;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Menjinakkan Gonjang-ganjing Beras

19 Feb 2024

Lonjakan harga beras ke rekor tertinggi terjadi sebulan terakhir. Di sejumlah daerah, beras premium dan medium juga raib dari pasar tradisional dan toko ritel modern. Kenaikan harga beras jauh di atas HET yang ditetapkan pemerintah itu terjadi seiring mundurnya masa panen dan berkurangnya pasokan dari sentra produksi (Kompas, 17/2/2024). Sebelumnya, pemerintah dalam berbagai kesempatan juga melontarkan sinyal ancaman inflasi pangan. Lonjakan harga beras berpotensi mendongkrak inflasi, yang berarti memukul daya beli masyarakat. Untuk meredam gejolak harga, pemerintah terus melakukan operasi pasar, mengguyur pasar dengan beras Bulog. Bantuan pangan melalui penyaluran beras bantuan 10 kg kepada 22 juta keluarga penerima manfaat dilanjutkan hingga Juni 2024.

Setelah Juni 2024, pemerintah menyatakan akan melihat kemampuan APBN. Bulog menjamin, stok beras 1,180 juta ton aman hingga Ramadhan dan Lebaran. Stok ini ditopang beras impor karena pengadaan dalam negeri terkendala produksi yang turun dan tingginya harga gabah tingkat petani. Defisit produksi dalam negeri terjadi delapan bulan terakhir, tetapi BPS memprediksi puncak panen dan surplus beras akan terjadi Maret 2024. Ironisnya, jelang panen raya Maret, pemerintah justru berencana impor beras 1 juta ton. Jumlah ini gabungan sisa kuota impor 2023 dan sebagian dari kuota impor 2024 (2 juta ton). Memenuhi kebutuhan dalam negeri dan cadangan beras memang penting, tetapi pemerintah juga harus memastikan penggelontoran beras impor tak menekan harga gabah kering panen petani.

Meski sempat mengalami surplus secara sporadis, produksi beras nasional relatif stagnan, bahkan turun rata-rata 1 % per tahun sepuluh tahun terakhir. Padahal, konsumsi terus meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk. Kita memahami, dengan defisit produksi beras dalam negeri yang masih harus ditutup dengan impor, stabilisasi harga dan pasokan beras tak bisa mengabaikan situasi global. Kenaikan harga beras dewasa ini juga merupakan fenomena global. Bank Dunia memperkirakan kenaikan harga beras akibat El Nino dan kebijakan larangan ekspor negara produsen masih akan berlanjut pada 2024, dengan harga diperkirakan belum akan turun hingga 2025. (Yoga) 

Penyadap Nira Kelapa

19 Feb 2024
Supangat (51) memanjat pohon kelapa untuk menyadap nira di Desa Tembelang, Candimulyo, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (18/2/2024). Penyadapan nira ini dilakukan dua kali sehari. Harga jual nira, yang digunakan untuk bahan baku gula kelapa, saat ini sekitar Rp 21.000 per kilogram. Permintaan gula kelapa di kawasan itu meningkat karena dibutuhkan warga untuk membuat hidangan menjelang upacara nyadran, tradisi yang dilakukan warga sebelum memasuki bulan Ramadhan. (Yoga)

Musim Tanam Mundur Picu Harga Beras Naik

18 Feb 2024

Kenaikan harga beras yang bervariasi masih terjadi di banyak daerah dan dikhawatirkan berlangsung hingga bulan Ramadhan. Musim tanam padi yang terganggu akibat El Nino ditengarai memicu minimnya panen sehingga harga beras naik. Di Pasar Tambak Rejo, Surabaya, Sabtu (17/2) beras dengan kualitas medium rata-rata dipasarkan dengan harga Rp 11.817 per kg, naik 4,25 % atau Rp 482 per kg dibandingkan hari sebelumnya, di Rp 11.335 per kg. Adapun beras dengan kualitas premium mengalami kenaikan harga lebih tinggi. Rata-rata pedagang menjual beras premium Rp 14.959 per kg, naik Rp 1.082 per kg dari hari sebelumnya, di Rp 13.877 per kg, kenaikannya mencapai 7,80 %. Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono, Sabtu (17/2) mengatakan, kenaikan harga beras dipicu tingginya harga gabah ditingkat petani.

