Lingkungan Hidup
( 5820 )Optimalisasi Pemanfaatan Biodiesel
Pemanfaatan bahan bakar nabati biodiesel sebagai sumber energi baru terbarukan diklaim berhasil mengurangi impor bahan bakar minyak dalam jumlah signifikan. Untuk meningkatkan kontribusinya, pemerintah pun mulai memperluas penggunaannya hingga ke industri penerbangan. Sebagaimana yang disampaikan oleh pemerintah melalui Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), bahwa sepanjang 2023 penyaluran biodiesel di Indonesia telah mencapai 12,3 juta kiloliter. Dengan volume sebanyak itu, pemerintah berhasil menghemat sebesar Rp122 triliun yang berasal dari pengurangan impor solar dan minyak mentah. Tak hanya itu, penggunaan biodiesel yang sebagian besar untuk kendaraan bermotor juga berhasil menekan emisi gas rumah kaca sebesar 132 juta ton CO2 ekuivalen. Tahun ini, pemerintah menetapkan kuota penyaluran biodiesel B35 yaitu bauran solar dengan 35% bahan bakar nabati berbasis minyak sawit, sebesar 13,41 juta kiloliter. Tak cukup meningkatkan penggunaan B35, Kementerian ESDM berencana mempercepat penerapan B40 yang semula ditargetkan pada 2030. Uji penerapan program biodiesel B40 akan dilakukan tahun ini. Uji terap B40 juga bakal menyasar pada sektor non-otomotif, seperti alat berat, kapal laut, alat dan mesin pertanian, kereta api hingga industri penerbangan. Pemanfaatan biodiesel yang membutuhkan pendanaan besar mengharuskan pemerintah mengeluarkan anggaran berupa insentif untuk menarik para pelaku usaha berinvestasi di bidang usaha itu. Sebagaimana yang disampaikan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) bahwa tahun lalu insentif yang dianggarkan mencapai Rp30 triliun. Insentif itu diberikan kepada pelaku usaha dan digunakan untuk menutup selisih kurang antara harga indeks pasar (HIP) bahan bakar minyak jenis minyak solar dengan harga indeks pasar bahan bakar nabati jenis biodiesel. Kebijakan menaikkan insentif replanting dari semula Rp30 juta menjadi Rp60 juta pun ditempuh untuk meningkatkan minat masyarakat. Namun, persyaratan sertifikat untuk mendapatkan bantuan pemerintah dinilai dapat memperlambat. Pemanfaatan sawit untuk biodiesel harus terus didorong untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil. Biaya produksi yang masih tinggi juga harus dicarikan solusinya agar energi tersebut makin banyak dipergunakan.
Kuota Impor Beras Ditambah 1,6 Juta Ton
Pemerintah menambah kuota impor beras tahun ini sebanyak 1,6
juta ton. Dengan begitu, total kuota impor beras pada 2024 menjadi 3,6 juta ton.
Program baru menstabilkan harga beras, yakni Bulog Siaga, juga digulirkan, sedangkan
pengalihan cadangan beras pemerintah ke komersial dilanjutkan. Sejumlah langkah
itu diambil lantaran produksi padi masih belum mencapai puncak dan kenaikan
harga beras kian masif. Per pekan keempat Februari 2024 atau dua pekan sebelum
Ramadhan, separuh lebih kabupaten/kota di Indonesia mengalami kenaikan harga beras.
Hal itu mengemuka dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri)
secara hibrida di Jakarta, Senin (26/2). Rapat tersebut dipimpin oleh Irjen
Kemendagri Tomsi Tohir.
Direktur Impor Direktorat Perdagangan Luar Negeri Kemendag
Arif Sulistyo mengatakan, Kemendag telah menerbitkan persetujuan impor (PI) 2
juta ton beras untuk tahun ini sehingga tinggal direalisasikan Perum Bulog.
