Lingkungan Hidup
( 5781 )Jeratan ”Happy” Si Minyak Bumi
The Economist pada Jumat (2/2) melaporkan perolehan laba Chevron
dan Exxon Mobil, dua perusahaan raksasa migas AS, untuk kinerja tahun 2023.
Dalam artikel berjudul ”Perky Petroleum Profits” tersebut, masing-masing
perusahaan membukukan laba 21,4 miliar USD dan 36 miliar USD. Capaian itu ”hanya”
sepertiga dari apa yang mereka peroleh sebelumnya pada 2022, tetapi merupakan
yang terbesar kedua dalam satu dekade terakhir. Dalam artikel itu ditulis pula
bahwa capaian kinerja kedua perusahaan tersebut membuat para investor ”happy”.
Sementara Aramco, perusahaan migas milik Arab Saudi, membukukan laba 161,1
miliar USD untuk kinerja tahun 2022. Apa yang didapat Aramco jelas lebih besar
dari gabungan Chevron dan Exxon Mobil sekaligus. Sulit mencari kata yang lebih
tinggi dari happy untuk menggambarkan perasaan investor Aramco atas capaian
itu.
Di dalam negeri, PT Pertamina (Persero) sebagai satu-satunya
perusahaan migas milik negara dilaporkan membukukan laba untuk kinerja 2022
sebesar 3,81 miliar USD. Meski ketika dirupiahkan menjadi Rp 56,6 triliun, perolehan
itu serasa ”tidak ada apa-apanya” dibandingkan yang didapat Chevron ataupun Exxon Mobil. Terlebih
lagi Aramco. Dengan menggunakan kurs Jisdor BI pada 7 Februari 2024, dengan 1 USD
adalah Rp 15.685, maka Chevron mengumpulkan laba Rp 335,65 triliun dan Exxon Mobil
meraih Rp 564,66 triliun. Perolehan Aramco di 2022, setara Rp 2.526,85 triliun.
Beda tipis dengan penerimaan negara ini, di Rp 2.635,8 triliun untuk tahun
anggaran 2022, yang bukan hanya dari minyak,
melainkan juga ditopang utamanya dari penerimaan pajak Rp 2.034,5 triliun dan
penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp 595,6 triliun.
Selebihnya adalah penerimaan lain-lain. Adapun pada 2024 ini,
Kementerian ESDM menargetkan perolehan PNBP migas Rp 110,2 triliun. Itu membuat
laju transisi energi di RI tersendat-sendat. Transisi energi ini adalah
mengurangi (lantaran belum bisa sama sekali meninggalkan) pemakaian energi
fosil, seperti minyak, gas bumi, dan batubara, dengan beralih ke sumber energi
terbarukan. Namun, satu hal yang patut
diingat bagi pengambil kebijakan, baik di eksekutif maupun legislatif, adalah
sumber energi fosil suatu saat nanti akan habis cadangannya. Jadi, meski energi
fosil masih amat menggoda dengan triliunan cuan yang dihasilkan, kelestarian
lingkungan dan bumi yang lebih baik berada di atas segala-galanya. Jangan
sampai generasi berikutnya tidak happy akibat gagalnya transisi energi di negeri
ini. (Yoga)
Menperin Dorong Industri Produksi Truk Tambang
Tercekik Kenaikan Harga Pangan
Tak Berdaya Menahan Harga Beras
Ancaman Krisis Beras Sudah di Depan Mata
AKSI KORPORASI : HATI-HATI BURU ASET LUAR NEGERI
Aksi agresif PT Pertamina (Persero) melakukan ekspansi ke luar negeri melalui sub holding-nya mesti diperketat agar tidak memunculkan problem di kemudian hari. Transparansi dan konsistensi dalam penerapan good corporate governance atau GCG menjadi salah satu kunci yang bisa memuluskan aksi korporasi itu. Langkah Pertamina memburu cadangan minyak dan gas bumi (migas) di sejumlah blok dan lapangan luar negeri mendapat tantangan dari sejumlah dugaan penyelewengan yang diusut oleh penegak hukum. Beragam pembenahan perlu dilakukan agar aksi yang sebenarnya bertujuan positif tersebut tidak dimanfaatkan oleh pihak tertentu, sehingga memunculkan konsekuensi hukum. Pri Agung Rakhmanto, Founder & Advisor ReforMiner Institute, mengatakan Pertamina perlu melakukan kajian detail mengenai potensi sumber daya dan cadangan migas yang disertai dengan tingkat risiko sebelum memutuskan untuk mengakuisisi lapangan migas di luar negeri. Meski begitu, Pri Agung juga menjelaskan setiap aksi korporasi yang dilakukan perusahaan, termasuk Pertamina sebagai BUMN memiliki risko. Untuk itu, perlu kesepahaman mengenai risiko tersebut oleh seluruh pemangku kepentingan dan pengambil keputusan. Menurutnya, upaya Pertamina melakukan ekspansi ke luar negeri sebenarnya perlu mendapat dukungan dari semua pihak, karena cadangan migas nasional makin terbatas. Hal itu membuat peluang untuk bisa menemukan lapangan besar dan menambah produksi nasional makin kecil. Pada tahun lalu, perusahaan memenangkan lelang baru blok minyak produksi di Gabon, Afrika Barat.
