Lingkungan Hidup
( 5820 )Menggendong Problem Beras
Tahun ini, beban pemerintah menggendong problem beras bertambah
berat. Di tengah kenaikan harga sejumlah pangan pokok lain, persoalan beras
justru semakin pelik. Harganya makin melambung, jenis premium sulit didapat,
dan produksi dihantui perubahan cuaca. Perubahan cuaca akibat El Nino menjadi
sumber utama produksi beras. Musim paceklik beras bertambah panjang dari enam
bulan pada 2022/2023 menjadi delapan bulan pada 2023/2024. Puncak panen raya
padi mundur dari biasanya Maret menjadi April. Musim hujan tahun ini juga
diperkirakan berlangsung singkat, hanya selama Januari-Maret. Fenomena cuaca
itu menyebabkan musim hujan di Indonesia tidak merata. Ada daerah yang
frekuensi dan curah hujannya tinggi, serta ada pula yang sedang, bahkan rendah sekali.
Tidak mengherankan jika ada sejumlah daerah yang kebanjiran dan ada yang belum
tanam padi.
BNPB merilis, pada 2024, sejumlah pemda terdampak banjir
mengusulkan bantuan stimulan akibat puso terhadap lahan seluas 26.995,94 hektar
(ha) dengan petani sebanyak 35.500 orang. Khusus Jateng, luas lahan pertanian
yang gagal panen 16.321 ha dengan petani terdampak 6.439 orang. Kementan
menyebut areal persawahan yang belum ditanami padi atau bera per Februari 2024
seluas 2,67 juta ha. Dari jumlah itu, 2 juta ha sama sekali belum diolah dan
belum diolah, sedang 670.000 ha dalam tahap pengairan dan pengolahan. Faktor-faktor
itulah yang membuat harga beras semakin membubung tinggi pada tahun ini.
Apalagi, hal itu terjadi menjelang Ramadhan-Lebaran, periode ketika permintaan
terhadap sejumlah pangan pokok, termasuk beras, biasanya meningkat.
Berdasarkan Panel Harga Bapanas, per 20 Februari 2024, harga
rerata nasional beras medium Rp 14.110 per kg, naik 5,67 % secara bulanan dan
16,65 % secara tahunan. Kementan tengah berupaya mengakselerasi percepatan tanam
hingga 2 juta ha pada Februari-Maret 2023. Upaya itu akan dilakukan baik di
areal persawahan yang masih bera maupun yang bekas kebanjiran. Direktur
Serealia Direjen Tanaman Pangan Kementan Mohammad Ismail Wahab mengungkapkan,
pada Februari 2024, Kementan menargetkan menanam padi seluas 2 juta ha. Namun,
realisasinya hingga pertengahan bulan baru 576.000 ha. Dalam Rakor Pengendalian
Inflasi Daerah, Senin (19/2) Kantor Staf Presiden (KSP) menyampaikan,
tantangannya tidak hanya perubahan cuaca, tetapi juga infrastruktur. Berdasarkan
verifikasi lapangan tim KSP pekan lalu di Kabupaten Bogor, Sukabumi, Majalengka,
Jabar, terjadi kekurangan pasokan air sehingga ada daerah yang sudah mengolah
lahan dan ada daerah yang sama sekali belum melakukan hal itu. Sementara di
Sumedang, banjir melanda sejumlah daerah sehingga menyebabkan gagal panen atau
puso. (Yoga)
Gerakan Pangan Murah untuk Menekan Harga Beras
Segala upaya dilakukan agar masyarakat tak semakin tertekan
dengan kenaikan harga bahan pangan. Kenaikan harga bahan pangan di Kota
Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning)
terungkap dalam rakor ”Pengendalian Inflasi Daerah serta Percepatan dan Perluasan
Digitalisasi Daerah Se-Ciayumajakuning” di Kota Cirebon, Jabar, Selasa (20/2),
yang digelar Kantor Perwakilan BI Cirebon. Kepala Perwakilan BI Cirebon Anton
Pitono mengatakan, lonjakan harga sejumlah bahan pokok menunjukkan tingginya permintaan
konsumen. Di sisi lain, kenaikan harga itu juga menggambarkan anomali. ”(Sebab),
wilayah Ciayumajakuning sumber produksi pangan yang sangat melimpah,” ujarnya. ”Lonjakan
harga sejumlah bahan pangan tersebut dipicu mundurnya masa tanam karena fenomena
El Nino,” ucap Anton. Selain produksi, masalah distribusi turut membuat harga
bahan pangan meningkat.
