Lingkungan Hidup
( 5820 )Sebut Harga Mulai Turun, Presiden: Coba Cek di Pasar
Presiden Jokowi menyanggah informasi mengenai harga beras
yang masih tinggi di pasar ritel. Dari hasil pantauan ke sejumlah pasar,
Presiden mengklaim harga beras sudah mulai turun. ”Coba dicek di Pasar Induk
Cipinang. Dicek lagi ke Pasar Johar, ini yang pasar-pasar beras harus dicek.
Coba kalian ke Pasar Cipinang, cek harganya turun atau naik, cek di Pasar Johar,”
ujar Presiden seusai membuka Rapat Pimpinan TNI-Polri di Cilangkap, Jakarta
Timur, Rabu (28/2). Panel Harga Pangan Bapanas per 28 Februari 2024 menunjukkan,
harga rerata nasional beras kualitas medium turun tipis, dari Rp 14.330 per kg
pada Selasa (27/2) menjadi Rp 14.300 per kg pada Rabu (28/2). Namun, harga
rata-rata beras menurut Pusat Informasi Harga Pangan Strategis bertahan Rp
15.800 per kg selama dua hari itu.
Deputi III Bidang Perekonomian Kantor Staf Presiden Edy
Priyono mengatakan, tingginya harga beras saat ini dipengaruhi produksi beras
yang masih relatif rendah pada Januari hingga Februari 2024. Perhitungan Kementan
dan Bapanas menunjukkan adanya defisit karena produksi beras lebih kecil dibandingkan
kebutuhan pada Januari-Februari 2024. Selain itu, biaya produksi di tingkat
petani juga naik. ”Produksi saat ini lebih rendah daripada biasanya karena musim
tanam mundur akibat El Nino tahun lalu. Ada juga yang gagal tanam,” ujarnya. Di
sejumlah daerah, harga gabah kering panen di tingkat petani berangsur turun
seiring meluasnya panen padi.
Hal itu akan diikuti penurunan harga beras. Namun, penurunan
harga beras diperkirakan berjalan lambat lantaran musim panen raya padi
beririsan dengan masa Ramadhan-Lebaran. Di Kabupaten Demak, Jawa Tengah,
misalnya, panen padi telah berlangsung sejak Februari 2024 dan akan memuncak pada
akhir Maret hingga awal April 2024. Harga gabah kering panen (GKP) di petani
yang semula Rp 8.500 per kg berangsur turun menjadi Rp 7.200 per kg. ”Pada
puncak panen raya nanti, harga GKP ditingkat petani akan terus turun. Harga
terendahnya diperkirakan Rp 6.500 per kg,” kata Ketua Himpunan Kerukunan Tani
Indonesia Kabupaten Demak Hery Sugihartono, Rabu. (Yoga)
EKSPEDISI RUPIAH BERDAULAT, Sisi Lain Maratua, Pulau Terpencil yang Menghadap Dua Negara
Pada pukul 09.30 Wita, sejumlah warga mulai mengisi
kursi-kursi kosong di balai Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kaltim, Senin
(26/2). Tak lama, rombongan perwakilan BI, TNI AL, dan Baznas yang sedang menempuh
Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2024 di wilayah terluar, terdepan, dan terpencil
(3T) pun datang. Berti (64), warga Desa Teluk Harapan, Kecamatan Maratua, baru
saja tiba. Seorang prajurit berseragam loreng abu-abu mengantarkan nenek dengan
tiga cucu tersebut ke depan meja kasir layanan penukaran uang di balai
kecamatan. Sesampainya di meja kasir, Berti merogoh tas, selembar demi selembar
uang-uang lusuh dari dalamnya dan diletakkannya di atas meja. Petugas kasir pun
menghitung jumlah nominal uang lusuh milik Berti dan menumpuknya di salah satu sudut.
Uang-uang itu terdiri dari berbagai macam pecahan, dari Rp
1.000, Rp 2.000, hingga Rp 50.000. Secara keseluruhan, uang lusuh itu bernilai
Rp 150.000. Petugas kasir segera mengambil beberapa pecahan uang layak edar
tahun emisi 2022 dan memberikan kepada Berti. Sehari-hari berdagang bubur di
kompleks TK, tidak jarang Berti menerima uang dalam kondisi lusuh. Wajar,
anak-anak kerap menyimpan uang secara asal-asalan di dalam kantong. Kini
dagangan Berti tidak seramai sebelumnya. Kenaikan harga beras telah memaksanya
menaikkan harga bubur yang dijualnya. Harga beras medium menembus Rp 400.000
per 25 kg atau Rp18.000 jika dijual per kg. Padahal, rata-rata harga beras
medium nasional per 26 Februari 2024 dibanderol Rp 14.300 per kg. Menurut
Berti, harga beras di Maratua biasanya Rp 17.000 per kilogram.