Aset produksi itu diperkirakan memiliki potensi cadangan minyak mencapai 45.000 barel per hari (bph). Terbaru, pada Januari 2024 perusahaan melalui PT Pertamina Malaysia Eksplorasi Produksi (PMEP) juga berhasil memenangkan lelang blok eksplorasi SK510 di Malaysia. Anak perusahaan PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP), yang berafiliasi dengan PHE, itu menggenggam hak partisipasi (participating interest/PI) sebesar 25%. Selain itu, Pertamina Hulu Energi sebagai sub holding upstream juga tengah menjajaki pengelolaan blok migas potensial di Amerika Selatan dan Afrika. Akan tetapi, aksi yang telah dilakukan BUMN holding energi tersebut tidak lepas dari dugaan rasuah. Dalam catatan Bisnis, Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif (LHP PI) BPK yang diserahkan kepada KPK belum lama ini, mengungkap kasus akuisisi perusahaan migas Prancis, Maurel & Prom (M&P), terindikasi bermasalah. Wakil Ketua BPK Hendra Susanto berharap agar LHP PI mengenai akuisisi M&P oleh Pertamina itu bisa dimanfaatkan oleh KPK untuk memproses lebih lanjut kasus itu ke tahap penyidikan. Artinya, dugaan rasuah mengenai akuisisi itu sudah diendus oleh KPK di tahap penyelidikan. Untuk diketahui, wilayah kerja operasional M&P hampir seluruhnya berpusat di Afrika, terutama di Tanzania, Gabon dan Angola. “Akuisisi sumur minyak di salah satu negara di Afrika. Sudah lama diselidiki. KPK berkoordinasi dengan BPK untuk melakukan audit investigasi,” kata Wakil Ketua KPK itu kepada Bisnis, beberapa waktu lalu. “Pertamina juga berkomitmen menjalankan bisnis yang sesuai dengan prinsip GCG dan aturan berlaku,” demikian keterangan VP Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso kepada Bisnis. Adapun, M&P saat ini memiliki kegiatan produksi dan eksplorasi di Prancis, Italia, Kolombia, Venezuela, Nigeria, Gabon, Angola, Namibia dan Tanzania.
SUMBER ENERGI ALTERNATIF : PLN Ajak Jepang Jamin Pasokan Energi
PLN melalui sub holding PLN Energi Primer Indonesia menjajaki kerja sama dan kolaborasi strategis dengan JERA di bidang gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) dan energi hijau lainnya, mulai dari pasokan, optimasi rantai pasok, hingga infrastruktur lainnya untuk mendukung kinerja perseroan. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan, kerja sama tersebut nantinya bakal menitikberatkan pada sejumlah aspek, seperti pengadaan, optimasi pasokan, pengembangan midstream LNG, serta pengembangan sumber daya manusia untuk aspek komersial dan pasar LNG. Kemudian, kerja sama kedua perusahaan juga mencakup pengembangan dan optimalisasi potensi amonia hijau atau biru, dan hidrogen hijau atau biru untuk proyek penggantian bahan bakar fosil di pembangkit listrik. Direktur Utama PLN EPI Iwan Agung Firstantara menambahkan, gas berperan sebagai substitusi bahan bakar minyak dan batu bara dalam jangka pendek dan dalam jangka menengah di pembangkit listrik. Untuk jangka panjang, gas atau LNG memegang peranan penting dalam transisi energi untuk melengkapi pengembangan energi terbarukan. Executive Officer, Head of the Platform Business Group JERA Shinsuke Nakayama mengatakan, pihaknya berkomitmen untuk mendukung PLN EPI dalam mengembangkan rantai pasok energi primer yang andal untuk Indonesia.
