;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Permintaan Minyak 2020 Anjlok 9,3 Juta Bph

19 Apr 2020

Badan Energi International atau International Energy Agency (IEA) menyampaikan tahun ini permintaan minyak global akan mengalami penurunan lebih rendah dibandingkan tahun lalu, bahkan mencapai level yang terakhir terlihat pada 1995, menyusul langkah-langkah karantina (lockdown) di banyak negara guna mencegah penyebaran wabah virus corona Covid-19 yang telah membuat perekonomian mandek. Dalam laporan bulanan terbaru IEA yang dirilis pada Rabu (15/4), Menurut IEA, aktivitas di sektor transportasi hampir menunjukkan penurunan dramatis di mana-mana, seraya mencatat bahwa tindakan karantina telah dilaksanakan di 187 negara dan wilayah sebagai respons terhadap wabah Covid-19. “Bahkan dengan asumsi pembatasan perjalanan telah berkurang pada semester kedua tahun ini, kami memperkirakan permintaan minyak global pada tahun 2020 akan turun 9,3 juta barel per hari dibandingkan 2019, menghapus hampir satu dekade pertumbuhan,” ujar badan yang berkantor pusat di Paris, Prancis seperti dilansir dari CNBC 

Waspada, Beban Keuangan BUMN Tambang Menjulang

19 Apr 2020

Holding BUMN Pertambangan, Mind Id alias Inalum, mesti mewaspadai prospek bisnis dan kondisi keuangan anak usahanya di tengah wabah korona (Covid-19) dan kelesuan ekonomi, Lembaga pemeringkat global, Moody's Investors Service menurunkan outlook Inalum menjadi negatif dari sebelumnya stabil, hal ini dikarenakan pelemahan operasional bisnis kinerja beberapa anak usahanya seperti PT Timbah Tbk (TINS) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), yang terutama dipicu kontraksi margin di tengah kelesuan harga komoditas. Meski begitu, hal ini tidak mengubah peringkat Inalum dan obligasi seniornya, yakni tetap Baa2.

Meski demikian, manajemen Mind Id meyakinkan bahwa kondisi kas holding tetap kuat di tengah tekanan pasar dan harga komoditas. Corporate Secretary Mind Id Rendi A. Witoelar mengatakan, posisi kas holding lebih dari Rp 20 triliun. "Akses ke perbankan dan bond market juga masih bagus," kata dia, kemarin, yang meyakini anak usaha Mind Id mampu mengelola utang dengan baik. Senada dengan ini, Sekretaris Perusahaan TINS, Abdullah Umar juga optimistis mampu mengelola utang "Kami sudah menurunkan utang bank saat ini menjadi sekitar Rp 6,5 triliun," ungkapnya.

Angin Segar untuk Industri

17 Apr 2020

Kementerian ESDM terbitkan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 8 Tahun 2020 tentang Harga Gas Khusus Industri sebesar enam dolar AS per million British thermal unit (MMBTU). Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama menjelaskan, perseroan akan melakukan penyesuaian harga jual gas bumi kepada pelanggan industri yang telah ditetapkan oleh Kementerian ESDM. PGN siap untuk mengemban tugas sebagai mitra pemerintah ke depan dalam mengembangkan infrastruktur dan pemanfaatan gas bumi nasional.

Direktur Komersial PGN Dilo Seno Widagdo mengatakan, penerapan lockdown sejumlah negara turut memengaruhi keberlanjutan sektor industri sebagai salah satu pelanggan PGN. Masa puncak penurunan konsumsi gas hampir menyentuh 10% karena Covid-19 bakal terjadi pada Juni-Juli 2020. Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengaku penurunan harga gas akan mendorong penghematan biaya produksi perusahaan sampai 10 persen dan meningkatkan daya saing ekspor. Head of Corporate Communication Pupuk Indonesia Wijaya Laksana mengatakan penurunan harga gas berpengaruh pada biaya produksi perusahaan dalam memproduksi pupuk urea dan mengurangi beban subsidi pemerintah. Wijaya berharap perbaikan kurs juga bisa membantu perusahaan lebih efisien.


Selamatkan Produsen Pangan

16 Apr 2020

Badan Pusat Statistik mencatat penurunan nilai tukar petani terjadi di semua subsektor, yakni mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan. Situasi itu menjadi tanda turunnya kesejahteraan petani yang merupakan produsen pangan. Kondisi itu tidak menguntungkan di tengah potensi krisis pangan akibat pandemi Covid-19. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Dalam laporan "Anticipating The Impacts of Covid-19 in Humanitarian and Food Crisis Contexts", menyebutkan Indonesia bisa mengatasi ancaman krisis pangan melalui strategi yang memprioritaskan kesejahteraanan petani sebagai produsen pangan sebaliknya disrupsi pada produksi dan rantai pasok pangan akibat pandemi Covid-19 bisa menjadi bencana bagi populasi yang tergolong rentan.

