Efek Negatif Penghiliran Nikel
Penghiliran nikel dianggap belum memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan akibat besarnya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Hal itu dirasakan Pani Arpandi, warga Pulau Wawonii, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara. Hingga kini ia masih konsisten menentang keberadaan tambang nikel di daerahnya. Menurut dia, kehadiran perusahaan nikel belum memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian warga lokal. “Malah yang terlihat dampak lingkungan. Sudah lima hari belakangan air konsumsi masyarakat di Desa Roko-Roko, dekat beroperasinya tambang, menjadi keruh,” ujarnya saat dihubungi kemarin.
Arpandi yakin penyebab air yang selama ini keruh adalah operasi tambang. Menurut dia, beberapa bulan sejak tambang beroperasi, sudah ada penurunan pendapatan, khususnya di sektor perikanan. “Kekeruhan air menjadi penyebab larinya ikan-ikan,” ujarnya. Kondisi yang dialami Arpandi seakan-akan membenarkan riset Center of Economic and Law Studies (Celios) dan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) bertajuk "Membantah Mitos Nilai Tambah, Menilik Ulang Industri Hilirisasi Nikel: Dampak Ekonomi dan Kesehatan dari Industri Nikel di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara".
Riset yang dirilis pada 20 Februari lalu itu menyebutkan skema bisnis industri nikel yang ada saat ini hanya memberi keuntungan selama lima tahun awal, atau selama masa konstruksi. Meski industri ini menghasilkan produk domestik bruto (PDB) positif sebesar US$ 4 miliar (sekitar Rp 62,8 triliun), setelah tahun kelima, keuntungan menurun setelah dampak lingkungan hidup dan kesehatan mulai memperlihatkan efek negatif terhadap total output perekonomian. (Yetede)
Tags :
#NikelPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023