Bahkan, harga gabah kering panen saat ini mencapai Rp 7.410 per kg, lebih tinggi 48,2 % dibanding harga acuan yang ditetapkan pemerintah, di Rp 5.000 per kg. Kenaikan harga gabah tersebut dipicu menurunnya produksi beras secara nasional karena minimnya panen di musim hujan. itu, Kabid Perdagangan dan Pengendalian Harga Pokok Penting Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon Sidik Wibowo berpendapat, kenaikan harga beras kali ini disebabkan faktor El Nino yang membuat musim tanam mundur. Fenomena iklim yang ditandai dengan kekeringan tersebut menyebabkan hujan terlambat turun di Cirebon. Akhirnya, masa tanam yang harusnya dimulai Oktober-Desember mundur hingga Januari dan Februari. Selain itu, lahan pertanian di sejumlah kecamatan juga dilanda kekeringan. ”Jadi, produksi beras berkurang. Kalaupun ada gabah, harganya sudah mahal,” ucap Sidik.  (Yoga) 

Aktivitas Pelayaran Berisiko Tinggi

18 Feb 2024

Gelombang tinggi pada Februari ini berisiko bagi pelayaran. Di Laut Arafuru, tanker minyak MT Koan tenggelam dihantam ombak. Cuaca ekstrem juga masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. BMKG mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga 2,5 meter terjadi di wilayah perairan Maluku. Masyarakat pesisir yang hendak melaut dan berlayar diimbau waspada mengingat risiko terhadap keselamatan cukup tinggi. Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Ambon, Suaif Iriyanto, menjelaskan, gelombang setinggi 1,25-2,5 meter di Maluku terjadi di Laut Arafuru, Laut Seram, Laut Banda, perairan Kepulauan Kei, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, dan Kepulauan Babar.

Hal ini didorong oleh pola angin kencang dengan kecepatan 6 hingga 25 knot yang bergerak dari bagian utara hingga timur laut Indonesia. Selain itu, gelombang tinggi juga didorong angin yang bergerak dengan kecepatan 4-25 knot di wilayah barat daya Indonesia. Dengan kondisi tersebut, aktivitas masyarakat yang menggunakan perahu nelayan, tongkang, dan feri masuk dalam kategori risiko tinggi keselamatan pelayaran. ”Selain di Laut Arafuru, kecepatan angin tertinggi terjadi di Selat Makassar dan Laut Natuna Utara serta diprediksi terjadi hingga Minggu (18/2). Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter berisiko bagi perahu nelayan,” ucapnya di Ambon, Maluku, Sabtu (17/2). (Yoga) 

Pasokan Seret, Beras Langka dan Mahal

17 Feb 2024

Harga beras terus naik seiring mundurnya masa panen dan berkurangnya pasokan dari sentra produksi. Di beberapa daerah, stok beras di pasar tradisional dan toko ritel berkurang atau kosong. Di Bandung, Jabar, sejumlah pedagang di pasar tradisional dan pelaku usaha ritel mengeluhkan kelangkaan beras jenis medium dan premium. Kondisi ini terjadi sebulan terakhir. Kelangkaan terjadi, di Pasar Kosambi, salah satu acuan pemda dalam pemantauan inflasi. Andri Muhammad Thahir (35), salah seorang pedagang di Pasar Kosambi, mengungkapkan, stok beras yang biasanya dia dapatkan 3 ton per minggu kini turun 50 %. ”Biasanya saya menjual beras medium dengan harga Rp 12.500 per kg. Akibat stok terbatas, harga jualnya Rp 15.500 per kg,” kata Andri. Rahmat Kurnia (55), pedagang beras lain di Pasar Kosambi, menyatakan, kenaikan harga beras cukup signifikan sejak awal tahun ini. ”Kenaikan harga beras (kualitas) medium dan premium telah mencapai Rp 3.000 per kg,” kata Rahmat.