Pj Wali Kota Cirebon Agus Mulyadi mengatakan, ”Selain
meningkatkan kerja sama dengan daerah lainnya, kami juga akan membuat gerakan
pangan murah untuk menekan harga,” ucapnya. Sementara itu, Pemerintah Kota
Ambon berencana membentuk tim khusus untuk fokus menangani semakin tingginya harga
bahan pangan pokok. Kadis Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota
Ambon Pieter Saimima menjelaskan, bersama dengan Dinas Perdagangan, Dinas
Pertanian, Dinas Perikanan, Perum Bulog, dan BI, pihaknya membangun kios
permanen yang menjual bahan pokok dengan harga murah di Pasar Mardika, Ambon.
Kehadiran kios ini agar operasi pasar bisa dilakukan secara berkelanjutan.
Salah satu cara menekan lonjakan harga beras adalah dengan
menggelar operasi pasar. Bulog Cabang Kedu, Jateng, terus melakukan operasi
pasar untuk menstabilkan harga beras, dengan menyuplai beras dengan harga murah
ke pasar tradisional serta ritel modern. Kepala Kantor Bulog Cabang Kedu Ihsan
Suradilaga mengatakan, beras murah itu diminati para pembeli di pasar tradisional
dan ritel modern. ”Rata-rata volume pengiriman beras ke ritel modern mencapai
1-2 ton per minggu. Namun, ada juga sejumlah ritel yang meminta hingga 2,5 ton
per minggu,” katanya. Wali Kota Magelang M Nur Aziz juga meminta Bulog terus melakukan
operasi pasar untuk menstabilkan harga beras. Dia berharap, harga beras bisa turun
hingga di bawah Rp 11.000 per kg. (Yoga)
Mandiri Pangan ala Suku Boti
Harga beras di seluruh wilayah Indonesia meroket sebulan
terakhir. Di Kota Kupang, NTT, harganya Rp 17.000 per kg untuk beras medium.
Harga termurah Rp 14.000 per kg dengan kondisi beras yang tak layak dikonsumsi
manusia. Selain berkutu, beras paling murah itu juga banyak kerikil dan beraroma
tidak sedap. Menurut data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, konsumsi
beras NTT sebanyak 117,189 kg per kapita per tahun. Angka tersebut berada di
atas rata-rata nasional, sedangkan produksi beras setempat masih jauh dari
total kebutuhan. Pada tahun 2022, produksi beras di NTT hanya 430.948,5 ton,
jauh di bawah kebutuhan setempat yang mencapai 642.367,53 ton. Perum Bulog
sebagai penyalur beras pemerintah pun tak bisa berbuat banyak. Operasi pasar
yang diklaim dapat mengatasi kenaikan harga beras seakan sia-sia..
Di tengah gonjang-ganjing harga beras, ada kelompok masyarakat
yang tidak terdampak karena memiliki kemandirian pangan lokal. Salah satunya
adalah kemandirian pangan suku Boti di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Komunitas adat itu berada 150 km timur laut dari Kota Kupang. Pada Agustus
2023, ketika musim kemarau panjang, persediaan makanan di komunitas yang
dipimpin Usif (Raja) Namah Benu itu cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Suku
Boti yang menganut kepercayaan lokal Halaika terdiri atas 76 keluarga dengan
jumlah anggota 329 jiwa. Makanan di lumbung mereka tersedia sepanjang tahun karena
mereka mempraktikkan pangan beragam dalam sistem pertanian lahan kering yang
mengandalkan hujan. Dalam satu areal lahan, mereka menanam padi, jagung, umbi-umbian,
pisang, dan kacang-kacangan. Setelah padi habis, mereka punya cadangan jagung
dan makanan lain.