Kuota impor itu berdasarkan hasil rakor terbatas (rakortas) di Kemenko Bidang
Perekonomian pada 7 Desember 2023. ”Selain itu, ada tambahan alokasi impor
beras tahun ini sebanyak 1,6 juta ton. Keputusan itu merupakan hasil rakortas
Kemenko Bidang Perekonomian pada 5 Februari 2024. Kami belum menerbitkan PI
impor beras itu lantaran masih dalam proses perubahan neraca komoditas sebagai
syarat pengajuan PI,” ujarnya. (Yoga)
Makan Nyaman, Kantong Aman
Warung Tegal atau warteg sudah menjadi nama generik untuk jenis
usaha yang menyediakan sajian makanan rumahan dan dengan harga terjangkau. Pengunjung
warteg umumnya adalah mereka yang memang datang untuk mengisi perut, bukan
makan untuk berekreasi atau mencari hiburan. Selama sebuah warteg mampu
memberikan jaminan rasa enak, harga murah, dan pelayanan ramah, di waktu
sarapan, makan siang, dan makan malam, sedikitnya 80 porsi makanan bisa terjual
setiap hari. Begitulah pengalaman Ayu Maria (39) asal Slawi, Tegal, Jateng,
yang sudah membuka usaha warteg di Jalan Arteri Pondok Indah, Jaksel, sejak
2019. Pertama kali ia merantau ke Jakarta mendampingi suaminya yang bekerja di
proyek bangunan pada 2016, Ayu iseng berjualan lauk-pauk, memanfaatkan selasar kontrakan
petaknya di Pesanggrahan, Jaksel. ”Kebetulan, waktu itu ada lemari etalase
makanan bekas penghuni kontrakan sebelumnya. Udah enggak terpakai.
Saya jadi kepikiran buat jual makanan,” ujar Ayu. Kala itu,
modalnya memasak hanya Rp 150.000 untuk beberapa jenis masakan. Ternyata
masakan Ayu cocok di lidah warga sekitar kontrakannya. Pelan-pelan jenis masakannya
ditambah. Modal Rp 250.000 saat itu cukup untuk membuat 10-12 jenis masakan
atau menjadi 6-8 porsi untuk setiap jenis masakan. Kalau semua masakannya habis,
omzetnya Rp 600.000 sehari. Untung yang Ayu dapat sehari Rp 300.000 lebih besar
dari upah suaminya saat itu. Ia berjualan dari Senin hingga Sabtu. Pembelinya
adalah warga sekitar yang memang tidak sempat atau malas memasak. Pada awal
2019, bersama suaminya Ayu memutuskan untuk membuka warung yang lebih bagus di
pinggir Jalan Arteri Pondok Indah, dengan harga sewa tempat Rp 35 juta per
tahun.
Di luar biaya sewa tempat, ia mengeluarkan Rp 4 juta-Rp 5
juta untuk membeli meja, kursi, kipas angin, etalase makanan baru, dan menambah
peralatan masak. Suaminya berhenti bekerja di proyek agar bisa fokus mengembangkan
warteg. Untuk membantu kegiatan operasional, ada tambahan dua pegawai dari kampung
mereka dengan gaji Rp 1,2 juta per bulan. Warteg buka mulai pukul 06.00 dan
baru tutup pada pukul 22.00. Setiap hari mereka memasak mulai pukul 04.30.
Dalam sehari, mereka memasak nasi lima kali, masing-masing 13 liter. Sedikitnya
ada 30 macam sayur dan lauk yang bisa dipilih. Belanja modal bahan baku masakan
Rp 750.000 per hari. Rata-rata dalam sehari mereka menjual 80 porsi makanan. Jika
rata-rata satu porsi warteg dihargai Rp 18.000, maka dalam sehari omzet yang
mereka dapatkan Rp 1.440.000. Rata- rata keuntungan bersih dari wartegnya Rp
690.000 per hari atau 47 % dari omzet. (Yoga)
200 Hektar Sawah Cirebon Menganggur
Sekitar 200 hektar sawah di Desa Jagapura Wetan, Kabupaten
Cirebon, Jabar, masih menganggur karena kesulitan air. Kondisi ini berpotensi
meningkatkan biaya produksi dan memperlambat masa panen padi di tengah lonjakan
harga beras. Sawah yang belum ditanami padi itu, tampak di dekat Balai Desa
Jagapura Wetan, Senin (26/2) siang. Lahannya masih berupa tanah kering yang
belum diolah. Bahkan,traktor tidak bisa berfungsi maksimal karena minimnya air.
Saluran irigasi tampak kering. Sejumlah sawah sudah tergenang air sisa hujan
pada Minggu (25/2). Beberapa petak sawah juga menjadi tempat persemaian benih
padi. Air itu dipasok dari kali setempat menggunakan mesin pompa. Namun, benih
itu belum dipindahkan.
