;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Menggendong Problem Beras

21 Feb 2024

Tahun ini, beban pemerintah menggendong problem beras bertambah berat. Di tengah kenaikan harga sejumlah pangan pokok lain, persoalan beras justru semakin pelik. Harganya makin melambung, jenis premium sulit didapat, dan produksi dihantui perubahan cuaca. Perubahan cuaca akibat El Nino menjadi sumber utama produksi beras. Musim paceklik beras bertambah panjang dari enam bulan pada 2022/2023 menjadi delapan bulan pada 2023/2024. Puncak panen raya padi mundur dari biasanya Maret menjadi April. Musim hujan tahun ini juga diperkirakan berlangsung singkat, hanya selama Januari-Maret. Fenomena cuaca itu menyebabkan musim hujan di Indonesia tidak merata. Ada daerah yang frekuensi dan curah hujannya tinggi, serta ada pula yang sedang, bahkan rendah sekali. Tidak mengherankan jika ada sejumlah daerah yang kebanjiran dan ada yang belum tanam padi.

BNPB merilis, pada 2024, sejumlah pemda terdampak banjir mengusulkan bantuan stimulan akibat puso terhadap lahan seluas 26.995,94 hektar (ha) dengan petani sebanyak 35.500 orang. Khusus Jateng, luas lahan pertanian yang gagal panen 16.321 ha dengan petani terdampak 6.439 orang. Kementan menyebut areal persawahan yang belum ditanami padi atau bera per Februari 2024 seluas 2,67 juta ha. Dari jumlah itu, 2 juta ha sama sekali belum diolah dan belum diolah, sedang 670.000 ha dalam tahap pengairan dan pengolahan. Faktor-faktor itulah yang membuat harga beras semakin membubung tinggi pada tahun ini. Apalagi, hal itu terjadi menjelang Ramadhan-Lebaran, periode ketika permintaan terhadap sejumlah pangan pokok, termasuk beras, biasanya meningkat.

Berdasarkan Panel Harga Bapanas, per 20 Februari 2024, harga rerata nasional beras medium Rp 14.110 per kg, naik 5,67 % secara bulanan dan 16,65 % secara tahunan. Kementan tengah berupaya mengakselerasi percepatan tanam hingga 2 juta ha pada Februari-Maret 2023. Upaya itu akan dilakukan baik di areal persawahan yang masih bera maupun yang bekas kebanjiran. Direktur Serealia Direjen Tanaman Pangan Kementan Mohammad Ismail Wahab mengungkapkan, pada Februari 2024, Kementan menargetkan menanam padi seluas 2 juta ha. Namun, realisasinya hingga pertengahan bulan baru 576.000 ha. Dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah, Senin (19/2) Kantor Staf Presiden (KSP) menyampaikan, tantangannya tidak hanya perubahan cuaca, tetapi juga infrastruktur. Berdasarkan verifikasi lapangan tim KSP pekan lalu di Kabupaten Bogor, Sukabumi, Majalengka, Jabar, terjadi kekurangan pasokan air sehingga ada daerah yang sudah mengolah lahan dan ada daerah yang sama sekali belum melakukan hal itu. Sementara di Sumedang, banjir melanda sejumlah daerah sehingga menyebabkan gagal panen atau puso. (Yoga) 

Gerakan Pangan Murah untuk Menekan Harga Beras

21 Feb 2024

Segala upaya dilakukan agar masyarakat tak semakin tertekan dengan kenaikan harga bahan pangan. Kenaikan harga bahan pangan di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning) terungkap dalam rakor ”Pengendalian Inflasi Daerah serta Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah Se-Ciayumajakuning” di Kota Cirebon, Jabar, Selasa (20/2), yang digelar Kantor Perwakilan BI Cirebon. Kepala Perwakilan BI Cirebon Anton Pitono mengatakan, lonjakan harga sejumlah bahan pokok menunjukkan tingginya permintaan konsumen. Di sisi lain, kenaikan harga itu juga menggambarkan anomali. ”(Sebab), wilayah Ciayumajakuning sumber produksi pangan yang sangat melimpah,” ujarnya. ”Lonjakan harga sejumlah bahan pangan tersebut dipicu mundurnya masa tanam karena fenomena El Nino,” ucap Anton. Selain produksi, masalah distribusi turut membuat harga bahan pangan meningkat.

