INCO Masih Tertekan Harga Nikel
Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksi turun di 2024. Meski begitu, prospek INCO dinilai tetap positif didorong perkembangan industri kendaraan listrik.Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, tren pertumbuhan kinerja INCO akan terkoreksi akibat adanya kelebihan pasokan yang menyebabkan tekanan pada harga nikel. Ia memperkirakan harga nikel tahun ini berkisar US$ 16.000 - 17.000 per ton setelah rata-rata tahun lalu di kisaran US$ 21.688 ton.Berdasar data Bloomberg, harga nikel untuk kontrak tiga bulan di level harga Rp 16.347 per ton pada Rabu (21/2). "Kami menilai hal ini mungkin saja menjadi peluang bagi INCO. Menurunnya harga nikel justru akan meningkatkan permintaan akan nikel terutama yang menjadi bahan baku baterai NMC," ujarnya, Rabu (21/2).Selama ini kendaraan listrik yang menggunakan Litium Nikel Mangan Kobalt Oksida (NMC) adalah kendaraan listrik kelas atas. Sehingga dengan menurunnya harga nikel, bukan tidak mungkin dapat menekan harga kendaraan listrik yang menggunakan baterai NMC dan dapat bersaing dengan kendaraan listrik yang menggunakan baterai Lithium Ferro-Phospate (LFP). "Prospek nikel sebagai bahan utama baterai NMC masih menonjol, mengingat NMC mendominasi pasar kendaraan listrik 50%-60% dibandingkan LFP," sambungnya.Dus, di tengah tekanan harga nikel, Arinda memperkirakan adanya potensi pertumbuhan volume penjualan. Terlebih pemerintah sangat mendukung industri tersebut melalui berbagai insentif.
Tekanan harga Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan, meski belakangan naik, tetapi harga nikel masih turun lebih dari 40% dibanding tahun lalu. Harga tersebut juga mendekati level harga terendah sejak 2021."Penurunan ini tak lepas dari banjirnya pasokan baru nikel dari Indonesia dalam dua tahun terakhir," ujar Miftahul, Rabu (21/2).Kondisi surplus telah memicu penurunan yang lebih cepat pada harga nikel LME sejak awal kuartal IV 2023 menjadi di bawah US$ 17.000 per ton. Di tengah tekanan harga nikel, Mifta memperkirakan rata-rata harga jual (ASP) nikel INCO tahun ini berkisar US$ 13.260 per ton. Harga tersebut lebih rendah seiring pula volume produksi nikel yang kemungkinan tetap bertahan pada tingkat tinggi. Sementara Analis MNC Sekuritas Alif Ihsanario memperkirakan pendapatan INCO tahun ini turun 18,69% menjadi US$ 1 miliar dan laba bersih turun 49,69% menjadi US$ 138 juta.Prospek INCO tertahan karena ada juga kekhawatiran berkurangnya permintaan nikel karena meningkatnya preferensi industri kendaraan listrik terhadap baterai LFP. LFP memiliki siklus hidup yang lebih tinggi dan risiko lebih rendah.
Tags :
#NikelPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023