Lingkungan Hidup
( 5781 )Divestasi Vale Indonesia Ditargetkan Tuntas Pekan Depan
United Tractors Tetap Ekspansi ke Bisnis Mineral
Pupuk Mahal dan Langka Picu Lonjakan Harga Beras
Agar Kenaikan Harga Pangan Teredam
Ogah Tercekik Musim Paceklik
Harga Beras Melambung, Bulog Terus Guyur Pasar
TARIK REM KENAIKAN HARGA
Pemerintah perlu bergegas untuk mengantisipasi lonjakan harga di sejumlah bahan pangan strategis yang meningkat sejak awal tahun agar inflasi pangan tak menjadi ancaman serius bagi perekonomian nasional. Berdasarkan Panel Harga Bapanas—situs resmi harga pangan strategis Indonesia—Jumat, (16/2), harga kebutuhan pokok rerata meningkat. Harga beras premium terkerek 0,54% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YtD) menjadi Rp15.940 per kilogram (kg). Beras medium juga naik 0,49% menjadi Rp13.970 per kg. Jumlah tersebut jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang dipatok Rp10.900—Rp11.800 per kg. Harga minyak goreng curah turut naik 0,27% ke harga Rp15.210 per liter, padahal HET komoditas ini tercatat Rp14.000 per liter. Lonjakan harga pangan ini terjadi di tengah permintaan yang mulai meningkat sejak awal tahun hingga menjelang Ramadan. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia (BI) merilis survei teranyar bahwa masyarakat sudah memiliki ekspektasi kenaikan harga pada Maret 2024 atau saat Ramadan tiba.
Asisten Gubernur dan Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono menerangkan Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) Maret 2024 tercatat 132,3 dari posisi 115,1 pada Februari 2024. Ini karena dipicu oleh peningkatan permintaan barang pada Ramadan. Oleh karena itu, pemerintah mulai menyiapkan sejumlah strategi guna meredam inflasi dan pengendalian harga untuk menjaga daya beli konsumen tetap kuat. Beberapa di antaranya adalah intervensi pasar, pengawasan kelancaran stok dan distribusi kebutuhan pokok, serta insentif bantuan pangan. Kasan, Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kementerian Perdagangan, menyampaikan, secara periodik pemerintah melakukan pemantauan, baik yang bersifat teknis melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPID) maupun pemantauan stok dan harga barang kebutuhan pokok di pasar. Adapun, untuk mengantisipasi kelangkaan kebutuhan bahan pokok seperti beras, Kemendag berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Pengawasan juga dilakukan terhadap stok barang kebutuhan pokok melalui koordinasi dengan pelaku usaha dan asosiasi untuk memastikan pasokan dan stok cukup.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa memastikan bahwa ketersediaan kebutuhan pokok sangat memadai, baik untuk menghadapi Lebaran maupun bulan-bulan berikutnya. Menurutnya, kenaikan harga beras terjadi sebagai dampak dari defisit produksi beras dibandingkan dengan konsumsi beras pada Januari dan Februari 2024. Produksi beras tidak mencapai target seiring dengan terjadinya gagal panen akibat El Nino. Di sisi lain, peritel modern mendesak pemerintah untuk mempercepat penyaluran beras SPHP untuk meredam tingginya harga komoditas ini. HR & Corporate Communications Director Transmart Satria Hamid menyampaikan Perum Bulog sudah mulai menggelontorkan beras SPHP sejak beberapa waktu lalu. Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios) Media Wahyudi Askar menilai kenaikan beras yang tidak bisa dikontrol akan menimbulkan efek domino pada komoditas lain. Tak pelak, penting bagi pemerintah untuk memantau lonjakan harga dan mengatasi kelangkaan pangan.
KOMODITAS POKOK & PENTING : Pasokan Beras Cukup untuk Bantuan Pangan
Perum Bulog memastikan stok beras nasional mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Idul fitri tahun ini, karena telah mengamankan cadangan beras pemerintah sebanyak 1,4 juta ton. Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi mengatakan bahwa stok cadangan beras pemerintah (CBP) yang dimiliki pihaknya sangat cukup untuk digunakan oleh pemerintah untuk melaksanakan sejumlah program andalan, seperti bantuan pangan beras.
“Ini sangat cukup untuk kebutuhan penyaluran bantuan pangan beras sampai dengan Juni, penyaluran stabilisasi pasokan dan harga pangan [SPHP], dan menghadapi puasa serta Lebaran,” katanya, Jumat (16/2). Untuk diketahui, pemerintah kembali menyalurkan bantuan pangan beras per 15 Februari 2024, setelah sebelumnya sempat dihentikan pada 8—14 Februari 2024 untuk menghindari adanya politisasi terhadap program tersebut. Badan Pangan Nasional (Bapanas) pun mencatat bantuan pangan beras telah terealisasi sebanyak 185.000 ton hingga 7 Februari 2024. Bantuan tersebut ditujukan kepada 22.004.077 atau 22 juta keluarga penerima manfaat (KPM) berdasarkan data Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) yang dikelola oleh Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Berdasarkan Panel Harga Bapanas kemarin, rata-rata harga beras di seluruh wilayah Indonesia terus bergerak naik menjauhi harga eceran tertinggi (HET). Adapun, pemerintah menetapkan HET Rp13.900—Rp14.800 per kilogram untuk beras premium, dan Rp10.900—Rp11.800 per kilogram untuk beras medium.
Secara terpisah, Kepala Satuan Tugas Pangan Polri Brigjen Pol Whisnu Hermawan menyampaikan bahwa pengawasan tersebut dilakukan di daerah yang menjadi sentra produksi beras untuk memastikan jalur pasokannya aman.
Whisnu menambahkan, pihaknya tengah menyoroti tempat penggilingan beras, gudang-gudang penyimpanan, toko retail modern, dan pasar tradisional agar mengetahui hambatan dalam pendistribusian beras.
Ekspor batu Bara Kontraksi 19,68 di Awal Tahun
Impor Beras Naik 78% di Awal tahun
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan volume impor beras pada Januari 2024 mencapai 433 ribu ton, naik 78% dari bulan sama tahun lalu sebanyak 243 ribu ton. Namun, jumlah itu turun 18 dari bulan sebelumnya sebanyak 531 ribu ton. Sebanyak lima negara pemasok beras dengan sumbangan terbesar pada Januari 2024 adalah Thailand sebanyak 237 ribu ton, Pakistan 129,7 ribu ton, Myanmar 41 ribu ton, Vietnam 32 ribu ton, dan Kamboja 2,5 ribu ton. "Beras-beras ini tidak dilepas ke pasar, tetapi tergantung pada kebijakan, sehingga polanya tidak ada yang bisa kita ketahui secara pasti, tergantung dari kebijakan impor pemerintah," ucap Pelaksana Tugas (plt) Kepala BPS Amali Adininggar Widyasanti. Total impor secara keseluruhan pada Januari 2024 mencapai US$ 18,51 miliar, turun 3,13% dari bulan sebelumnya. (Yeted)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









