Lingkungan Hidup
( 5820 )Petani Berharap Harga Gabah Tak Anjlok Saat Panen Raya
Para petani padi di sejumlah daerah di Tanah Air meminta
pemerintah menjaga harga gabah agar tidak anjlok saat panen raya tahun ini.
Anjloknya harga gabah akan menjatuhkan motivasi sekaligus menekan kesejahteraan
petani. Rokhman (52), petani di Desa Jagapura Wetan, Cirebon, Jabar,
menuturkan, petani di daerahnya kesulitan mendapatkan pasokan air dan pupuk
bersubsidi serta mengatasi serangan hama yang membuat biaya produksi naik.
Akibat masalah tersebut, ongkos tanam padi yang ia keluarkan bertambah dari biasanya
Rp8 juta per hektar menjadi lebih dari Rp 10 juta per hektar. Seperti Rokhman,
Aksan Maulana (52), petani lain di daerah itu, berharap harga gabah tidak
anjlok. ”Harga gabah kalau bisa stabil Rp 7.000- Rp 8.000 per kg. Kalau di
bawah itu, ya, rugi. Sebab, kebanyakan petani masih menyewa lahan,” ujarnya.
Merujuk data kerangka sampel area BPS, luas panen padi berpotensi
meningkat pada Maret dan April 2024. Karena itu, produksi beras diperkirakan
meningkat dan melebihi rata-rata kebutuhan konsumsi domestik yang mencapai 2,5 juta
ton per bulan. Pada Maret, produksi beras diprediksi 3,54 juta ton, sementara
pada April mencapai 4,92 juta ton. Gejala turunnya harga gabah sudah terjadi di
lapangan. Di Demak, Jateng, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani
yang semula Rp 8.500 per kg berangsur turun menjadi Rp 7.200 per kg (Kompas.id,
28/2/2024). Seperti para petani di Cirebon dan Demak, Sahri (70) dan Jama’ali
(55), petani di Desa Banjararum, Desa Banjararum, Malang, Jatim, berharap
pemerintah bisa menjaga stabilitas harga gabah. (Yoga)
Gagal Panen Jagung Menjadi Pukulan Ganda bagi Warga Flores Timur
Produksi jagung di Flores Timur, NTT, diprediksi merosot
lebih dari 50 % karena El Nino yang menyebabkan kurangnya hujan. Padahal,
jagung merupakan pangan pokok kedua setelah beras yang harganya saat ini melonjak
tinggi. Kadis Pertanian Flores Timur Sebas Sina Kleden, di kantornya, Senin
(4/3) mengatakan, El Nino menyebabkan intensitas hujan di Flores Timur selama
musim hujan tahun 2024 sangat kurang. Hal ini menyebabkan banyak tanaman
masyarakat, termasuk jagung, mati. ”Setiap hari masuk laporan dari desa,
tanaman jagung yang ditanam masyarakat kekeringan dan mati,” kata Sebas. Ia memperkirakan,
produksi jagung di Flores Timur pada musim panen Maret-April bakal berkurang
lebih dari 50 %. Menurut dia, ancaman gagal panen jagung juga dilaporkan di
kabupaten lain di NTT.
”Tahun ini akan sangat berat bagi masyarakat NTT karena harga
beras juga masih sangat tinggi. Harga jagung juga mahal karena pasokan nya
kurang,” ujar Sebas Saat ini harga beras di Flores Timur Rp 17.000 per kg. Jagung
pipil yang biasanya Rp 5.000 per kg mencapai Rp 10.000 per kg dan jagung giling
mencapai Rp 15.000 per kg. Fungsional Analis Dinas Pertanian dan Ketahanan
Pangan Kabupaten Flores Timur, Junus Mukin, mengatakan, jagung selama ini merupakan
pangan pokok kedua dengan konsumsi 29
gram hingga 40 gram per kapita per hari. Adapun konsumsi beras berkisar 200-300
gram per kapita per hari. ”Konsumsi jagung di petani perdesaan umumnya lebih
tinggi dibandingkan di perkotaan. Biasanya masyarakat desa mencampur jagung
hasil tanaman sendiri untuk mengurangi konsumsi beras. Namun, dengan kegagalan
panen jagung, masyarakat akan lebih bergantung pada beras yang harganya mahal,”
tuturnya. (Yoga)
Laju Inflasi Pangan Lampaui Kenaikan UMR
Dalam kurun 3-4 tahun terakhir, rata-rata kenaikan inflasi
komponen harga pangan bergejolak melebihi rerata kenaikan upah minimum regional
(UMR). Level inflasi komponen tersebut juga mendekati rerata kenaikan gaji ASN.