Kala itu Usif Namah mengatakan, sepanjang komunitas suku Boti
ada, nyaris tidak ada cerita mengalami kelaparan. Padahal, wilayah sekitar dan
NTT pada umumnya pernah mengalami kelaparan selama beberapa kali dalam kurun waktu
60 tahun terakhir. Di luar itu, rawan pangan terjadi hampir setiap tahun di
NTT. ”Kami tidak kelaparan karena kami punya banyak jenis makanan,” ucapnya. Kelimpahan
makanan itu yang menjadi alasan bagi komunitas suku Boti menolak menerima
bantuan sosial berupa beras untuk warga miskin (raskin) dari pemerintah. Usif
Namah juga mengajarkan rakyatnya agar tidak bermental pemalas dengan menunggu
bantuan pemerintah. ”Kami tanamkan kepada mereka kerja keras. Kerja baru bisa
makan. Makanya, anak-anak semenjak kecil selalu kami ajak ke kebun untuk melihat
orangtuanya bekerja,” ujarnya. (Yoga)
Tak Hanya Beras, Harga Bahan Pokok Lain Pun Naik
Tak hanya beras, harga bahan pokok lain juga ikut naik
menjelang Ramadhan tahun ini, antara lain minyak goreng, gula pasir, cabai merah,
dan telur ayam ras. Warga berharap pemerintah mengendalikan harga sejumlah bahan
pangan tersebut. BPS mencatat, harga rerata nasional beras medium pada pekan ketiga
Februari 2024 mencapai Rp 14.380 per kg, naik 5,92 % dibandingkan Januari 2024.
Kenaikan harga beras terjadi di 179 kabupaten / kota dan harga beras di 20 % di
antaranya lebih tinggi dari harga rata-rata nasional. Kenaikan harga juga
terjadi pada komoditas cabai merah, minyak goreng, gula pasir, dan telur ayam
ras. Harga rerata nasional cabai merah tercatat Rp 55.359 per kg atau naik 3,58
% dibandingkan harga rerata di Januari 2024, sementara harga minyak goreng Rp
17.691 per liter (naik 1,25 %), telur ayam ras Rp 30.118 per kg (1,09 %), dan
gula pasir Rp 17.655 per kg (1,5 %).
Hal itu mengemuka dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah
yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta, Senin (19/2) yang dipimpin Irjen
Kemendagri Tomsi Tohir. Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji
Ismartini mengatakan, daerah yang mengalami kenaikan harga sejumlah komoditas
pangan juga bertambah. Untuk minyak goreng, jumlah kabupaten/kota yang
mengalami kenaikan harga bertambah dari 193 daerah menjadi 203 daerah dalam
sepekan. Begitu juga gula pasir dan cabai merah. Jumlah kabupaten /kota yang
mengalami kenaikan harga gula pasir bertambah dari 146 daerah menjadi 156 daerah,
sedang cabai merah dari 203 daerah menjadi 230 daerah. ”Kenaikan harga komoditas-komoditas
pangan itu perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan inflasi,” katanya. (Yoga)
”Gulo Puan”, Kudapan dari Susu Kerbau Rawa Kegemaran Raja Palembang
Berada 60 km atau 2 jam tenggara Palembang, Sumsel, Desa
Bangsal di Kecamatan Pampangan, Ogan Komering Ilir, punya arti penting dalam
sejarah kuliner di kalangan bangsawan keturunan penguasa kerajaan di Palembang.
Desa Bangsal adalah tempat lahirnya gulo puan, camilan dari olahan susu kerbau
rawa Pampangan, yang dijuluki ”Kudapannya Raja-raja Palembang”. Seusai menerima
2,5 liter susu kerbau dari menantunya, Paisol (44), di salah satu rumah di Desa
Bangsal, Kamis (7/12) Masnah (60) menyiapkan wajan, kompor gas, elpiji 3 kg,
ember kecil, dan gula pasir 0,5 kg. Masnah mencampur susu kerbau dan gula pasir
di ember kecil, lalu menuangkan adonan yang sudah tercampur rata itu ke wajan
dan mengaduknya perlahan dengan spatula. Api kompor disetel antara kecil dan sedang
karena proses masak harus bertahap 1-2 jam. Setelah melihat adonan mengental,
Masnah mengaduknya perlahan hingga campuran susu kerbau dan gula mengkristal,
kering kasar kecoklatan. Sekilas teksturnya mirip gula aren, dengan warna lebih
pucat. Hasil masakan itulah yang disebut gulo puan. Camilan itu berasal dari
dua suku kata, ”gulo” yang artinya gula atau manis dan ”puan” yang artinya
susu. Maksudnya, gula susu atau manisan dari susu. Tak jarang gulo puan menjadi
teman minum teh atau kopi. Ada juga yang memakannya langsung.
