Selamatkan Produsen Pangan
Badan Pusat Statistik mencatat penurunan nilai tukar petani terjadi
di semua subsektor, yakni mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan
rakyat, peternakan, dan perikanan. Situasi itu menjadi tanda turunnya
kesejahteraan petani yang merupakan produsen pangan. Kondisi itu tidak menguntungkan di tengah potensi krisis pangan akibat pandemi Covid-19. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Dalam laporan
"Anticipating The Impacts of Covid-19 in Humanitarian and Food Crisis
Contexts", menyebutkan Indonesia bisa mengatasi ancaman krisis pangan
melalui strategi yang memprioritaskan kesejahteraanan petani sebagai produsen
pangan sebaliknya disrupsi pada produksi dan rantai pasok pangan akibat pandemi
Covid-19 bisa menjadi bencana bagi populasi yang tergolong rentan.
Ketua Umum Perkumpulan Insan Tani dan Nelayan Indonesia
Guntur Subagja memiliki pendapat yang sama terkait hal ini, dengan menjaga kesejahteraan
petani melalui kepastian penyerapan (hasil panen dengan harga layak) maka petani
dapat memiliki kemampuan memproduksi pangan. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin
dan Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa
berpendapat menambahkan, kelancaran logistik pangan memegang peran kunci. Jika
terganggu, produk petani tak terserap, sementara harga di tingkat konsumen naik.
Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas tentang penanganan Covid-19 melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, meminta jajarannya mendorong produksi pangan dalam negeri dan memberi perhatian pada peringatan FAO soal potensi gangguan pangan di banyak negara akibat pandemic. Sejumlah produsen pangan justru menghadapi ironi. Para peternak ayam rakyat, misalnya, justru memangkas produksi untuk menyesuaikan penurunan permintaan. Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Indonesia Singgih Januratmoko menyebutkan, peternak ayam pedaging memotong 50 persen produksinya seiring permintaan yang turun. Situasi tak menguntungkan juga dihadapi para petani tebu. Ketua Umum Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia Soemitro Samadikoen khawatir harga gula produksi petani akan tertekan seiring makin gencarnya impor gula.
Pemerintah saat ini tengah mengarahkan dana desa untuk bantuan tunai melalui Peraturan Menteri Desa Nomor 6 Tahun 2020 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2020. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar mengatakan, dana desa bisa digunakan untuk bantuan langsung tunai (BLT) ke masyarakat miskin atau kehilangan pekerjaan akibat pandemic . Pihaknya memperkirakan alokasi untuk 74.953 desa mencapai Rp 22,4 triliun.
Tags :
#PanganPostingan Terkait
Kopdes Merahputih mendapat dukungan Bank Mandiri
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023