Lingkungan Hidup
( 5781 )Harga Beras Melambung, Saham Emitennya Kian Membumbung
Kenaikan Inflasi Volatile Food hanya Temporer
Tensi kenaikan Harga Beras Mereda Mulai Maret
”Leuit”, Simbol Ketahanan Pangan dan Lambang Kemakmuran
Bagi masyarakat suku Baduy, leuit atau lumbung padi bukan
sekadar tempat menyimpan hasil panen. Bangunan bertiang kayu, berdinding
anyaman bambu, dan beratap daun rumbia atau kirai itu menjadi simbol ketahanan
pangan sekaligus lambang kemakmuran urang Kanekes, di Baduy Dalam, Desa
Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. ”Hampir semua warga Baduy
memiliki leuit. Hasil panen padi dari puluhan tahun lalu disimpan di situ,”
ujar Sarif (38), warga Kampung Cibeo, Baduy Dalam (10/2). Selain Cibeo, di
Baduy Dalam terdapat dua kampong lain, yaitu Cikartawana dan Cikeusik. Namun,
leuit juga dimiliki oleh warga Baduy Luar yang tersebar di lebih dari 50
kampung. Dalam buku Potret Kehidupan Masyarakat Baduy yang ditulis Djoewisno MS
(1987), leuit merupakan cermin kehidupan kepala keluarga yang sudah mapan
membangun rumah tangga. Leuit merupakan wujud ketahanan pangan orang Baduy yang
diwariskan oleh leluhur mereka. Leuit memiliki ukuran beragam, bergantung pada
hasil panen padi huma para pemiliknya. Kapasitasnya bisa mencapai 1.000 pocong
(ikat) atau 2,5 ton sampai 3 ton. Padi huma ditanam di ladang tadah hujan.
Masyarakat Baduy menanam padi sekali setahun tanpa pupuk kimia.
Padi dipanen setelah berumur enam bulan. Setelah dipanen
menggunakan etem atau ani-ani, padi dijemur dan dibersihkan kelopak-kelopak
jerami dari tangkainya. Padi kemudian diikat dengan rapi dan diangin-anginkan
beberapa hari untuk menghilangkan debu atau kotoran yang melekat pada butiran
gabah. Setelah itu, dimasukkan ke lumbung dengan disusun secara rapi. Letak tangkai
di bagian dalam untuk menghindari kelembaban. Cara menyimpan padi yang
diwariskan turun-temurun ini mampu membuat padi tidak rusak dan tetap layak
dikonsumsi meski disimpan bertahun-tahun. Sarif menuturkan, padi di dalam leuit
berfungsi sebagai cadangan makanan. Jadi, tidak boleh digunakan sembarangan,
apalagi dijual. Beras dari padi leuit biasanya dipakai ketika hajatan dan acara
adat serta sebagai tabungan pangan untuk berjaga-jaga jika terjadi musibah.
Warga Baduy juga menanam palawija dan buah-buahan, seperti
durian, cempedak, dan rambutan. Sebagian warga juga membuat gula aren dari
pohon kawung. Hasil penjualannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dengan begitu, mereka tetap memiliki penghasilan tanpa harus menjual padi.
Selain itu, beberapa warga juga menjadi pemandu bagi pengunjung yang ingin
bersilaturahmi ke Baduy Dalam. Pengunjung mesti berjalan kaki sekitar 9 km dari
Terminal Ciboleger. Orang Baduy memiliki lambang kemakmuran sendiri, salah
satunya leuit. ”Semakin banyak leuit, berarti semakin makmur pemiliknya,” ujar
Ayah Naldi (43), warga Kampung Cibeo. Setiap kepala keluarga biasanya memiliki
lebih dari satu leuit. Bahkan, ada yang mempunyai 10 leuit. Namun, banyaknya
jumlah leuit tidak untuk dipamerkan. Apalagi, letaknya tidak berada di dekat
rumah, tetapi di pinggir perkampungan. (Yoga)
Potensi Penyimpanan Karbon RI Mencapai 577 Gigaton
Penghitungan yang dilakukan Kementerian ESDM menunjukkan potensi
penyimpanan karbon di Indonesia total sebesar 577 gigaton. Potensi penyimpanan terbesar
terletak di laut lepas utara Jatim. Terbitnya Perpres tentang penangkapan dan
penyimpanan karbon atau CCS diharapkan membuat teknologi itu benar-benar bisa
diterapkan di Indonesia. Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM
Tutuka Ariadji, dalam sosialisasi Perpres No 14 Tahun 2024 tentang CCS, di Jakarta,
Selasa (20/2) memaparkan bahwa dari hasil penghitungan dengan standar keteknikan
industri migas diketahui potensi kapasitas penyimpanan karbon dengan metode
saline aquifer (reservoir air bersalinitas tinggi) sebesar 572,77 gigaton dan
metode depleted oil and gas reservoir (reservoir migas yang telah mengalami
penurunan produksi) sebesar 4,85 gigaton, yang didapat dari penghitungan 20
cekungan (basin) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, yang statusnya
sudah berproduksi.