Menurut Masnah, membuat gulo puan menjadi tradisi yang diwariskan
turun-temurun kepada para perempuan di Desa Bangsal. Masnah belajar membuat gulo
puan menjelang pernikahannya dengan Junaidi (70) pada tahun 1979, tujuannya
agar bisa menambah pemasukan keluarga atau membantu suami tanpa mengganggu
tanggung jawabnya dalam keluarga. Hasil dari gulo puan dinilai cukup
menjanjikan. Untuk menghasilkan 1 kg gulo puan, bahan yang dibutuhkan adalah
2,5 liter susu kerbau seharga Rp 62.500 (Rp 25.000 per liter) dan 0,5 kg gula
pasir seharga Rp 8.000 (Rp 16.000 per kg). Selain itu, elpiji 3 kg seharga Rp
20.000 per tabung, tapi bisa digunakan memasak dalam 2-7 hari. Dengan modal
produksi Rp 70.500, harga jual gulo puan bisa mencapai Rp 120.000 per kg.
Artinya, ada keuntungan Rp 49.500, belum termasuk keuntungan dari penjualan
produk turunan, seperti minyak samin seharga Rp 200.000 per kg dan mentega Rp
80.000 per kg. Namun, butuh proses masak berulang atau dalam jumlah besar untuk
menghasilkan 1 kg minyak samin dan 1 kg mentega. (Yoga)
Siasat Berhemat Saat Harga Bahan Pokok Melesat
Dompet warga kelas ekonomi menengah turut terdampak akibat
kenaikan harga bahan pokok yang kian melesat. Mereka pun harus memiliki siasat
untuk berhemat. Warga Jakarta Timur, Alfiyah (35) meminta uang lebih sebesar Rp
150.000 kepada suaminya untuk belanja bulanan akibat harga sejumlah komoditas
naik, seperti cabai merah hingga beras. ”Yang paling terasa itu harga cabai
rawit dari Rp 65.000 menjadi Rp 90.000 per kg dalam seminggu. Naiknya tidak
tanggung-tanggung, Rp 25.000,” katanya, Senin (19/2). Alfiyah mengaku tidak mengurangi
atau mengubah masakannya, kecuali pengurangan cabai. Ia lebih memilih menambah
pengeluaran dibandingkan pemangkasan pengeluaran. Belanja bulanan bahan pangan
yang biasanya dianggarkan Rp 3,5 juta untuk empat orang, kini ditambah Rp 150.000
sejak awal Februari.
”Paling mengurangi cabai saja. Kalau harga cabai lagi murah,
pakai cabainya untuk sambal lebih banyak. Kalau harga naik, jumlahnya
dikurangi,” tutur Alfiyah yang juga bekerja sebagai pedagang baju ini. Satu
bulan lalu, harga beras premium Rp 75.000 per 5 kg. Lalu, naik menjadi Rp
84.000 per 5 kg. Meski kenaikan hanya Rp 10.000, sangat terasa bagi Alfiyah. Karyawan
swasta di Jakarta Pusat, Rista Ayodia (24) merasa kenaikan harga di sejumlah
komoditas turut memengaruhi pemangkasan diskon dalam berbelanja makanan secara
daring di lokapasar. ”Sebagai anak kos, saya lebih sering memesan makanan secara
daring karena menunya lebih beragam dan banyak diskon. Tetapi, sejak sebulan
terakhir, saya merasa promo yang ditawarkan semakin berkurang. Biasanya Rp
32.000 sudah dapat dua makanan, tetapi sekarang nyaris Rp 40.000 untuk dua
makanan harga termurah,” kata Rista.
