;

Mengamankan Produksi Beras

Lingkungan Hidup Yoga 24 Feb 2024 Kompas
Mengamankan Produksi Beras

Sampai minggu ketiga Februari 2024, rata-rata harga beras medium secara nasional masih mengalami peningkatan. Panel Harga Pangan Bapanas, per 15 Februari 2024, menunjukkan rata-rata harga beras medium di tingkat konsumen sebesar Rp 14.031 per kg, meningkat 4,00 % secara bulanan dan 15,03 % secara tahunan. Rata-rata harga beras tertinggi ada di Papua Pegunungan sebesar Rp 21.500 dan terendah di Jambi Rp 12.575. Kantor Staf Presiden, dalam rilis mingguannya tentang Laporan Hasil Pemantauan harga Pangan Strategis, sudah lama memasukkan harga beras dalam status tak amankarena harganya jauh di atas HET pemerintah. Bertahannya harga beras tinggi setahun terakhir disebabkan banyak hal, antara lain kenaikan biaya produksi, penurunan produksi beras nasional, dan tingginya harga beras di pasaran global.

Berdasarkan Data BPS (2023) produksi beras tahun 2023 turun 645.000 ton, dari 31,54 juta ton pada 2022 menjadi 30,9 juta ton pada 2023 disebabkan penurunan luas panen, sekitar 255.000 hektar, atau 2,45 % dibandingkan dengan tahun lalu. Penurunan ini diperkirakan terus berlanjut. Berdasarkan data Kerangka Sampel Area yang dikutip Kompas, 13 Februari 2024, produksi gabah kering giling (GKG) pada Januari-Maret 2024 sekitar 10,1 juta ton, jauh lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu di 16,2 juta ton. Proses penurunan produksi ini telah berlangsung selama enam tahun terakhir, terutama karena penurunan luas areal panen 1,81 % per tahun, sementara produktivitas relatif tetap di kisaran 52 kuintal per hektar.

Dampak dari penurunan ini terlihat dari berkurangnya surplus tahunan beras, yaitu pengurangan produksi terhadap konsumsi tahunan. Memperhatikan kecenderungan penurunan produksi di dalam negeri dan prediksi penurunan jumlah beras yang diperdagangkan tahun 2024, maka perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengamankan produksi beras di dalam negeri. Upaya mengamankan produksi beras di dalam negeri harus dapat menjawab dua masalah utama yang ada, yaitu penurunan luas areal panen dan stagnasi produktivitas selama enam tahun terakhir. Terkait dengan luas areal panen, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memperbarui data baku lahan sawah.

Data baku lahan sawah yang digunakan saat ini adalah data Penetapan Luas Lahan Baku Sawah Nasional Tahun 2019, yaitu 7.463.948 hektar. Dalam jangka pendek, perluasan areal panen lebih memungkinkan untuk dilakukan melalui peningkatan indeks pertanaman   dengan meningkatkan intensitas tanam padi pada satu hamparan lahan, dari sekali tanam menjadi dua kali tanam, atau dari dua kali tanam menjadi tiga kali tanam dalam setahun. Upaya perluasan areal panen melalui pencetakan lahan sawah baru, apalagi di lahan rawa, akan membutuhkan waktu yang lebih lama bisa efektif memperluas areal panen. Secara nasional potensi peningkatan intensitas tanam padi masih sangat terbuka. (Yoga) 

Tags :
#Beras #Varia
Download Aplikasi Labirin :