Kapasitas terbesar ada di cekungan North East Java yang terletak
di laut lepas utara Jatim. Cekungan diperkirakan mampu menyimpan karbon sebesar
100,83 gigaton dengan metode saline aquifer dan 0,151 gigaton dengan metode
depleted reservoir. CCS ialah teknologi penangkapan dan penyimpanan Emisi
karbon sehingga tidak terlepas ke atmosfer. Karbon yang dihasilkan, baik dari
industri migas maupun nonmigas, ditangkap lalu disuntikkan ke perut bumi. Pada
industri migas, karbon dioksida yang ditangkap dimanfaatkan untuk memberi
penambahan (incremental) produksi minyak ataupun gas bumi. Dengan demikian,
teknologi tersebut disebut carbon capture, utilization and storage (CCUS). Tutuka
menuturkan, angka tersebut masih berupa estimasi.
”Industri atau kita baru akan tahu berapa kapasitas persis penyimpanannya
setelah menginjeksikan (karbon dioksida). Sekarang, kan, belum injeksi. Jadi,
angka tersebut masih level paling dasar,” katanya. Perpres No 14/2024 tentang
Penyelenggaraan Kegiatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon, yang diundangkan 30
Januari 2024. melengkapi Permen ESDM No 2/2023 tentang Penyelenggaraan CCS dan
CCUS pada Kegiatan Usaha Hulu Migas. Salah satu hal yang tertuang dalam Perpres
No 14/2024 adalah praktik CCS lintas batas (cross border). Artinya, karbon
dioksida yang dihasilkan industri di negara lain dapat diangkut untuk kemudian
diinjeksikan ke depleted reservoir/saline aquifer di Indonesia, porsi untuk CCS
cross border 30 % dari total kapasitas, sisanya 70 %, untuk domestik. Terkait nilai
ekonomi praktik CCS, Tutuka mengemukakan bahwa saat ini masih terlalu awal
untuk menghitung nilai ekonomi yang didapat dari penerapan teknologi itu.
Menurut dia, yang menjadi prioritas saat ini ialah yang utama bisa jalan lebih
dulu. (Yoga)
Menggendong Problem Beras
Tahun ini, beban pemerintah menggendong problem beras bertambah
berat. Di tengah kenaikan harga sejumlah pangan pokok lain, persoalan beras
justru semakin pelik. Harganya makin melambung, jenis premium sulit didapat,
dan produksi dihantui perubahan cuaca. Perubahan cuaca akibat El Nino menjadi
sumber utama produksi beras. Musim paceklik beras bertambah panjang dari enam
bulan pada 2022/2023 menjadi delapan bulan pada 2023/2024. Puncak panen raya
padi mundur dari biasanya Maret menjadi April. Musim hujan tahun ini juga
diperkirakan berlangsung singkat, hanya selama Januari-Maret. Fenomena cuaca
itu menyebabkan musim hujan di Indonesia tidak merata. Ada daerah yang
frekuensi dan curah hujannya tinggi, serta ada pula yang sedang, bahkan rendah sekali.
Tidak mengherankan jika ada sejumlah daerah yang kebanjiran dan ada yang belum
tanam padi.
BNPB merilis, pada 2024, sejumlah pemda terdampak banjir
mengusulkan bantuan stimulan akibat puso terhadap lahan seluas 26.995,94 hektar
(ha) dengan petani sebanyak 35.500 orang. Khusus Jateng, luas lahan pertanian
yang gagal panen 16.321 ha dengan petani terdampak 6.439 orang. Kementan
menyebut areal persawahan yang belum ditanami padi atau bera per Februari 2024
seluas 2,67 juta ha. Dari jumlah itu, 2 juta ha sama sekali belum diolah dan
belum diolah, sedang 670.000 ha dalam tahap pengairan dan pengolahan. Faktor-faktor
itulah yang membuat harga beras semakin membubung tinggi pada tahun ini.