Branch Corporate Communication Alfamart Bandung Elisa Refila mengungkapkan, pihaknya sebagai pelaku usaha ritel kesulitan memenuhi stok beras premium. Kondisi ini juga dialami peritel lain. ”Kami berupaya mengatasi dengan berkoordinasi dengan pemerintah setempat,” ucap Elisa. Di Surabaya, Jatim, harga beras premium naik 38-39 % sejak awal 2024. Pada awal tahun, harga beras premium Rp 13.000 per kg, namun, melonjak menjadi Rp 18.000 per kg dalam dua pekan terakhir. Beras berkualitas rendah dijual dengan harga Rp 10.900 per kg, tetapi beras kualitas ini langka di pasar-pasar dan kios-kios khusus yang ditunjuk oleh tim pengendali inflasi daerah. Situasi serupa terjadi untuk beras premium. Selain di kios dan lapak pedagang pasar, beras kualitas ini dijual di toko ritel sampai supermarket. Di beberapa lokasi di Surabaya, beras premium masih ada, tetapi jumlahnya terbatas. Ini tampak dari ketiadaannya di rak-rak pajang sejumlah ritel. Untuk membeli beras premium, konsumen terkadang harus memesan terlebih dahulu. (Yoga) 

Divestasi Vale Indonesia Ditargetkan Tuntas Pekan Depan

17 Feb 2024
Pemerintah menargetkan divestasi 14% saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) ke MIND ID rampung pada Senin (19/2/202). Harga pelaksanaan  transaksi itu mencapai Rp 3.000 per saham, diskon dibandingkan penutupan perdagangan kemarin Rp 3.690. Setelah kabar ini mencuat, saham INCO terpangkas 7,7% dari sebelumnya Rp 4.000. Kesepakatan harga transaksi itu terjadi dipengujung batas waktu kesepakatan umum (head of agreement/HoA) antara MIND ID, Vale Canada Limited, dan Sumitomo Metal Mining Co. Ltd selaku pemegang saham. HoA itu ditandatangani pada 18 November 2023 di San fransisco, Amerika Serikat (AS). Perjanjian ini memiliki batas  waktu selama 90 hari. Artinya, pada 18 Februari 2024, kesepakatan harus dicapai ketiga pihak. Penyelesaian divestasi ini berkorelasi dengan pemberian perpanjangan konsensi Vale selama 20 tahun. (Yetede)

United Tractors Tetap Ekspansi ke Bisnis Mineral

17 Feb 2024
Emiten tambang dan alat berat Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR) tetap mempertahankan rencananya untuk ekspansi ke portfolio komoditas mineral, kendati ditengah tren pelemahan harga komoditas  seperti emas, nikel, dan tembaga secara global. Padahal jika menilik pergerakan harga komoditas mineral seperti emas, nikel, dan tembaga (copper) secara real time di pasar global, harga komoditas-komoditas  meniral tersebut  kompak penurunan secara baik secara mingguan maupun year-to-date (ytd). Harga emas misalnya, komoditas ini mengalami pelemahan harga sebesar 1,00% secara mingguan dan minus 2,58% secara ytd. Tren serupa juga terjadi pada harga nikel yang menurun sebanyak 1,89% secara ytd dan 36,84% secara yoy. Tanpa terkecuali, harga tembaga  yang menyusut 2,54% secara ytd di pasar US dan memerah sebesar 1,95% di pasar London. (Yetede)

Pupuk Mahal dan Langka Picu Lonjakan Harga Beras

17 Feb 2024
Harga beras merangkak naik dalam beberapa  pekan terakhir, sehingga membuat masyarakat cemas. Bahkan, dibeberapa daerah, harga beras premium sudah menembus Rp 18.000 per kilogram (kg), sedangkan beras medium mencapai Rp15.000 per kg. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkapkan, penyebab lonjakan harga beras adalah fenomenena El Nino 2023 yang berdampak pada waktu tanam dan ongkos produksi tinggi, akibat harga pupuk mahal dan langka. "Jadi, ongkos produksi beras meningkat, mengikuti kenaikan harga pupuk. Adapun EL Nino memicu kekeringan, sehingga produksi beras menurun," kata Sekretaris Bapannas Sarwo Edhy di Bandung. Sarwo menegaskan, kenaikan harga beras tidak ada kaitannya dengan menjelang Ramadhan. Faktor pemicunya lebih ke dampak waktu tanam yang mundur akibat El Nino. Bapanas kata dia menyebut tidak ada penimbunan dan diharapkan dalam waktu dekat harga beras bisa normal kembali. (Yetede)