”Petani belum berani menanam karena air belum mengalir ke
sawah. Di sini, kalau airnya enggak banyak, padinya habis dimakan tikus,” ujar Ma’ani
(40), petani setempat. Menurut dia, sudah sekitar tiga minggu saluran irigasi
Kedongdong belum memasok air ke sawah Jagapura Wetan. Padahal, katanya, petani
biasanya mulai menanam padi pada Januari seiring musim hujan. Namun, hingga
akhir Februari, hujan masih jarang turun. Sebagian besar petani pun baru menyiapkan
lahan dan benih padi. ”Kalau enggak segera ditanam, benih padinya nanti tambah
tua. Kalau begitu, padinya kurang bagus. Anakannya kurang dan butuh banyak
pupuk,” kata Ma’ani. Saat ini, benihnya sudah berusia 23 hari. Benih itu harus
ditanam pada umur maksimal 25 hari sampai 30 hari.
Oleh karena itu, penggarap sawah 1 hektar ini berencana menggunakan
mesin pompa untuk memasok air ke sawah. Para petani, lanjutnya, akan bertemu
aparat desa hari ini untuk menyepakati harga sewa mesin
pompa dan biaya solarnya. ”Kalau musim gadu (masa tanam kedua), harga sewa pompa
sekitar Rp 2 juta per hektar. Biaya itu untuk mengolah lahan sampai panen. Bayarnya
tiga kali,” ujar Ma’ani. Menurut dia, baru kali ini petani menggunakan sistem
pompa saat musim tanam pertama. Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Desa Jagapura
Wetan, Khumeidi mengatakan, sekitar 200 hektar dari total 498 hektar sawah di
desanya kesulitan mendapatkan air. Pihaknya akan memfasilitasi petani menyewa
mesin pompa dan surat rekomendasi pembelian solar bersubsidi. (Yoga)
BPH Migas Bentuk Sub Penyalur BBM di 3T
Badan Pengatur Hilir Migas dan Gas Bumi (BPH Migas) mengungkap sub penyalur memudahkan masyarakat di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) mendapatkan Solar subsidi dan Pertalite dengan harga sama dengan di kota besar. Revisi peraturan BPH Migas Nomor 6 Tahun 2015 diperlukan guna membentuk sub penyalur tersebut. "Pada saat suatu daerah tidak bisa dibangun penyalur adalah salah satu alternatif solusi untuk memudahkan masyarakat mendapat BBM subsidi dan BBM kompensasi," kata Kepala BPH Migas Erika Retnowati. Erika menegaskan, sub penyalur bukan kegiatan usaha hilir migas. Sub penyalur merupakan perwakilan kelompok pada kecamatan yang tidak terdapat penyalur BBM. Sub penyalur mendistribusikan khusus kepada anggota dengan kriteria yang ditetapkan oeh BPH Migas. "Sub penyalur bukan untuk mencari keuntungan. Mekanisme penyaluran tertutup, tidak terdapat jual beli, serta ongkos angkutnya ditetapkan Bupati," tegasnya. (Yetede)
Konsumsi bahan Bakar Gas Hemat 55%
PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) mengungkapkan kendaraan umum mengunakan bahan bakar gas (BBG) menikmati penghematan sekitar 55% setiap harinya. Adapun konsumen BBG merupakan kendaraan umum seperti bajaj, taxi, angkot, dan Trans Jakarta. BBG memiliki emisi yang lebih rendah dari bahan bakar fosil lainnya, sehingga dapat menjadi alternatif energi ramah lingkungan bagi kendaaraan. "Kendaraan yang paling banyak menggunakan BBG saat ini adalah kendaraan umum sekitar 90% kendaran tersebut, karena jumlah kilometer per harinya paling banyak. Saat ini harga BBH itu paling banyak. Saat ini harga BBG itu hanya Rp4.500 per liter jadi ada penghematan sekitar 55%," kata Direktur Utama Gagas Muhammad Hardiansyah dalam keterangannya di Jakarta. Hardiansyah menuturkan Gagas terus mengembangkan infrastruktur bahan bakar gas, untuk mendukung pemenuhan energi yang ramah lingkungan untuk mencapai NZE tahun 2060. Salah satunya pengurangan emisi dari kendaraan bermotor, dimana emisinya sekitar 25-35% lebih rendah. (Yetede)
Pekerjaan Rumah Setelah Divestasi Saham Vale
MESIN BARU PENGHILIRAN NIKEL
Momentum positif menaungi upaya penghiliran nikel di Tanah Air. Pasalnya, bola panas divestasi 14% saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) akhirnya mereda setelah Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. sepakat untuk melepas kepemilikan di perusahaan tambang nikel itu seharga Rp3.050 per lembar saham kepada PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID. Melalui aksi tersebut, MIND ID bakal menjadi pemegang saham mayoritas di INCO, sebanyak 34%. Sementara itu, Vale Canada Limited masih menguasai 33,9%, Sumitomo 11,5%, dan publik di Bursa Efek Indonesia sebanyak 20,6%. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, MIND ID nantinya bakal mengendalikan INCO bersama dengan Vale Canada Limited. Nantinya, perusahaan asal Kanada tersebut bakal mendapat ‘jatah’ untuk menunjuk direktur operasional dan direktur yang bertanggung jawab atas environment, social, and governance (ESG).