Sukanto (64) juga merasakan hal serupa. Harga bahan pokok,
terutama beras, dirasakannya lebih tinggi ketimbang kebutuhan lain. Maratua
merupakan salah satu dari 31 gugus pulau di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau,
Kaltim. Sebagai pulau 3T, Maratua terletak di Laut Sulawesi yang berbatasan
dengan Sabah di Malaysia timur dan Filipina bagian selatan. Untuk sampai ke
sana, hanya ada dua akses, yakni melalui jalur laut dengan perahu cepat
(speedboat) dan melalui jalur udara dengan penerbangan perintis. Camat Maratua
Ariyanto menjelaskan, Pulau Maratua sebagai wilayah terluar sekaligus
perbatasan menghadapi permasalahan utama, yakni keamanan. Di sisi lain, ketahanan
pangan menjadi isu di pulau tersebut, lantaran pulau ini memiliki kultur tanah yang
tidak memungkinkan untuk bercocok tanam. (Yoga)
Kisah ”Padi Lesus” di Tengah Limbung Beras
Belum makan kalau belum ketemu nasi masih jadi prinsip
sebagian besar masyarakat. Buktinya, kelangkaan gabah karena keterbatasan
produksi yang menaikkan harga beras belakangan ini membuat geger masyarakat.
Namun, situasi tersebut tidak banyak memengaruhi penikmat ataupun petani beras organik,
yakni beras dari padi yang diklaim tahan lesus atau puting beliung dan bebas
zat kimia. Hal ini diakui Bibong Widyarti, perempuan yang pernah memperkenalkan
beras organik Indonesia ke Konferensi Perubahan Iklim COP28 di Dubai, awal
Desember 2023. ”Beras organik tetap laku, petani juga masih bisa menyimpan stok
gabah untuk konsumsi pribadi,” ujar pegiat produk organik dari Yayasan Alifa
dan Rumah Organik ini, beberapa waktu lalu.
Beras yang dijual pelaku usaha organik lebih mahal daripada
beras konvensional. Saat ini, harga beras organik ada di kisaran Rp 35.000 per
kg, dua kali lipat lebih dari harga beras konvensional. Per Rabu (28/2) data
Badan Pangan Nasional menunjukkan rata-rata harga beras premium Rp 16.410 per kg
dan beras medium Rp 14.300 per kg. Harga beras organik itu bukan hanya layak
untuk menutup biaya produksi petani, melainkan juga untuk menjamin kualitas
beras yang dinikmati konsumen. Kualitas produk pun dipatenkan dengan sertifikasi
Lembaga Sertifikasi Pangan Organik (LSPO) yang diakui oleh negara atau
Penjaminan Organik Berbasis Komunitas (Participatory Guarantee System/PGS).
”Ada sistem kebersamaan dari kami, petani produsen dengan konsumen, karena yang
dijual value dan kualitas,” ujarnya. (Yoga)
Petrindo Jaya Tuntaskan Akuisisi Tambang Batu Bara Indika Rp 3,2 Triliun
Sepanjang 2023, Kilang Pertaina Mengolah Minyak 340 Juta Barel
Bulog Optimis Harga Beras Berangsur Turun
BAHAN PANGAN : HARGA BERAS MELANDAI BULAN DEPAN
Sejumlah kalangan memprediksi harga beras di pasar mulai turun pada pekan pertama bulan depan seiring dengan mulai terkoreksinya harga gabah kering panen di tingkat petani. Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) Dwi Andreas Santosa mengatakan, hasil laporan AB2TI di sejumlah wilayah di Jawa Timur dan Jawa Barat mendapati penurunan harga gabah di petani. Dia memberikan contoh harga gabah di Jawa Timur, seperti di Jember, Lamongan, Ngawi, dan Tuban telah turun Rp1.000 per kilogram (kg) dalam 10 hari terakhir. “Di Jawa Timur pada 16 Februari [2024] rata-rata harga gabah Rp8.200 [per kg]. Kemarin, pada 27 Februari 2024 sudah turun jauh sekitar Rp7.000—Rp7.200 [per kg],” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (28/2). Khusus sentra produksi beras di Jawa Barat, seperti Subang, Karawang, dan Indramayu, Dwi yang juga Guru Besar IPB University menyatakan, juga mengalami penurunan harga gabah, meskipun tidak signifi kan seperti di Jawa Timur. Bahkan, dia menegaskan, harga gabah di wilayah Sumatra Selatan sudah Rp6.700 per kg. Menurutnya, tren penurunan harga gabah di petani berpeluang membuat harga beras di pasar melandai. Dwi memprediksi, rata-rata harga beras akan turun hingga puncak panen raya pada April 2024 ke level Rp14.500—Rp14.700 per kg. Meskipun diperkirakan turun, harga beras saat panen raya tahun ini tetap lebih tinggi dari harga beras saat panen raya pada tahun sebelumnya. Dwi menekankan, ada kekhawatiran para petani merugi saat puncak panen raya terimbas anjloknya harga gabah di bawah biaya produksi. Adapun, AB2TI mencatat biaya produksi yang dikeluarkan petani saat ini sudah di kisaran Rp6.000 per kg gabah kering panen (GKP). Data Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), rata-rata harga beras premium pada Rabu (28/2) di level Rp16.410 per kg, dan Rp14.300 per kg untuk beras medium.