Bahkan, pada Februari 2024, angkanya sudah melebihi rerata kenaikan gaji ASN
dan UMR. Hal itu mengemuka dalam Rakor Pengamanan Pasokan dan Harga Pangan Jelang
Puasa dan Idul Fitri 2024 yang digelar Bapanas secara hibrida di Jakarta, Senin
(4/3). Rapat yang dipimpin Mendagri Tito Karnavian itu dihadiri Kepala Bapanas Arief
Prasetyo Adi, perwakilan kementerian/lembaga terkait, BI, serta sejumlah kepala
daerah di Indonesia. Arief menjelaskan, pada 2020-2023, rerata tingkat inflasi
komponen harga pangan bergelojak sebesar 5,2 %.
Tingkat inflasi itu sudah di atas rerata kenaikan UMR pada 2020-2024
yang sebesar 4,9 %. Angka rerata tersebut juga mulai mendekati rata-rata kenaikan
gaji ASN pada 2019- 2024 yang sebesar 6,5 %. ”Oleh karena itu, inflasi harga
pangan bergejolak harus dijaga di bawah 5 % agar tidak menggerogoti penghasilan
mereka,” ujar Arief. BI mencatat tingkat inflasi komponen harga pangan bergejolak
pada Februari 2024 di atas rerata kenaikan gaji ASN dan UMR. Tingkat inflasi pada
bulan tersebut mencapai 2,75 % secara tahunan atau meningkat dari inflasi
Januari 2024 di 2,57 %. Komponen harga pangan bergejolak berkontribusi terbesar
terhadap inflasi Februari 2024. Tingkatinflasi komponen tersebut mencapai 8,47
% secara tahunan. Tiga komoditas terbesar penyumbang inflasi tersebut adalah
beras, cabai merah, dan telur ayam ras. (Yoga)
Beban Hidup Nelayan Semakin Berat
Kondisi nelayan di Indonesia kian sulit, terutama nelayan
kecil dan tradisional. Biaya kebutuhan hidup yang meningkat semakin timpang
dengan pendapatan nelayan yang kian menyusut. Data BPS memaparkan, nilai tukar
nelayan (NTN) terus melandai dalam enam bulan terakhir. Pada Februari 2024 NTN
tercatat sebesar 101,59 atau turun 0,15 % dibandingkan dengan Januari 2024 yang
101,74. Tren penurunan NTN mulai terlihat sejak September 2023 yang tercatat
105,64, pada Oktober 2023 sebesar 104,84, kemudian pada November turun ke
103,52, dan di Desember 2023 menjadi 102,46.
Sekjen Serikat Nelayan Indonesia Budi Laksana mengungkapkan,
terdapat sejumlah faktor yang membebani penghidupan nelayan, antara lain harga
bahan kebutuhan pokok yang terus meningkat serta biaya melaut yang tinggi
karena sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi. Nelayan kecil terpaksa membeli BBM
secara eceran dengan harga lebih tinggi. Sementara harga jual ikan dari hasil
melaut justru menurun. ”Pengeluaran tidak sebanding dengan pemasukan. Kebutuhan
biaya nelayan semakin tinggi, sedangkan pendapatan berkurang karena harga jual ikan
turun. Ini membuat beban nelayan bertambah,” ujar Budi saat dihubungi, Senin
(4/3). (Yoga)
Nestapa Petani dalam Cekaman Anomali Iklim
Para petani padi di Tanah Air terus berjuang di tengah
ketidakpastian cuaca dan anomali iklim. Kemarau dan hujan tak tentu datangnya.