Sementara itu, MIND ID memiliki hak untuk menunjuk tiga orang komisaris, termasuk komisaris utama; direktur utama; dan direktur SDM. Untuk saat ini, Kementerian BUMN dan MIND ID pun sudah bulat memutuskan untuk tetap menjadikan Febriany Eddy sebagai Direktur Utama INCO. Hal itu dilakukan untuk memastikan komitmen penghiliran perusahaan tetap berjalan seperti yang telah ditetapkan. Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso menjelaskan, saat ini pihaknya tidak lagi khawatir dengan block voting agreement yang sebelumnya dimiliki oleh Vale Canada Limited dan Sumitomo, karena kesepakatan tersebut telah dihapuskan. Hendi pun memastikan MIND ID bakal menggunakan kas internal perusahaan untuk mengambil 14% saham INCO yang disebut Vale Base Metal mencapai US$160 juta dan harus tuntas paling telat akhir tahun ini. Sementara itu, Chief Executive Officer Vale Base Metal Deshnee Naidoo menjelaskan, pihaknya berharap bisa bekerja sama dengan para mitranya di INCO, sehingga proyek perusahaan bisa memberikan nilai tambah bagi Indonesia.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kesepakatan divestasi tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan tata kelola pertambangan yang baik di Tanah Air. Hal itu juga menjadi alasan utama bagi pemerintah untuk tidak menciutkan wilayah kerja INCO. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pemerintah bakal meminta INCO untuk fokus melaksanakan peningkatan produksi dan pembangunan smelter di proyek Soroako, Pomalaa, dan Bahodopi. Associate Director BUMN Research Group Lembaga Management Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan, posisi MIND ID sebagai pemegang saham mayoritas bakal memudahkan perusahaan dalam menyelaraskan kegiatan bisnis INCO.
BAHAN PANGAN : KUOTA IMPOR BERAS MELONJAK 20%
Pemerintah menambah kuota impor beras pada 2024 menjadi 3,6 juta ton atau naik 20% dibandingkan dengan realisasi impor beras sepanjang tahun lalu sebanyak 3,06 juta ton. Dengan penambahan volume impor beras sebanyak 1,6 juta ton dari sebelumnya hanya 2 juta ton, menjadikan kuota impor beras pada 2024 merupakan yang terbesar lebih dari satu dekade. Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan mengatakan bahwa penambahan kuota impor beras sebanyak 1,6 juta ton dilakukan seiring dengan minimnya produksi beras dalam negeri. Setelah masa yang terlambat pada awal tahun ini, lanjutnya, membuat pemerintah memutuskan untuk menambah kuota impor beras tahun ini. “Tahun ini, 2 juta [ton impor beras] dan 1,6 juta. Hampir 3,6 juta [ton],” katanya seusai meninjau Pasar Klender, Jakarta Timur, Senin (26/2).
Saat ini, Zulkifli mengungkapkan sebanyak 1,4 juta ton beras telah dikuasai di gudang Perusahaan Umum (Perum) Bulog, sedangkan sebanyak 500.000 ton sedang dikapalkan. Berdasarkan data cadangan pangan pemerintah (CDP) per 23 Februari 2024, stok beras yang dikuasai pemerintah secara total sebanyak 1,37 juta ton. Direktur Impor Kementerian Perdagangan Arif Sulistiyo menyatakan pemerintah telah resmi menambah kuota impor beras tahun ini sebanyak 1,6 juta ton dari semula hanya 2 juta ton setelah disepakati dalam Rapat Koordinasi Koordinasi Terbatas (Rakortas) pada 5 Februari 2024. Data Kemendag mencatat, telah direalisasikan impor sebanyak 326.626 ton beras dari total 2 juta ton. Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Perum Bulog Mokhamad Suyamto menyatakan Bulog masih memiliki sisa kuota penugasan impor beras sebanyak 1,5 juta ton yang cukup untuk menghadapi permintaan saat Ramadan atau Idulfi tri mendatang.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menyebut hampir semua komoditas pangan utama mengalami kenaikan harga secara kumulatif hingga pekan keempat Februari 2024, di antaranya beras, cabai merah, telur ayam dan daging ayam ras.