Ketua Umum Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia Guntur Subagja memiliki pendapat yang sama terkait hal ini, dengan menjaga kesejahteraan petani melalui kepastian penyerapan (hasil panen dengan harga layak) maka petani dapat memiliki kemampuan memproduksi pangan. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin dan Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa berpendapat menambahkan, kelancaran logistik pangan memegang peran kunci. Jika terganggu, produk petani tak terserap, sementara harga di tingkat konsumen naik.

Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas tentang penanganan Covid-19 melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, meminta jajarannya mendorong produksi pangan dalam negeri dan memberi perhatian pada peringatan FAO soal potensi gangguan pangan di banyak negara akibat pandemic. Sejumlah produsen pangan justru menghadapi ironi. Para peternak ayam rakyat, misalnya, justru memangkas produksi untuk menyesuaikan penurunan permintaan. Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko menyebutkan, peternak ayam pedaging memotong 50 persen produksinya seiring permintaan yang turun. Situasi tak menguntungkan juga dihadapi para petani tebu. Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia Soemitro Samadikoen khawatir harga gula produksi petani akan tertekan seiring makin gencarnya impor gula. 

Pemerintah saat ini tengah mengarahkan dana desa untuk bantuan tunai melalui Peraturan Menteri Desa Nomor 6 Tahun 2020 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2020. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar mengatakan, dana desa bisa digunakan untuk bantuan langsung tunai (BLT) ke masyarakat miskin atau kehilangan pekerjaan akibat pandemic . Pihaknya memperkirakan alokasi untuk 74.953 desa mencapai Rp 22,4 triliun.

Harga Gula Tetap Tinggi

15 Apr 2020

Harga gula pasir tetap tinggi, mencapai Rp 18.300 per kilogram meski sebagian gula impor telah tiba dan sebagian dialihkan ke pasar konsumsi. Perencanaan yang tak tepat berpotensi menghancurkan harga gula petani. 

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga gula pasir "konsisten" naik selama empat bulan terakhir, kian jauh meninggalkan acuannya yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Nur Khabsyin, menyatakan pemerintah tampak panik dalam mengimpor gula. Kepanikan ini justru berpotensi memukul harga di tingkat petani dan menekan kesejahteraan petani tebu.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, pemerintah sudah melakukan operasi pasar melalui pengalihan gula dari industri dalam negeri dan didistribusikan ke sejumlah kota besar.

Menurut Nur Khabsyin, saat ini panen tebu dan proses giling tebu di Sumatera Utara sudah berjalan, dan hasil gula diperkirakan mencapai 50.000 ton. Adapun panen dan proses giling tebu di wilayah Jawa akan dimulai akhir Mei 2020. Nur menyatakan, petani khawatir harga gula anjlok di bawah ongkos produksi dan mengancam kesejahteraan dengan adanya realisasi impor mencapai puncaknya pada Mei-Juni 2020 dan mengancam daya beli petani sebagai konsumen karena harga pangan meningkat.

Pada rapat kerja dengan Komisi IV DPR, Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyebutkan, Kementerian Perdagangan telah memberikan izin impor Gula Kristal Putih (GKP) sebanyak 50.000 ton, dan 250.000 ton gula mentah yang diimpor oleh industri gula rafinasi agar diolah menjadi GKP.

Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Bernardi Dharmawan menyebutkan, ada sembilan anggota asosiasi dan satu pabrik gula yang akan mengolah gula mentah tersebut menjadi GKP dan akan disalurkan kepada distributor dan pelaku ritel.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Budi Hidayat berpendapat, pengadaan GKP dari gula mentah impor berpotensi membanjiri pasar gula dalam negeri. Maka harus didistribusikan langsung ke daerah dengan harga gula yang tinggi, terutama di luar Pulau Jawa.

Menakar Aktivitas Pandemic Bond untuk mengurangi ancaman PHK

15 Apr 2020

Salah satu masalah yang menghantui dunia usaha sejak virus corona atau Covid-19 merebak tak terkendali adalah menurun atau bahkan matinya berbagai aktivitas ekonomi yang berujung terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Satu setengah juta pekerja dilaporkan telah dirumahkan dan hanya menerima gaji atau upah separo atau kurang dari yang biasa mereka terima bulanannya.