Rista harus putar otak, selisih harga Rp 5.000 hingga Rp
10.000 cukup tinggi baginya. Ia pun mulai beralih membeli makanan secara
langsung ke warung terdekat dengan harga Rp 15.000 per porsi, yang sesuai
anggarannya. Penghasilan Rista sebulan Rp 7 juta. Warga asal Magelang, Jateng,
ini hidup sendiri dengan menyewa kos di Jakarta. Kenaikan harga kebutuhan pokok
juga berdampak pada pelaku usaha makanan di Jakarta. Para penjual makanan harus
menempuh beragam strategi agar bertahan. Penjual sate taichan di Jaksel, Ahmad
Hartono (32) misalnya, menambahkan lebih banyak air di sambal buatannya. ”Bahan
utama di sate taichan itu cabai. Jadi harus tetap ada dan enak. Saya menambahkan
sedikit air agar sambalnya bisa lebih banyak karena harga cabai sangat mahal
sekarang,” katanya. (Yoga)
POTENSI MIGAS : Sumur Eksplorasi Prospektif dari Sumbagut
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumatra Bagian Utara (Sumbagus) mengungkapkan bahwa ada dua penemuan besar sepanjang tahun lalu oleh Kontaktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah tersebut.Kepala SKK Migas Sumbagut Rikky Rahmat Firdaus mengatakan bahwa penemuan besar itu pertama adalah Geng North di wilayah Laut Kalimantan dan Layaran, di mana Sumur Layaran-1 atau sumur gas, berasal dari KKKS Mubadala Energy di lepas pantai (offshore) Provinsi Aceh. Berdasarkan laporan dari Mubadala Energy (South Andaman) RSC Ltd, imbuhnya, temuan sumur Layaran-1 memiliki potensi mencapai 6 triliun kaki kubik (TCF) gas-in-place. Temuan ini bahkan melebihi dari penemuan sumur Geng North-1 belum lama ini yang digadang-gadang masuk ke dalam tiga besar dunia. Selain temuan di wilayah offshore Aceh tersebut, sumur eksplorasi lainnya yang berhasil discovery yaitu di sumur BLN-01 oleh KKKS EMP Tunas Energy di wilayah kerja (WK) South CPP, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.Sumur BLN-01 akan dibor sedalam 1.950 feet atau sekitar 700.
Ada juga potensi cadangan migas dari sumur Sidingin 1 oleh KKKS Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Provinsi Riau.Dia mengakui pencapaian penting pada 2023 ini adalah hasil dari kegiatan pengeboran sumur di wilayah Sumbagut yang mencapai 545 sumur, yang terdiri atas 12 sumur eksplorasi, dan 533 sumur pengembangan.
BAHAN PANGAN : HARGA BERAS TERPICU FAKTOR MUSIMAN
Pemerintah menyatakan kenaikan harga beras di pasar dipicu oleh faktor musiman berupa berkurangnya pasokan komoditas pangan setiap periode Januari—Februari.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan pasokan beras memang berkurang akibat panen padi yang mundur di tengah fenomena El Nino.“Kenapa harga beras premium naik? Ini soal supply dan demand,” katanya saat memantau stok beras di salah satu gerai ritel modern di Jakarta, Senin (19/2).Dia menjelaskan stok beras yang terbatas membuat harga melambung. Bahkan, kenaikan harga beras premium sudah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintaha. Saat ini, harga beras premium sudah menyentuh level Rp72.000 per 5 kilogram (kg) hingga Rp80.000 per 5 kg, sedangkan HET beras premium ditetapkan Rp69.500 per 5 kg.Selain pasaokan berkurang, Mendag menambahkan disparitas harga yang tinggi juga memicu kelangkaan beras di ritel modern. Saat ini, konsumen beras premium mulai beralih ke beras program stabilitas pasokan harga pangan (SPHP) yang juga menyebabkan pasokan beras SPHP cepat habis.
Menurutnya, pasokan beras premium ke ritel modern mengalami hambatan hingga menimbulkan kelangkaan. Peritel kesulitan mendatangkan beras premium lantaran ada kenaikan harga di tingkat produsen yang melampaui HET.
Namun, Zulkifli menegaskan bahwa kecepatan suplai menjadi kunci untuk mencegah kelangkaan dan kenaikan harga beras.