Saat ini, harga beras masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan oleh pemerintah dalam Perbadan No. 7/2023, yaitu Rp13.900—Rp14.800 per kg untuk beras premium, dan Rp10.900—Rp11.800 per kg untuk beras medium. Prediksi penurunan harga beras juga disampaikan oleh Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi). Wakil Ketua Perpadi Billy Haryanto menyampaikan, harga beras terus bergerak turun menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional. Dia menyatakan, harga beras sudah mulai bergerak turun sekitar Rp400—Rp1.000 per kg sejak 2 pekan lalu, lantaran sejumlah sentra produksi sudah mulai memasuki musim panen.
Dia mengungkap, tingginya harga beras dipicu oleh fenomena cuaca El Nino dan biaya produksi yang mahal. Dia membantah tudingan bantuan pangan beras sebagai dalang dari langkanya stok beras di tingkat pedagang. Alih-alih memicu kelangkaan stok beras, bantuan tersebut justru digelontorkan untuk meredam harga dan menjadi bantalan bagi masyarakat yang kurang mampu.
Sebaliknya, Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi berharap harga beras terus melandai sejalan dengan harga gabah yang berangsur turun. Di sejumlah wilayah yang telah melakukan panen, ungkapnya, harga gabah sudah bergerak turun ke Rp7.600 per kg, dari sebelumnya sekitar Rp8.000—Rp8.600 per kg.
Hal ini sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk meningkatkan penyaluran beras hingga 250.000 ton per bulan. Total beras SPHP yang telah digelontorkan di berbagai pasar retail modern mencapai 7.596 ton hingga Februari 2024.
Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono membeberkan permintaan Kementan agar pengusaha sawit segera merealisasikan program penanaman padi gogo di lahan sawit yang tengah diremajakan.
Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bustanul Arifi n mengatakan bahwa penanaman padi gogo tidak bisa serta-merta diandalkan sebagai alternatif sumber penyediaan beras nasional. Alasannya, produktivitas padi gogo dianggap lebih rendah dibandingkan dengan padi di lahan sawah.
Warga Incar Operasi Pasar, Buru Beras Murah
Harga beras yang masih
tinggi membuat warga di sejumlah daerah mengincar berbagai operasi pasar yang
digelar pemerintah untuk mendapatkan komoditas tersebut dengan harga lebih murah.
Mereka rela mengantre demi mengurangi tekanan pengeluaran rumah tangga. Salah
satu operasi pasar beras digelar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta di halaman kantor dinas ini di Yogyakarta, Selasa
(27/2). Sebanyak 15 ton beras berbagai kualitas dijual dengan harga Rp 10.200
per kilogram (kg) untuk beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Bulog
hingga tertinggi Rp 15.000 per kg untuk beras premium.
Tuti (63), warga Kampung Tahunan, Kecamatan Umbulharjo,
Yogyakarta, telah dating sejak pagi untuk antre membeli beras. Dia mendapat
antrean awal dan membeli 10 kg beras premium seharga Rp 139.000 atau Rp 13.900
per kg. ”Sekarang di pasar harganya Rp 17.500-Rp 18.000 per kg, naik jauh dari
biasanya Rp 12.500 per kg. Maka, waktu dapat info ada pasar murah ini langsung berangkat
awal,” kata Tuti. Warga Yogyakarta lainnya, Nunik (54), mengaku sudah 3-4 kali
mengikuti operasi pasar di berbagai lokasi demi mendapatkan beras dengan harga
murah. Meski di operasi pasar itu ada komoditas bahan pokok lain yang dijual,
Nunik hanya mengincar beras karena harganya
masih mahal di pasar. ”Kenaikannya sampai Rp 5.000 per kg dibandingkan harga
normal,” ujarnya. (Yoga)
Realisasi Impor Bergantung Produksi Beras Domestik
Rencana impor 3,6 juta ton beras pada tahun ini untuk
memperkuat cadangan beras pemerintah belum tentu terealisasi sesuai kuota.