Pj Wali Kota Cirebon Agus Mulyadi mengatakan, ”Selain meningkatkan kerja sama dengan daerah lainnya, kami juga akan membuat gerakan pangan murah untuk menekan harga,” ucapnya. Sementara itu, Pemerintah Kota Ambon berencana membentuk tim khusus untuk fokus menangani semakin tingginya harga bahan pangan pokok. Kadis Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kota Ambon Pieter Saimima menjelaskan, bersama dengan Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian, Dinas Perikanan, Perum Bulog, dan BI, pihaknya membangun kios permanen yang menjual bahan pokok dengan harga murah di Pasar Mardika, Ambon. Kehadiran kios ini agar operasi pasar bisa dilakukan secara berkelanjutan.

Salah satu cara menekan lonjakan harga beras adalah dengan menggelar operasi pasar. Bulog Cabang Kedu, Jateng, terus melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga beras, dengan menyuplai beras dengan harga murah ke pasar tradisional serta ritel modern. Kepala Kantor Bulog Cabang Kedu Ihsan Suradilaga mengatakan, beras murah itu diminati para pembeli di pasar tradisional dan ritel modern. ”Rata-rata volume pengiriman beras ke ritel modern mencapai 1-2 ton per minggu. Namun, ada juga sejumlah ritel yang meminta hingga 2,5 ton per minggu,” katanya. Wali Kota Magelang M Nur Aziz juga meminta Bulog terus melakukan operasi pasar untuk menstabilkan harga beras. Dia berharap, harga beras bisa turun  hingga di bawah Rp 11.000 per kg. (Yoga) 

Mandiri Pangan ala Suku Boti

21 Feb 2024

Harga beras di seluruh wilayah Indonesia meroket sebulan terakhir. Di Kota Kupang, NTT, harganya Rp 17.000 per kg untuk beras medium. Harga termurah Rp 14.000 per kg dengan kondisi beras yang tak layak dikonsumsi manusia. Selain berkutu, beras paling murah itu juga banyak kerikil dan beraroma tidak sedap. Menurut data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, konsumsi beras NTT sebanyak 117,189 kg per kapita per tahun. Angka tersebut berada di atas rata-rata nasional, sedangkan produksi beras setempat masih jauh dari total kebutuhan. Pada tahun 2022, produksi beras di NTT hanya 430.948,5 ton, jauh di bawah kebutuhan setempat yang mencapai 642.367,53 ton. Perum Bulog sebagai penyalur beras pemerintah pun tak bisa berbuat banyak. Operasi pasar yang diklaim dapat mengatasi kenaikan harga beras seakan sia-sia..

Di tengah gonjang-ganjing harga beras, ada kelompok masyarakat yang tidak terdampak karena memiliki kemandirian pangan lokal. Salah satunya adalah kemandirian pangan suku Boti di Kecamatan Kie, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Komunitas adat itu berada 150 km timur laut dari Kota Kupang. Pada Agustus 2023, ketika musim kemarau panjang, persediaan makanan di komunitas yang dipimpin Usif (Raja) Namah Benu itu cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Suku Boti yang menganut kepercayaan lokal Halaika terdiri atas 76 keluarga dengan jumlah anggota 329 jiwa. Makanan di lumbung mereka tersedia sepanjang tahun karena mereka mempraktikkan pangan beragam dalam sistem pertanian lahan kering yang mengandalkan hujan. Dalam satu areal lahan, mereka menanam padi, jagung, umbi-umbian, pisang, dan kacang-kacangan. Setelah padi habis, mereka punya cadangan jagung dan makanan lain.

