Lingkungan Hidup
( 5820 )Menjinakkan Gonjang-ganjing Beras
Lonjakan harga beras ke rekor tertinggi terjadi sebulan
terakhir. Di sejumlah daerah, beras premium dan medium juga raib dari pasar tradisional
dan toko ritel modern. Kenaikan harga beras jauh di atas HET yang ditetapkan
pemerintah itu terjadi seiring mundurnya masa panen dan berkurangnya pasokan
dari sentra produksi (Kompas, 17/2/2024). Sebelumnya, pemerintah dalam berbagai
kesempatan juga melontarkan sinyal ancaman inflasi pangan. Lonjakan harga beras
berpotensi mendongkrak inflasi, yang berarti memukul daya beli masyarakat. Untuk
meredam gejolak harga, pemerintah terus melakukan operasi pasar, mengguyur
pasar dengan beras Bulog. Bantuan pangan melalui penyaluran beras bantuan 10 kg
kepada 22 juta keluarga penerima manfaat dilanjutkan hingga Juni 2024.
Setelah Juni 2024, pemerintah menyatakan akan melihat
kemampuan APBN. Bulog menjamin, stok beras 1,180 juta ton aman hingga Ramadhan
dan Lebaran. Stok ini ditopang beras impor karena pengadaan dalam negeri
terkendala produksi yang turun dan tingginya harga gabah tingkat petani. Defisit
produksi dalam negeri terjadi delapan bulan terakhir, tetapi BPS memprediksi
puncak panen dan surplus beras akan terjadi Maret 2024. Ironisnya, jelang panen
raya Maret, pemerintah justru berencana impor beras 1 juta ton. Jumlah ini
gabungan sisa kuota impor 2023 dan sebagian dari kuota impor 2024 (2 juta ton).
Memenuhi kebutuhan dalam negeri dan cadangan beras memang penting, tetapi pemerintah
juga harus memastikan penggelontoran beras impor tak menekan harga gabah kering
panen petani.
Meski sempat mengalami surplus secara sporadis, produksi beras
nasional relatif stagnan, bahkan turun rata-rata 1 % per tahun sepuluh tahun
terakhir. Padahal, konsumsi terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan
penduduk. Kita memahami, dengan defisit produksi beras dalam negeri yang masih
harus ditutup dengan impor, stabilisasi harga dan pasokan beras tak bisa
mengabaikan situasi global. Kenaikan harga beras dewasa ini juga merupakan
fenomena global. Bank Dunia memperkirakan kenaikan harga beras akibat El Nino
dan kebijakan larangan ekspor negara produsen masih akan berlanjut pada 2024,
dengan harga diperkirakan belum akan turun hingga 2025. (Yoga)
Penyadap Nira Kelapa
Musim Tanam Mundur Picu Harga Beras Naik
Kenaikan harga beras yang bervariasi masih terjadi di banyak
daerah dan dikhawatirkan berlangsung hingga bulan Ramadhan. Musim tanam padi
yang terganggu akibat El Nino ditengarai memicu minimnya panen sehingga harga
beras naik. Di Pasar Tambak Rejo, Surabaya, Sabtu (17/2) beras dengan kualitas
medium rata-rata dipasarkan dengan harga Rp 11.817 per kg, naik 4,25 % atau Rp
482 per kg dibandingkan hari sebelumnya, di Rp 11.335 per kg. Adapun beras
dengan kualitas premium mengalami kenaikan harga lebih tinggi. Rata-rata
pedagang menjual beras premium Rp 14.959 per kg, naik Rp 1.082 per kg dari hari
sebelumnya, di Rp 13.877 per kg, kenaikannya mencapai 7,80 %. Pj Gubernur Jatim
Adhy Karyono, Sabtu (17/2) mengatakan, kenaikan harga beras dipicu tingginya
harga gabah ditingkat petani.