Pemerintah tetap akan memperhitungkan produksi beras di dalam negeri. Kepala Bapanas
Arief Prasetyo Adi, Selasa (27/2) mengatakan, Bapanas dan Bulog akan fokus
merealisasikan terlebih dahulu kuota impor 2 juta ton beras. Dari alokasi
tersebut, beras impor yang sudah didatangkan hingga pekan keempat Februari 2024
baru 500.000 ton. Saat ini, menurut Arief, tidak mudah mendatangkan beras dari
negara lain karena harganya tinggi. Selain itu, masih banyak negara produsen
beras membatasi ekspor komoditas tersebut untuk memenuhi kebutuhan domestik. Di
sisi lain, banyak daerah di Indonesia yang akan panen padi pada Maret 2024 dan
diperkirakan memuncak pada April 2024. Pada Maret, produksi beras nasional
diperkirakan mencapai 3,51 juta ton.
”Untuk itu, realisasi tambahan alokasi impor beras sebanyak
1,6 juta ton bergantung pada hasil produksi di dalam negeri. Jika masih kurang
dan kuota 2 juta ton beras sudah terealisasi semua, kuota tambahan tersebut
baru akan direalisasikan secara terukur,” ujarnya. Meski produksi padi bakal meningkat
dan surplus beras mulai terjadi pada Maret 2024, defisit beras nasional
diperkirakan masih terjadi pada Januari-Maret 2024. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel
Area (KSA) BPS, total produksi beras pada Januari-Maret 2024 sebanyak 5,81 juta
ton. Dengan total kebutuhan konsumsi beras nasional sepanjang tiga bulan di
awal tahun ini sebanyak 7,62 juta ton, Indonesia masih defisit beras 1,81 juta
ton. (Yoga)
Laju Inflasi Tersulut Lonjakan Harga Pangan
Gejolak harga sejumlah bahan pangan berpotensi mengerek inflasi selama kuartal pertama tahun ini. Demi meredam lonjakan inflasi, pemerintah perlu menjaga stabilitas harga pangan dengan mengamankan pasokan dan distribusinya, terutama menjelang Ramadan dan Lebaran 2024.
Bukan hanya harga beras, minyak goreng dan cabai, harga daging sapi juga kemungkinan besar bakal terkerek lantaran kebijakan impor komoditas ini masih tertahan. Sejumlah ekonom pun memprediksi inflasi pada Februari 2024 akan menanjak akibat kenaikan harga pangan atau
volatile food.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky melihat, faktor pendorong inflasi Februari 2024 adalah kenaikan harga pangan. "Pendorognya adalah komponen pangan, baik beras, telur ayam, cabai. Ini mendorong inflasi Februari 2024," kata dia, kemarin.
Sesuai pola musiman, biasanya di periode tersebut ada eskalasi harga pangan yang kemudian menyundut inflasi umum indeks harga konsumen (IHK). Selain itu, ada potensi puncak kemarau pada Mei 2024. Ini juga selaras dengan prediksi BMKG. LPEM FEB UI meyakini inflasi pada Februari 2024 berada di kisaran 2,5%-2,6% year-on-year (yoy). Pada Januari 2024, inflasi di level 2,57% yoy.
Prediksi Kepala Ekonom BCA David Sumual lebih tinggi lagi, inflasi di kisaran 2,74% yoy. Sependapat dengan Riefky, David juga menilai kenaikan inflasi Februari 2024 didorong lonjakan harga makanan pokok.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga mencermati eskalasi harga beras yang turut menyumbang inflasi. Menurut dia, inflasi harga bergejolak (volatile food) dipengaruhi oleh kenaikan harga pangan kebutuhan pokok, terutama beras. Pada Februari 2024, harga beras sudah naik 3,8% secara bulanan (mom).
Maka salah satu opsinya adalah mengimpor beras. Namun kebijakan impor juga agak terhambat oleh beberapa negara produsen beras lainnya yang menerapkan pembatasan ekspor pangan.
Agar inflasi pangan tak semakin liar, Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menyarankan pemerintah perlu giat mengintervensi pasar. "Perlu menjaga ketersediaan bahan pangan agar terjangkau," imbuh dia.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