Selain harga beras, Pudji menyatakan kenaikan juga terjadi pada cabai merah. Harga cabai pada minggu keempat Februari naik sekitar 7,63% dibandingkan dengan Januari 2024 menjadi Rp57.521 per kg. Namun, 44% wilayah masih memiliki harga cabai lebih tinggi dari harga rata-rata nasional.
Harga telur ayam ras juga mengalami kenaikan 1,47% dibandingkan harga pada Januari 2024. Di pekan keempat Februa ri 2024, jumlah wilayah yang mengalami kenaikan harga telur ayam bertambah menjadi 199 kabupaten/kota. Rata-rata harga telur ayam kini Rp30.231 per kg.
Selain itu, rata-rata harga gula pasir di minggu keempat Februari sebesar Rp17.665 per kg. Terdapat 162 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga gula pasir.
Waktunya Singkong Meredam Hegemoni Beras
Setiap harga beras naik, kelimpungan melanda warga seantero negeri, jika tak cepat ditangani, dapat mengganggu perekonomian nasional. Selama beras masih memegang hegemoni mutlak dalam asupan karbohidrat masyarakat, selama itu pula komoditas tersebut akan rentan memunculkan prahara. Pada 2023, produksi beras 30,89 juta ton, menurun dari produksi pada 2022 di 31,54 juta ton. Adapun kebutuhan rata-rata bulanan beras 2,6 juta ton (Kompas, 14/2). Ketika suplai sulit mengejar permintaan, solusi yang bisa ditempuh adalah memangkas permintaan. Salah satu caranya adalah melalui diversifikasi sumber karbohidrat masyarakat sehingga mengurangi ketergantungan pada beras. Dekan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UGM Eni Harmayani mengatakan, kenaikan harga beras saat ini perlu digunakan sebagai momentum untuk mengembangkan diversifikasi pangan lokal sumber karbohidrat. Apalagi, Indonesia memiliki banyak alternatif pengganti beras sebagai bahan pangan sumber karbohidrat, di antaranya singkong, jagung, ubi jalar, sorgum, talas, kentang, ketan, sukun, dan pisang.
”Semua itu relatif mudah tumbuh dan dibudidayakan di negara kita,” ujar Eni, Jumat (23/2). Akan tetapi, masalah terbesarnya, masyarakat sudah terbiasa mengonsumsi nasi tiga kali sehari. Ungkapan ”belum makan kalau belum kena nasi” masih menjadi moto hidup banyak orang. Padahal, diversifikasi sumber karbohidrat juga penting bagi tubuh manusia. Menggantungkan asupan karbohidrat pada satu sumber saja dalam jangka panjang dapat menimbulkan risiko penyakit degeneratif, seperti diabetes. Perhitungan sederhananya, jika setiap orang mengganti satu porsi makan nasinya per hari dengan sumber karbohidrat lain, kebutuhan beras nasional dapat dipangkas sepertiga atau 33 %. Surplus beras itu dapat diekspor, yang akan menguntungkan petani sekaligus menambah devisa negara.
Adapun masyarakat DIY (Yogayakarta) sudah sejak lama mengenal pangan-pangan pokok selain beras, terutama yang berbahan singkong. Selain langsung digoreng, direbus, atau dikukus, singkong di DIY juga bisa diolah lebih lanjut menjadi makanan pokok berupa tiwul, gogik, sawut, atau growol. Bahkan, umbi-umbian itu dapat pula dibuat menjadi mi yang disebut mi lethek. Kota Yogyakarta pun memiliki pasar khusus yang menjajakan singkong dan ubi jalar, yakni Pasar Telo Karangkajen di Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan. Telo, yang merupakan simpul distribusi kedua komoditas palawija tersebut ke sejumlah pasar lain di Kota Yogyakarta, Bantul, dan Sleman. Menurut Sudras (42), pedagang di Pasar Telo Karangkajen, saat ini dia bisa menjual 1,5 ton singkong per hari, naik dari biasanya 1 ton per hari. Jumlah itu meningkat sejak Desember saat harga beras mulai bergejolak. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









