terjad dan lebih banyak memakan korban jiwa.
Tidak hanya dari sisi kesehatan, wabah korona juga menimbulkan kecemasan pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2020. Pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 diprediksi anjlok minus 3 persen. Prediksi Bank Pembangunan Asia (ADB) menyebutkan, dampak ekonomi Covid-19 dapat mencapai 4,1 triliun dollar AS atau setara dengan 4,8 persen produk domestik bruto (PDB) dunia. Merespons wabah Covid-19, Bank Dunia menyediakan dana taktis 12 miliar dollar AS untuk membantu negara-negara mengatasi dampak kesehatan dan ekonomi dari wabah global. Sementara Indonesia mengalokasikan dana Rp 405,1 triliun untuk paket stimulus fiskal antisipasi pandemi.
Di sektor bisnis, sejumlah sektor turut terdampak, seperti pariwisata dan penerbangan. Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO) memperkirakan, tahun ini jumlah perjalanan wisatawan internasional akan menurun hingga 30 persen. Untuk sektor penerbangan, menurut data yang dihimpun oleh CovidAirlineTracker, secara global maskapai mengurangi frekuensi penerbangan domestik dan internasional dalam jumlah besar, bahkan hingga 100 persen. Di Indonesia, maskapai Garuda Indonesia menunda sejumlah 23 rute penerbangan domestik dan internasional.
Organisasi Buruh Internasional (ILO) memperkirakan dalam skenario terburuk, sedikitnya 24,7 juta orang di dunia akan menganggur terkena dampak ekonomi Covid-19. Ada empat sektor yang dipastikan terdampak menurut ILO, yakni ritel, manufaktur, bisnis properti, dan penyedia akomodasi serta makanan. Di Indonesia, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat per 7 April 2020 sebanyak 1.200.031 pekerja di 74.430 perusahaan terkena dampak pandemi. Sebagian dari mereka dirumahkan atau bahkan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
Disisi lain, kehadiran wabah Covid-19 memunculkan sisi positif bagi ekologi dan lingkungan. Dimana pengurangan aktivitas manusia akibat karantina atau isolasi untuk mengurangi penyebaran virus menyebabkan terjadi penurunan drastis kadar nitrogen dioksida (NO2), hal ini sebagaimana di lansir para ilmuwan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) dan Eropa (ESA) yang membandingkan citra satelit pada 1-20 Januari 2020 dengan 20-25 Februari 2020 di China.
Banjir Minyak
Lebih dari 30 kapal tanker berkumpul di dekat pantai California, Amerika Serikat, dengan muatan penuh minyak mentah. Kapal-kapal itu membawa sekitar 20 juta barel minyak mentah selama berhari-hari tanpa tahu hendak ditaruh di mana muatan tersebut. Jutaan barel minyak itu belum memiliki calon pembeli. Cerita itu ada di laman Bloomberg, Rabu (22/4/2020).
Berdasarkan perdagangan minyak, Selasa (21/4), harga minyak mentah AS jenis WTI (West Texas Intermediate) minus 35,55 dollar AS per barel. Apa artinya? Pembeli malah dibayar untuk menerima minyak mentah itu. Sebab, produsen minyak harus mengeluarkan biaya tambahan untuk penyimpanan pada saat tangki penyimpanan sudah penuh. Begitu penjelasan CEO Indonesia Commodity and Derivatives Exchange Lamon Rutten.
Dalam sejumlah laporan, kondisi ini berpotensi membuat banyak perusahaan minyak di AS bangkrut. Di sisi lain, Indonesia sebagai pengimpor bersih minyak justru bisa mengambil keuntungan dengan harga minyak mentah yang murah. Seperti disampaikan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati ketika pandemic Covid-19 belum meluas di Indonesia. Namun, semua berubah saat pandemi Covid-19 dinyatakan sebagai bencana nasional oleh Presiden Joko Widodo, yang diikuti pembatasan social berskala besar (PSBB).
Dalam rapat dengar pendapat Pertamina dengan Komisi VII DPR secara daring, laporan Pertamina menunjukkan, konsumsi BBM nasional merosot hingga 35 persen dikarenakan Pandemi Covid-19 menurunkan pergerakan orang dan barang secara drastis. Situasi ini berujung pada desakan agar harga BBM di Indonesia diturunkan. Namun, pemerintah mempertimbangkan rencana pemotongan produksi minyak anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan kondisi fiscal Pertamina. Pertanyaan lain, sejauh mana signifikansi penurunan harga BBM saat tak banyak orang membutuhkannya ditengah pandemi Covid-19?Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