Bahkan, harga gabah kering panen saat ini mencapai Rp 7.410
per kg, lebih tinggi 48,2 % dibanding harga acuan yang ditetapkan pemerintah,
di Rp 5.000 per kg. Kenaikan harga gabah tersebut dipicu menurunnya produksi
beras secara nasional karena minimnya panen di musim hujan. itu, Kabid
Perdagangan dan Pengendalian Harga Pokok Penting Dinas Perdagangan dan Perindustrian
Kabupaten Cirebon Sidik Wibowo berpendapat, kenaikan harga beras kali ini
disebabkan faktor El Nino yang membuat musim tanam mundur. Fenomena iklim yang
ditandai dengan kekeringan tersebut menyebabkan hujan terlambat turun di
Cirebon. Akhirnya, masa tanam yang harusnya dimulai Oktober-Desember mundur
hingga Januari dan Februari. Selain itu, lahan pertanian di sejumlah kecamatan
juga dilanda kekeringan. ”Jadi, produksi beras berkurang. Kalaupun ada gabah,
harganya sudah mahal,” ucap Sidik. (Yoga)
Aktivitas Pelayaran Berisiko Tinggi
Gelombang tinggi pada Februari ini berisiko bagi pelayaran. Di Laut Arafuru, tanker minyak MT Koan tenggelam dihantam ombak. Cuaca ekstrem juga masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga 2,5 meter terjadi di wilayah perairan Maluku. Masyarakat pesisir yang hendak melaut dan berlayar diimbau waspada mengingat risiko terhadap keselamatan cukup tinggi. Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Suaif Iriyanto, menjelaskan, gelombang setinggi 1,25-2,5 meter di Maluku terjadi di Laut Arafuru, Laut Seram, Laut Banda, perairan Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, dan Kepulauan Babar.
Hal ini didorong oleh pola angin kencang dengan kecepatan 6 hingga 25 knot yang bergerak dari bagian utara hingga timur laut Indonesia. Selain itu, gelombang tinggi juga didorong angin yang bergerak dengan kecepatan 4-25 knot di wilayah barat daya Indonesia. Dengan kondisi tersebut, aktivitas masyarakat yang menggunakan perahu nelayan, tongkang, dan feri masuk dalam kategori risiko tinggi keselamatan pelayaran. ”Selain di Laut Arafuru, kecepatan angin tertinggi terjadi di Selat Makassar dan Laut Natuna Utara serta diprediksi terjadi hingga Minggu (18/2). Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter berisiko bagi perahu nelayan,” ucapnya di Ambon, Maluku, Sabtu (17/2). (Yoga)
Pasokan Seret, Beras Langka dan Mahal
Harga beras terus naik seiring mundurnya masa panen dan
berkurangnya pasokan dari sentra produksi. Di beberapa daerah, stok beras di
pasar tradisional dan toko ritel berkurang atau kosong. Di Bandung, Jabar, sejumlah
pedagang di pasar tradisional dan pelaku usaha ritel mengeluhkan kelangkaan
beras jenis medium dan premium. Kondisi ini terjadi sebulan terakhir.
Kelangkaan terjadi, di Pasar Kosambi, salah satu acuan pemda dalam pemantauan
inflasi. Andri Muhammad Thahir (35), salah seorang pedagang di Pasar Kosambi,
mengungkapkan, stok beras yang biasanya dia dapatkan 3 ton per minggu kini
turun 50 %. ”Biasanya saya menjual beras medium dengan harga Rp 12.500 per kg.
Akibat stok terbatas, harga jualnya Rp 15.500 per kg,” kata Andri. Rahmat
Kurnia (55), pedagang beras lain di Pasar Kosambi, menyatakan, kenaikan harga beras
cukup signifikan sejak awal tahun ini. ”Kenaikan harga beras (kualitas) medium
dan premium telah mencapai Rp 3.000 per kg,” kata Rahmat.
Branch Corporate Communication Alfamart Bandung Elisa Refila
mengungkapkan, pihaknya sebagai pelaku usaha ritel kesulitan memenuhi stok beras
premium. Kondisi ini juga dialami peritel lain. ”Kami berupaya mengatasi dengan
berkoordinasi dengan pemerintah setempat,” ucap Elisa. Di Surabaya, Jatim, harga
beras premium naik 38-39 % sejak awal 2024. Pada awal tahun, harga beras premium
Rp 13.000 per kg, namun, melonjak menjadi Rp 18.000 per kg dalam dua pekan
terakhir. Beras berkualitas rendah dijual dengan harga Rp 10.900 per kg, tetapi
beras kualitas ini langka di pasar-pasar dan kios-kios khusus yang ditunjuk
oleh tim pengendali inflasi daerah. Situasi serupa terjadi untuk beras premium.
Selain di kios dan lapak pedagang pasar, beras kualitas ini dijual di toko
ritel sampai supermarket. Di beberapa lokasi di Surabaya, beras premium masih
ada, tetapi jumlahnya terbatas. Ini tampak dari ketiadaannya di rak-rak pajang
sejumlah ritel. Untuk membeli beras premium, konsumen terkadang harus memesan
terlebih dahulu. (Yoga)
Divestasi Vale Indonesia Ditargetkan Tuntas Pekan Depan
United Tractors Tetap Ekspansi ke Bisnis Mineral
Pupuk Mahal dan Langka Picu Lonjakan Harga Beras
Agar Kenaikan Harga Pangan Teredam
Ogah Tercekik Musim Paceklik
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









