”Leuit”, Simbol Ketahanan Pangan dan Lambang Kemakmuran
Bagi masyarakat suku Baduy, leuit atau lumbung padi bukan
sekadar tempat menyimpan hasil panen. Bangunan bertiang kayu, berdinding
anyaman bambu, dan beratap daun rumbia atau kirai itu menjadi simbol ketahanan
pangan sekaligus lambang kemakmuran urang Kanekes, di Baduy Dalam, Desa
Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. ”Hampir semua warga Baduy
memiliki leuit. Hasil panen padi dari puluhan tahun lalu disimpan di situ,”
ujar Sarif (38), warga Kampung Cibeo, Baduy Dalam (10/2). Selain Cibeo, di
Baduy Dalam terdapat dua kampong lain, yaitu Cikartawana dan Cikeusik. Namun,
leuit juga dimiliki oleh warga Baduy Luar yang tersebar di lebih dari 50
kampung. Dalam buku Potret Kehidupan Masyarakat Baduy yang ditulis Djoewisno MS
(1987), leuit merupakan cermin kehidupan kepala keluarga yang sudah mapan
membangun rumah tangga. Leuit merupakan wujud ketahanan pangan orang Baduy yang
diwariskan oleh leluhur mereka. Leuit memiliki ukuran beragam, bergantung pada
hasil panen padi huma para pemiliknya. Kapasitasnya bisa mencapai 1.000 pocong
(ikat) atau 2,5 ton sampai 3 ton. Padi huma ditanam di ladang tadah hujan.
Masyarakat Baduy menanam padi sekali setahun tanpa pupuk kimia.
Padi dipanen setelah berumur enam bulan. Setelah dipanen
menggunakan etem atau ani-ani, padi dijemur dan dibersihkan kelopak-kelopak
jerami dari tangkainya. Padi kemudian diikat dengan rapi dan diangin-anginkan
beberapa hari untuk menghilangkan debu atau kotoran yang melekat pada butiran
gabah. Setelah itu, dimasukkan ke lumbung dengan disusun secara rapi. Letak tangkai
di bagian dalam untuk menghindari kelembaban. Cara menyimpan padi yang
diwariskan turun-temurun ini mampu membuat padi tidak rusak dan tetap layak
dikonsumsi meski disimpan bertahun-tahun. Sarif menuturkan, padi di dalam leuit
berfungsi sebagai cadangan makanan. Jadi, tidak boleh digunakan sembarangan,
apalagi dijual. Beras dari padi leuit biasanya dipakai ketika hajatan dan acara
adat serta sebagai tabungan pangan untuk berjaga-jaga jika terjadi musibah.
Warga Baduy juga menanam palawija dan buah-buahan, seperti
durian, cempedak, dan rambutan. Sebagian warga juga membuat gula aren dari
pohon kawung. Hasil penjualannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dengan begitu, mereka tetap memiliki penghasilan tanpa harus menjual padi.
Selain itu, beberapa warga juga menjadi pemandu bagi pengunjung yang ingin
bersilaturahmi ke Baduy Dalam. Pengunjung mesti berjalan kaki sekitar 9 km dari
Terminal Ciboleger. Orang Baduy memiliki lambang kemakmuran sendiri, salah
satunya leuit. ”Semakin banyak leuit, berarti semakin makmur pemiliknya,” ujar
Ayah Naldi (43), warga Kampung Cibeo. Setiap kepala keluarga biasanya memiliki
lebih dari satu leuit. Bahkan, ada yang mempunyai 10 leuit. Namun, banyaknya
jumlah leuit tidak untuk dipamerkan. Apalagi, letaknya tidak berada di dekat
rumah, tetapi di pinggir perkampungan. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023