KOMODITAS PANGAN : PASOKAN BERAS PERITELMAKIN TERBATAS
Pemerintah berjanji menggelontorkan suplai beras di pasaran setelah sejumlah gerai ritel modern mengalami kelangkaan stok komoditas pangan utama itu akibat pasokan terbatas dan harga tinggi. Saat ini, masyarakat mulai kesulita Akan tetapi, Arief menjan-jikan pembahasan lebih lan-jut soal HET akan dilakukan seusai panen raya yang diperki-rakan terjadi pada akhir Maret hingga April 2024. “Karena kalau sekarang enggak tepat, apa-apa kalau diambil kepu-tusan dalam kondisi saat ini enggak seimbang, karena ini banyak impornya,” tuturnya.Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Food Station Pamrihadi Wiraryo ber-janji mulai menyalurkan 1.000 ton beras komersial di pekan ini ke ritel modern di wilayah DKI Jakarta. n mendapatkan beras jenis premium di sejumlah ritel modern. Pantauan di sejumlah gerai Alfamart, Afl amidi, Indomaret, dan Superindo di wilayah Bogor, Jawa Barat, rak yang seharusnya berisikan beras premium kemasan 5 kg dalam kondisi kosong. Hanya tersisa label bertuliskan pembatasan pembelian beras maksimal 2 pack per orang. Yadi, pramuniaga gerai Alfamidi, menjelaskan suplai beras mulai menipis sejak seminggu terakhir. Bahkan, suplai beras hanya terbatas 10 pack per hari sejak 3 hari lalu. Kondisi lebih parah terjadi di gerai Indomaret, karena stok beras kosong dalam beberapa hari belakangan.
Tidak hanya di gerai minimarket, kekosongan stok beras juga berlangsung di gerai besar seperti Superindo. Stok beras hanya tersisa khusus dengan harga tinggi, seperti beras pandan wangi. Salah seorang pegawai Superindo mengatakan bahwa pasokan beras makin sedikit sejak harga beras melonjak. Sebaliknya, harga beras di ritel modern masih menggunakan patokan Harga Eceran Tertinggi (HET). Dengan kondisi itu, sebagian pembeli memborong beras dengan jumlah maksimal pembelian, yakni 2 pack per orang. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey menyatakan bahwa sejumlah ritel modern mengalami hambatan pasokan beras SPHP dari Bulog. Sebaliknya, harga beras jenis premium dari produsen swasta mengalami lonjakan harga. Di sisi lain, para peritel tetap menjual beras sesuai dengan ketentuan HET. Pemerintah menetapkan HET beras medium sebesar Rp10.900 per kilogram (kg) hingga Rp11.800 per kg, sedangkan beras premium Rp13.900 per kilogram hingga Rp14.800 per kilogram.
Data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga beras premium pada Senin (12/2) di level Rp15.750 per kg, dan beras medium sebesar Rp13.830 per kg.
Berdasarkan informasi, harga beras yang dibeli peritel berkisar Rp15.100 per kg hingga Rp15.500 per per kg.
Dalam kesempatan lain, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menyatakan, pemerintah segera mengguyur 200.000 ton beras ke ritel modern guna mengatasi kelangkaan beras yang mulai terjadi di sejumlah daerah. Langkah itu merupakan instruksi Presiden Joko Widodo untuk mendistribusikan sebagian beras dari Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) ke gerai-gerai ritel modern.
Untuk menambah stok, Arief menegaskan bahwa Bulog berkoordinasi dengan penggilingan padi untuk memproduksi beras SPHP kemasan 5 kilogram agar bisa dipasarkan ke ritel modern dan pasar tradisional.
Di sisi lain, Arief juga meminta agar para pengusaha ritel untuk sementara waktu menurunkan margin dari penjualan beras agar harga tidak jauh melampaui HET. Akan tetapi, Arief menjanjikan pembahasan lebih lanjut soal HET akan dilakukan seusai panen raya yang diperkirakan terjadi pada akhir Maret hingga April 2024. “Karena kalau sekarang enggak tepat, apa-apa kalau diambil keputusan dalam kondisi saat ini enggak seimbang, karena ini banyak impornya,” tuturnya. Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Food Station Pamrihadi Wiraryo berjanji mulai menyalurkan 1.000 ton beras komersial di pekan ini ke ritel modern di wilayah DKI Jakarta.
Agar Lumbung Pangan Anyar Tidak Gagal
Nasib Proyek Food Estate
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