Kala itu Usif Namah mengatakan, sepanjang komunitas suku Boti ada, nyaris tidak ada cerita mengalami kelaparan. Padahal, wilayah sekitar dan NTT pada umumnya pernah mengalami kelaparan selama beberapa kali dalam kurun waktu 60 tahun terakhir. Di luar itu, rawan pangan terjadi hampir setiap tahun di NTT. ”Kami tidak kelaparan karena kami punya banyak jenis makanan,” ucapnya. Kelimpahan makanan itu yang menjadi alasan bagi komunitas suku Boti menolak menerima bantuan sosial berupa beras untuk warga miskin (raskin) dari pemerintah. Usif Namah juga mengajarkan rakyatnya agar tidak bermental pemalas dengan menunggu bantuan pemerintah. ”Kami tanamkan kepada mereka kerja keras. Kerja baru bisa makan. Makanya, anak-anak semenjak kecil selalu kami ajak ke kebun untuk melihat orangtuanya bekerja,” ujarnya. (Yoga) 

Tak Hanya Beras, Harga Bahan Pokok Lain Pun Naik

20 Feb 2024

Tak hanya beras, harga bahan pokok lain juga ikut naik menjelang Ramadhan tahun ini, antara lain minyak goreng, gula pasir, cabai merah, dan telur ayam ras. Warga berharap pemerintah mengendalikan harga sejumlah bahan pangan tersebut. BPS mencatat, harga rerata nasional beras medium pada pekan ketiga Februari 2024 mencapai Rp 14.380 per kg, naik 5,92 % dibandingkan Januari 2024. Kenaikan harga beras terjadi di 179 kabupaten / kota dan harga beras di 20 % di antaranya lebih tinggi dari harga rata-rata nasional. Kenaikan harga juga terjadi pada komoditas cabai merah, minyak goreng, gula pasir, dan telur ayam ras. Harga rerata nasional cabai merah tercatat Rp 55.359 per kg atau naik 3,58 % dibandingkan harga rerata di Januari 2024, sementara harga minyak goreng Rp 17.691 per liter (naik 1,25 %), telur ayam ras Rp 30.118 per kg (1,09 %), dan gula pasir Rp 17.655 per kg (1,5 %).

Hal itu mengemuka dalam Rapat Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta, Senin (19/2) yang dipimpin Irjen Kemendagri Tomsi Tohir. Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan, daerah yang mengalami kenaikan harga sejumlah komoditas pangan juga bertambah. Untuk minyak goreng, jumlah kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga bertambah dari 193 daerah menjadi 203 daerah dalam sepekan. Begitu juga gula pasir dan cabai merah. Jumlah kabupaten /kota yang mengalami kenaikan harga gula pasir bertambah dari 146 daerah menjadi 156 daerah, sedang cabai merah dari 203 daerah menjadi 230 daerah. ”Kenaikan harga komoditas-komoditas pangan itu perlu diwaspadai karena berpotensi menyebabkan inflasi,” katanya. (Yoga) 

”Gulo Puan”, Kudapan dari Susu Kerbau Rawa Kegemaran Raja Palembang

20 Feb 2024

Berada 60 km atau 2 jam tenggara Palembang, Sumsel, Desa Bangsal di Kecamatan Pampangan, Ogan Komering Ilir, punya arti penting dalam sejarah kuliner di kalangan bangsawan keturunan penguasa kerajaan di Palembang. Desa Bangsal adalah tempat lahirnya gulo puan, camilan dari olahan susu kerbau rawa Pampangan, yang dijuluki ”Kudapannya Raja-raja Palembang”. Seusai menerima 2,5 liter susu kerbau dari menantunya, Paisol (44), di salah satu rumah di Desa Bangsal, Kamis (7/12) Masnah (60) menyiapkan wajan, kompor gas, elpiji 3 kg, ember kecil, dan gula pasir 0,5 kg. Masnah mencampur susu kerbau dan gula pasir di ember kecil, lalu menuangkan adonan yang sudah tercampur rata itu ke wajan dan mengaduknya perlahan dengan spatula. Api kompor disetel antara kecil dan sedang karena proses masak harus bertahap 1-2 jam. Setelah melihat adonan mengental, Masnah mengaduknya perlahan hingga campuran susu kerbau dan gula mengkristal, kering kasar kecoklatan. Sekilas teksturnya mirip gula aren, dengan warna lebih pucat. Hasil masakan itulah yang disebut gulo puan. Camilan itu berasal dari dua suku kata, ”gulo” yang artinya gula atau manis dan ”puan” yang artinya susu. Maksudnya, gula susu atau manisan dari susu. Tak jarang gulo puan menjadi teman minum teh atau kopi. Ada juga yang memakannya langsung.