Untuk mengurangi jumlah korban PHK dan untuk mencegah agar angka pengangguran tidak kembali bertambah, pemerintah saat ini telah mempersiapkan program prioritas berupa surat utang pemulihan atau recovery bonds dan global bond sebagaimana dijelaskan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati ketika menggelar video conference di Jakarta, Selasa (7/4) dan Presiden Joko Widodo juga telah menjanjikan bahwa pemerintah akan mempercepat penyaluran Kartu Prakerja untuk memastikan agar angka pengangguran tidak bertambah di tengah wabah Covid-19.

Seperti dilaporkan media massa, sejumlah perusahaan besar seperti PT Indosat Tbk, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) dan sejumlah perusahaan lain terpaksa melakukan PHK ratusan bahkan ribuan pegawainya.

Banyak perusahaan mengalami kesulitan mempertahan performance-nya karena sebab-sebab internal dan kondisi perekonomian global yang memang suram. Sejumlah indikator ekonomi nasional, seperti investasi, daya beli, ekspor-impor, pertumbuhan ekonomi, dan lain sebagainya bisa dilihat cenderung kurang menggembirakan.

Di tengah meluasnya wabah virus corona, target pemerintah tampaknya tidak muluk-muluk. Pemerintah tidak berharap pelaku usaha mampu meningkatkan volume produksi, melainkan cukup mereka bisa bertahan saja itu sudah lebih dari cukup. Yang penting angka pengangguran tidak bertambah dan daftar korban PHK tidak makin panjang.

Program populis seperti menyediakan jaring pengaman, memperkuat penyangga ekonomi keluarga miskin, mencegah perusahaan tidak bangkrut, dan lain sebagainya untuk saat ini adalah program prioritas yang fungsional untuk mencegah masyarakat agar tidak makin terpuruk.

Terpapar Korona Perusahaan Migas Kaji Ulang Rencana Kerja

15 Apr 2020

Tahun 2020 bakal menjadi masa-masa yang sulit perusahaan minyak dan gas (migas). Hal ini dikarenakan harga minyak mentah yang anjlok hingga level US$ 30 per barel serta efek gulir pandemi korona yang memperumit kondisi bisnis.

Alhasil, sejumlah perusahaan migas di Tanah Air ramal-ramai melakukan langkah mitigasi, khususnya dalam hal penyesuaian target atau rencana kerja di sepanjang tahun ini PT Pertamina EP, misalnya telah menyiapkan skenario penyesualan target dan rencana kerja. Direktur Utama Pertamina EP Nanang Abdul Manaf mengungkapkan, adanya perubahan asumsi ICP bakal berpengaruh terhadap dana capital expenditure (capex dan operational expenditure (opex), termasuk proyeksi pendapatan dan laba pada tahun ini

Dengan situasi yang serupa, PT Pertamina, PT Elnusa Tbk (ELSA) dan PT Energi Mega Persada (ENRG)  juga tengah menyiapkan antisipasi terhadap dampak korona cengan menerapkan business continuity plan seperti dilansir Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Fajriyah Usman,  Head of Corporate Communications ELSA Wahyu Irfan, dan investor Relations PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) Herwin Hidayat di tempat terpisah.Sedangkan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDCO) sudah lebih dulu merevisi target dan rencana kerja pada tahun ini sebagaimana di konfirmasi Vice President Planning and Investor Relations PT Medco Energi Internasional Tbk Myrta Sri Utami

Perusahaan Migas Revisi Rencana Kerja

14 Apr 2020

Saat dihubungi Republika, Senin (13/4) PT Pertamina EP (PEP) melalui Direktur Utama-nya Nanang Abdul Manaf menjelaskan sedang menyiapkan skenario untuk menyesuaikan target dan rencana mitigasi risiko di tengah situasi yang dinamis akibat pandemi Covid-19 dan anjloknya harga minyak dunia.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) sebagai Induk usaha PEP, Fajriyah Usman juga mengatakan, Pertamina tengah meninjau kembali target keuangan dan rencana kerja untuk menjalankan pekerjaan yang paling prioritas

Hal senada disampaikan Vice President Planning and Investor Relations Medco Energi Myrta Sri Utami, di tengah tren harga minyak yang masih rendah, Medco Energi melakukan revisi target operasional produksi dan belanja modal. Ia menjelaskan, revisi kerja pada 2020 membuat perusahaan mengurangi produksi yang semula ditargetkan sebesar 110 juta barel setara minyak per hari (boepd) menjadi 100 hingga 105 juta boepd. Sedangkan, belanja modal perusahaan berubah menjadi 240 juta dolar AS dari semula 340 juta dolar AS.