Apalagi, hal itu terjadi menjelang Ramadhan-Lebaran, periode ketika permintaan
terhadap sejumlah pangan pokok, termasuk beras, biasanya meningkat.
Berdasarkan Panel Harga Bapanas, per 20 Februari 2024, harga
rerata nasional beras medium Rp 14.110 per kg, naik 5,67 % secara bulanan dan
16,65 % secara tahunan. Kementan tengah berupaya mengakselerasi percepatan tanam
hingga 2 juta ha pada Februari-Maret 2023. Upaya itu akan dilakukan baik di
areal persawahan yang masih bera maupun yang bekas kebanjiran. Direktur
Serealia Direjen Tanaman Pangan Kementan Mohammad Ismail Wahab mengungkapkan,
pada Februari 2024, Kementan menargetkan menanam padi seluas 2 juta ha. Namun,
realisasinya hingga pertengahan bulan baru 576.000 ha. Dalam Rakor Pengendalian
Inflasi Daerah, Senin (19/2) Kantor Staf Presiden (KSP) menyampaikan,
tantangannya tidak hanya perubahan cuaca, tetapi juga infrastruktur. Berdasarkan
verifikasi lapangan tim KSP pekan lalu di Kabupaten Bogor, Sukabumi, Majalengka,
Jabar, terjadi kekurangan pasokan air sehingga ada daerah yang sudah mengolah
lahan dan ada daerah yang sama sekali belum melakukan hal itu. Sementara di
Sumedang, banjir melanda sejumlah daerah sehingga menyebabkan gagal panen atau
puso. (Yoga)
Gerakan Pangan Murah untuk Menekan Harga Beras
Segala upaya dilakukan agar masyarakat tak semakin tertekan
dengan kenaikan harga bahan pangan. Kenaikan harga bahan pangan di Kota
Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning)
terungkap dalam rakor ”Pengendalian Inflasi Daerah serta Percepatan dan Perluasan
Digitalisasi Daerah Se-Ciayumajakuning” di Kota Cirebon, Jabar, Selasa (20/2),
yang digelar Kantor Perwakilan BI Cirebon. Kepala Perwakilan BI Cirebon Anton
Pitono mengatakan, lonjakan harga sejumlah bahan pokok menunjukkan tingginya permintaan
konsumen. Di sisi lain, kenaikan harga itu juga menggambarkan anomali. ”(Sebab),
wilayah Ciayumajakuning sumber produksi pangan yang sangat melimpah,” ujarnya. ”Lonjakan
harga sejumlah bahan pangan tersebut dipicu mundurnya masa tanam karena fenomena
El Nino,” ucap Anton. Selain produksi, masalah distribusi turut membuat harga
bahan pangan meningkat.
Pj Wali Kota Cirebon Agus Mulyadi mengatakan, ”Selain
meningkatkan kerja sama dengan daerah lainnya, kami juga akan membuat gerakan
pangan murah untuk menekan harga,” ucapnya. Sementara itu, Pemerintah Kota
Ambon berencana membentuk tim khusus untuk fokus menangani semakin tingginya harga
bahan pangan pokok. Kadis Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota
Ambon Pieter Saimima menjelaskan, bersama dengan Dinas Perdagangan, Dinas
Pertanian, Dinas Perikanan, Perum Bulog, dan BI, pihaknya membangun kios
permanen yang menjual bahan pokok dengan harga murah di Pasar Mardika, Ambon.
Kehadiran kios ini agar operasi pasar bisa dilakukan secara berkelanjutan.