Agar Kenaikan Harga Pangan Teredam

17 Feb 2024
Sejak beberapa hari terakhir, Muhammad Iqbal beralih mengkonsumsi beras curah. Sebelumnya, ia dan istrinya terbiasa membeli beras kemasan 5 kilogram. Namun beras premium tersebut semakin sulit ditemui di sejumlah retail modern. Warga Kecamatan Maja, Banten, tersebut mengatakan, saat mengunjungi beberapa toko, stok beras selalu habis. “Istri saya nyari sampai sekarang masih susah. Sekarang beli eceran,” kata Iqbal kepada Tempo, kemarin. Harga beras curah pun kini melonjak dibanding sebelumnya. Untuk mendapat beras dengan kualitas baik, harganya sekitar Rp 15 ribu. “Pernah coba beli yang Rp 12 ribu, berasnya kuning,” ujarnya.

Pengalaman Iqbal juga dialami Tuti Diah—bukan nama sebenarnya. Dia kesulitan menemukan beras premium di retail langganannya di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur. Berdasarkan pantauan Tempo pada Kamis lalu, stok beras juga kosong di sejumlah toko retail modern di Jakarta Selatan. Di dua minimarket yang didatangi Tempo di bilangan Pasar Minggu dan Bangka, tak terlihat adanya beras, baik premium maupun medium merek SPHP, yang dipajang di rak. Hanya ada substitusi beras, seperti beras merah dan beras porang.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia Roy N. Mandey menjelaskan, keterbatasan suplai beras disebabkan oleh masa panen yang belum terjadi. Adapun masa panen diperkirakan pada pertengahan Maret 2024. Secara bersamaan, kata Roy, beras tipe medium merek SPHP yang diimpor pemerintah juga belum masuk.  Selain beras premium langka di sejumlah toko retail, harganya naik. Pada panel harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), beras jenis ini terus naik, bahkan sejak Januari 2024. (Yetede)




Ogah Tercekik Musim Paceklik

17 Feb 2024
DAPUR Veronika Uto sudah tak pernah lagi mengepulkan aroma Patei Silaita, pangan lokal yang biasa dikenal sebagai jagung titi. Mama Vero, sapaan akrab Veronika, lalu menunjukkan karung-karung kosong yang teronggok di sudut dapur itu. Hanya satu karung yang masih terisi jagung pulut atau jagung ketan, bahan baku utama Patei Silaita. Itu pun hanya tersisa separuh. “Kami gagal panen! Bencana datang bertubi-tubi, salah satunya El Nino,” kata petani yang kini berusia 63 tahun itu ketika ditemui di rumahnya, Desa Pajinian, Pulau Adonara, Selasa, 6 Februari 2024. 

Patei Silaita merupakan kudapan warisan leluhur suku Lamaholot, masyarakat adat yang mendiami Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Disebut jagung titi karena, untuk membuatnya, jagung pulut ditumbuk hingga bentuknya serupa dengan emping melinjo. Olahan jagung ini biasa disajikan sebagai makanan pokok bersama sayuran dan ikan. Masyarakat juga menjadikannya sebagai bagian penting dalam upacara adat perkawinan, kematian, dan menjamu tamu. Ketika pasokan jagung pulut di rumahnya menipis, Vero tak bisa senyampang itu mengganti bahan baku Patei Silaita dengan jenis hibrida. Sebab, varietas hibrida lebih keras dan rentan remuk ketika ditumbuk. Sedangkan olahan Patei Silaita membutuhkan biji bertekstur empuk dan lengket. Karakteristiknya hanya ditemukan pada jagung pulut.

Pulau Adonara merupakan penghasil jagung pulut alias waxy corn. Jagung ketan ini memiliki ciri unik dengan rasa manis, aroma khas, dan tampilan mencolok. Hanya, produksi varietas lokal tersebut hanya 2 ton per hektare, jauh lebih rendah dibanding jenis hibrida yang mampu menghasilkan 7-10 ton per hektare. Fenomena El Nino, yang dampaknya mulai terasa di sebagian wilayah Indonesia pada pertengahan tahun lalu, memukul petani di Flores Timur. Curah hujan pada musim kemarau kering berkepanjangan turun drastis dan memicu kekeringan. Stok jagung di rumah Vero, juga masyarakat adat di Adonara atau warga Flores Timur lainnya, pun berkurang. Kabupaten dengan jumlah penduduk 287 ribu jiwa tersebut kini tak memiliki cadangan pangan yang cukup akibat krisis pangan. (Yetede)