Sementara organisasi negara eksportir minyak dunia OPEC bersama Rusia bersepakat mengurangi produksi hingga April 2022. Hal ini dilakukan demi mengangkat harga yang terus tertekan akibat pandemi virus korona sebagaimana dikutip dari Reuters. Pada perdagangan Senin (13/4), harga minyak dunia melonjak 1 dolar AS per barel menyusul kesepakatan OPEC tersebut.

Sementara itu, negara nonanggota OPEC, seperti Indonesia, Brasil, Kanada, Norwegia, dan AS akan berkontribusi terhadap pemotongan produksi sebesar 4 juta-5 juta barel per hari.

Pemangkasan belum atasi tekanan

14 Apr 2020

Harga minyak dunia kembali tertekan sekalipun negara-negara produsen yang tergabung dalam Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC) menyepakati pemangkasan produksi. Hal itu mengindikasikan kesepakatan itu diproyeksikan belum cukup untuk mengatasi tekanan akibat lemahnya permintaan meski pemotongan produksi kali ini tercatat empat kali lebih besar dibandingkan dengan saat krisis keuangan glo bal 2008.

Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menyebut Riyadh akan memangkas total produksi 3,8 juta barel minyak per hari, dari produksi harian sebelumnya, yaitu 12,3 juta barel. Kuwait dan Uni Emirat Arab (UEA) disebut akan memangkas melebihi kesepakatan OPEC sedangkan pemangkasan oleh Brasil, Kanada, Indonesia, dan Norwegia akan mengurangi pasokan hingga 5 juta barel per hari.

Namun menurut analis Aspek Energi, Virendra Chauhan dan Takashi Tsukioka, Presiden Asosiasi Perminyakan Jepang (PAJ) ditempat terpisah, pemotongan tidak akan dapat mendorong harga mengingat skala inventaris dunia dan tidak adanya komitmen dari Amerika Serikat atau anggota G-20 lainnya, Takashi mengharapkan OPEC terus melanjutkan pembicaraan untuk menstabilkan pasar minyak. Sejumlah pengamat menambahkan, tekanan akan menguat jika pemerintah di mayoritas negara di dunia memperluas langkah pemba tasan perjalanan.

Disisi lain American Petroleum Institute-perkumpulan perusahaan penambang minyak AS-mengatakan, kesepakatan OPEC terjadi karena produsen di AS telah lebih dulu menyesuaikan produksi di tengah penurunan permintaan.

Para analis mengamati juga kenaikan cadangan minyak juga berpeluang menekan harga karena menurunkan permintaan. Diperkirakan cadangan minyak di negara-negara maju akan tumbuh pada triwulan II-2020. China juga diperkirakan bakal meningkatkan cadangan minyak hingga 10 persen dibandingkan dengan posisi Maret setelah memulihkan aktivitas ekonomi. Seorang pelaku pasar minyak yang menolak disebutkan namanya mengatakan, cadangan minyak di perusahaanannya akan terus tumbuh, namun relatif lambat Karena kesepakatan pemotongan produksi oleh OPEC.

Setelah itu, fokus utama para pelaku pasar adalah data cadangan strategis AS sebagaimana dicatat Departemen Energi AS.

Harga Batu Bara April Terimbas Covid19

09 Apr 2020

Konsumsi listrik menurun seiring dengan kebijakan Work From Home di beberapa negara. Kebijakan itu menekan penggunaan listrik di beberapa ibukota dan pusat bisnis. Lantaran kebutuhan listrik berkurang maka serapan batu bara untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) pun menurun sehingga membuat over suplai kondisi pasar batu bara internasional.

Di Jakarta, pada Senin (6/4), Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi mengatakan harga batu bara pada April ini lebih rendah US$1,31/ton dibandingkan Maret kemarin menjadi US$65,77/ton. Berdasarkan catatan Investor Daily; tren HBA dalam 4 bulan terakhir adalah sebagai berikut:

  • Desember 2019 US$ 66,30/ton.
  • Awal 2020 US$ 65,93/ton.
  • Februari 2020 US$ 66,89/ton.
  • Maret 2020 US$ 67,08/ton.
  • April 2020  US$ 65,77/ton.
Secara terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menuturkan masih sulit prediksi pergerakan HBA dengan melihat kondisi pasar global yang kian tak menentu akibat pengaruh Covid-19.