Namun, tak sedikit di antara mereka yang menjadi semakin rentan, kebanjiran saat
hujan dan kekeringan saat kemarau. Hujan deras mengguyur Desa Cangkring B,
Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jateng, Sabtu (24/2). Kendati hujan belum
reda, Tumini (57) melangkahkan kaki menuju ke sawahnya. Siang itu, ia bersama
suaminya bermaksud memanen padi yang terendam banjir selama 16 hari. Sebulan
sebelumnya, padi-padi yang ditanam di lahan sekitar 3.600 meter persegi itu
sudah laku dibeli pengepul dengan harga Rp 5 juta. ”Tak pernah mengira (padi)
akan rusak gara-gara banjir. (Uang) Yang seharusnya dibayar hilang terbawa
banjir,” ujarnya. Gabah itu akan ia ambil untuk konsumsi sendiri. ”Busuk yo wis
ben (ya biar), mau bagaimana lagi? Kalau mau dijual juga tidak akan laku,” kata
Tumini.
Tanaman padi seluas 2.000 meter persegi milik Ahmad Sudirman
(44), warga Desa Cangkring B, juga gagal panen akibat banjir. Dari total
sekitar 1,5 ton gabah yang dia panen, lebih dari separuhnya dalam kondisi
busuk. Ia memutuskan menjual murah gabah yang belum busuk. ”Gabah bagus, bisa
laku Rp 8.000 per kg. Namun, kalau ada yang menawar Rp 6.000 per kg, saya langsung
lepas,” kata Ahmad. Pada Minggu (25/2) siang, matahari bersinar terik. ”Saya
sedih melihat gabah-gabah saya jadi seperti ini,” kata Sumikah (38), warga Desa
Lambangan, Kecamataan Undaan, Kabupaten Kudus. Empat tahun terakhir, panen
Sumikah tidak maksimal karena banjir dan kekeringan. ”Kalau kemarau, susah air.
Harus keluar uang untuk memompa air dari sungai ke sawah. Hasil penjualan gabah
Mungkin tidak akan cukup untuk menambal kerugian yang saya tanggung. Kalau
dihitung, saya merugi Rp 20 juta,” kata Sumikah.
”Saat ini dalam proses pengusulan untuk bantuan ganti rugi,”
ujar Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas
Pertanian dan Perkebunan Jateng Francisca Herwati Prarastyani, Kamis (29/2). Menurut
dia, para petani yang terdampak dan puso bakal mendapatkan bantuan benih.
Kendati demikian, jumlah benih akan ditentukan oleh Kementan. Selain bantuan
benih, petani yang ikut program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) berhak mendapatkan
ganti rugi. ”Iuran AUTP itu tergolong murah, yakni Rp 36.000 per hektar per
musim tanam. Kalau misal puso, gagal panen, yang ikut (program AUTP) dapat Rp 6
juta per hektar. Lumayan daripada tidak dapat ganti sama sekali,” ujarnya. (Yoga)
Lonjakan Harga Pangan Melampaui Pendapatan
BAHAN BAKAR MINYAK : DAMPAK RUMIT SUBSIDI BBM
Problem subsidi untuk bahan bakar minyak atau BBM kembali mencuat setelah Presiden Joko Widodo memastikan pemerintah tidak akan melakukan penyesuaian harga dalam waktu dekat. Bukan tanpa alasan, kebijakan tersebut berpotensi memunculkan persoalan lain, termasuk pembengkakan anggaran subsidi dari APBN.