Menurut Masnah, membuat gulo puan menjadi tradisi yang diwariskan turun-temurun kepada para perempuan di Desa Bangsal. Masnah belajar membuat gulo puan menjelang pernikahannya dengan Junaidi (70) pada tahun 1979, tujuannya agar bisa menambah pemasukan keluarga atau membantu suami tanpa mengganggu tanggung jawabnya dalam keluarga. Hasil dari gulo puan dinilai cukup menjanjikan. Untuk menghasilkan 1 kg gulo puan, bahan yang dibutuhkan adalah 2,5 liter susu kerbau seharga Rp 62.500 (Rp 25.000 per liter) dan 0,5 kg gula pasir seharga Rp 8.000 (Rp 16.000 per kg). Selain itu, elpiji 3 kg seharga Rp 20.000 per tabung, tapi bisa digunakan memasak dalam 2-7 hari. Dengan modal produksi Rp 70.500, harga jual gulo puan bisa mencapai Rp 120.000 per kg. Artinya, ada keuntungan Rp 49.500, belum termasuk keuntungan dari penjualan produk turunan, seperti minyak samin seharga Rp 200.000 per kg dan mentega Rp 80.000 per kg. Namun, butuh proses masak berulang atau dalam jumlah besar untuk menghasilkan 1 kg minyak samin dan 1 kg mentega. (Yoga) 

Siasat Berhemat Saat Harga Bahan Pokok Melesat

20 Feb 2024

Dompet warga kelas ekonomi menengah turut terdampak akibat kenaikan harga bahan pokok yang kian melesat. Mereka pun harus memiliki siasat untuk berhemat. Warga Jakarta Timur, Alfiyah (35) meminta uang lebih sebesar Rp 150.000 kepada suaminya untuk belanja bulanan akibat harga sejumlah komoditas naik, seperti cabai merah hingga beras. ”Yang paling terasa itu harga cabai rawit dari Rp 65.000 menjadi Rp 90.000 per kg dalam seminggu. Naiknya tidak tanggung-tanggung, Rp 25.000,” katanya, Senin (19/2). Alfiyah mengaku tidak mengurangi atau mengubah masakannya, kecuali pengurangan cabai. Ia lebih memilih menambah pengeluaran dibandingkan pemangkasan pengeluaran. Belanja bulanan bahan pangan yang biasanya dianggarkan Rp 3,5 juta untuk empat orang, kini ditambah Rp 150.000 sejak awal Februari.

”Paling mengurangi cabai saja. Kalau harga cabai lagi murah, pakai cabainya untuk sambal lebih banyak. Kalau harga naik, jumlahnya dikurangi,” tutur Alfiyah yang juga bekerja sebagai pedagang baju ini. Satu bulan lalu, harga beras premium Rp 75.000 per 5 kg. Lalu, naik menjadi Rp 84.000 per 5 kg. Meski kenaikan hanya Rp 10.000, sangat terasa bagi Alfiyah. Karyawan swasta di Jakarta Pusat, Rista Ayodia (24) merasa kenaikan harga di sejumlah komoditas turut memengaruhi pemangkasan diskon dalam berbelanja makanan secara daring di lokapasar. ”Sebagai anak kos, saya lebih sering memesan makanan secara daring karena menunya lebih beragam dan banyak diskon. Tetapi, sejak sebulan terakhir, saya merasa promo yang ditawarkan semakin berkurang. Biasanya Rp 32.000 sudah dapat dua makanan, tetapi sekarang nyaris Rp 40.000 untuk dua makanan harga termurah,” kata Rista.

Rista harus putar otak, selisih harga Rp 5.000 hingga Rp 10.000 cukup tinggi baginya. Ia pun mulai beralih membeli makanan secara langsung ke warung terdekat dengan harga Rp 15.000 per porsi, yang sesuai anggarannya. Penghasilan Rista sebulan Rp 7 juta. Warga asal Magelang, Jateng, ini hidup sendiri dengan menyewa kos di Jakarta. Kenaikan harga kebutuhan pokok juga berdampak pada pelaku usaha makanan di Jakarta. Para penjual makanan harus menempuh beragam strategi agar bertahan. Penjual sate taichan di Jaksel, Ahmad Hartono (32) misalnya, menambahkan lebih banyak air di sambal buatannya. ”Bahan utama di sate taichan itu cabai. Jadi harus tetap ada dan enak. Saya menambahkan sedikit air agar sambalnya bisa lebih banyak karena harga cabai sangat mahal sekarang,” katanya. (Yoga) 