Salah satu cara menekan lonjakan harga beras adalah dengan
menggelar operasi pasar. Bulog Cabang Kedu, Jateng, terus melakukan operasi
pasar untuk menstabilkan harga beras, dengan menyuplai beras dengan harga murah
ke pasar tradisional serta ritel modern. Kepala Kantor Bulog Cabang Kedu Ihsan
Suradilaga mengatakan, beras murah itu diminati para pembeli di pasar tradisional
dan ritel modern. ”Rata-rata volume pengiriman beras ke ritel modern mencapai
1-2 ton per minggu. Namun, ada juga sejumlah ritel yang meminta hingga 2,5 ton
per minggu,” katanya. Wali Kota Magelang M Nur Aziz juga meminta Bulog terus melakukan
operasi pasar untuk menstabilkan harga beras. Dia berharap, harga beras bisa turun
hingga di bawah Rp 11.000 per kg. (Yoga)
Mandiri Pangan ala Suku Boti
Harga beras di seluruh wilayah Indonesia meroket sebulan
terakhir. Di Kota Kupang, NTT, harganya Rp 17.000 per kg untuk beras medium.
Harga termurah Rp 14.000 per kg dengan kondisi beras yang tak layak dikonsumsi
manusia. Selain berkutu, beras paling murah itu juga banyak kerikil dan beraroma
tidak sedap. Menurut data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, konsumsi
beras NTT sebanyak 117,189 kg per kapita per tahun. Angka tersebut berada di
atas rata-rata nasional, sedangkan produksi beras setempat masih jauh dari
total kebutuhan. Pada tahun 2022, produksi beras di NTT hanya 430.948,5 ton,
jauh di bawah kebutuhan setempat yang mencapai 642.367,53 ton. Perum Bulog
sebagai penyalur beras pemerintah pun tak bisa berbuat banyak. Operasi pasar
yang diklaim dapat mengatasi kenaikan harga beras seakan sia-sia..
Di tengah gonjang-ganjing harga beras, ada kelompok masyarakat
yang tidak terdampak karena memiliki kemandirian pangan lokal. Salah satunya
adalah kemandirian pangan suku Boti di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Komunitas adat itu berada 150 km timur laut dari Kota Kupang. Pada Agustus
2023, ketika musim kemarau panjang, persediaan makanan di komunitas yang
dipimpin Usif (Raja) Namah Benu itu cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Suku
Boti yang menganut kepercayaan lokal Halaika terdiri atas 76 keluarga dengan
jumlah anggota 329 jiwa. Makanan di lumbung mereka tersedia sepanjang tahun karena
mereka mempraktikkan pangan beragam dalam sistem pertanian lahan kering yang
mengandalkan hujan. Dalam satu areal lahan, mereka menanam padi, jagung, umbi-umbian,
pisang, dan kacang-kacangan. Setelah padi habis, mereka punya cadangan jagung
dan makanan lain.
Kala itu Usif Namah mengatakan, sepanjang komunitas suku Boti
ada, nyaris tidak ada cerita mengalami kelaparan. Padahal, wilayah sekitar dan
NTT pada umumnya pernah mengalami kelaparan selama beberapa kali dalam kurun waktu
60 tahun terakhir. Di luar itu, rawan pangan terjadi hampir setiap tahun di
NTT. ”Kami tidak kelaparan karena kami punya banyak jenis makanan,” ucapnya. Kelimpahan
makanan itu yang menjadi alasan bagi komunitas suku Boti menolak menerima
bantuan sosial berupa beras untuk warga miskin (raskin) dari pemerintah. Usif
Namah juga mengajarkan rakyatnya agar tidak bermental pemalas dengan menunggu
bantuan pemerintah. ”Kami tanamkan kepada mereka kerja keras. Kerja baru bisa
makan. Makanya, anak-anak semenjak kecil selalu kami ajak ke kebun untuk melihat
orangtuanya bekerja,” ujarnya. (Yoga)
Tak Hanya Beras, Harga Bahan Pokok Lain Pun Naik
Tak hanya beras, harga bahan pokok lain juga ikut naik
menjelang Ramadhan tahun ini, antara lain minyak goreng, gula pasir, cabai merah,
dan telur ayam ras. Warga berharap pemerintah mengendalikan harga sejumlah bahan
pangan tersebut. BPS mencatat, harga rerata nasional beras medium pada pekan ketiga
Februari 2024 mencapai Rp 14.380 per kg, naik 5,92 % dibandingkan Januari 2024.