Tidak seperti biasanya yang memberikan keterangan dengan jelas dan tegas, Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya mengatakan tidak akan ada kenaikan harga BBM dalam waktu dekat, tanpa penjelasan lebih lanjut.Sebelum bertolak ke Australia, Presiden Jokowi hanya memastikan keterangan lebih lanjut mengenai harga BBM bakal disampaikan lebih lanjut oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto atau PT Pertamina (Persero) langsung.“Soal BBM, nanti biar Menko [Perekonomian] yang sampaikan, atau dari Pertamina yang sampaikan. [Untuk kenaikan harga] tidak [ada], tetapi yang menyampaikan nanti akan dari Pertamina,” katanya, Senin (4/2).Dalam kesempatan terpisah, Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan alasan pemerintah yang memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM hingga Juni 2024.Erick menjelaskan, pemerintah terus berupaya agar masyarakat berpenghasilan rendah tidak terdampak oleh harga minyak yang bergerak fl uktuatif di pasar global.
Meski memastikan bakal tetap menjaga harga BBM di level saat ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sempat mengingatkan impak dari kebijakan tersebut.Salah satunya adalah pemerintah membutuhkan tambahan anggaran untuk subsidi dan kompensasi untuk Pertamina.Di sisi lain, PT Pertamina Patra Niaga sebagai subholding commerce and trading Pertamina mengaku masih mengkaji potensi tambahan subsidi dan kompensasi untuk menahan harga BBM hingga Juni 2024.“Masih kami kaji, paralel melihat fl uktuasi harga minyak mentah, MOPS [Mean of Platts Singapore], dan nilai tukar mata uang,” kata Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Irto Ginting saat dihubungi.
Pertamina dan BPH Migas pun berkali-kali meminta pemerintah untuk mengeluarkan aturan tegas mengenai siapa saja yang berhak menggunakan BBM bersubsidi maupun BBM khusus penugasan, yakni Pertalite.Dengan begitu, Pertamina dan BPH Migas bisa lebih mudah dalam memastikan penyaluran subsidi yang bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat tepat sasaran di lapangan.Adapun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifi n Tasrif membeberkan bahwa pemerintah terus berupaya meningkatkan produksi minyak di dalam negeri dengan pemanfaatan teknologi baru, serta menemukan cadangan baru.
Arifin berkata, di Blok Rokan juga saat ini sedang dilakukan pengujian agar mendapatkan minyak dari sumber-sumber lapisan yang paling dalam.
Strategi Bayan Resources Hadapi Penurunan Harga Batu Bara 2024
Lonjakan Harga Beras Memukul Petani
Kendati berstatus sebagai produsen, sebagian petani padi
kesulitan menjangkau beras yang harganya melonjak tinggi belakangan ini.
Sebagian di antara mereka mesti berebut beras murah dalam operasi pasar serta
menjadi sasaran program bantuan pangan dari pemerintah. BPS mencatat, harga
rata-rata beras nasional di tingkat pedagang grosir mencapai Rp 14.397 per kg
pada Februari 2024, tertinggi sejak periode pencatatan Januari 2013. Sementara
pada Jumat (1/3) harga rata-rata nasional beras medium menurut Pusat Informasi
Harga Pangan Strategis mencapai Rp 15.950 per kg, jauh di atas harga eceran
tertinggi beras medium yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 10.900 per kg
hingga Rp 11.800 per kg sesuai zonasi. Situasi itu amat tidak menguntungkan
masyarakat kelas menengah bawah. Mereka menanggung dampak lebih besar
dibandingkan kelompok menengah atas akibat kenaikan harga beras tersebut.
Di antara mereka yang menanggung dampak terbesar itu adalah
petani, buruh tani padi dan pekerja sektor pertanian. Ini karena mayoritas dari
mereka adalah konsumen bersih (nett consumer) beras. Dengan pengeluaran yang
sebagian besar untuk pangan, kenaikan harga beras makin menyulitkan mereka. Untuk
mendapatkan beras dengan harga lebih terjangkau, mereka turut mengincar operasi
pasar beras bersama warga lainnya. Ini membuat beras yang disediakan pemerintah
lewat Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) habis dalam hitungan jam,
seperti terlihat di Pasar Larangan, Sidoarjo, Jatim, Minggu (3/3). Di pasar itu
ada dua agen yang ditunjuk menjual beras SPHP. ”Sekitar pukul 09.30, stok untuk
masyarakat umum sudah terjual habis di dua agen,” kata Koordinator Pasar
Tradisional Wilayah Sidoarjo Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sidoarjo Askud
Hari. Di Pasar Larangan setiap agen dijatah menjual 2.000 kg beras setiap hari
dengan harga Rp 10.900 per kg untuk beras kualitas medium.