POTENSI MIGAS : Sumur Eksplorasi Prospektif dari Sumbagut

20 Feb 2024

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumatra Bagian Utara (Sumbagus) mengungkapkan bahwa ada dua penemuan besar sepanjang tahun lalu oleh Kontaktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah tersebut.Kepala SKK Migas Sumbagut Rikky Rahmat Firdaus mengatakan bahwa penemuan besar itu pertama adalah Geng North di wilayah Laut Kalimantan dan Layaran, di mana Sumur Layaran-1 atau sumur gas, berasal dari KKKS Mubadala Energy di lepas pantai (offshore) Provinsi Aceh. Berdasarkan laporan dari Mubadala Energy (South Andaman) RSC Ltd, imbuhnya, temuan sumur Layaran-1 memiliki potensi mencapai 6 triliun kaki kubik (TCF) gas-in-place. Temuan ini bahkan melebihi dari penemuan sumur Geng North-1 belum lama ini yang digadang-gadang masuk ke dalam tiga besar dunia. Selain temuan di wilayah offshore Aceh tersebut, sumur eksplorasi lainnya yang berhasil discovery yaitu di sumur BLN-01 oleh KKKS EMP Tunas Energy di wilayah kerja (WK) South CPP, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.Sumur BLN-01 akan dibor sedalam 1.950 feet atau sekitar 700. Ada juga potensi cadangan migas dari sumur Sidingin 1 oleh KKKS Pertamina Hulu Rokan (PHR) di Provinsi Riau.Dia mengakui pencapaian penting pada 2023 ini adalah hasil dari kegiatan pengeboran sumur di wilayah Sumbagut yang mencapai 545 sumur, yang terdiri atas 12 sumur eksplorasi, dan 533 sumur pengembangan.

BAHAN PANGAN : HARGA BERAS TERPICU FAKTOR MUSIMAN

20 Feb 2024

Pemerintah menyatakan kenaikan harga beras di pasar dipicu oleh faktor musiman berupa berkurangnya pasokan komoditas pangan setiap periode Januari—Februari. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan pasokan beras memang berkurang akibat panen padi yang mundur di tengah fenomena El Nino.“Kenapa harga beras premium naik? Ini soal supply dan demand,” katanya saat memantau stok beras di salah satu gerai ritel modern di Jakarta, Senin (19/2).Dia menjelaskan stok beras yang terbatas membuat harga melambung. Bahkan, kenaikan harga beras premium sudah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintaha. Saat ini, harga beras premium sudah menyentuh level Rp72.000 per 5 kilogram (kg) hingga Rp80.000 per 5 kg, sedangkan HET beras premium ditetapkan Rp69.500 per 5 kg.Selain pasaokan berkurang, Mendag menambahkan disparitas harga yang tinggi juga memicu kelangkaan beras di ritel modern. Saat ini, konsumen beras premium mulai beralih ke beras program stabilitas pasokan harga pangan (SPHP) yang juga menyebabkan pasokan beras SPHP cepat habis. Menurutnya, pasokan beras premium ke ritel modern mengalami hambatan hingga menimbulkan kelangkaan. Peritel kesulitan mendatangkan beras premium lantaran ada kenaikan harga di tingkat produsen yang melampaui HET. Namun, Zulkifli menegaskan bahwa kecepatan suplai menjadi kunci untuk mencegah kelangkaan dan kenaikan harga beras. Deputi III Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Bidang Perekonomian Edy Priyono sependapat dengan pernyataan Mendag. Dia menilai akar masalah mahalnya harga beras beberapa waktu terakhir imbas dari suplai yang menurun. Faktor El Nino memicu masa tanam padi mundur dan volumenya turun. Bahkan, dia mengamini bahwa terjadi gagal tanam di sejumlah daerah. Edy menjelaskan rendahnya produksi juga sudah diproyeksikan BPS sejak November 2023 yaitu di bawah 2,5 juta ton. Sebaliknya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah bahan pangan mengalami lonjakan harga usai pemilu atau menjelang Ramadan.Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan harga cabai merah, minyak goreng, telur, daging ayam, beras dan gula pasir menjadi penyumbang kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) pada pekan ketiga Februari 2024 di sejumlah daerah. Secara terperinci, komoditas dengan andil terbesar kenaikan IPH di Sumatra didominasi oleh cabai merah, daging ayam ras dan beras. Untuk komoditas penyumbang terbesar kenaikan IPH di Pulau Jawa didominasi oleh beras, cabai merah dan daging ayam ras.Untuk di luar Sumatra dan Jawa kenaikan IPH didominasi oleh komoditas daging ayam ras, cabai rawit, beras dan cabai merah. Di samping itu, perkembangan harga minyak goreng pada pekan ketiga Februari 2024 juga naik sekitar 1,25% dibandingkan harga rata-rata Januari 2024 yaitu mencapai Rp17.691 per liter. Di samping itu, perkembangan harga minyak goreng pada pekan ketiga Februari 2024 juga naik sekitar 1,25% dibandingkan harga rata-rata Januari 2024 yaitu mencapai Rp17.691 per liter.