Kenaikan harga beras terjadi di 179 kabupaten / kota dan harga beras di 20 % di
antaranya lebih tinggi dari harga rata-rata nasional. Kenaikan harga juga
terjadi pada komoditas cabai merah, minyak goreng, gula pasir, dan telur ayam
ras. Harga rerata nasional cabai merah tercatat Rp 55.359 per kg atau naik 3,58
% dibandingkan harga rerata di Januari 2024, sementara harga minyak goreng Rp
17.691 per liter (naik 1,25 %), telur ayam ras Rp 30.118 per kg (1,09 %), dan
gula pasir Rp 17.655 per kg (1,5 %).
Hal itu mengemuka dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah
yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta, Senin (19/2) yang dipimpin Irjen
Kemendagri Tomsi Tohir. Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji
Ismartini mengatakan, daerah yang mengalami kenaikan harga sejumlah komoditas
pangan juga bertambah. Untuk minyak goreng, jumlah kabupaten/kota yang
mengalami kenaikan harga bertambah dari 193 daerah menjadi 203 daerah dalam
sepekan. Begitu juga gula pasir dan cabai merah. Jumlah kabupaten /kota yang
mengalami kenaikan harga gula pasir bertambah dari 146 daerah menjadi 156 daerah,
sedang cabai merah dari 203 daerah menjadi 230 daerah. ”Kenaikan harga komoditas-komoditas
pangan itu perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan inflasi,” katanya. (Yoga)
”Gulo Puan”, Kudapan dari Susu Kerbau Rawa Kegemaran Raja Palembang
Berada 60 km atau 2 jam tenggara Palembang, Sumsel, Desa
Bangsal di Kecamatan Pampangan, Ogan Komering Ilir, punya arti penting dalam
sejarah kuliner di kalangan bangsawan keturunan penguasa kerajaan di Palembang.
Desa Bangsal adalah tempat lahirnya gulo puan, camilan dari olahan susu kerbau
rawa Pampangan, yang dijuluki ”Kudapannya Raja-raja Palembang”. Seusai menerima
2,5 liter susu kerbau dari menantunya, Paisol (44), di salah satu rumah di Desa
Bangsal, Kamis (7/12) Masnah (60) menyiapkan wajan, kompor gas, elpiji 3 kg,
ember kecil, dan gula pasir 0,5 kg. Masnah mencampur susu kerbau dan gula pasir
di ember kecil, lalu menuangkan adonan yang sudah tercampur rata itu ke wajan
dan mengaduknya perlahan dengan spatula. Api kompor disetel antara kecil dan sedang
karena proses masak harus bertahap 1-2 jam. Setelah melihat adonan mengental,
Masnah mengaduknya perlahan hingga campuran susu kerbau dan gula mengkristal,
kering kasar kecoklatan. Sekilas teksturnya mirip gula aren, dengan warna lebih
pucat. Hasil masakan itulah yang disebut gulo puan. Camilan itu berasal dari
dua suku kata, ”gulo” yang artinya gula atau manis dan ”puan” yang artinya
susu. Maksudnya, gula susu atau manisan dari susu. Tak jarang gulo puan menjadi
teman minum teh atau kopi. Ada juga yang memakannya langsung.
Menurut Masnah, membuat gulo puan menjadi tradisi yang diwariskan
turun-temurun kepada para perempuan di Desa Bangsal. Masnah belajar membuat gulo
puan menjelang pernikahannya dengan Junaidi (70) pada tahun 1979, tujuannya
agar bisa menambah pemasukan keluarga atau membantu suami tanpa mengganggu
tanggung jawabnya dalam keluarga. Hasil dari gulo puan dinilai cukup
menjanjikan. Untuk menghasilkan 1 kg gulo puan, bahan yang dibutuhkan adalah
2,5 liter susu kerbau seharga Rp 62.500 (Rp 25.000 per liter) dan 0,5 kg gula
pasir seharga Rp 8.000 (Rp 16.000 per kg). Selain itu, elpiji 3 kg seharga Rp
20.000 per tabung, tapi bisa digunakan memasak dalam 2-7 hari. Dengan modal
produksi Rp 70.500, harga jual gulo puan bisa mencapai Rp 120.000 per kg.
Artinya, ada keuntungan Rp 49.500, belum termasuk keuntungan dari penjualan
produk turunan, seperti minyak samin seharga Rp 200.000 per kg dan mentega Rp
80.000 per kg. Namun, butuh proses masak berulang atau dalam jumlah besar untuk
menghasilkan 1 kg minyak samin dan 1 kg mentega. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