Deputi III Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Bidang Perekonomian Edy Priyono sependapat dengan pernyataan Mendag. Dia menilai akar masalah mahalnya harga beras beberapa waktu terakhir imbas dari suplai yang menurun.
Faktor El Nino memicu masa tanam padi mundur dan volumenya turun. Bahkan, dia mengamini bahwa terjadi gagal tanam di sejumlah daerah. Edy menjelaskan rendahnya produksi juga sudah diproyeksikan BPS sejak November 2023 yaitu di bawah 2,5 juta ton.
Sebaliknya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah bahan pangan mengalami lonjakan harga usai pemilu atau menjelang Ramadan.Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan harga cabai merah, minyak goreng, telur, daging ayam, beras dan gula pasir menjadi penyumbang kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan ketiga Februari 2024 di sejumlah daerah.
Secara terperinci, komoditas dengan andil terbesar kenaikan IPH di Sumatra didominasi oleh cabai merah, daging ayam ras dan beras. Untuk komoditas penyumbang terbesar kenaikan IPH di Pulau Jawa didominasi oleh beras, cabai merah dan daging ayam ras.Untuk di luar Sumatra dan Jawa kenaikan IPH didominasi oleh komoditas daging ayam ras, cabai rawit, beras dan cabai merah.
Di samping itu, perkembangan harga minyak goreng pada pekan ketiga Februari 2024 juga naik sekitar 1,25% dibandingkan harga rata-rata Januari 2024 yaitu mencapai Rp17.691 per liter.
Di samping itu, perkembangan harga minyak goreng pada pekan ketiga Februari 2024 juga naik sekitar 1,25% dibandingkan harga rata-rata Januari 2024 yaitu mencapai Rp17.691 per liter.
Menjelang Ramadan, Pemerintah Jaga Pasokan Sembako
Harga Beras Terus Meroket, Perlu Langkah Lanjutan
Langkah pemerintah menggelontorkan beras ke ritel, pasar
swalayan, dan pasar-pasar di daerah ternyata belum mampu menahan kenaikan harga
beras. Harga beras di sejumlah daerah hingga Minggu (18/2) masih terus naik.
Sejumlah langkah yang telah dilakukan pemerintah sepanjang pekan lalu belum
cukup untuk meredam lonjakan harga. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah
lanjutan untuk mengatasi persoalan ini. Berdasarkan pantauan Kompas, harga
beras medium di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jabar, pada Minggu sudah melesat
hingga Rp 17.500 per kg. Hanya dua hari, kenaikannya Rp 2.500 per kg. Fadhil (24),
pedagang di Pa- sar Kosambi, mengaku, kenaikan ini terbilang tinggi. Biasanya
harga beras medium hanya Rp 13.000 per kg. Dari distributornya di Sragen, Jateng,
ia mendapat informasi bahwa mereka tidak memiliki banyak stok untuk dijual. Harga
beras premium pun belum terkendali, dari biasanya Rp 16.000 per kg kini menjadi
Rp 18.000 per kg. Fadhil berharap pemerintah bisa mencari jalan keluar masalah
ini.
”Semua jenis beras susah didapat. Saya sudah pesan 3 ton
beras ke distributor di Jateng sejak dua pekan lalu. Namun, sampai sekarang belum
ada barangnya,” kata Fadhil lesu. Harga beras saat ini sudah jauh melampaui HET
yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni Rp 10.900-Rp 11.800 per kg berdasarkan
zonasi untuk beras medium. Branch Corporate Communication Alfamart Bandung Elisa
Refila mengungkapkan, pelaku usaha ritel kesulitan memenuhi stok beras premium.
”Kondisi ini terjadi di ritel kami dan supermarket lainnya. Kami terus berupaya
mengatasi kondisi ini dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat,”
ujarnya. Tidak hanya di kota besar, kelangkaan beras premium juga terjadi di sentra
padi, seperti di Kabupaten Cirebon. Sabtu (17/2) sore, seorang warga,
Artantiani Putri (32), kesulitan mendapatkan beras premium. Di supermarket
Griya Jamblang, tempat penjualan beras kosong melompong. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









