Mandiri Pangan ala Suku Boti
Harga beras di seluruh wilayah Indonesia meroket sebulan
terakhir. Di Kota Kupang, NTT, harganya Rp 17.000 per kg untuk beras medium.
Harga termurah Rp 14.000 per kg dengan kondisi beras yang tak layak dikonsumsi
manusia. Selain berkutu, beras paling murah itu juga banyak kerikil dan beraroma
tidak sedap. Menurut data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, konsumsi
beras NTT sebanyak 117,189 kg per kapita per tahun. Angka tersebut berada di
atas rata-rata nasional, sedangkan produksi beras setempat masih jauh dari
total kebutuhan. Pada tahun 2022, produksi beras di NTT hanya 430.948,5 ton,
jauh di bawah kebutuhan setempat yang mencapai 642.367,53 ton. Perum Bulog
sebagai penyalur beras pemerintah pun tak bisa berbuat banyak. Operasi pasar
yang diklaim dapat mengatasi kenaikan harga beras seakan sia-sia..
Di tengah gonjang-ganjing harga beras, ada kelompok masyarakat
yang tidak terdampak karena memiliki kemandirian pangan lokal. Salah satunya
adalah kemandirian pangan suku Boti di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Komunitas adat itu berada 150 km timur laut dari Kota Kupang. Pada Agustus
2023, ketika musim kemarau panjang, persediaan makanan di komunitas yang
dipimpin Usif (Raja) Namah Benu itu cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Suku
Boti yang menganut kepercayaan lokal Halaika terdiri atas 76 keluarga dengan
jumlah anggota 329 jiwa. Makanan di lumbung mereka tersedia sepanjang tahun karena
mereka mempraktikkan pangan beragam dalam sistem pertanian lahan kering yang
mengandalkan hujan. Dalam satu areal lahan, mereka menanam padi, jagung, umbi-umbian,
pisang, dan kacang-kacangan. Setelah padi habis, mereka punya cadangan jagung
dan makanan lain.
Kala itu Usif Namah mengatakan, sepanjang komunitas suku Boti
ada, nyaris tidak ada cerita mengalami kelaparan. Padahal, wilayah sekitar dan
NTT pada umumnya pernah mengalami kelaparan selama beberapa kali dalam kurun waktu
60 tahun terakhir. Di luar itu, rawan pangan terjadi hampir setiap tahun di
NTT. ”Kami tidak kelaparan karena kami punya banyak jenis makanan,” ucapnya. Kelimpahan
makanan itu yang menjadi alasan bagi komunitas suku Boti menolak menerima
bantuan sosial berupa beras untuk warga miskin (raskin) dari pemerintah. Usif
Namah juga mengajarkan rakyatnya agar tidak bermental pemalas dengan menunggu
bantuan pemerintah. ”Kami tanamkan kepada mereka kerja keras. Kerja baru bisa
makan. Makanya, anak-anak semenjak kecil selalu kami ajak ke kebun untuk melihat
orangtuanya bekerja,” ujarnya. (Yoga)
Postingan Terkait
Bulog Ajukan Tambahan Modal Rp 6 Triliun
Politik Pangan Indonesia Picu Optimisme
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023