Sebagian petani bertahan dengan stok beras sisa panen. Namun,
Ma’ani (40), petani di Desa Jagapura Wetan, Kecamatan Gegesik, Kabupaten Cirebon,
Jabar, mulai khawatir tak mampu membeli beras saat stok beras sisa panennya
habis. Pada akhir tahun lalu ia menjual hampir seluruh hasil panennya yang
mencapai 7 ton gabah kering giling (GKG). Ma’ani dan petani di desanya biasanya
sudah bisa menanam padi pada Januari. Namun, hingga akhir Februari 2024, ia
belum bisa menanam disebabkan faktor pengairan karena hujan masih jarang turun.
Nasib serupa dialami sebagian petani di Kabupaten Malang, Jatim. Mundurnya masa
tanam akibat fenomena El Nino tahun lalu berpengaruh terhadap masa panen padi.
Hingga akhir Februari 2024 baru sebagian kecil petani yang panen. Mayoritas
sawah masih menghijau, bahkan ada yang baru ditanami, diolah, atau bera, seperti
di wilayah Kecamatan Singosari, Pakis, Pakisaji, Kepanjen, dan Pagelaran. (Yoga)
Ironi Negeri Agraris, Petani Padi Mengantre Beras Murah
Di bawah terik mentari, puluhan warga termasuk mereka yang
sehari-harinya bertani menanti giliran membeli beras medium dalam operasi pasar
murah di Balai Desa Lurah, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon, Jabar, Senin (26/2).
Beras medium seharga Rp 52.000 per kemasan 5 kg yang dijual jauh lebih murah
ketimbang harga beras di pasaran dengan jumlah dan kualitas sama dengan harga Rp
75.000. ”Harga beras (di pasaran) sekarang Rp 15.000-Rp 16.000 per kg. Di sini
murah, Rp 10.400 per kg,” kata Rumsi yang datang bersama suaminya. Ia berniat
membeli dua karung beras, sesuai batas maksimal pembelian dalam operasi pasar
murah. Sayangnya, keinginannya belum terwujud. Beras di truk terus menipis,
sedangkan antrean masih panjang. Petugas membatasi pembelian hanya satu karung
per orang. Setidaknya ibu satu anak ini masih berharap membawa pulang satu
karung berisi 5 kg. Namun, ketika mendekati meja pembayaran, Rumsi yang berkeringat
karena kepanasan lagi-lagi kecewa. ”Berasnya habis, Ibu-ibu. Ada juga satu
karung, tapi kemasannya sobek,” kata seorang petugas yang meminta warga membubarkan
barisan.
Sebenarnya ia tidak perlu antre demi membeli beras murah jika
masih menanam padi. ”Pari (padinya) enggak ada. Cuma (tanam) singkong karo
(dengan) kacang panjang dan kangkung. Sudah lama enggak ada padi,” kata Rumsi yang
bertahun-tahun tak lagi memproduksi padi. Lahan keluarganya yang seluas 140
meter persegi itu tidak ditanami padi karena beragam masalah. ”Angel banyue (susah
airnya). Kudu didiesel (harus pakai pompa). Pupuk juga belinya Rp 10.000 per
kg. Kalau (beli) kuintalan, susah,” tutur istri dari penjual papeda keliling
ini. Kuwu (Kepala Desa) Lurah Urip mengakui, daerahnya bukan lagi sentra padi.
Sejak tahun 1990-an, pabrik rotan dan perumahan menjamur di desanya. Sawah
bengkok milik desa yang luasnya 8,5 bahu (5,9 hektar) saja berada di Kaliwedi,
kecamatan tetangga. Itu sebabnya, saat harga beras naik, warganya terdampak.
”Ada juga petani antre (beras),” ujarnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