Menjelang Ramadan, Pemerintah Jaga Pasokan Sembako

20 Feb 2024
Pemerintah terus menjaga ketersediaan sembilan bahan pokok (sembako). Langkah ini dilakukan sebagai wujud pemerintah menjaga laju inflasi yang terkait dengan ketersediaan harga pangan bergejolak (volatile food) Hal ini disampaikan Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto setelah melakukan pertemuan dengan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada Senin (19/2/2024). Jika dirinci, sembako terdiri atas beras, gula pasir, minyak goreng, dan mentega, daging, telur ayam, susu, bawang, gas, dan minyak tanah, serta garam. "Lebaran sudah dekat, jadi kita minta supaya sembilan bahan pokok bisa tersedia, karena urusan sayakan  soal inflasi, karena kalau ini inflasi sayakan khawatir (harga sembako) akan meningkat," ucap Airlangga. (Yetede)

Harga Beras Terus Meroket, Perlu Langkah Lanjutan

19 Feb 2024

Langkah pemerintah menggelontorkan beras ke ritel, pasar swalayan, dan pasar-pasar di daerah ternyata belum mampu menahan kenaikan harga beras. Harga beras di sejumlah daerah hingga Minggu (18/2) masih terus naik. Sejumlah langkah yang telah dilakukan pemerintah sepanjang pekan lalu belum cukup untuk meredam lonjakan harga. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah lanjutan untuk mengatasi persoalan ini. Berdasarkan pantauan Kompas, harga beras medium di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Jabar, pada Minggu sudah melesat hingga Rp 17.500 per kg. Hanya dua hari, kenaikannya Rp 2.500 per kg. Fadhil (24), pedagang di Pa- sar Kosambi, mengaku, kenaikan ini terbilang tinggi. Biasanya harga beras medium hanya Rp 13.000 per kg. Dari distributornya di Sragen, Jateng, ia mendapat informasi bahwa mereka tidak memiliki banyak stok untuk dijual. Harga beras premium pun belum terkendali, dari biasanya Rp 16.000 per kg kini menjadi Rp 18.000 per kg. Fadhil berharap pemerintah bisa mencari jalan keluar masalah ini.

”Semua jenis beras susah didapat. Saya sudah pesan 3 ton beras ke distributor di Jateng sejak dua pekan lalu. Namun, sampai sekarang belum ada barangnya,” kata Fadhil lesu. Harga beras saat ini sudah jauh melampaui HET yang ditetapkan oleh pemerintah, yakni Rp 10.900-Rp 11.800 per kg berdasarkan zonasi untuk beras medium. Branch Corporate Communication Alfamart Bandung Elisa Refila mengungkapkan, pelaku usaha ritel kesulitan memenuhi stok beras premium. ”Kondisi ini terjadi di ritel kami dan supermarket lainnya. Kami terus berupaya mengatasi kondisi ini dengan berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat,” ujarnya. Tidak hanya di kota besar, kelangkaan beras premium juga terjadi di sentra padi, seperti di Kabupaten Cirebon. Sabtu (17/2) sore, seorang warga, Artantiani Putri (32), kesulitan mendapatkan beras premium. Di supermarket Griya Jamblang, tempat penjualan beras kosong melompong. (Yoga)